Ada sebuah penyakit baru dalam dunia pendidikan kita, yang gejalanya mudah sekali dikenali.
Sekolah sudah dikatakan telah berubah menjadi digital. Namun ketika guru diminta membuka sebuah aplikasi, pertanyaan yang muncul justru ini:
“Pak, tombol masuknya yang mana?”
Jangan buru-buru tertawa.
Bisa jadi yang bertanya itu adalah guru senior yang sudah puluhan tahun mengajar. Ia telah melewati pergantian kurikulum berkali-kali, mengganti kapur dengan spidol, lalu papan tulis dengan layar — dan kini harus bersahabat dengan kata sandi, tautan, kode QR, peramban, papan kendali, serta beragam istilah yang kadang lebih panjang daripada nama materi pelajaran yang ia ajarkan.
Ia bukan tidak mau belajar. Ia hanya sedang menghadapi dunia yang berubah jauh lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk beradaptasi.
Di sinilah kita perlu berhenti sejenak. Sebab pendidikan digital bukan sekadar soal menyediakan perangkat.
Membeli alat adalah urusan pengadaan. Membuat manusia mampu menggunakannya adalah urusan pendidikan. Sayangnya, dua hal itu sering dianggap sama.
Satu Papan Cerdas, Banyak Guru,dan Persoalannya
Di sekolah-sekolah kini mulai hadir apa yang disebut papan cerdas interaktif : layarnya besar, bisa disentuh, menampilkan materi, dan mendukung pembelajaran yang aktif. Singkatnya, tampak sangat modern.
Namun masalahnya hanya satu: jumlahnya cuma satu. Padahal guru yang membutuhkannya puluhan, kelasnya banyak, dan jadwalnya sudah padat.
Akhirnya satu papan cerdas itu ibarat sumur di musim kemarau. Semua membutuhkan, semua ingin mencoba, dan semua merasa pembelajarannya penting.
Maka disusunlah jadwal penggunaannya: Senin untuk Guru A, Selasa untuk Guru B, Rabu untuk Guru C, Kamis untuk Guru D, Jumat entah untuk siapa. Kalau ada guru yang mendapat giliran tetapi batal memakai karena ada kegiatan lain, papan cerdas itu pun kembali menunggu.
Benda itu akhirnya bukan lagi sekadar sarana pembelajaran. Ia berubah menjadi simbol kemajuan digital sekolah.
Padahal sebuah simbol tidak otomatis membuat pembelajaran menjadi lebih maju. Ada sekolah yang memiliki papan cerdas, tetapi gurunya tetap merasa lebih nyaman menulis di papan tulis biasa.
Bukan salah gurunya. Bukan pula salah papan cerdasnya. Yang keliru adalah anggapan bahwa menyediakan perangkat sama dengan mengubah cara pembelajaran.
Kalau membeli alat saja sudah membuat guru mahir menggunakannya, mungkin kita tidak perlu pelatihan apa pun. Tinggal beli, pasang, foto, selesai. Besok pagi semua guru langsung mahir menggunakan teknologi. Betapa indahnya dunia birokrasi kalau semuanya sesederhana itu.
Guru Senior dan Misteri Tombol
Ada guru senior yang sangat hebat menjelaskan materi. Saat berbicara di depan kelas, para siswa tenang menyimak. Ia tahu kapan harus serius, kapan harus bercanda, siapa yang belum paham meski sudah mengangguk, dan siapa yang pura-pura mengerti padahal belum jelas.
Namun ketika berhadapan dengan aplikasi asesmen, segala kepiawaiannya mendadak diuji oleh satu pertanyaan sederhana:
“Yang diklik bagian mana?”
Kita terlalu cepat memberi cap “tidak paham teknologi” kepada mereka. Padahal seseorang bisa saja sangat memahami hakikat pendidikan, tetapi belum terbiasa dengan aplikasi. Itu dua hal yang berbeda.
Guru yang puluhan tahun mampu membaca karakter siswa tidak otomatis mampu membaca tampilan papan kendali. Guru yang menguasai konsep fotosintesis belum tentu paham mengapa soal yang sudah dimasukkan tiba-tiba hilang. Guru yang mampu menjelaskan sistem peredaran darah dengan indah pun bisa saja jantungnya berdebar ketika jaringan putus saat mengunggah soal.
Di sinilah selera humor kita berubah menjadi perih. Kita menuntut guru menjadi serba bisa: mengajar harus mampu, administrasi harus rapi, teknologi harus paham, asesmen harus terampil, kecerdasan buatan harus dikuasai, video pembelajaran harus dibuat, platform digital harus dikuasai, laporan harus lengkap. Kalau bisa semuanya, disebut profesional. Kalau belum, dikatakan perlu ditingkatkan kemampuannya.
Padahal yang dibutuhkan mungkin bukan ceramah lagi tentang transformasi digital. Mungkin mereka hanya butuh seseorang yang duduk di sampingnya dengan tenang dan berkata:
“Pak, pelan-pelan. Saya tunjukkan caranya.”
Rapat Sepakat, Masalah Berikutnya
Lalu tibalah saatnya rapat. Rapat kurikulum, rapat asesmen, rapat persiapan ujian, rapat evaluasi, rapat tindak lanjut. Terlalu banyak rapat untuk memastikan hal yang sebenarnya sederhana: apakah siswa sudah belajar atau belum?
Namun karena dunia pendidikan kini semakin canggih, pertanyaannya bergeser: platform apa yang dipakai? Aplikasi apa? Daring atau luring? Sistem manajemen pembelajaran atau formulir daring? Peramban khusus atau tidak? Papan cerdas dipakai kapan? Siapa yang mengunggah soal? Bagaimana nilainya dirangkum? Laporannya dicetak atau dikirim secara digital?
Rapat berlangsung lama, catatan dibuat, foto diambil, keputusan ditandatangani, pembagian tugas disusun. Semua tampak sangat rapi dan profesional.
Namun tibalah hari pelaksanaannya:
“Pak, tautannya tidak bisa dibuka.”
“Bu, peladen sedang bermasalah.”
“Pak, anak-anak belum bisa masuk akun.”
“Bu, perangkat saya kehabisan daya.”
“Pak, kuota data saya habis.”
Rencana yang tampak begitu kokoh kemarin mendadak tinggal kenangan. Namun jangan khawatir — di akhir kegiatan selalu ada satu kalimat penyelamat:
“Yang penting laporannya sudah ada.”
Kalimat inilah yang sebenarnya lebih berbahaya daripada sistem yang mati. Sebab pendidikan perlahan bergeser dari melakukan hal yang benar menjadi sekadar membuktikan bahwa sesuatu sudah dilakukan.
Laporan Lengkap, Pembelajaran Belum Tentu
Ini masalah lama yang mengenakan pakaian baru. Dulu berupa berkas tebal, kini berupa berkas digital. Dulu tabel dicetak, kini masuk ke lembar kerja. Dulu tanda tangan basah, kini unggah. Dulu disimpan di lemari, kini tersimpan di penyimpanan awan.
Bentuknya berubah, tetapi kebiasaannya tetap sama. Yang terpenting adalah dokumen lengkap: daftar peserta, instrumen, hasil, analisis, rencana tindak lanjut, foto kegiatan, foto siswa, foto layar : semuanya lengkap!
Namun satu pertanyaan kadang tercecer di antara berkas itu: setelah asesmen ini dilaksanakan, apa yang berubah dalam cara siswa belajar? Jika banyak yang belum paham materi, apa tindak lanjutnya? Jika banyak yang salah pada bagian tertentu, apakah cara mengajarnya diperbaiki? Jika nilainya tinggi, apakah mereka benar-benar paham atau soalnya memang terlalu mudah?
Perlu dibedakan antara asesmen sebagai kegiatan yang selesai dilakukan, dan asesmen sebagai alat untuk memperbaiki pembelajaran. Yang pertama bisa selesai dalam satu pagi. Yang kedua memerlukan pemikiran yang sungguh-sungguh.
Beban yang Tidak Tercatat
Ada pihak yang jarang hadir dalam rapat sekolah, tetapi menanggung dampaknya: orang tua.
Ketika asesmen dilaksanakan secara daring menggunakan perangkat pribadi, mereka tidak ikut memilih aplikasi, tidak ikut menentukan sistem, tidak ikut menyusun jadwal. Namun mereka yang menanggung biayanya: kuota data, pengisian daya, perangkat, biaya perbaikan.
Bagi sebagian keluarga itu mungkin hal kecil. Bagi yang lain, tidak. Pendidikan yang adil tidak hanya menghitung biaya yang dikeluarkan sekolah, tetapi juga beban yang diam-diam dipikulkan kepada keluarga.
Jangan sampai sekolah berkata “ujiannya gratis”, sementara orang tua bertanya dalam hati: “Gratis dari sisi mana?”
Dilema Hadirnya Kecerdasan Buatan
Belum selesai dengan persoalan jaringan, kini kita berhadapan dengan kecerdasan buatan. Siswa menggunakannya, guru pun demikian. Mungkin kelak laporan, analisis, dan ringkasan semuanya dibuat oleh mesin, lalu dibaca oleh manusia yang sudah kelelahan.
Tidak ada yang salah dengan teknologi itu. Yang perlu kita jujuri adalah apa yang sebenarnya sedang kita ukur. Jika tugas yang diberikan jawabannya mudah didapatkan lewat mesin, lalu kita menilai hasilnya sebagai bukti kemampuan berpikir siswa, yang dinilai sebenarnya bukan kemampuan mereka.
Begitu pula bagi guru. Mesin bisa membantu menyusun soal, tetapi guru tetap wajib memeriksa: Apakah soalnya tepat? Sesuai dengan kemampuan yang diharapkan? Tingkat kesulitannya pas? Bahasanya dipahami siswa? Jawabannya benar?
Mesin bisa membantu, tetapi tidak boleh mengambil alih tanggung jawab mendidik. Kalau tidak, kita akan tiba di masa ini: soal dibuat mesin, jawaban dibuat mesin, laporan dibuat mesin, dan manusia tinggal mengklik tombol “kirim”.
Tes Daring Mengundang Kecurangan?
Tes secara daring membuka kemungkinan siswa mencari jawaban lewat perangkat lain, bertanya kepada teman, atau menggunakan mesin pencari. Lalu kita marah dan menyebut mereka tidak jujur.
Kecurangan memang tidak dapat dibenarkan. Namun sistemnya pun perlu dirancang sesuai kenyataan. Jangan membuat pintu terbuka lebar lalu marah kepada siapa saja yang melaluinya. Jangan membuat soal yang jawabannya tinggal disalin dari internet, lalu menyimpulkan bahwa siswa sudah menguasai materi.
Mungkin saatnya mengubah jenis pertanyaannya. Bukan sekadar menanyakan “apa pengertiannya”, melainkan:
– Mengapa demikian?
– Bagaimana jika hal lain terjadi?
– Apa buktinya?
– Bandingkan keduanya.
– Jelaskan alasannya.
Dengan begitu, teknologi tidak lagi sekadar sarana mencari jawaban instan. Ia justru mendorong kita menyusun asesmen yang lebih bermakna.
Jangan Mengukur Kemampuan Menggunakan Perangkat
Inilah inti persoalannya. Jika yang ingin diketahui adalah pemahaman siswa tentang sistem pernapasan, maka yang dinilai adalah pemahaman mereka tentang materi itu, bukan kemampuan membuka aplikasi, bukan keterampilan mengatasi gangguan jaringan, bukan kecepatan mengetik, bukan jenis perangkat yang dimiliki, bukan kemampuan mencari jawaban di internet.
Teknologi boleh menjadi kendaraan, tetapi jangan sampai kendaraannya yang justru menjadi tujuan perjalanan. Kalau tujuannya ke suatu kota, jangan sampai kita sibuk menilai bagus tidaknya bus, lalu lupa memastikan apakah penumpangnya sampai ke tempat tujuannya.
Digitalisasi Bukan Perlombaan Gengsi
Kita tidak perlu menolak teknologi. Sekolah memang harus beradaptasi. Namun beradaptasi bukan berarti segala hal harus dilakukan secara daring. Tidak semua yang digital otomatis lebih baik, dan tidak semua yang bermakna langsung berarti kuno.
Ada materi yang cocok ditampilkan di layar besar, ada yang lebih hidup jika dijelaskan langsung di papan tulis. Ada saatnya perangkat digunakan, ada saatnya perangkat justru disimpan. Kebijaksanaan pendidik terletak pada kemampuan memilih alat yang sesuai dengan tujuan, bukan pada banyaknya alat yang dipajang.
Sekolah Digital atau Berkasnya yang Digital?
Pertanyaan yang paling penting mungkin ini: apakah kita sedang membangun sekolah yang memanfaatkan teknologi untuk pembelajaran, atau sekadar mengubah bentuk berkas administrasi menjadi digital?
Sekolah yang memanfaatkan teknologi bukanlah sekolah yang paling banyak aplikasinya atau paling banyak tampilan indahnya. Ia adalah sekolah yang menggunakan teknologi secara masuk akal agar proses belajar menjadi lebih baik — guru terbantu, siswa lebih mudah memahami, penilaian bermakna, data bermanfaat, dan orang tua tidak dibebani tanpa keperluan.
Hal yang terpenting: hasil penilaian benar-benar dipakai untuk memperbaiki pembelajaran. Jika setelah selesai semua orang sibuk mengunduh laporan tetapi tidak ada yang membaca apa yang sebenarnya belum dipahami siswa, kita perlu bertanya: untuk apa sebenarnya kegiatan ini diadakan? Jangan-jangan yang kita ukur bukanlah kemajuan belajar, melainkan kelengkapan berkas. Dan itu dua hal yang sangat berbeda.
Kembali Menjadi Manusia
Sudah waktunya kita berhenti sejenak dari perlombaan menjadi sekolah yang paling terlihat modern. Mari kita melihat para guru. Ada yang sudah sangat terampil dengan teknologi, ada yang masih butuh ditemani, ada yang sudah mengenal kecerdasan buatan, ada yang baru belajar membuka surat elektronik.
Jangan ditertawakan. Dampingi mereka. Sebab guru bukan mesin. Kemampuan menggunakan teknologi adalah hal yang bisa dipelajari — perlahan, bersama-sama.
Demikian pula para siswa. Mereka bukan sekadar pengguna aplikasi. Mereka adalah manusia yang sedang tumbuh.
Pendidikan bukan perlombaan siapa paling cepat mengikuti perkembangan zaman. Pendidikan adalah usaha panjang agar manusia mampu berpikir, memahami, memilih, bertanggung jawab, dan hidup bersama sesamanya.
Silakan gunakan segala kemudahan yang ada. Namun sebelum melaksanakannya, tanyakan satu hal:
“Apakah ini memudahkan pembelajaran, atau hanya memudahkan penyusunan laporan?”
Jika jawabannya yang kedua, kita sedang berada di jalan yang berbahaya. Sekolah bisa tampak sangat maju, layarnya bisa sebesar dinding, nilainya bisa keluar seketika, laporannya bisa selesai sebelum guru sempat minum kopi.
Namun jangan sampai di balik segala kemegahan itu, masih ada seseorang yang bertanya pelan-pelan:
“Maaf, tombolnya yang mana?”
Ada hal yang lebih menyedihkan lagi, ada siswa yang mendapat nilai tinggi, padahal kita tidak yakin apakah ia benar-benar memahami pelajarannya, atau hanya sistemnya yang memang memudahkan angka itu muncul.
Pada saat itulah kita perlu tersenyum, lalu merasakan perih di dada. Sebab sebenarnya yang sedang menjalani ujian bukan hanya para siswa.
Sekolah pun sedang diuji. Dan untuk ujian yang satu ini, nilai tidak akan keluar secara otomatis.
Ajibarang, 2 Oktober 2026
Oleh: Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja

Beri Komentar