Sabtu, 23-05-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Kiprah SMKN 1 Tuntang dalam Festival Literasi Jawa Tengah 2025

Diterbitkan : Sabtu, 23 Mei 2026

Budaya literasi menjadi salah satu fondasi penting dalam dunia pendidikan modern. Literasi tidak lagi dipahami sekadar kemampuan membaca dan menulis, melainkan juga kemampuan memahami, mengolah, serta mengekspresikan gagasan secara kreatif dan bermakna. Di tengah derasnya arus perkembangan teknologi dan informasi, sekolah memiliki peran strategis dalam menumbuhkan kecintaan terhadap literasi sejak dini. Salah satu bentuk nyata penguatan budaya literasi tersebut tampak melalui partisipasi SMKN 1 Tuntang dalam Festival Literasi Jawa Tengah 2025 yang mengusung antologi puisi bertema Ibu dan Perjuangan.

Festival Literasi Jawa Tengah 2025 menjadi ruang kolaboratif yang mempertemukan berbagai elemen masyarakat untuk berkarya dan berbagi kisah inspiratif. Kegiatan ini melibatkan para tokoh daerah, guru, murid SMA/SMK se-Jawa Tengah, hingga masyarakat umum. Melalui tema besar tentang ibu dan perjuangan, festival ini tidak hanya menghadirkan karya sastra semata, tetapi juga menjadi wadah refleksi atas nilai-nilai kehidupan yang penuh makna. Dalam suasana yang sarat semangat literasi tersebut, SMKN 1 Tuntang hadir sebagai salah satu sekolah yang menunjukkan antusiasme dan kontribusi luar biasa.

Partisipasi SMKN 1 Tuntang dalam kegiatan ini diwujudkan melalui pengiriman puluhan karya puisi hasil kreativitas warga sekolah. Sebanyak satu karya puisi berasal dari kepala sekolah, tujuh karya dari guru, dan empat puluh karya dari murid. Jumlah tersebut menjadi bukti bahwa semangat menulis dan berkarya tumbuh subur di lingkungan sekolah. Tidak hanya guru yang memberikan teladan melalui tulisan, para murid pun turut mengambil bagian aktif dalam menuangkan gagasan, pengalaman, serta perasaan mereka ke dalam larik-larik puisi yang menyentuh hati.

Seluruh karya puisi yang telah terkumpul kemudian dicetak, dibukukan, dan diterbitkan pertama kali oleh Komunitas Yuk Menulis (KYM) yang beralamat di Karangduren RT/RW 2/4, Kebonarum, Klaten, Jawa Tengah 57486. Proses penerbitan tersebut menjadi langkah penting dalam mengabadikan karya-karya literasi para peserta agar dapat dinikmati lebih luas oleh masyarakat. Kehadiran buku antologi puisi ini sekaligus menjadi bentuk apresiasi terhadap kreativitas para penulis dari berbagai kalangan yang telah mencurahkan ide dan perasaannya melalui karya sastra.

Buku antologi puisi yang telah selesai diterbitkan kemudian dikirimkan kembali ke SMKN 1 Tuntang. Kehadiran buku tersebut disambut dengan penuh kebanggaan oleh seluruh warga sekolah. Kini, antologi puisi itu telah tersedia di perpustakaan sekolah dan dapat dibaca oleh seluruh warga SMKN 1 Tuntang. Kehadiran buku karya bersama tersebut tidak hanya memperkaya koleksi perpustakaan, tetapi juga menjadi sumber inspirasi bagi murid lain untuk terus mengembangkan minat membaca dan menulis.

Prestasi membanggakan juga diraih SMKN 1 Tuntang dalam ajang tersebut. Karya puisi dari guru dan murid mendapatkan penghargaan berupa piala dan piagam. Penghargaan tersebut menjadi bentuk pengakuan atas dedikasi, kreativitas, dan semangat literasi yang telah ditunjukkan oleh keluarga besar SMKN 1 Tuntang. Lebih dari sekadar simbol kemenangan, penghargaan itu menjadi motivasi untuk terus berkarya dan menjaga semangat literasi agar tetap tumbuh dalam kehidupan sekolah.

Salah satu karya yang menarik perhatian berasal dari Kepala SMKN 1 Tuntang, Bapak Nanang Nurdiyanto. Dalam puisinya, beliau menghadirkan sosok ibu sebagai simbol kasih sayang, pengorbanan, dan perjuangan tanpa batas. Penggalan puisi tersebut berbunyi:

“Sepagi itu kau bangun, menengadah doa untuk anak-anakmu Ibu
Bergegas meski tubuh lemas, menuju dapur meski usia sudah uzur
Tanpa lelah, engkau selalu ke sawah
Mengolah tanah untuk penghasilan yang berkah
…”

Larik-larik sederhana namun penuh makna tersebut mampu menghadirkan suasana emosional yang begitu dekat dengan kehidupan masyarakat. Sosok ibu digambarkan sebagai pribadi tangguh yang tidak mengenal lelah dalam memperjuangkan kehidupan keluarga. Melalui puisi tersebut, pembaca diajak untuk merenungkan kembali betapa besar pengorbanan seorang ibu dalam mendampingi perjalanan hidup anak-anaknya.

Dalam bionarasinya, Bapak Nanang Nurdiyanto mengungkapkan bahwa dirinya merupakan seorang anak petani yang tumbuh dengan limpahan kasih sayang keluarga. Orang tua, terutama sang ibu, telah mencurahkan seluruh tenaga dan pengorbanannya demi pendidikan anak-anak. Berkat perjuangan tersebut, beliau mampu menempuh pendidikan tinggi di Universitas Negeri Yogyakarta dan Universitas Gadjah Mada. Kisah tersebut menjadi bukti nyata bahwa perjuangan orang tua memiliki pengaruh besar terhadap keberhasilan anak dalam meraih masa depan.

Nilai-nilai perjuangan yang tertuang dalam puisi tersebut juga menjadi refleksi penting bagi generasi muda. Di tengah kehidupan yang semakin modern, penghormatan terhadap jasa orang tua sering kali terlupakan. Padahal, keberhasilan seseorang tidak pernah lepas dari doa, dukungan, dan pengorbanan keluarga. Melalui karya sastra, pesan moral seperti ini dapat disampaikan dengan lebih menyentuh dan mudah diterima oleh pembaca, khususnya kalangan pelajar.

Semangat literasi yang tumbuh di SMKN 1 Tuntang juga mendapatkan dukungan penuh dari para guru. Salah satunya disampaikan oleh Aristiani selaku Kajur Busana SMKN 1 Tuntang. Beliau menuturkan bahwa Festival Literasi Jawa Tengah 2025 dengan tema Ibu dan Perjuangan mampu menjadi sarana sinergi antara guru dan murid dalam menggiatkan budaya literasi. Menurutnya, selesainya antologi puisi tersebut merupakan pencapaian yang sangat membanggakan bagi sekolah.

Beliau juga menegaskan bahwa menulis buku kumpulan puisi bukan sekadar menghasilkan karya, tetapi juga menjadi kontribusi nyata dalam menyebarkan ilmu pengetahuan serta inspirasi bagi pembaca. Kegiatan menulis mampu melatih kemampuan berpikir kritis, meningkatkan kreativitas, dan memperkuat kemampuan komunikasi murid. Dalam proses menulis, seseorang belajar mengolah ide, memilih kata yang tepat, serta menyampaikan pesan dengan cara yang menarik dan bermakna.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa literasi memiliki dampak luas dalam proses pendidikan. Kemampuan menulis tidak hanya bermanfaat dalam pembelajaran bahasa, tetapi juga mendukung perkembangan intelektual dan karakter murid secara menyeluruh. Murid yang terbiasa membaca dan menulis cenderung memiliki kemampuan analisis yang lebih baik, daya imajinasi yang berkembang, serta kepercayaan diri dalam menyampaikan pendapat.

Kegiatan literasi seperti penulisan antologi puisi juga menjadi ruang penting bagi murid untuk mengekspresikan diri. Setiap puisi yang ditulis mencerminkan pengalaman, perasaan, dan sudut pandang penulis terhadap kehidupan. Dengan demikian, sastra menjadi media yang mampu mendekatkan dunia pendidikan dengan realitas sosial dan emosional yang dialami peserta didik. Hal inilah yang membuat kegiatan literasi memiliki nilai edukatif sekaligus humanis.

Keberhasilan SMKN 1 Tuntang dalam Festival Literasi Jawa Tengah 2025 sekaligus membuktikan bahwa sekolah kejuruan tidak hanya unggul dalam bidang keterampilan vokasional, tetapi juga mampu berkembang dalam dunia literasi dan seni. Selama ini, sekolah kejuruan kerap dipandang lebih fokus pada praktik kerja dan penguasaan keterampilan teknis. Namun melalui kegiatan ini, SMKN 1 Tuntang menunjukkan bahwa kreativitas dalam bidang sastra juga dapat tumbuh dengan baik di lingkungan pendidikan vokasi.

Budaya literasi yang kuat akan memberikan dampak positif bagi kualitas pendidikan secara keseluruhan. Sekolah yang aktif mengembangkan literasi cenderung mampu menciptakan lingkungan belajar yang lebih kritis, kreatif, dan inspiratif. Murid tidak hanya belajar untuk menghafal materi pelajaran, tetapi juga belajar memahami kehidupan, menyampaikan gagasan, serta menghargai karya orang lain. Inilah esensi pendidikan yang sesungguhnya, yakni membentuk manusia yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga matang secara emosional dan sosial.

Harapan besar pun disampaikan agar budaya literasi di dunia pendidikan terus berkembang. Semakin banyak generasi muda yang gemar membaca, menulis, dan berkarya, maka semakin besar pula peluang lahirnya sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing. Di era globalisasi yang penuh tantangan, kemampuan literasi menjadi modal penting untuk menghadapi perubahan zaman. Literasi membantu seseorang memahami informasi secara bijak, berpikir kritis, serta mampu beradaptasi dengan perkembangan dunia.

Keikutsertaan SMKN 1 Tuntang dalam Festival Literasi Jawa Tengah 2025 menjadi contoh inspiratif tentang bagaimana sekolah dapat membangun budaya literasi melalui kolaborasi seluruh warga sekolah. Guru dan murid tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan saling mendukung dalam menciptakan karya yang bermakna. Semangat kebersamaan inilah yang menjadikan literasi bukan sekadar program sekolah, tetapi menjadi bagian dari budaya yang hidup dalam keseharian.

Bagi masyarakat sekitar yang ingin membaca karya puisi dari guru dan murid SMKN 1 Tuntang, karya tersebut dapat diakses melalui tautan berikut: akses antologi puisi SMKN 1 Tuntang 2025. Kehadiran akses digital ini semakin memperluas jangkauan literasi sehingga karya-karya inspiratif tersebut dapat dinikmati oleh masyarakat secara lebih luas.

Pada akhirnya, Festival Literasi Jawa Tengah 2025 bukan hanya menjadi ajang perlombaan atau penerbitan buku semata, tetapi juga menjadi momentum penting untuk meneguhkan kembali makna literasi dalam dunia pendidikan. Melalui puisi-puisi yang lahir dari hati, para guru dan murid SMKN 1 Tuntang telah menunjukkan bahwa kata-kata memiliki kekuatan untuk menginspirasi, menyentuh perasaan, dan menumbuhkan harapan. Dari ruang-ruang kelas dan perpustakaan sekolah, semangat literasi itu terus tumbuh, mengakar, dan kelak akan melahirkan generasi yang tidak hanya terampil, tetapi juga peka terhadap kehidupan dan kemanusiaan.

Penulis : Nurul Rahmawati, S.Pd., Guru SMKN 1 Tuntang

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan