Pagi itu halaman sekolah penuh. Seragam rapi, sepatu disemir, tas punggung menggembung seperti menanggung beban yang tidak semuanya terlihat. Anak-anak berbaris. Ada yang bercanda, ada yang mengantuk, ada yang diam dengan tatapan kosong.
Di antara hiruk itu, satu pertanyaan sebenarnya menggantung di udara—tapi jarang sekali diucapkan dengan sungguh-sungguh:
Anak-anak ini sekolah untuk apa?
Seorang ayah pernah menjawab cepat ketika ditanya hal itu.
“Biar pinter. Biar nanti dapat kerja. Biar hidupnya enak.”
Jawaban yang terasa benar—dan justru karena itu, tidak pernah dicurigai.
Di sudut lain, seorang ibu menimpali dengan nada sedikit lebih halus:
“Biar jadi orang. Biar dihormati.”
Di sini, sekolah mulai bergeser. Ia bukan lagi ruang belajar, tapi tangga menuju semat, drajat, kramat—harta, derajat, dan pengakuan.
Tak ada yang salah sepenuhnya. Tapi ada yang diam-diam hilang.
Di dalam kelas, guru berdiri di depan papan. Kapur bergerak. Rumus dituliskan. Murid mencatat. Semua berjalan seperti biasa—teratur, sistematis, bahkan tampak ideal.
John Dewey, seorang filsuf pendidikan, pernah berkata bahwa pendidikan itu sendiri adalah kehidupan. Tapi di ruang-ruang kelas hari ini, sekolah justru terasa seperti ruang tunggu sebelum kehidupan “yang sesungguhnya”.
Belajar menjadi persiapan, bukan pengalaman.
Lebih jauh lagi, Paulo Freire menyebut praktik seperti ini sebagai banking education. Guru menabungkan pengetahuan. Murid menerima. Tidak ada dialog. Tidak ada kegelisahan. Tidak ada pertanyaan yang benar-benar hidup.
Yang ada hanya hafalan.
Dan mungkin, kepatuhan.
Namun sekolah tidak hanya soal belajar. Ia juga soal budaya.
Pierre Bourdieu pernah mengingatkan bahwa sekolah seringkali tidak netral. Ia membawa nilai, selera, bahkan cara berpikir dari kelompok dominan.
Anak-anak yang sejak kecil terbiasa membaca buku, berdiskusi, dan berbicara “sesuai standar”, akan lebih mudah dianggap pintar.
Sementara yang lain—yang datang dari dunia yang berbeda—seringkali tertinggal, bukan karena kurang cerdas, tapi karena tidak “sesuai”.
Di sini, sekolah tidak lagi menjadi jembatan. Ia berubah menjadi penyaring.
Dan diam-diam, ketimpangan diwariskan ulang.
Di luar pagar sekolah, kehidupan berjalan dengan cara yang lebih jujur.
Petani membaca musim tanpa rumus. Tukang kayu menghitung tanpa kalkulator. Pedagang menakar untung-rugi tanpa teori ekonomi formal.
Mereka mungkin tidak hafal definisi, tapi paham makna.
Ironisnya, sekolah modern sering memutus hubungan anak dengan realitas semacam ini. Anak belajar tentang dunia—tanpa benar-benar bersentuhan dengannya.
Ia tahu banyak hal, tapi tidak selalu mengerti.
Dalam tradisi kawruh jiwa, manusia tidak diukur dari seberapa banyak ia tahu, tapi seberapa dalam ia memahami dirinya.
Di sini, sekolah seharusnya menjadi cermin.
Tempat seseorang menyadari:
apa yang ia mampu, apa yang tidak, apa yang perlu, dan apa yang hanya keinginan.
Konsep 6 SA—sakepenake, sabutuhe, saperlune, sacukupe, samesthine, sabenere—seperti bisikan sunyi yang justru terasa paling masuk akal.
Sekolah untuk hidup yang nyaman, bukan penuh kecemasan.
Sekolah untuk memenuhi kebutuhan manusia utuh, bukan sekadar otak.
Sekolah untuk bekal seperlunya, bukan ambisi tanpa batas.
Sekolah untuk cukup, bukan berlebihan.
Sekolah untuk yang semestinya, bukan yang dipaksakan.
Dan akhirnya, sekolah untuk mengerti diri.
Sederhana. Tapi justru karena itu, sering diabaikan.
Di sisi lain, ada wajah sekolah yang lebih dingin.
Michel Foucault melihat sekolah sebagai bagian dari sistem disiplin.
Tempat tubuh diatur, waktu dikontrol, perilaku dinilai.
Bel masuk berbunyi—semua bergerak.
Seragam dikenakan—semua sama.
Nilai diberikan—semua dibandingkan.
Sekolah tidak hanya mengajarkan ilmu. Ia membentuk kepatuhan.
Dan mungkin, tanpa disadari, membatasi keberanian.
Maka lahirlah generasi yang paradoks:
Pintar, tapi mudah dibohongi.
Berpendidikan, tapi kehilangan empati.
Bergelar tinggi, tapi bingung arah hidupnya.
Mereka berhasil melewati sekolah.
Tapi belum tentu menemukan dirinya.
Pertanyaan itu kembali, kini dengan gema yang lebih panjang:
Sekolah ini sebenarnya untuk apa?
Untuk naik kelas sosial?
Untuk mendapatkan pekerjaan?
Atau sekadar untuk tidak dianggap gagal?
Atau… ada sesuatu yang lebih dalam yang selama ini terlewat?
Mungkin jawabannya tidak perlu rumit.
Sekolah, jika kembali ke makna paling jernihnya, adalah jalan menuju kemerdekaan.
Merdeka dari kebodohan.
Merdeka dari ketakutan.
Merdeka dari ikut-ikutan.
Dan dari sana, manusia bisa menjadi migunani—berguna.
Bukan karena gelarnya, tapi karena kehadirannya.
Ia tahu apa yang ia lakukan.
Ia paham untuk apa ilmunya digunakan.
Dan ia tidak tersesat dalam hidupnya sendiri.
Pagi semakin siang. Bel istirahat berbunyi. Anak-anak berhamburan keluar kelas. Tertawa, berlari, sebagian hanya duduk diam.
Di wajah-wajah itu, masa depan sedang dipertaruhkan.
Bukan hanya soal pekerjaan.
Tapi soal arah hidup.
Dan mungkin, tanpa kita sadari, pertanyaan paling penting bukan lagi:
Anak harus sekolah di mana?
Melainkan:
Sekolah itu sendiri… mau membawa mereka ke mana?
Ajibarang, 21 April 2026
Penulis : Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja

Beri Komentar