Langkahnya selalu mantap di pagi hari. Waktu baru saja menunjukkan pukul enam tiga puluh, udara di pelataran sekolah masih basah oleh embun, dan bel belum juga berbunyi. Tapi dari arah gerbang, sudah terdengar suara khas yang membuat para siswa yang baru datang sedikit mempercepat langkah mereka. Beberapa bahkan refleks merapikan seragamnya, melepas earphone, dan menyembunyikan ponsel ke dalam saku. Mereka tahu siapa yang sedang datang. Sosok itu sudah puluhan tahun menjadi penanda waktu dan kedisiplinan di sekolah kejuruan ini.
Usianya sudah tak muda lagi, garis-garis ketegasan sudah menetap di wajahnya. Namun tak satu pun dari semua itu melemahkan semangatnya untuk terus berdiri tegak sebagai penjaga kedisiplinan. Ia tak pernah absen dari upacara bendera, tak pernah lalai dari tugas pengawasan, dan tak pernah membiarkan satu pun pelanggaran kecil berlalu tanpa teguran. Di kalangan guru, ia sudah dianggap senior—bukan hanya karena usia, tetapi karena konsistensinya dalam menjalankan tanggung jawab pendidikan. Di kalangan siswa, ia sering disebut ‘galak’, bahkan tak jarang jadi cerita ikonik yang diceritakan turun-temurun oleh angkatan-angkatan sebelumnya. Namun di balik label kaku dan keras itu, ada satu hal yang tidak bisa disangkal oleh siapa pun: ia adalah guru yang paling mereka rindukan ketika kelulusan tiba.
Ia adalah pilar yang tidak pernah tumbang di tengah zaman yang terus berubah. Ketika kurikulum berganti, teknologi merajalela, dan gaya hidup siswa ikut berevolusi, ia tetap menjadi jangkar yang menahan pendidikan agar tidak kehilangan esensinya: membentuk manusia yang berkarakter. Baginya, tujuan utama pendidikan di SMK bukan semata-mata mencetak tenaga kerja terampil, tetapi membentuk individu yang berintegritas. Ia percaya bahwa keterampilan tanpa karakter adalah seperti kapal tanpa kompas—berlayar tanpa arah.
Ketika banyak guru mulai melonggarkan aturan demi meraih kedekatan semu dengan siswa, ia tetap teguh pada prinsipnya. Ia tidak ingin disukai karena permisif. Ia ingin dihormati karena konsisten. Ketika beberapa guru lain memilih untuk menutup mata terhadap siswa yang datang terlambat atau mengenakan atribut tidak sesuai, ia justru melangkah mendekat, menegur, bahkan memanggil secara khusus untuk berdialog. Bukan untuk mempermalukan, tetapi untuk mengingatkan bahwa ketidakdisiplinan kecil hari ini bisa menjadi kebiasaan buruk yang terbawa saat bekerja kelak.
Ia adalah orang pertama yang tiba di sekolah dan kerap menjadi yang terakhir pulang. Ia mengelilingi area sekolah, mengecek kebersihan toilet, mengingatkan siswa yang duduk sembarangan di tangga, dan bahkan mencatat satu per satu nama siswa yang tertidur saat jam pelajaran berlangsung. Ia membuat catatan pribadi tentang siswa-siswa tertentu yang menunjukkan kecenderungan menyimpang—bukan untuk dilaporkan, tapi untuk dicari akarnya. Di ruang guru, ia sering duduk diam, membuka map-map laporan yang disusunnya sendiri. Laporan yang mencatat perubahan perilaku siswa dari waktu ke waktu, yang kemudian ia gunakan sebagai bahan evaluasi dalam rapat koordinasi wali kelas.
Tak jarang ia disebut ‘kolot’. Gaya bicaranya lugas, tidak berbasa-basi. Ia tidak tertarik dengan tren media sosial, tidak bermain TikTok seperti guru-guru muda lainnya, dan tidak menggunakan emoji ketika mengirim pesan di grup WhatsApp. Tapi siapa pun yang pernah dibimbing olehnya tahu, di balik semua kekakuan itu, ia adalah satu-satunya guru yang benar-benar peduli.
Ia hafal nama hampir seluruh siswa di sekolah. Bahkan tahun-tahun terakhir ini ketika sekolah sudah memiliki lebih dari seribu siswa, ia tetap bisa menyebut nama lengkap siswa yang pernah ia tegur tiga bulan lalu karena tidak membawa ikat pinggang. Ia memperhatikan hal-hal kecil yang sering luput dari pengawasan guru lain—sepatu yang tidak disemir, rambut yang sedikit melewati telinga, badge nama yang hilang. Baginya, detail kecil adalah latihan tanggung jawab. Jika siswa terbiasa memperhatikan hal kecil, maka mereka akan terbiasa bertanggung jawab dalam pekerjaan besar.
Ia juga sangat tegas dalam pelaksanaan apel pagi. Jika siswa datang terlambat, mereka tidak langsung diizinkan masuk kelas, tetapi diajak berdiskusi. Ia meminta mereka menjelaskan alasan keterlambatan secara langsung, tanpa bersembunyi di balik surat izin. Ia tidak akan memarahi, tetapi akan menantang siswa untuk membuat perjanjian perbaikan sikap. “Tulis kontrak disiplinmu, dan kita tandatangani bersama,” begitu katanya. Dengan cara ini, ia menanamkan rasa tanggung jawab, bukan sekadar rasa takut.
Di balik sikap tegasnya, ia memiliki kepekaan yang sangat tinggi terhadap siswa yang diam-diam memendam masalah. Ia bisa melihat dari raut wajah bahwa seorang siswa sedang menyimpan beban. Ia mendekati bukan dengan pelukan, tapi dengan percakapan. “Ada yang bisa saya bantu?” begitu sapanya, datar, tapi dalam. Beberapa siswa pernah menangis di hadapannya, mengaku mengalami tekanan di rumah, konflik dengan teman, atau kegelisahan menghadapi masa depan. Ia tidak langsung memberi solusi. Ia mendengarkan, lalu memberi tantangan. “Kau harus lebih kuat dari masalahmu. Dunia kerja tidak menunggu kesiapanmu. Jadi bersiaplah dari sekarang.”
Meski telah mengabdi selama belasan tahun, ia tidak pernah menuntut posisi atau jabatan. Ia menolak untuk duduk di meja wakil kepala sekolah meski beberapa kali ditawari. Ia memilih tetap berada di garis depan. Baginya, pengabdian bukan soal jabatan, tetapi soal konsistensi. Ia percaya bahwa keberhasilan pendidikan bukan hanya ditentukan oleh strategi manajemen sekolah, tapi oleh kedisiplinan harian yang ditanamkan dari ruang kelas hingga gerbang sekolah.
Banyak siswa yang setelah lulus datang kembali hanya untuk menemuinya. Mereka yang dulu merasa tertekan karena sering ditegur, kini justru menyatakan rasa terima kasih. Beberapa yang bekerja di pabrik mengaku bahwa kedisiplinan yang dibentuk oleh guru ini menjadi bekal utama ketika menghadapi sistem kerja yang keras. Mereka tidak canggung dengan peraturan. Mereka tidak takut pada atasan. Karena mereka sudah ditempa oleh seseorang yang lebih keras, lebih konsisten, dan lebih mencintai mereka daripada siapa pun—meskipun tanpa banyak kata manis.
Tak sedikit juga siswa yang kemudian menjadi guru, dan mencontoh model ketegasannya dalam mengelola kelas. Meski mereka menggunakan pendekatan berbeda, namun semangat mendidik dengan hati dan karakter tetap menjadi inspirasi utama. Ia menjadi standar—meski tak pernah menyatakan dirinya demikian. Ia menjadi panutan—meski tak pernah menginginkannya secara sadar.
Pernah suatu waktu, ia jatuh sakit. Tapi keesokan harinya, ia tetap datang ke sekolah, berdiri di depan kelas untuk siswa-siswanya. Ia tidak menyuruh guru lain menggantikan tugasnya. “Kalau saya masih bisa berdiri, maka saya harus ada di sini,” ucapnya pelan. Guru-guru muda hanya bisa mengangguk, kagum dalam diam.
Ia tidak mengenal konsep pensiun batin. Meski usia sudah melewati batas ideal untuk berdiri berjam-jam di lapangan, semangatnya tidak luntur. Semua itu dilakukan tanpa berharap pujian. Ia merasa cukup ketika siswa berubah. Ketika siswa yang sebelumnya acuh menjadi lebih sadar. Ketika siswa yang pemalas berubah menjadi pelari tercepat dalam lomba kebersihan kelas. Baginya, perubahan perilaku adalah medali terbaik.
Banyak guru datang dan pergi. Beberapa memilih jalur karier yang lebih tinggi. Namun ia tetap di tempat yang sama. Sekolah ini seperti rumah yang telah ia rawat sejak masih berupa fondasi. Ia melihat banyak hal berubah, tetapi satu hal yang tidak pernah ia izinkan berubah: prinsip. Ia tahu, sekolah kejuruan tidak bisa hanya mengandalkan keterampilan teknis. Dunia kerja tidak hanya butuh orang cerdas, tapi orang jujur, disiplin, dan tahan banting. Dan itulah yang ia tanam setiap hari, setiap detik, dari gerbang sekolah hingga lonceng terakhir berbunyi.
Bagi siswa, ia mungkin adalah sosok yang sempat ditakuti. Tapi waktu mengajarkan makna dari ketegasan. Setelah mereka menapaki dunia nyata, barulah mereka sadar: perhatian sejati tidak selalu berbentuk kelembutan. Kadang datang dalam bentuk teguran. Kadang hadir dalam aturan yang ketat. Kadang hidup dalam sosok guru yang berdiri tegak, meski usianya sudah renta, tapi semangatnya jauh melampaui guru-guru muda yang baru mulai menapaki dunia pendidikan.
Ia adalah pengingat bahwa pendidikan bukan hanya tentang menyampaikan materi, tetapi tentang membentuk manusia. Dan manusia yang kuat dibentuk bukan dari kemanjaan, tetapi dari proses yang keras namun penuh cinta. Sosok seperti ini mungkin langka, mungkin sering disalahpahami, tetapi sejatinya merekalah penjaga garda terdepan dalam dunia pendidikan kita. Sosok-sosok seperti ini adalah fondasi yang tak tergantikan dalam membentuk karakter generasi masa depan.
Penulis : Ajeng Virga Sawitri Maro.S.Pd.,M.Pd, Guru PAI SMK Negeri 1 Pringapus Kabupaten Semarang
