Literasi merupakan fondasi utama dalam proses pendidikan. Tanpa kemampuan membaca dan memahami bacaan dengan baik, peserta didik akan kesulitan mengikuti pelajaran, memahami informasi, serta mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Sayangnya, di berbagai sekolah, termasuk sekolah kami, SMPN 4 Kedungbanteng-Banyumas, masalah rendahnya minat baca masih menjadi tantangan yang nyata. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi prestasi akademik siswa, tetapi juga berdampak pada kualitas pendidikan secara keseluruhan.
Ketika literasi menjadi perhatian utama dalam Rapor Pendidikan yang dikeluarkan pemerintah, kami pun mulai menyadari betapa mendesaknya upaya perbaikan. Data menunjukkan bahwa kemampuan literasi siswa kami berada di bawah standar nasional. Kondisi ini menjadi alarm yang membangunkan kesadaran seluruh warga sekolah, bahwa literasi bukan sekadar program tambahan, melainkan napas utama dalam setiap proses pembelajaran.
Berangkat dari kegelisahan itu, kami menyusun berbagai strategi dan langkah nyata untuk mengatasi rendahnya literasi di sekolah. Artikel ini ditulis untuk berbagi pengalaman, bukan sebagai pameran keberhasilan, tetapi sebagai inspirasi dan referensi bagi sekolah lain yang mungkin mengalami tantangan serupa. Perubahan yang kami lakukan tidak selalu besar, tetapi konsisten dan bertujuan jelas: menumbuhkan kembali budaya membaca di lingkungan sekolah.
Salah satu tantangan utama yang kami hadapi adalah rendahnya minat baca siswa. Banyak siswa yang lebih memilih bermain gawai dibanding membaca buku. Dalam survei awal yang kami lakukan, lebih dari 60% siswa mengaku tidak membaca buku selain buku pelajaran, bahkan dalam seminggu pun tidak pernah menyentuh bacaan non-akademik. Data ini diperkuat dengan hasil literasi dari Rapor Pendidikan yang menempatkan sekolah kami dalam kategori sedang menuju rendah. Siswa mengalami kesulitan memahami instruksi teks, mengaitkan informasi, bahkan menyimpulkan isi bacaan.
Rendahnya minat baca ini tentu saja berdampak langsung pada prestasi belajar. Kemampuan memahami soal-soal berbasis literasi numerasi rendah, terutama dalam mata pelajaran seperti Bahasa Indonesia, IPA, IPS dan matematika. Guru pun mengeluhkan siswa yang pasif dalam diskusi, kurang memiliki referensi luas, dan cenderung hanya menghafal tanpa memahami konteks. Hal ini semakin mempertegas urgensi untuk melakukan pembenahan serius dalam aspek literasi.
Kondisi perpustakaan sekolah kami pun menjadi sorotan. Koleksi buku yang terbatas dan sebagian besar sudah usang membuat siswa tidak tertarik untuk datang ke perpustakaan. Banyak buku yang masih terbitan tahun 1990-an, dengan sampul lusuh dan isi yang sudah tidak relevan. Ruang perpustakaan sendiri kurang terawat, pencahayaannya banyak, tanpa kain gorden, tanpa pendingin udara, serta tidak ada dekorasi yang mengundang siswa untuk betah berlama-lama di dalamnya. Singkatnya, perpustakaan kami lebih mirip gudang buku daripada pusat sumber belajar.
Pengelolaan perpustakaan juga belum optimal. Masih dilakukan secara manual, pencatatan peminjaman dan pengembalian dilakukan dengan buku tulis yang mudah hilang dan sulit ditelusuri. Petugas perpustakaan pun harus merangkap sebagai guru piket atau petugas administrasi lainnya, sehingga tidak fokus dalam mengelola dan mengembangkan layanan perpustakaan. Hal ini membuat pengelolaan perpustakaan berjalan stagnan, tidak ada inovasi, dan jauh dari harapan.
Suasana perpustakaan yang tidak nyaman juga menjadi alasan siswa enggan mengunjungi tempat tersebut. Tidak ada poster motivasi membaca, tidak ada pojok baca yang santai, dan tidak ada ruang untuk berdiskusi santai seputar buku. Anak-anak merasa bahwa perpustakaan adalah tempat yang membosankan dan hanya dikunjungi saat ada tugas mencari referensi, bukan sebagai tempat favorit untuk mengisi waktu luang dengan membaca.
Di sisi lain, program literasi yang terjadwal pun belum berjalan maksimal. Jam literasi numerasi yang seharusnya menjadi waktu khusus untuk membaca dan berdiskusi literasi justru sering kali tergantikan oleh pelajaran tambahan atau kegiatan lain. Tidak adanya jadwal tetap dan kurangnya pengawasan membuat program literasi tidak berkesinambungan, bahkan cenderung hanya formalitas.
Melihat kondisi ini, kami menyadari bahwa perubahan tidak bisa menunggu. Maka, kami mulai dengan strategi paling sederhana namun berdampak: mengadakan lomba pojok baca di setiap kelas. Setiap kelas kami fasilitasi dengan sebuah rak buku, sedangkan buku-buku referensi dan dekorasinya menjadi tanggungjawab kelas masing-masing, yang dapat berisi bacaan ringan yang menarik seperti komik edukatif, cerita rakyat, novel remaja, dan ensiklopedia anak. Buku-buku ini didapat dari donasi siswa dan guru melalui program “One Student One Book”. Setiap siswa membawa satu buku layak baca dari rumah, yang kemudian dikurasi dan ditempatkan di pojok baca, didata oleh sekretaris kelas.
Dampaknya sangat terasa. Saat jam istirahat atau setelah pembelajaran, siswa mulai terbiasa membaca. Guru pun rutin memberi waktu 10 menit membaca sebelum pelajaran dimulai. Awalnya hanya sebagian kecil siswa yang tertarik, tetapi lama-kelamaan, budaya membaca tumbuh secara alami. Bahkan, beberapa siswa berlomba-lomba membawa buku favorit mereka untuk dibaca bersama teman.
Langkah berikutnya adalah penataan ulang perpustakaan. Kami menggalang dana dan dukungan dari orang tua, alumni, serta menjalin kolaborasi dengan penerbit lokal untuk menyumbangkan buku-buku baru. Koleksi buku pun mulai bertambah dan lebih relevan dengan zaman sekarang. Kami juga mendekorasi ulang perpustakaan, mengecat dinding dengan warna cerah, menambahkan mural bertema literasi, karpet untuk lesehan, bean bag untuk duduk santai, serta papan motivasi yang menampilkan kutipan inspiratif dari tokoh-tokoh dunia.
Untuk meningkatkan efisiensi kerja, kami berusaha untuk mengupayakan digitalisasi sistem perpustakaan. Dengan harapan, pengadaan satu komputer dan koneksi internet yang stabil, agar kami dapat menggunakan aplikasi perpustakaan digital sederhana. Petugas perpustakaan dilatih mengelola sistem tersebut agar pencatatan buku, peminjaman, dan pengembalian bisa dilakukan lebih cepat dan rapi. Siswa pun bisa mencari buku melalui katalog digital yang tersedia di ruang perpustakaan.
Selain itu, pengoptimalan bidang kerja petugas perpustakaan juga kami lakukan. Dengan membagi tugas administratif kepada petugas lain, agar petugas perpustakaan bisa lebih fokus mengembangkan program literasi, menyusun jadwal kunjungan kelas, dan merancang kegiatan menarik seperti “Bedah Buku”, “Tantangan Membaca 30 Hari”, dan “Ulas Buku Pilihan”. Anak-anak pun semakin antusias karena merasa dilibatkan dan dihargai pendapatnya.
Kami juga berkoordinasi dengan tim sarana dan prasarana sekolah untuk menciptakan suasana perpustakaan yang lebih nyaman ke depannya. Pemasangan tirai, penambahan kipas angin, pencahayaan yang baik, dan lantai yang bersih memberikan kesan positif kepada pengunjung. Ruang baca dibuat lebih fleksibel: ada area duduk formal, area duduk lesehan, dan tempat khusus untuk membaca bersama guru. Bahkan, ada sudut khusus yang disebut “Zona Hening” bagi siswa yang ingin fokus membaca.
Tak kalah penting, kami menjadwalkan program literasi numerasi secara berkala dan menghadirkan workshop dari narasumber eksternal. Setiap minggu, ada satu sesi khusus yang didedikasikan untuk kegiatan literasi, seperti membaca puisi, menulis cerpen, diskusi buku, atau membuat komik edukatif. Kami juga mengundang penulis, pustakawan profesional, dan motivator literasi untuk memberikan wawasan baru kepada siswa dan guru.
Perubahan-perubahan kecil ini mulai menunjukkan hasil. Nilai literasi dalam Rapor Pendidikan mengalami peningkatan signifikan dalam dua tahun terakhir. Siswa lebih aktif dalam kegiatan membaca, bahkan beberapa di antaranya mulai menulis dan mengirimkan karya ke media daring dan lomba literasi. Koleksi buku di perpustakaan kini lebih beragam dan berkualitas, mencakup literatur populer, buku sains, teknologi, hingga buku pengembangan diri.
Perpustakaan yang dulunya sepi dan tidak terawat kini menjadi tempat favorit. Siswa datang tidak hanya untuk membaca, tetapi juga untuk berdiskusi, menulis, bahkan mengisi waktu luang dengan kegiatan positif. Petugas perpustakaan pun lebih produktif dan semangat karena mendapat dukungan penuh dari manajemen sekolah. Budaya literasi mulai terbentuk, terasa dalam keseharian sekolah.
Siswa menjadi lebih terbuka dan percaya diri dalam mengemukakan pendapat, baik secara lisan maupun tulisan. Mereka mulai memahami bahwa membaca bukan sekadar tugas, melainkan jendela dunia. Beberapa guru melaporkan bahwa siswa mereka kini lebih mudah memahami materi pelajaran, mampu menghubungkan konsep, dan menunjukkan peningkatan dalam keterampilan menulis.
Perjalanan kami dalam membangkitkan semangat literasi belum selesai. Masih banyak tantangan yang harus dihadapi, tetapi kami percaya bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Kami telah melihat sendiri bagaimana satu buku bisa mengubah pandangan, bagaimana satu pojok baca bisa menyalakan minat, dan bagaimana suasana yang nyaman bisa mengundang semangat belajar.
Kami berharap, ke depan, perpustakaan benar-benar menjadi pusat pembelajaran yang menyenangkan. Tempat di mana siswa menemukan ide, inspirasi, dan impian. Kami juga mengajak sekolah-sekolah lain untuk tidak menunggu segalanya sempurna. Mulailah dari langkah sederhana—sebuah rak buku di kelas, satu jam membaca per minggu, satu sudut nyaman untuk membaca—karena dari situlah budaya literasi akan tumbuh dan mengakar kuat.
Dengan komitmen bersama, kita bisa mengubah wajah pendidikan. Literasi bukan sekadar angka di rapor, tetapi fondasi untuk mencetak generasi yang cerdas, kritis, dan berdaya saing. Mari bergerak, karena setiap halaman yang dibaca adalah satu langkah menuju masa depan yang lebih cerah.
Penulis : Hena Fitriningsih, S.P.,S.Pd., M.Si, Kepala SMP Negeri 4 Kedungbanteng, Banyumas.
