Senin, 21-09-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Ketika Kepala Sekolah Memimpin dengan Narasi

Diterbitkan : Minggu, 20 September 2026

Ada banyak cara seorang kepala sekolah memimpin. Ia dapat memimpin melalui rapat, keputusan, program kerja, surat edaran, supervisi, evaluasi, dan berbagai instruksi yang menjadi bagian dari kehidupan organisasi sekolah. Semua itu penting. Bahkan, tanpa itu sekolah akan kehilangan arah.

Namun, saya sering bertanya kepada diri sendiri,  apakah kepemimpinan cukup berhenti pada instruksi?

Sebab sekolah bukan hanya organisasi yang membutuhkan aturan. Sekolah adalah ruang tempat manusia bertumbuh. Di dalamnya ada guru dengan segala dedikasi dan kegelisahannya, siswa dengan mimpi dan persoalannya, tenaga kependidikan dengan kerja yang sering tidak terlihat, serta orang tua yang menitipkan harapan kepada sekolah.

Karena itu, komunikasi kepemimpinan seharusnya tidak hanya menyampaikan apa yang harus dilakukan. Ia juga perlu menjelaskan mengapa sesuatu harus dilakukan. Lebih jauh lagi, komunikasi kepemimpinan perlu menyentuh kesadaran.

Saya percaya, salah satu jalan menuju ke sana adalah menulis.

Menulis bagi seorang kepala sekolah bukan sekadar aktivitas literasi. Ia dapat menjadi cara untuk berpikir, merefleksikan peristiwa, mendokumentasikan perjalanan, sekaligus membangun percakapan dengan warga sekolah.

Gagasan inilah yang kemudian membawa saya pada dua sosok yang memiliki tradisi menulis sangat kuat, meskipun dengan karakter yang berbeda yaitu  Goenawan Mohamad dan Dahlan Iskan.

Goenawan Mohamad melalui Catatan Pinggir menunjukkan kepada kita bahwa peristiwa kecil dapat menjadi pintu masuk menuju perenungan yang besar. Ia tidak selalu datang dengan jawaban. Kadang ia justru meninggalkan pertanyaan. Pembaca diajak berhenti sejenak, mengambil jarak dari hiruk-pikuk kehidupan, lalu melihat sebuah peristiwa dari sudut yang lebih luas.

Dahlan Iskan melalui Disway memperlihatkan sisi yang berbeda. Ia menulis dengan lincah, sederhana, populer, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Peristiwa di lapangan menjadi cerita. Orang-orang biasa menjadi tokoh. Hal-hal yang tampak sederhana dapat menjadi menarik ketika diceritakan dengan jujur dan hidup.

Saya melihat kedua tradisi tersebut memiliki sesuatu yang sangat relevan bagi kepemimpinan sekolah.

Kepala sekolah membutuhkan kedalaman untuk memahami makna sebuah peristiwa. Tetapi kepala sekolah juga membutuhkan kelincahan untuk menangkap apa yang sedang terjadi di lapangan.

Karena itu, saya membayangkan website sekolah bukan hanya sebagai tempat mengunggah berita kegiatan. Website sekolah seharusnya dapat menjadi ruang percakapan. Di sanalah kepala sekolah dapat sesekali berhenti dari rutinitas administratif, lalu menulis tentang apa yang dilihat, didengar, dirasakan, dan dipikirkannya.

Saya menyebutnya Catatan CEO.

Istilah CEO tentu tidak dimaksudkan untuk mengubah sekolah menjadi perusahaan. Ia hanya sebuah metafora tentang tanggung jawab seorang kepala sekolah sebagai pemimpin utama organisasi. Seorang CEO sekolah tidak hanya bertugas memastikan program berjalan. Ia juga perlu memastikan bahwa orang-orang di dalam organisasi memahami arah perjalanan mereka.

Dan narasi dapat menjadi salah satu kendaraan untuk membawa arah itu.

Bayangkan suatu pagi seorang kepala sekolah melihat seorang siswa memungut uang yang tercecer di halaman. Siswa itu kemudian menyerahkannya kepada guru piket.

Peristiwanya sederhana. Tidak ada piala. Tidak ada sertifikat. Tidak ada panggung penghargaan.

Tetapi bukankah di situlah pendidikan sesungguhnya sedang berlangsung?

Kita sering berbicara tentang karakter. Kita membuat program penguatan karakter. Kita menyusun indikator. Kita memasang slogan di dinding. Namun, karakter kadang hadir dalam bentuk yang sangat sederhana: seseorang memilih jujur ketika sebenarnya ia memiliki kesempatan untuk tidak jujur.

Peristiwa kecil semacam itu layak ditulis.

Bukan untuk memuji seorang siswa secara berlebihan, tetapi untuk mengajak seluruh warga sekolah bertanya: nilai apa yang sedang kita bangun di sekolah ini?

Demikian pula ketika seorang guru datang lebih awal, membuka kelas, menyiapkan pembelajaran, mendampingi siswa, lalu pulang ketika hari mulai gelap. Rutinitas itu mungkin tidak pernah masuk berita.

Padahal, sekolah berdiri di atas ribuan tindakan kecil yang dilakukan dengan kesungguhan.

Seorang kepala sekolah yang menulis dapat memberikan cahaya kepada tindakan-tindakan yang selama ini berjalan dalam kesunyian.

Inilah salah satu kekuatan narasi.

Narasi membuat manusia terlihat.

Di tengah sistem pendidikan yang semakin dipenuhi data, indikator, aplikasi, laporan, dan dokumen, kita jangan sampai lupa bahwa di balik setiap data terdapat manusia.

Angka kehadiran adalah tentang siswa yang datang ke sekolah. Angka kelulusan adalah tentang perjalanan anak-anak. Persentase keberhasilan program adalah tentang kerja banyak orang. Data prestasi adalah tentang latihan, kegagalan, air mata, dan kegigihan yang tidak selalu terlihat dalam tabel.

Maka, tugas pemimpin bukan hanya membaca angka. Ia juga perlu membaca cerita di balik angka.

Di sinilah gaya reflektif menjadi penting.

Tidak setiap tulisan kepala sekolah harus berisi keberhasilan. Tidak setiap artikel harus berakhir dengan kalimat bahwa sekolah kita hebat. Kadang-kadang kita perlu menulis tentang kegagalan.

Sebuah tim siswa kalah dalam lomba. Sebuah inovasi belum berjalan sesuai harapan. Sebuah program harus diperbaiki. Seorang guru mencoba pendekatan baru yang ternyata belum berhasil.

Apakah semua itu harus disembunyikan?

Saya kira tidak.

Sekolah yang sehat bukan sekolah yang tidak pernah gagal. Sekolah yang sehat adalah sekolah yang mampu belajar dari kegagalan.

Tulisan dapat menjadi ruang untuk mengatakan bahwa tidak semua perjalanan harus sempurna. Bahwa kesalahan dapat menjadi guru. Bahwa keberanian mencoba terkadang lebih penting daripada kepastian berhasil.

Di sisi lain, tidak semua tulisan membutuhkan perenungan panjang. Ada kalanya website sekolah harus bergerak cepat.

Ketika siswa memenangkan lomba, ketika guru menghasilkan inovasi pembelajaran, ketika sekolah meluncurkan program baru, ketika sebuah bengkel praktik menghasilkan karya, atau ketika alumni datang berbagi pengalaman, cerita itu perlu segera dibagikan.

Di sinilah kita dapat belajar dari kelincahan gaya Dahlan Iskan.

Tulislah apa yang terjadi. Datang ke lapangan. Bertanya kepada pelakunya. Dengarkan cerita mereka. Periksa faktanya. Kemudian ceritakan dengan bahasa yang sederhana.

Tidak perlu selalu menggunakan kalimat panjang.

Kadang-kadang satu kalimat pendek justru lebih kuat.

“Pagi itu mereka gagal.”

Lalu kita ceritakan bagaimana mereka mencoba lagi.

Atau:

“Mesinnya tidak mau hidup.”

Lalu kita ceritakan bagaimana siswa dan gurunya mencari penyebabnya hingga akhirnya berhasil.

Bukankah cerita seperti itu jauh lebih hidup daripada sekadar menulis bahwa “telah dilaksanakan kegiatan praktik pembelajaran berbasis proyek”?

Bahasa birokrasi sering menjelaskan kegiatan.

Narasi menjelaskan manusia di balik kegiatan.

Karena itu, saya membayangkan Catatan CEO memiliki dua kaki. Satu kaki berpijak pada refleksi. Satu kaki lainnya berpijak pada kenyataan.

Kita membutuhkan tulisan yang mengajak warga sekolah berpikir tentang kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, etika, budaya kerja, pendidikan karakter, dan masa depan siswa.

Tetapi kita juga membutuhkan tulisan yang bercerita tentang kelas, bengkel, laboratorium, guru, siswa, alumni, prestasi, inovasi, dan berbagai kejadian sehari-hari.

Keduanya tidak perlu dipertentangkan.

Justru di situlah kekuatannya.

Sebab pemimpin sekolah harus mampu melihat sekolah dari dua arah sekaligus: dari atas untuk memahami arah besar, dan dari bawah untuk memahami kenyataan.

Tulisan memungkinkan keduanya bertemu.

Lebih jauh, Catatan CEO dapat menjadi bentuk transparansi kepemimpinan yang lebih manusiawi.

Selama ini kepala sekolah kadang lebih dikenal melalui tanda tangan di surat keputusan, suara dalam rapat, atau instruksi dalam berbagai kegiatan. Padahal, warga sekolah juga perlu mengetahui cara berpikir pemimpinnya.

Apa yang membuat seorang kepala sekolah terharu?

Apa yang membuatnya resah?

Peristiwa apa yang menurutnya penting?

Mengapa sebuah program harus dilakukan?

Apa yang ia pelajari dari sebuah kegagalan?

Apa yang ia harapkan dari guru dan siswa?

Tulisan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut tanpa harus menunggu rapat.

Di situlah hubungan antara pemimpin dan warga sekolah dapat menjadi lebih dekat.

Seorang kepala sekolah tidak harus selalu berbicara dari podium. Kadang-kadang ia cukup duduk di depan komputer, menulis beberapa paragraf, lalu menyapa warga sekolah melalui website.

Bagi saya, ini bukan perkara kecil.

Sebab kepemimpinan pada dasarnya adalah proses membangun pengaruh. Dan pengaruh tidak selalu lahir dari jabatan. Ia dapat lahir dari keteladanan, konsistensi, gagasan, dan kemampuan menyentuh kesadaran orang lain.

Menulis Adalah Salah Satu Bentuk Keteladanan.

Ketika kepala sekolah menulis, ia sedang menunjukkan bahwa membaca dan menulis bukan hanya pekerjaan siswa dan guru bahasa. Literasi adalah kebutuhan semua orang, termasuk pemimpin.

Ketika kepala sekolah mau bercerita tentang pengalaman di kelas atau bengkel praktik, ia sedang menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak boleh berjarak terlalu jauh dari realitas.

Ketika kepala sekolah berani menulis tentang sebuah persoalan secara jernih dan reflektif, ia sedang menunjukkan bahwa pemimpin tidak harus selalu tampil sebagai orang yang memiliki semua jawaban.

Kadang-kadang seorang pemimpin justru menjadi lebih kuat ketika berani mengatakan, “Saya sedang memikirkan hal ini.”

Dari sinilah budaya literasi organisasi dapat tumbuh.

Bukan karena ada slogan “Gerakan Literasi” di dinding. Bukan semata-mata karena ada program menulis. Tetapi karena orang-orang melihat bahwa pemimpinnya sendiri membaca, berpikir, dan menulis.

Pada saat yang sama, tulisan-tulisan tersebut akan menjadi arsip perjalanan sekolah.

Hari ini kita mungkin menganggap sebuah tulisan sebagai artikel biasa. Lima tahun kemudian, tulisan itu dapat menjadi sejarah.

Dari tulisan tersebut kita dapat mengetahui bagaimana sekolah menghadapi perubahan. Bagaimana guru beradaptasi. Bagaimana siswa berprestasi. Bagaimana sebuah inovasi dimulai. Bagaimana sebuah program berkembang. Bahkan, bagaimana perasaan warga sekolah ketika melewati suatu masa tertentu.

Dokumen administrasi menyimpan keputusan.

Narasi menyimpan pengalaman.

Keduanya sama-sama penting.

Karena itu, saya membayangkan website sekolah bukan hanya sebagai halaman depan institusi. Ia adalah rumah digital yang menyimpan denyut kehidupan sekolah.

Berita memberikan informasi.

Prestasi memberikan kebanggaan.

Program memberikan gambaran tentang kerja.

Sementara Catatan CEO memberikan suara.

Suara seorang kepala sekolah yang mencoba memahami sekolahnya sendiri.

Suara yang tidak selalu menggurui.

Suara yang tidak selalu memuji.

Suara yang sesekali bertanya.

Suara yang kadang bercerita.

Suara yang berusaha melihat manusia di balik setiap program.

Pada akhirnya, saya percaya bahwa sekolah membutuhkan lebih dari sekadar kepemimpinan administratif. Sekolah membutuhkan kepemimpinan yang mampu membangun makna.

Di tengah perubahan teknologi, tuntutan dunia kerja, perkembangan kecerdasan buatan, perubahan karakter generasi, dan derasnya arus informasi, kita membutuhkan pemimpin pendidikan yang mampu mengajak warga sekolah berhenti sejenak dan bertanya: manusia seperti apa yang sedang kita siapkan?

Pertanyaan itu terlalu penting jika hanya disimpan dalam ruang rapat.

Ia perlu dibicarakan.

Ia perlu dituliskan.

Ia perlu menjadi bagian dari percakapan bersama.

Mungkin karena itu saya melihat menulis bukan sebagai pekerjaan tambahan seorang kepala sekolah. Menulis adalah bagian dari kepemimpinan itu sendiri.

Melalui tulisan, seorang kepala sekolah dapat mengubah peristiwa menjadi pelajaran, pengalaman menjadi refleksi, prestasi menjadi inspirasi, dan persoalan menjadi bahan percakapan.

Di sanalah lahir apa yang saya sebut sebagai kepemimpinan lewat narasi.

Kepemimpinan yang tidak hanya mengatur apa yang harus dikerjakan, tetapi juga membantu warga sekolah memahami mengapa pekerjaan itu penting.

Kepemimpinan yang tidak hanya membangun gedung dan program, tetapi juga membangun ingatan.

Kepemimpinan yang tidak hanya mengejar target, tetapi merawat nilai.

Sebab pada akhirnya, sekolah bukan hanya tentang apa yang berhasil kita bangun hari ini.

Sekolah adalah tentang manusia seperti apa yang akan meninggalkan gerbangnya beberapa tahun kemudian.

Dan jika suatu hari mereka mengingat sekolah ini, mungkin yang mereka kenang bukan hanya ruang kelas, gedung, atau sederet prestasi.

Mungkin mereka akan mengingat seorang guru yang pernah percaya kepada mereka.

Mungkin mereka akan mengingat sebuah percakapan.

Mungkin mereka akan mengingat satu kalimat yang mengubah cara pandang mereka.

Atau mungkin, mereka akan menemukan kembali sebuah catatan lama di website sekolah dan berkata dalam hati:

“Begitulah sekolah kami dahulu. Tempat kami pernah tumbuh, bermimpi, gagal, mencoba lagi, dan akhirnya menjadi manusia.”

Jika sebuah tulisan mampu meninggalkan kenangan semacam itu, bukankah ia telah melakukan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar memenuhi halaman sebuah website?

Maka, mari menulis.

Bukan hanya untuk memberi tahu.

Tetapi untuk mengingat.

Bukan hanya untuk mendokumentasikan.

Tetapi untuk memaknai.

Bukan hanya untuk berbicara kepada warga sekolah.

Tetapi untuk mendengarkan mereka.

Sebab melalui pena, seorang kepala sekolah tidak hanya mengelola sekolah.

Ia ikut merawat jiwa sekolah.

Penulis : Ardan Sirodjuddin, S.Pd, M.Pd, Kepala SMKN Jateng di Semarang

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan