Rabu, 15-04-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Ketika Copilot Menjadi Teman Berkarya

Diterbitkan : Selasa, 14 April 2026

Menjadi kepala sekolah adalah amanah besar yang tidak pernah saya pandang sebagai sekadar jabatan. Setiap hari adalah rangkaian tanggung jawab yang menuntut kesigapan, ketelitian, dan keteguhan hati. Pagi hari dimulai dengan memastikan kegiatan belajar berjalan lancar, dilanjutkan dengan rapat yang seolah tak pernah habis, supervisi guru, penyusunan administrasi, hingga berbagai keputusan strategis yang harus diambil dengan bijak. Di balik itu semua, ada harapan besar yang saya emban: menghadirkan pendidikan yang bermakna bagi setiap murid.

Namun, di sela kesibukan yang padat itu, saya menyimpan satu ruang kecil dalam diri yang selalu saya jaga: kecintaan pada dunia menulis. Bagi saya, menulis bukan sekadar aktivitas, melainkan cara bernapas yang lain. Ia menjadi tempat saya kembali ketika penat mulai mengendap, ketika pikiran membutuhkan jeda, dan ketika hati ingin berbicara lebih jujur. Dari sekian banyak bentuk tulisan, cerita fabel memiliki tempat yang istimewa di hati saya.

Sejak lama saya mencintai dunia literasi, khususnya cerita fabel. Ada sesuatu yang magis dalam kisah-kisah sederhana tentang binatang yang berbicara, berpikir, dan merasakan layaknya manusia. Fabel bukan hanya hiburan; ia adalah medium edukatif yang halus, yang menyampaikan nilai tanpa menggurui. Dalam cerita fabel, anak-anak dapat belajar tentang kejujuran, keberanian, persahabatan, dan tanggung jawab dengan cara yang menyenangkan dan mudah dipahami. Dari situlah lahir sebuah mimpi sederhana namun bermakna: menulis buku kumpulan cerita fabel karya sendiri.

Mimpi itu tidak datang secara tiba-tiba, melainkan tumbuh perlahan dari kebiasaan kecil. Saya mulai menulis di sela waktu luang, mencatat ide-ide yang muncul, merangkai karakter, dan membangun alur cerita. Terkadang hanya satu paragraf dalam sehari, terkadang satu cerita dalam seminggu. Tidak ada target muluk, hanya konsistensi yang saya jaga. Hingga pada suatu titik, tanpa saya sadari, kumpulan cerita itu mulai membentuk sesuatu yang utuh.

Alhamdulillah, mimpi itu akhirnya terwujud. Saya berhasil menyelesaikan sebuah buku kumpulan fabel mandiri yang berisi 20 judul cerita. Setiap cerita memiliki karakter, konflik, dan pesan moral yang berbeda. Ada kisah tentang kelinci yang belajar sabar, burung kecil yang menemukan keberanian, hingga kura-kura yang mengajarkan arti ketekunan. Setiap cerita saya tulis dengan sepenuh hati, seolah saya sedang berbicara langsung kepada anak-anak yang kelak akan membacanya.

Namun, perjalanan tidak berhenti di sana. Justru ketika naskah telah selesai, tantangan baru muncul—tantangan yang tidak kalah besar: ilustrasi. Sebagaimana kita ketahui, buku anak, terutama fabel, sangat membutuhkan ilustrasi yang menarik. Gambar bukan sekadar pelengkap, melainkan jembatan imajinasi bagi pembaca cilik. Ilustrasi membantu anak memahami cerita, menghidupkan karakter, dan membuat pengalaman membaca menjadi lebih menyenangkan.

Ketika saya berkonsultasi dengan pihak penerbit, saya mendapatkan informasi bahwa setiap ilustrasi dikenakan biaya Rp25.000 per judul. Sekilas mungkin terdengar wajar, tetapi ketika dihitung secara keseluruhan, jumlahnya menjadi cukup signifikan. Untuk 20 cerita, saya harus menyiapkan dana sebesar Rp500.000 hanya untuk ilustrasi. Bagi buku karya mandiri, angka tersebut tentu bukan jumlah yang kecil.

Di titik inilah saya mulai diliputi keraguan. Saya bertanya pada diri sendiri, “Apakah saya harus mengorbankan kualitas ilustrasi demi menekan biaya, atau menunda penerbitan hingga memiliki dana yang cukup?” Pertanyaan itu berulang-ulang muncul, menguji komitmen saya terhadap mimpi yang telah saya bangun dengan susah payah. Saya tahu, tanpa ilustrasi yang baik, buku ini tidak akan maksimal. Namun di sisi lain, keterbatasan menjadi kenyataan yang tidak bisa diabaikan.

Titik balik itu datang dari sesuatu yang sebelumnya tidak saya duga akan berdampak besar: pelatihan Microsoft Elevate. Awalnya, saya mengikuti pelatihan ini sebagai bagian dari upaya meningkatkan kompetensi digital sebagai kepala sekolah. Saya berpikir, ini akan membantu saya dalam pengelolaan administrasi dan manajemen sekolah. Tidak lebih dari itu.

Namun ternyata, pelatihan tersebut membuka perspektif baru yang jauh melampaui ekspektasi saya. Saya diperkenalkan dengan Microsoft Copilot, sebuah teknologi kecerdasan buatan yang dirancang untuk membantu berbagai pekerjaan, mulai dari administratif hingga kreatif. Pada awalnya, saya menggunakannya untuk hal-hal sederhana, seperti menyusun dokumen atau merangkum informasi. Tetapi rasa penasaran saya membawa saya melangkah lebih jauh.

Saya mulai berpikir, “Apakah mungkin teknologi ini membantu saya dalam membuat ilustrasi untuk buku fabel?” Dengan sedikit keraguan, saya mencoba. Saya menuliskan prompt sederhana yang berisi deskripsi tokoh binatang, suasana cerita, ekspresi emosi, serta nilai moral yang ingin ditonjolkan. Saya tidak berharap banyak, hanya ingin melihat sejauh mana teknologi ini bisa bekerja.

Hasilnya benar-benar di luar dugaan. Ilustrasi yang dihasilkan sangat sesuai dengan cerita yang saya tulis. Warna-warnanya hidup, ekspresinya kuat, dan setiap gambar terasa memiliki karakter yang unik. Seolah-olah ada ilustrator profesional yang memahami isi pikiran saya dan menerjemahkannya ke dalam bentuk visual. Saya terdiam beberapa saat, mencoba mencerna apa yang baru saja saya lihat. Ada rasa haru, kagum, sekaligus syukur yang bercampur menjadi satu.

Setiap judul fabel kini memiliki gambar pendamping yang tidak hanya indah, tetapi juga relevan dengan isi cerita. Anak-anak yang kelak membaca buku ini tidak hanya akan menikmati kata-kata, tetapi juga merasakan dunia yang saya ciptakan melalui ilustrasi yang hidup. Dan yang paling membuat saya tersenyum, saya tidak perlu mengeluarkan biaya Rp500.000 untuk ilustrasi satu buku.

Pengalaman ini menjadi bukti nyata bahwa pelatihan yang tepat dapat memberikan dampak yang luar biasa. Sering kali, pelatihan hanya berakhir sebagai sertifikat atau catatan di buku agenda. Kita datang, mendengarkan, mencatat, lalu kembali ke rutinitas tanpa perubahan berarti. Namun pelatihan Microsoft Elevate memberikan sesuatu yang berbeda. Ia tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga membuka peluang baru yang sebelumnya tidak terpikirkan.

Dampak yang saya rasakan sangat nyata dan terukur. Buku fabel saya menjadi lebih layak untuk diterbitkan karena memiliki ilustrasi yang menarik. Proses kreatif menjadi lebih cepat dan menyenangkan, karena saya tidak lagi terhambat oleh keterbatasan teknis. Saya juga berhasil menghemat biaya yang cukup besar, yang dapat dialokasikan untuk kebutuhan lain. Lebih dari itu, saya merasakan peningkatan kepercayaan diri dalam berkarya secara mandiri.

Sebagai seorang pendidik, pengalaman ini membuka mata saya bahwa teknologi bukanlah ancaman. Ia adalah mitra yang dapat membantu kita berkembang, jika kita mau belajar dan memanfaatkannya dengan bijak. Copilot tidak menggantikan peran penulis atau seniman. Ia justru memperkuat ide, mempercepat proses, dan memperluas kemungkinan yang dapat kita capai.

Saya kemudian mulai merenung, jika saya yang memiliki kesibukan sebagai kepala sekolah saja bisa memanfaatkan teknologi ini untuk berkarya, maka para guru pun memiliki peluang yang sama—bahkan mungkin lebih besar. Teknologi ini dapat digunakan untuk membuat bahan ajar yang lebih menarik, menyusun modul pembelajaran, menulis buku, hingga mengembangkan media pembelajaran kreatif yang sesuai dengan kebutuhan siswa.

Pelatihan Microsoft Elevate pada akhirnya bukan sekadar tentang belajar teknologi. Ia adalah tentang memberdayakan diri. Tentang bagaimana kita bisa memanfaatkan perkembangan zaman untuk meningkatkan kualitas diri dan memberikan dampak yang lebih luas. Ia mengajarkan bahwa belajar tidak berhenti pada ruang kelas atau ruang pelatihan, tetapi berlanjut dalam setiap langkah yang kita ambil setelahnya.

Saya bersyukur telah menjadi bagian dari pelatihan ini. Lebih dari itu, saya bersyukur karena pengalaman ini memberi saya cerita yang layak untuk dibagikan. Sebuah cerita sederhana tentang mimpi, tantangan, dan solusi yang datang dari arah yang tidak terduga. Sebuah bukti bahwa ketika kita terbuka terhadap hal baru, selalu ada jalan yang bisa ditemukan.

Kini, buku fabel yang saya tulis bukan hanya sekadar kumpulan cerita. Ia adalah simbol perjalanan. Perjalanan seorang kepala sekolah yang berani bermimpi, menghadapi keterbatasan, dan menemukan solusi melalui pembelajaran. Ia adalah pengingat bahwa inovasi tidak selalu harus rumit, tetapi sering kali hadir dalam bentuk yang sederhana—selama kita mau mencarinya.

Semoga pengalaman ini dapat menginspirasi siapa pun yang membacanya. Mungkin Anda seorang guru, kepala sekolah, atau siapa saja yang memiliki mimpi namun merasa terhalang oleh keterbatasan. Percayalah, selalu ada jalan bagi mereka yang mau belajar dan mencoba.

Dan siapa tahu, langkah kecil yang Anda ambil hari ini akan menjadi awal dari perubahan besar di masa depan.

Penulis: Dwi Riyani Sarma Setianingsih,S.Pd.,M.Pd. Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Karanglewas

3 Komentar

Sri Purwati
Selasa, 14 Apr 2026

Keren, tulisan yang inspiratif, jadi tertarik untuk belajar Microsoft copilot

Balas
M. Robani
Selasa, 14 Apr 2026

Subhanallah… Inspiratif sekali… Terus bergerak dan menjadi inspirator…

Balas
Feni
Selasa, 14 Apr 2026

Terus berkarya Bu Ririn, bisa menjadi inspirasi buat kami. Semoga sukses selalu

Balas

Beri Komentar

Tinggalkan Balasan ke Feni Batalkan balasan