Sabtu, 08-08-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Filosofi Let Them untuk Membangun Kepemimpinan Sekolah yang Tenang, Tangguh, dan Bermakna (Bagian 1)

Diterbitkan : Sabtu, 8 Agustus 2026

Pernahkah Anda sebagai kepala sekolah mengalami malam yang sunyi ketika lampu kamar telah dipadamkan, tubuh sudah sangat lelah setelah seharian mengelola berbagai dinamika di sekolah, tetapi mata tetap sulit terpejam? Pikiran terus berputar tanpa henti, mengulang percakapan, keputusan, dan berbagai peristiwa yang terjadi sepanjang hari.

Anda mungkin kembali mengingat sapaan yang dibalas dingin oleh seorang rekan guru. Atau, pikiran Anda sibuk menafsirkan komentar beberapa orang tua di grup percakapan yang tampak kurang puas terhadap kebijakan baru yang diterapkan sekolah. Semakin dipikirkan, semakin banyak skenario negatif bermunculan, meskipun sebagian besar belum tentu benar-benar terjadi.

Inilah yang dikenal sebagai overthinking. Kondisi ini sering kali jauh lebih menguras energi dibandingkan pekerjaan fisik. Pikiran dipenuhi berbagai kemungkinan buruk, dada terasa sesak, dan emosi perlahan terkuras hanya karena memikirkan sesuatu yang belum tentu nyata.

Menariknya, kelelahan mental yang dialami banyak kepala sekolah bukan semata-mata disebabkan oleh tumpukan pekerjaan administratif. Beban terbesar justru sering datang dari usaha mengendalikan sesuatu yang berada di luar kuasa kita, yaitu sikap, perilaku, dan penilaian orang lain terhadap diri kita maupun terhadap institusi yang kita pimpin.

Dalam dunia pendidikan yang penuh tekanan, banyak kepala sekolah tanpa sadar terjebak pada keinginan untuk mengendalikan hal-hal yang sejatinya mustahil dikendalikan. Kita berharap guru, tenaga kependidikan, peserta didik, maupun orang tua akan bereaksi sesuai harapan hanya karena kita telah bekerja keras dan memberikan yang terbaik.

Kita beranggapan bahwa ketulusan akan selalu dibalas dengan apresiasi, kerja keras akan menghasilkan dukungan, dan kebijakan yang dirancang dengan baik pasti diterima semua pihak. Sayangnya, realitas tidak selalu berjalan demikian.

Ketika kenyataan tidak sesuai dengan skenario yang telah kita bangun dalam pikiran, rasa kecewa pun muncul. Kita mulai menyalahkan diri sendiri, mempertanyakan keputusan yang telah diambil, bahkan berusaha menebak isi pikiran orang lain. Padahal, upaya tersebut hampir tidak pernah menghasilkan jawaban yang memuaskan.

Di sinilah letak jebakannya. Kita menghabiskan begitu banyak energi emosional untuk memecahkan persoalan yang sebenarnya tidak berada dalam kendali kita. Semakin keras kita berusaha memahami atau mengubah cara berpikir orang lain, semakin besar pula kelelahan yang kita rasakan.

Bagi seorang kepala sekolah, obsesi untuk mengendalikan segala sesuatu merupakan salah satu perangkap ego yang paling melelahkan. Tanpa disadari, kita ingin menjadi sutradara bagi kehidupan orang lain—berharap semua orang bergerak sesuai standar yang kita tetapkan.

Keinginan tersebut sering dibungkus dengan alasan yang terdengar mulia, seperti “demi kemajuan sekolah” atau “demi masa depan peserta didik”. Padahal, di balik niat baik itu tersimpan dorongan untuk memastikan semua orang bertindak sesuai harapan kita.

Kenyataannya, mengubah orang lain adalah investasi dengan tingkat keberhasilan yang sangat rendah. Seseorang tidak akan berubah hanya karena kita menginginkannya. Perubahan baru akan terjadi ketika ia sendiri merasa perlu untuk berubah.

Karena itu, memaksa guru yang tidak bersemangat agar menjadi antusias, atau berusaha mengubah orang tua yang keras kepala melalui perdebatan panjang, sering kali hanya menguras energi tanpa menghasilkan perubahan yang berarti. Yang tersisa justru hubungan profesional yang semakin renggang dan suasana kerja yang tidak sehat.

Mengapa kita tetap terdorong melakukan hal tersebut?

Jawabannya berkaitan dengan naluri manusia yang sangat tua. Sejak zaman purba, diterima oleh kelompok merupakan syarat untuk bertahan hidup. Penolakan berarti ancaman bagi keselamatan. Jejak naluri itu masih terbawa hingga sekarang dalam bentuk kebutuhan akan penerimaan dan pengakuan.

Akibatnya, ketika merasa tidak didukung atau tidak dihargai oleh lingkungan sekolah, ego segera bereaksi. Kita berusaha mengendalikan situasi, mencari validasi, dan memastikan semua orang tetap berada di pihak kita. Padahal, semakin kuat keinginan mengendalikan orang lain, semakin besar pula peluang kita kehilangan ketenangan diri.

Psikolog dan penulis Mel Robbins menyebut kondisi ini sebagai illusion of control, yaitu keyakinan bahwa kita mampu mengendalikan sesuatu yang sebenarnya berada di luar kuasa kita. Dalam dunia pendidikan, ilusi ini sering menjebak kepala sekolah pada perasaan bahwa mereka bertanggung jawab atas kenyamanan emosional semua orang di lingkungan sekolah.

Padahal, setiap guru, tenaga kependidikan, orang tua, maupun peserta didik adalah individu yang memiliki kebebasan berpikir, bersikap, dan mengambil keputusan. Kita tidak dapat mengatur bagaimana mereka menilai kebijakan sekolah atau bagaimana mereka merespons setiap tindakan kita.

Di sinilah filosofi let them menawarkan sudut pandang yang menenangkan. Maknanya sederhana, tetapi sangat kuat: biarkan mereka.

Apabila ada guru yang memilih menjaga jarak, biarkan mereka. Jika ada rekan kerja yang lebih suka bergosip daripada berdiskusi secara terbuka, biarkan mereka. Bila ada orang tua yang terus mengkritik setiap kebijakan sekolah tanpa pernah mau memahami alasan di baliknya, biarkan mereka.

Let them bukan berarti menyerah atau bersikap apatis. Filosofi ini justru mengajarkan keberanian untuk menerima kenyataan bahwa kita tidak dapat mengendalikan tindakan orang lain. Energi yang selama ini habis untuk mengubah mereka lebih baik dialihkan untuk memperbaiki diri, memperkuat kepemimpinan, dan membangun sekolah yang semakin berkualitas.

Penting dipahami bahwa menerima kenyataan berbeda dengan menyerah pada keadaan.

Menyerah berarti membiarkan keadaan menghancurkan semangat dan integritas kita. Sebaliknya, menerima kenyataan berarti melihat situasi apa adanya, kemudian memilih respons terbaik tanpa terjebak dalam emosi yang melelahkan.

Kita tidak pernah memiliki “tombol kendali” atas pikiran orang lain. Kita tidak dapat memaksa seseorang menyukai kebijakan kita, menghargai pengorbanan kita, atau memahami setiap keputusan yang kita ambil. Pikiran mereka adalah wilayah yang sepenuhnya menjadi hak mereka.

Semakin kita memaksa memasuki wilayah tersebut, semakin besar pula penderitaan yang kita ciptakan bagi diri sendiri.

Sebaliknya, ketika seorang pemimpin sekolah berhenti menggantungkan harga dirinya pada validasi orang lain, ia akan merasakan perubahan yang luar biasa. Ruang pikirannya menjadi lebih lapang. Beban emosional berkurang. Pikiran yang sebelumnya dipenuhi berbagai kemungkinan buruk berubah menjadi lebih jernih dan terarah.

Energi yang dahulu habis untuk bertanya, “Mengapa mereka tidak mendukung saya?” kini dapat digunakan untuk pertanyaan yang jauh lebih produktif, seperti, “Apa yang bisa saya lakukan agar sekolah ini menjadi lebih baik?”

Perubahan fokus inilah yang membedakan pemimpin yang terus berkembang dengan pemimpin yang terjebak dalam lingkaran overthinking.

Langkah pertama untuk menerapkan filosofi let them adalah membangun jeda kesadaran. Setiap kali muncul rasa kecewa atau marah terhadap tindakan seseorang, jangan terburu-buru bereaksi. Berhentilah sejenak, tarik napas, lalu tanyakan kepada diri sendiri, “Apakah ini benar-benar berada dalam kendali saya?”

Jika jawabannya tidak, lepaskan.

Misalnya, ketika ada orang tua yang meremehkan visi pendidikan yang sedang Anda bangun, Anda tidak harus menghabiskan waktu untuk memenangkan perdebatan. Biarkan mereka memiliki pandangannya sendiri.

Tugas Anda bukan memenangkan semua opini, melainkan menghadirkan bukti melalui kualitas pendidikan dan perkembangan peserta didik. Hasil nyata akan berbicara jauh lebih lantang daripada argumentasi yang panjang.

Kebiasaan mengambil jeda sebelum bereaksi merupakan latihan mental yang sangat berharga. Semakin sering dilakukan, semakin kuat pula kemampuan Anda menjaga ketenangan dalam menghadapi berbagai dinamika di sekolah.

Anda akan belajar membiarkan orang lain menunjukkan karakter aslinya tanpa merasa perlu mengoreksi semuanya. Sebaliknya, perhatian Anda akan tertuju pada satu hal yang benar-benar dapat dikendalikan, yaitu sikap, keputusan, dan respons diri sendiri.

Dalam perjalanan memimpin sekolah, hubungan dengan orang-orang di sekitar juga akan terus berubah. Rekan yang dahulu sangat dekat mungkin perlahan menjauh. Guru yang pernah menjadi pendukung utama bisa saja memilih menempuh jalan berbeda. Bahkan, ada kalanya orang-orang yang kita percaya memutuskan meninggalkan organisasi.

Semua itu merupakan bagian dari dinamika kehidupan.

Memaksakan seseorang untuk tetap bertahan ketika hati dan komitmennya telah berubah hanya akan menciptakan hubungan kerja yang kaku dan tidak sehat. Kepemimpinan yang matang bukan dibangun di atas keterpaksaan, melainkan pada komitmen yang lahir dari kesadaran.

Karena itu, belajarlah menerima bahwa tidak semua orang akan berjalan bersama kita hingga akhir. Ada yang datang untuk bertumbuh bersama, ada pula yang hadir hanya untuk mengajarkan sebuah pelajaran sebelum akhirnya memilih jalan yang berbeda.

Pemimpin yang bijaksana tidak menghabiskan energi untuk menahan setiap orang agar tetap tinggal. Ia memilih menghargai setiap proses perjumpaan, lalu melangkah maju dengan hati yang lapang.

Dalam mengelola sumber daya manusia di sekolah, kita perlu menyadari bahwa setiap orang memiliki perjalanan hidupnya masing-masing. Ada yang hadir untuk tumbuh bersama organisasi dalam waktu yang panjang, tetapi ada pula yang hanya singgah sejenak sebelum melanjutkan langkah ke tempat lain.

Ibarat penumpang dalam sebuah kereta, tidak semua orang akan berada di gerbong yang sama hingga stasiun terakhir. Ada yang naik untuk memberikan kontribusi, pengalaman, atau pelajaran berharga, lalu memilih turun ketika perjalanan mereka telah selesai.

Karena itu, jangan memaksakan seseorang untuk tetap bertahan apabila hati dan komitmennya sudah tidak lagi sejalan dengan visi sekolah. Melepaskan bukan berarti gagal mempertahankan orang terbaik, melainkan menghormati kebebasan setiap individu dalam menentukan arah hidupnya.

Sering kali, kepergian seseorang justru membuka ruang bagi hadirnya orang-orang baru yang lebih selaras dengan budaya kerja dan tujuan organisasi. Pemimpin yang matang memahami bahwa regenerasi merupakan bagian alami dari pertumbuhan sebuah institusi.

Hubungan kerja yang sehat tidak dibangun melalui rasa takut atau keterpaksaan. Sebaliknya, hubungan yang kuat lahir dari kepercayaan, rasa saling menghargai, dan komitmen yang muncul secara sukarela. Orang bertahan bukan karena dipaksa, melainkan karena mereka merasa dihargai dan menemukan makna dalam pekerjaannya.

Ketika kita mampu melepaskan keinginan untuk mengendalikan orang lain, suasana kerja menjadi lebih sehat. Kolaborasi tumbuh karena didasari kepercayaan, bukan manipulasi. Setiap individu diberi ruang untuk berkembang sekaligus bertanggung jawab atas pilihannya sendiri.

Konflik di lingkungan sekolah sering kali bukan disebabkan oleh perbedaan pendapat, melainkan oleh keinginan tersembunyi untuk mengubah karakter orang lain. Kita berharap semua guru memiliki gaya komunikasi yang sama, etos kerja yang identik, atau cara berpikir yang seragam.

Padahal, sekolah dihuni oleh manusia dengan latar belakang, pengalaman, dan kepribadian yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut tidak selalu menjadi masalah. Yang lebih penting adalah bagaimana setiap individu tetap menjunjung profesionalisme dan nilai-nilai organisasi.

Penulis : Ardan Sirodjuddin, S.Pd, M.Pd, Kepala SMKN Jateng di Semarang

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan