Minggu, 09-08-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Filosofi Let Them untuk Membangun Kepemimpinan Sekolah yang Tenang, Tangguh, dan Bermakna (Bagian 2)

Diterbitkan : Minggu, 9 Agustus 2026

Apabila ada guru yang memiliki gaya komunikasi yang berbeda dari harapan Anda, jangan terburu-buru mengubah kepribadiannya. Biarkan ia menjadi dirinya sendiri, kemudian nilai secara objektif apakah perbedaan tersebut masih dapat dikelola dalam koridor profesional atau justru sudah mengganggu kinerja tim.

Dengan cara itu, keputusan yang diambil menjadi lebih rasional, bukan sekadar didorong oleh emosi atau keinginan agar semua orang seragam.

Namun, penting dipahami bahwa filosofi let them bukan berarti membiarkan perilaku yang merusak organisasi. Membiarkan seseorang menunjukkan karakternya tidak sama dengan membiarkan pelanggaran terus berlangsung.

Apabila ada staf yang tidak jujur, mengabaikan tanggung jawab, atau melanggar nilai-nilai dasar sekolah, biarkan tindakan mereka menunjukkan siapa diri mereka sebenarnya. Karakter seseorang akan terlihat melalui pilihan yang ia ambil, bukan melalui penjelasan yang ia berikan.

Setelah fakta menjadi jelas, tugas pemimpin adalah mengambil keputusan yang tegas dan adil. Ketegasan bukanlah bentuk kemarahan, melainkan tanggung jawab untuk menjaga integritas organisasi.

Dengan kata lain, let them bukan berarti membiarkan pelanggaran tanpa konsekuensi. Filosofi ini mengajarkan agar kita tidak menghabiskan energi untuk mengubah karakter seseorang, tetapi fokus pada keputusan yang berada dalam kendali kita.

Prinsip yang sama berlaku ketika menghadapi kritik dari yayasan, masyarakat, atau orang tua peserta didik. Tidak semua kritik harus dibalas. Tidak semua komentar perlu dijelaskan panjang lebar.

Selama kritik tersebut dapat menjadi bahan evaluasi, terimalah dengan lapang dada. Namun, apabila kritik hanya berupa opini yang tidak berdasar atau sekadar upaya menjatuhkan, Anda tidak perlu menjadikannya beban emosional.

Biarkan mereka memiliki pendapatnya. Tugas Anda bukan memenangkan semua perdebatan, melainkan memastikan sekolah tetap bergerak menuju tujuan yang telah ditetapkan.

Untuk dapat melakukan hal itu, seorang pemimpin memerlukan boundaries yang sehat.

Boundaries bukan berarti bersikap dingin atau tidak peduli. Sebaliknya, boundaries adalah kemampuan membedakan antara empati dan keterikatan emosional yang berlebihan. Kita tetap mendengarkan, tetap menghargai, dan tetap peduli, tetapi tidak membiarkan emosi orang lain mengambil alih ketenangan diri kita.

Dengan batasan yang sehat, satu komentar negatif dalam rapat tidak akan menghancurkan semangat bekerja sepanjang hari. Satu unggahan di media sosial tidak akan mengganggu fokus kita dalam memimpin sekolah.

Inilah salah satu bentuk kedewasaan emosional yang perlu dimiliki setiap pemimpin pendidikan.

Memimpin bukan tentang mengendalikan semua orang agar selalu sejalan dengan keinginan kita. Memimpin adalah tentang menciptakan lingkungan yang memungkinkan setiap orang bertumbuh, sekaligus menjaga agar organisasi tetap berjalan sesuai nilai dan tujuan yang telah disepakati.

Pemimpin yang mampu mencintai tanpa mengendalikan akan melahirkan tim yang bekerja karena kesadaran, bukan karena tekanan. Dan dari lingkungan kerja seperti itulah lahir budaya organisasi yang sehat, produktif, dan berkelanjutan.

Dalam dunia pendidikan, hambatan terbesar bagi lahirnya inovasi sering kali bukan keterbatasan anggaran atau fasilitas. Hambatan yang paling sulit diatasi justru berasal dari dalam diri sendiri, yaitu rasa takut terhadap penilaian orang lain.

Banyak pemimpin sekolah memiliki gagasan yang baik, tetapi enggan mewujudkannya karena khawatir akan kritik, cibiran, atau penolakan. Mereka lebih memilih berada di zona nyaman daripada mengambil risiko yang mungkin mengundang komentar negatif.

Padahal, setiap perubahan besar selalu diawali oleh keberanian untuk berbeda.

Ketika Anda memiliki ide baru untuk meningkatkan mutu sekolah, akan selalu ada pihak yang meragukannya. Akan selalu ada yang mengatakan bahwa program tersebut terlalu ambisius, sulit diwujudkan, atau tidak sesuai dengan kebiasaan yang sudah ada.

Pada saat seperti itulah filosofi let them menemukan maknanya.

Biarkan mereka meragukan. Biarkan mereka mengkritik. Biarkan mereka memiliki pandangan yang berbeda.

Penilaian orang lain tidak pernah menentukan nilai diri Anda sebagai seorang pemimpin. Yang menentukan adalah integritas, kompetensi, dan konsistensi Anda dalam bekerja. Sejarah menunjukkan bahwa banyak perubahan besar lahir dari orang-orang yang tetap melangkah meskipun tidak semua orang memahami visi mereka.

Prinsip yang sama berlaku ketika menghadapi rekan kerja yang gemar mencari perhatian, membangun pencitraan, atau lebih sibuk berpolitik daripada berkarya.

Daripada menghabiskan energi untuk meladeni permainan tersebut, jauh lebih bijaksana jika Anda memusatkan perhatian pada peningkatan kualitas kinerja. Biarkan mereka sibuk membangun citra. Sementara itu, Anda membangun prestasi.

Pada akhirnya, organisasi yang sehat akan lebih menghargai hasil nyata daripada sekadar kemampuan berbicara. Reputasi yang dibangun melalui karya akan bertahan jauh lebih lama dibandingkan popularitas yang dibangun melalui pencitraan.

Ketakutan terhadap kegagalan juga sering menjadi penghalang kemajuan sekolah. Banyak program inovatif tidak pernah dijalankan karena pemimpinnya takut dianggap gagal apabila hasilnya tidak sesuai harapan.

Padahal, kegagalan bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan bagian dari proses belajar. Tidak ada pemimpin hebat yang tumbuh tanpa pernah membuat kesalahan.

Jika suatu program belum berhasil mencapai target, jangan buru-buru menganggapnya sebagai kegagalan pribadi. Jadikan pengalaman tersebut sebagai bahan evaluasi untuk menyusun langkah yang lebih baik.

Biarkan kegagalan menjadi guru, bukan penjara yang membatasi keberanian Anda untuk terus mencoba.

Mulai hari ini, berhentilah mengambil keputusan hanya demi memenuhi ekspektasi semua orang. Anda tidak mungkin menyenangkan setiap pihak, dan memang bukan itu tugas seorang pemimpin.

Tugas Anda adalah mengambil keputusan terbaik berdasarkan nilai, data, dan kepentingan jangka panjang sekolah. Akan selalu ada pihak yang setuju, tetapi tidak sedikit pula yang memilih untuk tidak sependapat. Itulah konsekuensi dari setiap kepemimpinan.

Semakin cepat Anda menerima kenyataan tersebut, semakin besar energi yang dapat dialihkan untuk hal-hal yang benar-benar memberikan dampak bagi kemajuan sekolah.

Namun, Mel Robbins mengingatkan bahwa let them hanyalah separuh dari perjalanan menuju kebebasan emosional.

Separuh lainnya adalah let me.

Jika let them mengajarkan kita melepaskan kendali atas tindakan orang lain, maka let me mengajarkan kita mengambil kendali penuh atas diri sendiri.

Let me berarti membiarkan diri tetap tenang ketika orang lain memilih marah.

Let me berarti tetap melangkah meskipun ada yang meragukan.

Let me berarti memilih bertindak sesuai nilai yang diyakini, bukan berdasarkan tekanan lingkungan.

Dengan kata lain, setelah berkata, “Biarkan mereka,” langkah berikutnya adalah berkata kepada diri sendiri, “Sekarang biarkan aku melakukan bagian yang menjadi tanggung jawabku.”

Biarkan mereka berpendapat.

Biarkan aku tetap berkarya.

Biarkan mereka menolak.

Biarkan aku terus belajar.

Biarkan mereka pergi.

Biarkan aku melangkah menuju masa depan.

Di situlah letak kebebasan seorang pemimpin.

Kita tidak lagi menghabiskan waktu untuk mengejar validasi, melainkan memusatkan perhatian pada pertumbuhan diri dan kemajuan organisasi. Kita tidak lagi menjadi tawanan opini orang lain, tetapi menjadi pribadi yang mampu memimpin dengan hati yang tenang, pikiran yang jernih, dan tujuan yang jelas.

Pada akhirnya, keberhasilan seorang pemimpin sekolah tidak ditentukan oleh kemampuannya mengendalikan semua orang. Keberhasilan justru lahir dari kemampuannya mengendalikan dirinya sendiri.

Ketika seorang pemimpin mampu menerima kenyataan apa adanya, menetapkan batasan yang sehat, serta tetap bertindak berdasarkan integritas, ia akan membangun budaya kerja yang penuh kepercayaan, kolaborasi, dan keteladanan.

Sebab, kebahagiaan sejati dalam memimpin bukanlah ketika semua orang selalu menyetujui kita, melainkan ketika kita tetap mampu bekerja dengan damai meskipun tidak semua orang berpihak kepada kita.

Itulah esensi let them dan let me: melepaskan apa yang tidak dapat kita kendalikan, lalu memberikan seluruh perhatian pada apa yang benar-benar menjadi tanggung jawab kita.

Dari sanalah lahir pemimpin pendidikan yang tidak hanya berhasil membangun sekolah yang unggul, tetapi juga mampu menjaga ketenangan batin di tengah berbagai dinamika yang tidak pernah berhenti.

Penulis : Ardan Sirodjuddin, S.Pd, M.Pd, Kepala SMKN Jateng di Semarang

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan