Kamis, 30-07-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Ketika Bermain Menjadi Cara Berpikir: Transformasi Pembelajaran Mendalam Di TK Negeri Banawa Gunung Bale (Bagian 1)

Diterbitkan : Minggu, 26 Juli 2026

“Bu Guru, kenapa kura-kura yang besar jalannya lebih lambat dibanding yang kecil?”

Pertanyaan sederhana itu terlontar begitu saja dari seorang anak ketika kami mendampingi peserta didik berkunjung ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tengah. Tidak ada buku paket di tangan mereka, tidak ada lembar kerja yang harus diisi, apalagi target untuk menghafal jawaban tertentu. Yang ada hanyalah mata-mata kecil yang berbinar penuh rasa ingin tahu, menyaksikan langsung seekor kura-kura yang berjalan perlahan di hadapan mereka. Pertanyaan itu lahir secara alami sebagai bentuk keingintahuan yang murni, bukan karena diminta guru atau tertulis dalam daftar pertanyaan.

Beberapa tahun lalu, kemungkinan besar saya akan segera menjelaskan bahwa kura-kura yang lebih besar memiliki bobot tubuh lebih berat sehingga gerakannya lebih lambat. Saya mungkin akan memberikan penjelasan ilmiah mengenai usia, struktur tubuh, atau karakteristik biologis hewan tersebut. Namun, hari itu saya memilih melakukan sesuatu yang berbeda. Saya menahan keinginan untuk segera memberi jawaban. Sebaliknya, saya mengembalikan pertanyaan itu kepada mereka.

“Kalau menurut kalian, kenapa bisa begitu?”

Seketika suasana menjadi hidup. Anak-anak saling berpandangan, kemudian satu per satu mulai mengemukakan pendapat. Ada yang mengatakan bahwa kura-kura besar kelelahan karena membawa cangkang yang berat. Ada yang menduga kura-kura kecil lebih cepat karena tubuhnya lebih ringan. Sebagian lagi mencoba membandingkan gerakan kaki kedua kura-kura yang mereka lihat. Beberapa anak bahkan menirukan cara berjalan kura-kura sambil tertawa riang. Mereka mengamati kembali, berdiskusi, saling menyanggah, lalu mencoba menyusun alasan berdasarkan apa yang mereka lihat secara langsung.

Saat itulah saya menyadari bahwa momen belajar paling berharga bukanlah ketika guru berhasil menyampaikan jawaban secepat mungkin, melainkan ketika anak memperoleh kesempatan untuk mengamati, meragukan, mencoba, berdiskusi, lalu menemukan sendiri pemahamannya. Jawaban yang mereka bangun melalui proses berpikir jauh lebih bermakna dibandingkan jawaban yang hanya mereka dengarkan. Pengalaman sederhana di BKSDA tersebut menjadi titik balik bagi kami dalam memaknai pembelajaran di TK Negeri Banawa Gunung Bale. Sejak saat itu kami mulai memandang bahwa bermain bukan sekadar aktivitas untuk mengisi waktu, melainkan sebuah proses berpikir yang mampu menumbuhkan rasa ingin tahu, kemampuan bernalar, kreativitas, dan keberanian mengambil keputusan.

TK Negeri Banawa Gunung Bale merupakan satu-satunya taman kanak-kanak negeri di Kecamatan Banawa, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Pada Tahun Ajaran 2025/2026 sekolah ini melayani delapan puluh peserta didik yang terbagi dalam empat rombongan belajar. Sekolah berada pada lingkungan yang sangat kaya akan potensi alam. Di satu sisi terbentang kawasan pesisir yang menyuguhkan hamparan pantai, sementara di sisi lain berdiri perbukitan yang dipenuhi beragam vegetasi. Di sekitar sekolah juga terdapat berbagai fasilitas publik yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar, mulai dari pelabuhan, kantor pemadam kebakaran, kawasan konservasi, hingga lingkungan masyarakat yang masih memelihara berbagai permainan tradisional.

Selama bertahun-tahun kami sebenarnya memiliki sumber belajar yang luar biasa. Akan tetapi, kami belum sepenuhnya mampu mengubah kekayaan lingkungan tersebut menjadi pengalaman belajar yang bermakna. Pembelajaran masih berpusat pada hasil akhir. Anak-anak lebih sering diminta menghasilkan karya yang seragam sesuai contoh guru. Mereka dianggap berhasil apabila mampu menyelesaikan lembar kerja dengan benar atau membuat hasil karya yang sama persis dengan contoh yang telah disediakan. Bermain memang diberikan, tetapi lebih dipandang sebagai waktu senggang setelah kegiatan inti selesai, bukan sebagai proses belajar itu sendiri.

Tanpa disadari, guru sering kali terlalu cepat mengambil alih ketika anak mengalami kesulitan. Ketika bangunan balok roboh, guru segera membantu memperbaiki. Saat anak kesulitan menyusun pola, guru langsung menunjukkan jawabannya. Ketika muncul pertanyaan, guru merasa berkewajiban segera memberikan penjelasan yang benar. Akibatnya, anak kehilangan kesempatan untuk berpikir, mencoba, gagal, memperbaiki, dan menemukan solusi melalui usahanya sendiri. Fokus pembelajaran lebih banyak tertuju pada produk yang dihasilkan daripada proses berpikir yang dialami anak.

Perubahan mulai terjadi ketika kami mempelajari arah kebijakan Pembelajaran Mendalam atau deep learning yang dikembangkan dalam transformasi pendidikan Indonesia. Konsep ini tidak sekadar mengajak guru menghadirkan media belajar yang menarik, tetapi mendorong perubahan paradigma mengenai hakikat belajar. Pembelajaran dipandang sebagai proses yang disadari, bermakna, dan membahagiakan. Anak bukan lagi penerima informasi secara pasif, melainkan subjek utama yang membangun pengetahuan melalui pengalaman nyata.

Perubahan paradigma tersebut membawa konsekuensi besar terhadap cara kami memandang peserta didik. Anak usia dini ternyata memiliki kemampuan alami untuk belajar melalui eksplorasi. Mereka tidak membutuhkan penjelasan panjang agar memahami dunia di sekitarnya. Mereka justru membutuhkan ruang yang memungkinkan rasa ingin tahu berkembang secara alami. Pandangan ini sejalan dengan Hohmann dan Weikart (1995) yang menjelaskan bahwa anak belajar secara optimal melalui pengalaman langsung ketika mereka diberi kesempatan memilih, mencoba, bereksperimen, dan merefleksikan hasil pengalamannya.

Kesadaran tersebut perlahan mengubah pertanyaan yang selama ini kami diskusikan di ruang guru. Jika sebelumnya kami lebih sering bertanya, “Bagaimana agar anak cepat memahami materi?” kini pertanyaan itu berubah menjadi, “Pengalaman seperti apa yang dapat membuat anak berpikir?” Perubahan sederhana dalam cara bertanya ternyata membawa dampak yang sangat besar terhadap cara kami merancang pembelajaran. Fokus tidak lagi berada pada seberapa banyak materi yang dapat disampaikan guru, melainkan pada seberapa kaya pengalaman yang dialami anak selama proses belajar.

Lingkungan sekitar kemudian kami pandang sebagai laboratorium belajar yang sesungguhnya. Pantai tidak lagi hanya menjadi pemandangan, melainkan ruang bagi anak untuk mengamati bentuk, ukuran, tekstur, dan pola benda-benda alam. Perbukitan menjadi tempat mengenali keragaman tumbuhan dan hewan. Pasar menjadi ruang belajar berhitung, berkomunikasi, sekaligus mengenal aktivitas ekonomi masyarakat. Bahkan perjalanan menuju sekolah pun mampu menjadi sumber pembelajaran ketika anak diajak mengamati perubahan cuaca, lalu lintas, atau aktivitas warga di sekitar mereka.

Di sisi lain, kami mulai menghidupkan kembali berbagai permainan tradisional yang selama ini mulai ditinggalkan. Permainan seperti Jilong-Jilong, Concoropeti, Congklak, dan Kadende bukan lagi dipandang sebagai warisan budaya semata, tetapi sebagai media yang kaya akan pengalaman berpikir. Anak belajar membuat strategi, menghitung peluang, memperkirakan langkah, melatih konsentrasi, bekerja sama, serta mengelola emosi ketika mengalami kemenangan maupun kekalahan. Semua proses tersebut berlangsung secara alami tanpa anak merasa sedang belajar konsep-konsep akademik yang rumit.

Perubahan filosofi pembelajaran ini juga mengubah peran guru secara mendasar. Guru tidak lagi menjadi sumber jawaban, melainkan perancang pengalaman belajar. Tugas utama guru adalah menghadirkan situasi yang mampu membangkitkan rasa ingin tahu anak, memberikan pertanyaan yang mendorong mereka berpikir, kemudian mendampingi proses eksplorasi tanpa tergesa-gesa memberikan jawaban. Dalam praktiknya, hal ini membutuhkan kesabaran yang jauh lebih besar dibandingkan sekadar menjelaskan materi di depan kelas. Guru harus belajar percaya bahwa setiap anak memiliki kemampuan untuk membangun pengetahuannya sendiri apabila diberi kesempatan yang cukup.

Transformasi tersebut tidak berlangsung dalam semalam. Dibutuhkan proses refleksi, diskusi antarguru, serta keberanian meninggalkan kebiasaan lama yang selama ini dianggap benar. Kami menyadari bahwa pembelajaran bermakna tidak selalu membutuhkan fasilitas yang mahal ataupun teknologi yang canggih. Yang paling penting adalah perubahan cara pandang terhadap anak sebagai individu yang aktif, kreatif, dan memiliki rasa ingin tahu yang luar biasa. Ketika guru mulai percaya kepada kemampuan anak untuk berpikir, maka setiap aktivitas bermain akan berubah menjadi pengalaman belajar yang kaya makna dan meninggalkan kesan mendalam dalam kehidupan mereka.

Penulis : Femi Widyawati, S.Pd, M.Pd., TK Negeri Banawa Gunung Bale, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan