Pada era digital sekarang ini, pembelajaran sejarah di tingkat SMA menghadapi tantangan serius. Sebagian besar murid masih menganggap sejarah sebagai mata pelajaran yang membosankan, penuh hafalan, dan tidak relevan dengan perkembangan teknologi masa kini. Sebagian murid cenderung mengantuk jika sejarah disajikan secara monoton dengan ceramah satu arah pada jam-jam terakhir. Sebagian murid lainnya mencuri-curi kesempatan untuk membuka ponselnya. Guru sejarah SMA PL Don Bosko pun menghadapi situasi yang penuh tantangan semacam itu. Pada umumnya, sejarah sering dinilai sebagai pelajaran hapalan yang menyajikan rangkaian tanggal-tanggal bersejarah, tokoh-tokoh masa lampau, serta beragam peristiwa masa lalu yang terasa sangat jauh dari kehidupan masa kini.
Sejatinya sejarah adalah ilmu pengetahuan sosial yang memberi kita kemampuan memahami proses perubahan, membaca pola aktifitas masa lalu, sekaligus memikirkan kebijakan masa depan secara kritis dan bijaksana. Sejarah juga menjadi media pembentukan karakter melalui kisah keteladanan para pahlawan. Akan tetapi ketika pembelajaran sejarah tidak dikemas secara menarik maka materi yang begitu kaya makna itu menjadi sulit dirasakan manfaatnya oleh murid.
Tak ada asap jika tak ada api, begitu pula dengan pembelajaran sejarah yang kurang diminati murid, pasti ada faktor-faktor penyebabnya. Sejarah menjadi kurang menarik jika materinya disampaikan guru secara monoton, sehingga murid merasa sekadar menghafal begitu saja. Kurangnya visualisasi peristiwa bersejarah membuat peristiwa-peristiwa masa lalu sulit dibayangkan. Dominasi metode ceramah membuat murid sangat pasif. Sedikitnya eksplorasi sumber sejarah lokal maupun nasional, kurangnya relevansi dengan isu modern, minimnya kompetisi sejarah seperti olimpiade, lomba esai sejarah, atau debat sejarah, membuat murid kurang merasa tertantang untuk belajar sejarah secara serius. Keterbatasan ajang kompetisi bergengsi semacam olimpiade sains semakin membuat pembelajaran sejarah terkesan kurang menantang bagi murid yang sebenarnya memiliki potensi analitis maupun minat mendalam pada bidang sejarah.
Guru menjadi penentu utama dalam menyulap sejarah menjadi mata pelajaran yang penuh imajinasi, inspirasi, dan pemikiran kritis. Pembelajaran yang kreatif, relevan, dan interaktif dapat mengubah citra sejarah secara signifikan. Beberapa langkah perbaikan penyajian materi ajar yang dapat dilakukan guru sejarah antara lain membuat cerita menarik sebagai jembatan ke masa lalu. Narasi ala stand up commedy yang mempraktekkan kemampuan monolog secara lebih bermutu dapat menghadirkan peristiwa sejarah menjadi kisah kehidupan yang merangsang keingintahuan murid. Guru sejarah sebaiknya menggunakan media elektronik dalam visualisasi masa lalu untuk memudahkan proses pemahaman jalannya cerita sejarah. Video pendek, cuplikan film dokumenter, peta interaktif, rekonstruksi digital, dan platform pembelajaran digital membantu murid memahami materi secara visual tentang peristiwa yang terjadi di masa lalu. Murid akan semakin tertarik belajar sejarah ketika sejarah dikaitkan dengan isu global, perkembangan teknologi, atau politik kontemporer, sehingga timbul kesadaran bahwa sejarah membantu mereka dalam memaknai kejadian di dunia saat ini. Contoh konkret demonstrasi mahasiswa masa sekarang, dapat digunakan guru sejarah untuk menjelaskan peristiwa turunnya Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto yang sebelum mengundurkan diri mereka didemo oleh mahasiswa secara besar-besaran.
Permainan edukatif yang memberi unsur kompetisi, kolaborasi, dan petualangan dapat disajikan agar pembelajaran sejarah terasa jauh lebih hidup. Beberapa jenis permainan yang dapat disajikan guru sejarah misalnya membuat soal dengan bentuk teka-teki silang (TTS) serta kuis digital interaktif seperti Kahoot, Quizizz, atau Gimkit. Dengan beberapa macam permainan, sejarah tidak hanya dihapalkan dan dipahami, tetapi juga dialami sendiri oleh murid. Permainan dapat diselingi pembelajaran berbasis projek dan eksplorasi melalui vlog sejarah lokal melalui kunjungan ke situs bersejarah seperti Gereja Blenduk, Kota Lama Semarang, serta Lawang Sewu.
Dalam rangka menjadikan sejarah sebagai mata pelajaran favorit, guru perlu menghadirkan pengalaman belajar yang menggugah rasa ingin tahu dan menghadirkan kesenangan intelektual. Daripada langsung menyampaikan materi, guru sejarah dapat mengajukan pertanyaan seperti “Apa jadinya jika Jepang tidak menyerah pada 1945?” Pertanyaan menantang semacam itu membuat murid menjadi penasaran sejak awal pembelajaran dimulai.
Cerita yang menggugah emosi pun dapat menjadi media penyemangat murid belajar sejarah. Kisah tokoh-tokoh pahlawan yang menyertakan konflik, ironi, keberanian, rasa haru, maupun kisah-kisah manusiawi lainnya dalam peristiwa bersejarah membuat murid merasa dekat dengan masa lalu. Kisah R.A. Kartini yang mengalami kawin paksa dan penderitaan Cut Nya’ Dhien sampai mengalami kebutaan di hutan Aceh dapat digunakan untuk menggugah rasa kemanusiaan murid. Dalam penyampaian cerita, akan lebih baik apabila guru menggunakan foto arsip, video pendek seperti cuplikan film Kartini dan film Cut Nya’ Dhien. Tayangan audio visual mengurangi sifat abstrak dan membantu imajinasi murid. Saat bercerita, guru wajib melibatkan murid secara aktif. Berikan kesempatan untuk berdiskusi, berargumentasi, serta menyampaikan opini pribadi. Keterlibatan aktif mampu menghilangkan kebosanan.
Praktek pembelajaran anti kebosanan lainnya adalah dengan menjadikan murid sebagai detektif sejarah. Arahkan mereka menyelidiki penyebab suatu peristiwa melalui sumber-sumber buku atau tayangan melalui googling yang berbeda. Model ini memicu rasa ingin tahu dan latihan berpikir kritis. Guru yang antusias menularkan energi positif. Humor ringan membuat suasana kelas lebih hidup tanpa mengurangi kedalaman materi. Pahami minat murid-murid, selanjutnya hubungkan peristiwa bersejarah dengan dunia mereka, misalnya menghubungkan sejarah kolonial dengan isu identitas budaya modern, atau mengaitkan sejarah diplomasi dengan isu geopolitik kontemporer
Guru sejarah akan semakin menarik bagi murid jika mampu mencoba metode-metode baru sebagai bukti keberanian guru dalam melakukan inovasi pembelajaran seperti mengadakan lomba menyusun esai sejarah, debat sejarah, simulasi sidang PBB di kelas, maupun melaksanakan podcast sejarah di ruang podcast SMA PL Don Bosko. Oleh karena arena olimpiade sejarah masih terbatas, guru dapat membuat kompetisi kelas seperti debat antar kelompok, kuis sejarah berjenjang, lomba menulis esai sejarah, lomba membuat power point dan lomba presentasi sejarah. Perlombaan internal dalam skala kecil semacam ini memberi ruang kompetisi sehat yang merangsang pemikiran kritis. Jangan lupa guru wajib menyampaikan relevansi masa lalu dengan peristiwa saat ini. Sampaikan bagaimana sejarah membangun kemampuan berpikir kritis, analisis sebab-akibat, dan kemampuan memahami perubahan sebab semua kompetensi penting di era modern.
Guru sejarah harus terlatih memberikan materi yang menginspirasi. Jika dikemas dengan metode kreatif, interaktif, dan penuh antusiasme, sejarah dapat menjadi mata pelajaran yang ditunggu-tunggu murid setiap minggunya. Tantangan modernisasi, minimnya kompetisi sejarah, dan persepsi sejarah sebagai mata pelajaran abstrak dapat diatasi dengan inovasi pembelajaran guru sejarah. Melalui pendekatan yang tepat, sejarah bukan hanya cerita masa lalu yang mudah dilupakan, namun sebuah pengalaman belajar yang menyenangkan, penuh makna, dan membentuk cara berpikir murid untuk menghadapi masa depan yang penuh tantangan.
Penulis : Anna Sri Marlupi, S.S., Guru Mata Pelajaran Sejarah dan Koordinator Humas SMA PL Don Bosko
