Senin, 02-11-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Piala Untuk Sekolah, Perjuangan Untuk Siapa? Ketika Prestasi Murid Menjadi Modal Kebanggaan dan Pencitraan Lembaga

Diterbitkan : Senin, 2 November 2026

“Raihlah prestasimu, harumkan nama sekolahmu!”

Kalimat itu begitu akrab di telinga kita. Terdengar heroik, penuh motivasi, bahkan seolah menjadi semboyan mulia dalam dunia pendidikan. Setiap kali seorang murid memenangkan perlombaan, sekolah ikut bersorak. Foto dipajang, berita disebarkan, piala diperlihatkan, dan nama sekolah disebut dengan bangga.

Namun, pernahkah kita berhenti sejenak untuk bertanya: prestasi itu sebenarnya milik siapa? Untuk siapa seorang anak berjuang meraih kemenangan? Apakah untuk mengembangkan potensi dirinya, atau sekadar untuk menambah daftar kebanggaan lembaga tempat ia belajar?

Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana. Tetapi di baliknya tersimpan persoalan yang lebih mendasar tentang orientasi pendidikan: apakah sekolah sungguh-sungguh menempatkan anak sebagai subjek pendidikan, atau tanpa sadar menjadikan mereka instrumen untuk membangun reputasi institusi?

Tentu tidak ada yang salah ketika sekolah bangga atas prestasi muridnya. Justru sekolah patut bersyukur jika anak-anak yang belajar di dalamnya mampu menunjukkan kemampuan terbaik. Persoalan muncul ketika kebanggaan itu berubah menjadi klaim sepihak, sementara proses dan pihak-pihak yang berjasa justru menghilang dari cerita.

Sebab, sebuah prestasi tidak pernah lahir secara tiba-tiba hanya demi penghargaan berujud selembar piagam atau sebuah piala.

Di balik seorang juara, sering kali ada cerita panjang yang tidak diketahui banyak orang. Ada anak yang berlatih musik, vokal, bela diri, renang, atau olahraga di luar jam sekolah. Ada pula yang mengikuti bimbingan Olimpiade Sains, belajar bersama pelatih atau lembaga pembinaan di luar sekolah. Ada waktu yang dikorbankan, biaya yang dikeluarkan, keringat yang bercucuran, kegagalan yang berulang, serta orang tua yang setia mendampingi.

Tidak jarang, seluruh proses itu berlangsung jauh dari perhatian sekolah.

Namun, ketika kemenangan tiba, pengumumannya segera berubah menjadi: “Siswa Sekolah X Berhasil Meraih Juara!”

Nama sekolah tampil dengan huruf besar. Foto siswa menghiasi media sosial. Prestasi itu menjadi kabar baik bagi lembaga. Tidak ada yang keliru dengan publikasi semacam itu. Akan tetapi, alangkah baiknya jika cerita tentang proses, dukungan keluarga, pelatih, dan perjuangan anak juga memperoleh tempat yang layak.

Sebab, jangan sampai yang paling terlihat justru lembaganya, sedangkan yang paling berjasa malah tidak disebutkan.

Di sinilah kita perlu membedakan antara menjadi bagian dari prestasi dan merasa memiliki seluruh prestasi.

Sekolah memang mempunyai peran penting. Ia menyediakan ruang belajar, identitas kelembagaan, kesempatan mengikuti perlombaan, serta lingkungan yang memungkinkan anak berkembang. Dalam banyak kompetisi, status sebagai siswa dari sekolah tertentu bahkan menjadi persyaratan untuk dapat berpartisipasi.

Tetapi, apakah seluruh kontribusi kelembagaan itu otomatis menjadikan sekolah sebagai pemilik prestasi murid?

Tentu tidak.

Masalahnya menjadi lebih menarik ketika kita menjumpai praktik pengumpulan piala dan piagam asli siswa untuk disimpan di sekolah, sementara siswa hanya memperoleh duplikatnya, bahkan terkadang harus membayar sendiri. Piala yang semula menjadi kenangan atas perjuangan seorang anak akhirnya lebih banyak menghiasi lemari sekolah daripada menemani perjalanan hidup pemilik prestasi itu sendiri.

Barangkali lemari sekolah memang membutuhkan tambahan koleksi. Namun, bukankah kenangan perjuangan seorang anak juga layak mendapatkan tempat yang istimewa?

Fenomena ini terasa semakin problematis ketika prestasi siswa dijadikan materi promosi lembaga. Foto juara dipasang pada spanduk, brosur penerimaan murid baru, laman sekolah, hingga berbagai unggahan media sosial. Prestasi menjadi semacam etalase yang menunjukkan bahwa sekolah tersebut hebat dan layak dipilih.

Sekali lagi, mempublikasikan prestasi bukanlah kesalahan. Sekolah berhak memperkenalkan keberhasilan muridnya kepada masyarakat. Apalagi jika sekolah memang terlibat dalam pembinaan dan pendampingan.

Tetapi ada batas etis yang perlu dijaga. Anak bukan komoditas promosi. Prestasinya bukan barang dagangan yang dapat dipindahkan begitu saja menjadi modal reputasi lembaga. Penghargaan terhadap prestasi harus berjalan beriringan dengan penghargaan terhadap proses dan orang-orang yang ikut melahirkannya.

Jangan sampai sekolah lebih bersemangat mengumumkan kemenangan daripada memahami perjalanan panjang yang ditempuh muridnya untuk mencapai kemenangan itu.

Sesungguhnya, yang perlu dibangun bukanlah pertentangan antara sekolah, siswa, dan keluarga. Ketiganya merupakan bagian dari ekosistem pendidikan. Ada prestasi yang lahir dari pembinaan sekolah, ada yang berkembang melalui usaha mandiri dan dukungan keluarga, dan ada pula yang merupakan hasil kerja bersama banyak pihak.

Karena itu, pengakuan atas prestasi semestinya proporsional dengan kontribusi. Sekolah boleh ikut berbangga, tetapi juga perlu jujur menyebut siapa yang membimbing, siapa yang melatih, siapa yang mendukung, dan siapa yang paling banyak berjuang.

Mungkin sudah waktunya sekolah belajar mengucapkan terima kasih kepada anak-anak yang telah membawa nama baiknya. Sebab, tidak semua kebanggaan sekolah lahir dari kerja sekolah itu sendiri.

Lebih jauh lagi, pendidikan seharusnya tidak terjebak dalam perlombaan mengumpulkan piala. Keberhasilan sebuah sekolah tidak semata-mata diukur dari berapa banyak siswanya menjadi juara, berapa banyak piagam yang terkumpul, atau seberapa sering nama sekolah muncul dalam pemberitaan.

Ada keberhasilan yang tidak selalu bisa dipajang di lemari kaca. Anak yang semula tidak percaya diri menjadi berani tampil. Murid yang dahulu kesulitan belajar mulai menemukan cara untuk berkembang. Anak yang tidak pernah memenangkan perlombaan tumbuh menjadi pribadi yang jujur, mandiri, tekun, dan bertanggung jawab.

Bukankah itu juga prestasi pendidikan?

Bahkan, boleh jadi itulah prestasi yang paling mendasar.

Pendidikan bukanlah pabrik penghasil piala untuk menghias lemari sekolah. Pendidikan adalah proses menumbuhkan manusia. Sekolah tidak sedang membangun museum kemenangan, melainkan menyediakan ruang agar setiap anak menemukan dan mengembangkan potensi terbaiknya.

Piala mungkin menjadi kebanggaan hari ini. Piagam mungkin menjadi bukti keberhasilan pada suatu perlombaan. Namun, keduanya bukanlah ukuran tunggal keberhasilan pendidikan.

Prestasi seorang murid boleh menjadi kebanggaan sekolah, tetapi jangan sampai sekolah menjadi lebih besar karena prestasi murid, sementara murid justru kehilangan pengakuan atas perjuangannya sendiri.

Piala boleh tersimpan di lemari sekolah. Tetapi kisah perjuangan dan kebanggaan atas prestasi itu akan selalu menjadi bagian dari kehidupan anak yang meraihnya.

Sekolah tidak harus memiliki semua piala muridnya untuk membuktikan bahwa sekolah itu berhasil. Cukuplah jika anak-anak yang pernah belajar di sana tumbuh menjadi manusia yang mampu berdiri dengan kemampuan, karakter, dan prestasinya sendiri.

Sebab, tugas sekolah bukan membuat dirinya tampak hebat melalui anak-anaknya, melainkan membantu anak-anak itu tumbuh menjadi manusia hebat dengan caranya masing-masing.

Pada akhirnya, sekolah yang berhasil bukan hanya sekolah yang mampu melahirkan para juara, melainkan sekolah yang tidak pernah membuat seorang anak merasa gagal menjadi manusia hanya karena ia tidak membawa pulang piala.

Sebab, tidak setiap anak harus menjadi juara untuk menjadi manusia yang berharga.

Ajibarang, 2 November 2026

Oleh : Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja

2 Komentar

Ahmad Agus Setyawan
Senin, 2 Nov 2026

Menarik sekali isu yang diangkat Mas Tris. Ditengah maraknya marketing sekolah yang menonjolkan prestasi muridnya, tulisan yang diangkat Mas Tris mencoba membedah lebih dalam fenomena ini. Menariknya, tulisan ini memberikan cakrawala menarik, kita sedang ditunjukkan sebuah model pembelajaran mendalam dalam bentuk tulisan, yang membedah persoalan lebih dalam sehingga dapat membangun kesadaran, makna dan semakin menyenangkan untuk dibahas Menurut pendapat saya akan satu sudut pandang yang menjadi titik awal fenomena ini terjadi yaitu keinginan orangtua kepada anaknya yang sedang bersekolah di sekolah tertentu. Keinginan ini tidak salah, tapi selanjutnya ceritanya bisa berbagai macam. Sekolah tidak mensupport akhirnya anak les di luar sekolah, tapi karena kemungkinan masuk dalam even lomba melalui pintu sekolah akhirnya lomba diikuti atas nama sekolah. Pada kasus ini mungkin yang menjadi kegelisahan mas Tris ada benarnya. Ada cerita lain lagi, sekolah mendukung penuh bakat minat murid dan keinginan orangtua. Setelah dirasa cukup, ikut lomba dan menang. Situasi ini bisa dimaklumi jika dapat piala sekolah ikut mengklaim sebagai bentuk usaha sekolah dalam membimbing muridnya. Cuma realitasnya berapa banyak sekolah yang mampu melakukan hal tersebut? Di tengah maraknya efisiensi anggaran? Dalam tulisan Mas Tris sudah dipaparkan sebaiknya sekolah tidak perlu lebih besar dari prestasi murid. Tantangan sekolah adalah bagaimana murid murid memiliki kesempatan untuk menjadi hebat dengan cara mereka sendiri. Ini poin utamanya. Dan hal ini butuh proses yang panjang.

Reply
    Trisnatun, M.Pd
    Senin, 2 Nov 2026

    Prestasi belajar siswa kadang sorotannya hanya tertuju ke pribadi yang mendapat panggung dan menang dalam even pertandingan. Bersamaan dengan munculnya sang bintang ada siswa yang jatuh dan tersisihkan.Kompetisi dalam lomba seringkali menyisakan luka bagi pihak yang kalah, apalagi jika kemudian terindikasi ada rekayasa atau kecurangan sistemik dalam penjurian, bukan rahasia lagi kadang ada sinisme bahwa bahasa jawa *lomba kadang lombo*
    Prestasi belajar yang berupa pencapaian pribadi siswa sangat jarang bergema karena tak ada amplifikasi untuk hal-hal yang dianggap biasa. Sebagai contoh seorang siswa telah berjuang keras,sangat keras untuk mengalahkan rasa takutnya tampil sebagai petugas upacara hari senin, tak pernah direkam sebagai prestasi. Hingga kisah perkuliahan jaman dulu,seorang mahasiswa yang berjuang keras merubah nilai matakuliah dari E menjadi C tidak pernah dinarasikan sebagai sebuah prestasi akademik..

    Reply

Beri Komentar

Balasan