Jumat, 15-05-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Khutbah Jumat di Masjid Baitul Ilmi SMKN Jateng Semarang Angkat Nilai Luhur Tradisi Sungkeman Idul Fitri

Diterbitkan : - Kategori : Berita

Semarang — Masjid Baitul Ilmi SMKN Jateng di Semarang melaksanakan Sholat Jumat pada Jumat, 10 April 2026, dengan khidmat dan penuh makna. Ibadah yang diikuti oleh siswa, guru, serta warga sekolah tersebut menghadirkan khutbah bertema “Nilai Luhur Dibalik Tradisi Sungkeman Idul Fitri” yang disampaikan oleh khotib Nur Khamim, S.Pd.I, sementara bilal dipercayakan kepada Ali Aziz.

Dalam khutbahnya, Nur Khamim menekankan pentingnya melestarikan tradisi sungkeman sebagai bagian dari budaya luhur yang sarat nilai keislaman dan kemanusiaan. Ia menjelaskan bahwa sungkeman bukan sekadar tradisi seremonial, melainkan bentuk nyata penghormatan seorang anak kepada orang tuanya, murid kepada guru, santri kepada kiai, serta generasi muda kepada yang lebih tua.

“Sungkeman adalah simbol kerendahan hati dan ketulusan dalam memohon maaf. Ini bukan hanya tradisi, tetapi juga cerminan akhlak mulia yang diajarkan dalam Islam,” ujar Nur Khamim di hadapan jamaah.

Ia menambahkan bahwa dalam konteks keluarga, sungkem seorang anak kepada orang tua memiliki makna mendalam sebagai bentuk pengakuan atas jasa dan pengorbanan yang telah diberikan. Menurutnya, momen Idul Fitri menjadi waktu yang tepat untuk mempererat kembali hubungan yang mungkin sempat renggang.

Lebih lanjut, khotib mengaitkan tradisi tersebut dengan firman Allah dalam Surat Luqman ayat 14 yang menegaskan kewajiban berbakti kepada orang tua. Ayat tersebut mengingatkan bahwa seorang ibu telah mengandung dalam kondisi lemah yang bertambah-tambah dan menyusui selama dua tahun, sehingga sudah sepatutnya anak memiliki jiwa besar untuk bersyukur.

“Allah telah mewasiatkan kepada kita untuk berbuat baik kepada kedua orang tua. Ini bukan sekadar anjuran, tetapi perintah yang harus kita laksanakan dengan penuh kesadaran dan keikhlasan,” tegasnya.

Selain kepada orang tua, Nur Khamim juga mengajak jamaah untuk memanfaatkan momen Idul Fitri dengan melakukan sungkem atau sowan kepada para ulama, guru, dan orang-orang saleh. Hal ini, menurutnya, merupakan bentuk penghormatan sekaligus upaya untuk mendapatkan keberkahan ilmu dan kehidupan.

Ia juga mengutip sabda Nabi Muhammad SAW yang menyatakan bahwa mengunjungi, berjabat tangan, dan duduk bersama orang alim memiliki nilai yang sangat tinggi, seakan-akan melakukan hal tersebut bersama Rasulullah SAW sendiri.

“Rasulullah SAW bersabda, ‘Barangsiapa mengunjungi orang alim, maka seolah-olah ia mengunjungiku.’ Ini menunjukkan betapa pentingnya kita menjaga hubungan dengan para ulama dan guru sebagai sumber ilmu dan teladan,” ungkapnya.

Suasana khutbah berlangsung khusyuk, dengan para jamaah menyimak setiap pesan yang disampaikan. Tradisi sungkeman yang selama ini telah menjadi bagian dari budaya masyarakat Indonesia kembali ditegaskan sebagai praktik yang selaras dengan ajaran Islam.

Pelaksanaan Sholat Jumat di Masjid Baitul Ilmi ini juga menjadi momentum pembinaan karakter bagi para siswa SMKN Jateng di Semarang. Melalui khutbah yang disampaikan, diharapkan para generasi muda tidak hanya memahami nilai-nilai agama secara teori, tetapi juga mampu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan terselenggaranya kegiatan ini, pihak sekolah berharap nilai-nilai luhur seperti hormat kepada orang tua, guru, dan sesama dapat terus ditanamkan kepada para siswa. Tradisi sungkeman pun diharapkan tetap lestari sebagai bagian dari identitas budaya yang mengandung ajaran moral dan spiritual yang tinggi.

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan