Selama tiga hari penuh, Laboratorium IPA SMP Negeri 1 Cilongok tampak lebih hidup dari biasanya. Ada semangat baru yang memancar dari para guru yang datang bukan hanya membawa laptop dan buku catatan, tetapi juga rasa ingin tahu yang menyala. Spanduk bertuliskan “In House Training Penyusunan Program Kerja Sekolah dan Penguatan Kompetensi Guru Tahun Ajaran 2025/2026” terpajang di depan ruangan, namun atmosfernya jauh dari sekadar acara seremonial. Kali ini, ada sesuatu yang berbeda—sebuah semangat untuk berubah dan menjawab tantangan zaman dengan kesiapan dan keberanian.
In House Training (IHT) ini bukan pelatihan rutin yang hanya mengganti format tanpa menyentuh substansi. Ia hadir sebagai ruang refleksi dan lompatan. Para guru tidak hanya mendengarkan, tetapi ikut terlibat, mengkritisi, dan membangun. Di tengah kompleksitas dunia pendidikan yang semakin sarat teknologi dan tuntutan zaman, IHT ini menjadi oase pembaruan yang menyegarkan.
Kegiatan dimulai pada Selasa (22/7), dibuka langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas, Drs. Joko Wiyono MR, M.Si. Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa guru harus senantiasa meningkatkan kompetensi diri, tidak hanya melalui IHT, tetapi juga lewat seminar, lokakarya, dan berbagai pelatihan. Ia mengingatkan bahwa SMP Negeri 1 Cilongok bukanlah sekolah yang hidup dalam ruang vakum, melainkan berada di tengah masyarakat global yang menuntut kualitas tinggi dari para pendidiknya. “Kompetensi guru saat ini tidak bisa lagi setengah-setengah. Sekolah ini harus menjadi etalase kualitas pendidikan Banyumas,” ujarnya.
Pernyataan tersebut diperkuat oleh pengawas pembina SMP Negeri 1 Cilongok, Bapak Amin Hidayat, S.Pd., M.Pd. Dalam sesi materinya, ia menekankan bahwa guru masa kini perlu memiliki beragam keterampilan: public speaking, kemampuan mencairkan suasana kelas lewat ice breaking yang kreatif, ilmu parenting, hingga penguasaan teknologi. Menjadi guru di masa kini, kata beliau, adalah menjadi multi-talenta, bukan hanya pengajar materi pelajaran.
Pada hari kedua, suasana pelatihan kian intens. Dipandu langsung oleh kepala sekolah, Bapak Trisnatun, M.Pd., para guru terlibat aktif dalam menyusun program kerja sekolah. Namun kali ini, penyusunan tidak hanya didasarkan pada tuntutan administratif, tetapi lebih pada visi transformatif. Mereka mendiskusikan bagaimana sekolah bisa menjadi ruang belajar yang adaptif dan relevan. “Saya tidak ingin kegiatan IHT ini hanya menjadi rutinitas setiap awal tahun. Ini harus menjadi fondasi nyata untuk satu tahun ke depan,” tegas Bapak Trisnatun. “Kita harus berdiskusi terbuka, saling mengkritisi ide, dan menemukan titik temu antara idealisme dan realitas.”
Semangat tersebut terus berlanjut ke sesi penguatan kompetensi guru. Pendekatan yang digunakan tidak lagi satu arah dan membosankan, melainkan bersifat aplikatif dan menyenangkan. Mulai dari prinsip pembelajaran, kegiatan kokurikuler, hingga strategi pembelajaran yang berbasis mindful, meaningful, dan joyful learning. Inilah wujud pembelajaran mendalam yang kini menjadi keharusan. Guru didorong untuk menciptakan pembelajaran yang tidak hanya mentransfer informasi, tetapi mengembangkan pemikiran kritis siswa melalui asesmen level C4 hingga C6. Pola soal atau tugas hafalan di level C1 hingga C3 secara perlahan mulai ditinggalkan. Karena di era ini, pendidikan bukan tentang seberapa banyak yang diingat, tetapi seberapa dalam siswa berpikir dan mencipta.
Namun kejutan paling menarik justru datang pada sesi terakhir hari kedua. Saat narasumber membuka slide bertuliskan “Kecerdasan Artifisial dalam Dunia Pendidikan”, hampir seluruh peserta langsung duduk lebih tegak. Ketertarikan tumbuh bukan karena istilahnya asing, tetapi karena baru kali ini mereka diajak menjelajah dan memahami AI dalam konteks pendidikan secara praktis.
Fabiyan Fandi Imaniawan, M.Kom., narasumber utama yang juga seorang praktisi pendidikan digital, membimbing para guru untuk mengenal dan menggunakan platform berbasis kecerdasan artifisial seperti ChatGPT, Gemini, Canva AI, dan berbagai tools lainnya. Tidak sekadar mengenalkan, ia mengajak guru untuk langsung mencoba membuat modul ajar, bahan asesmen, hingga simulasi pembelajaran berbasis AI. Yang menarik, tidak ada dorongan untuk bergantung penuh pada AI. Justru guru diajak mengembangkan sikap kritis dan etis dalam memanfaatkan teknologi ini. “Kecerdasan artifisial bukan pengganti guru, tapi asisten yang bisa mempercepat dan memperkaya proses kreatif kita,” terang Fabiyan. Para peserta pun menyimak dengan penuh semangat.
Beberapa guru merasa kagum, menyadari bahwa AI bisa menyesuaikan perangkat ajar dengan karakteristik siswa secara personal. Yang lain merasa tertantang untuk belajar lebih dalam dan menyesuaikan diri dengan arus zaman. Namun satu hal yang mereka sepakati: teknologi adalah peluang, bukan ancaman. Guru tak perlu takut tergantikan, karena di tengah kemajuan teknologi, sentuhan manusiawi tetap menjadi kunci dalam proses belajar.
Sesi penutup pelatihan menjadi klimaks. Para guru ditantang membuat video pembelajaran atau media branding sekolah menggunakan platform Google Veo 3. Ada yang membuat video tentang proses terjadinya tsunami sebagai media ajar, ada pula yang merancang video profil sekolah untuk unggahan media sosial. Semua karya dibuat dengan sentuhan pribadi, dibantu teknologi, dan dibungkus kreativitas. Tidak hanya menghasilkan karya, tetapi juga membangkitkan rasa percaya diri bahwa guru bisa menavigasi dunia digital dengan kompeten.
“Saya bangga bisa ikut pelatihan ini. Rasanya seperti lahir kembali sebagai guru,” ungkap Ibu Melyza, guru Bahasa Inggris yang dengan penuh semangat mengikuti semua sesi. “Sekarang saya sadar, bukan hanya siswa yang harus terus belajar, tapi kita juga.”
Hari ketiga kegiatan diisi dengan Focus Group Discussion (FGD) antar tim guru untuk menyusun kegiatan kokurikuler dan program kerja setiap standar. Mereka bahu-membahu menyusun rencana kegiatan yang aplikatif, bermakna, dan selaras dengan visi sekolah. Yang menarik, meskipun IHT secara formal berlangsung selama tiga hari, kegiatan ini berlanjut dalam bentuk on service selama lima hari berikutnya, yaitu 25–31 Juli 2025. Seluruh stakeholder kembali duduk bersama untuk mematangkan rancangan program yang telah dibuat. Tidak ada jeda untuk berpuas diri. Semua menyadari bahwa proses perubahan memerlukan kerja kolektif yang konsisten.
Apa yang dilakukan SMP Negeri 1 Cilongok dalam IHT ini bukan sekadar memenuhi kewajiban tahunan. Ini adalah tanda bahwa mereka siap bergerak menuju masa depan. Mereka tidak takut pada teknologi, tidak canggung menghadapi perubahan, dan tidak ragu menyebut diri mereka agen transformasi.
Di tengah gelombang digitalisasi yang makin deras, guru tidak boleh tinggal diam. Dunia pendidikan kini bukan lagi tentang siapa yang paling tahu, tetapi siapa yang paling mau belajar dan berubah. Guru-guru SMP Negeri 1 Cilongok telah membuktikan, bahwa dengan kolaborasi, semangat belajar sepanjang hayat, dan keberanian mencoba, mereka siap mengantarkan siswa menuju masa depan yang penuh kemungkinan. Karena sejatinya, perubahan tidak dimulai dari teknologi, tetapi dari manusia yang mau belajar menggunakannya dengan bijak. Dan perubahan itu, telah dimulai dari laboratorium kecil di sebuah sekolah menengah pertama di Cilongok.
Penulis : Iftitah Ratna Puspita, S.Pd. Guru Bahasa Indonesia SMP Negeri 1 Cilongok
