Jumat, 12-06-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Tangkal Iri dan Dengki, Khotib Ajak Jamaah Tingkatkan Ketakwaan dalam Sholat Jumat di Masjid Baitul Ilmi SMKN Jateng

Diterbitkan : - Kategori : Berita

SEMARANG – Jamaah Sholat Jumat di Masjid Baitul Ilmi SMKN Jateng di Semarang mendapatkan pesan mendalam tentang pentingnya menjaga kebersihan hati dari penyakit iri dan dengki (hasad) dalam khutbah Jumat yang disampaikan oleh Zaenal Arifin, S.Pd, Jumat (12/6/2026). Dalam khutbahnya, khotib sekaligus imam mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya, baik ketika berada di tengah keramaian maupun saat sendiri.

Kegiatan Sholat Jumat yang diikuti oleh guru, tenaga kependidikan, siswa, serta masyarakat sekitar berlangsung dengan khidmat. Sejak sebelum azan berkumandang, jamaah telah memadati area masjid untuk menunaikan ibadah Jumat yang menjadi kewajiban bagi umat Islam laki-laki. Suasana tenang dan penuh kekhusyukan menyelimuti pelaksanaan ibadah hingga rangkaian khutbah selesai.

Dalam khutbahnya, Zaenal Arifin mengingatkan bahwa salah satu penyakit hati yang sering dianggap sepele namun memiliki dampak besar terhadap kehidupan manusia adalah iri dan dengki. Menurutnya, penyakit tersebut ibarat api dalam sekam yang membakar kebaikan dari dalam diri seseorang tanpa terlihat oleh orang lain, tetapi perlahan menghancurkan pelakunya.

“Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Takwa dalam arti melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, baik di saat sepi maupun ramai,” ujar Zaenal Arifin di hadapan jamaah.

Ia menjelaskan bahwa secara bahasa, hasad atau dengki merupakan keinginan agar nikmat yang dimiliki orang lain hilang, baik nikmat tersebut berpindah kepada dirinya maupun tidak. Sikap tersebut menunjukkan ketidakrelaan seseorang melihat keberhasilan, kebahagiaan, atau kelebihan yang dimiliki orang lain.

Zaenal menegaskan bahwa Rasulullah SAW telah memberikan peringatan keras mengenai bahaya iri dan dengki. Ia mengutip hadis riwayat Abu Daud dan Tirmidzi yang menyebutkan bahwa dengki dapat menghabiskan amal kebaikan sebagaimana api melahap kayu bakar.

“Waspadalah kalian terhadap sifat dengki, sesungguhnya dengki itu memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar,” kutipnya dari hadis Rasulullah SAW.

Menurutnya, peringatan tersebut menjadi renungan penting bagi setiap Muslim. Seseorang mungkin telah berusaha mengumpulkan berbagai amal saleh melalui sholat, sedekah, puasa sunnah, dan ibadah lainnya. Namun apabila di dalam hatinya tersimpan rasa iri terhadap keberhasilan atau rezeki orang lain, maka amal-amal tersebut terancam kehilangan nilainya di hadapan Allah SWT.

“Bayangkan, kita mungkin sudah rajin shalat, rajin sedekah, dan puasa sunnah. Namun karena satu rasa iri di hati terhadap tetangga yang rezekinya lebih lancar atau teman yang jabatannya lebih tinggi, semua amal kebaikan itu hangus terbakar seperti kayu yang dimakan api,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Zaenal menjelaskan bahwa iri dan dengki tidak hanya berdampak pada hubungan manusia dengan Allah SWT, tetapi juga merusak hubungan sosial antarsesama. Hasad dapat melahirkan kebencian, ghibah atau menggunjing, hingga fitnah yang berpotensi memecah persaudaraan dan kerukunan dalam masyarakat.

Selain merusak ukhuwah Islamiyah, sifat dengki juga menjadi sumber penderitaan bagi pelakunya sendiri. Orang yang dengki, kata dia, tidak akan pernah merasakan ketenangan hati karena selalu merasa terganggu ketika melihat orang lain memperoleh kebahagiaan atau kesuksesan.

“Orang yang dengki hatinya tidak akan pernah tenang. Ia selalu gelisah melihat kebahagiaan orang lain. Padahal kebahagiaan orang lain tidak mengurangi sedikit pun nikmat yang Allah berikan kepada dirinya,” katanya.

Zaenal juga mengingatkan bahwa iri dan dengki merupakan bentuk ketidaksyukuran terhadap ketentuan Allah SWT. Ketika seseorang tidak rela melihat orang lain memperoleh nikmat, secara tidak langsung ia menunjukkan ketidakpuasan terhadap pembagian rezeki yang telah ditetapkan oleh Allah.

Dalam khutbahnya, ia mengutip Surah Al-Falaq ayat 5 yang berbunyi, “Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki.” Menurutnya, ayat tersebut menunjukkan bahwa bahaya hasad sangat nyata sehingga Allah SWT secara khusus memerintahkan manusia untuk memohon perlindungan dari kejahatan yang ditimbulkannya.

Mengakhiri pembahasannya, Zaenal memberikan sejumlah langkah praktis yang dapat dilakukan jamaah untuk membersihkan hati dari penyakit iri dan dengki. Langkah pertama adalah meyakini bahwa setiap rezeki telah ditetapkan oleh Allah SWT sesuai kadar dan ketentuan-Nya. Dengan keyakinan tersebut, seseorang tidak akan mudah membandingkan dirinya dengan orang lain.

“Pahamilah bahwa apa yang ada di tangan orang lain adalah takdir Allah. Tidak ada yang bisa mengambil rezeki kita dan kita tidak bisa mengambil rezeki orang lain. Jika kita iri, sama saja kita memprotes ketentuan Allah,” tegasnya.

Langkah berikutnya adalah mengubah hasad menjadi ghibtah atau iri yang positif. Ia menjelaskan bahwa ghibtah merupakan keinginan untuk memiliki kebaikan yang sama seperti orang lain tanpa berharap nikmat tersebut hilang dari pemiliknya.

“Ketika melihat teman sukses, katakan dalam hati, ‘Masya Allah, semoga saya juga bisa sukses seperti dia dan semoga dia makin sukses.’ Itu adalah doa dan motivasi, bukan dengki,” ujarnya.

Ia juga mengajak jamaah untuk membiasakan mendoakan orang yang menjadi objek rasa iri. Menurutnya, doa merupakan salah satu cara paling efektif untuk melunakkan hati sekaligus menghilangkan kebencian yang mungkin muncul dalam diri.

“Jika hati kita merasa tidak nyaman melihat keberhasilan seseorang, segera doakan dia. Katakan, ‘Ya Allah, berkahilah dia, tambahkan rezekinya, dan jadikanlah dia orang yang bermanfaat.’ Insya Allah hati kita akan menjadi lebih lapang,” katanya.

Selain itu, Zaenal mengingatkan pentingnya membiasakan diri melihat kondisi orang yang berada di bawah dalam urusan dunia. Ia mengutip hadis riwayat Muslim yang menganjurkan umat Islam untuk melihat orang yang lebih rendah dalam hal harta dan kedudukan agar tidak meremehkan nikmat Allah SWT.

Melalui khutbah tersebut, jamaah diajak untuk melakukan introspeksi diri dan menjaga kebersihan hati sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas ketakwaan. Pesan tentang bahaya iri dan dengki diharapkan dapat menjadi pengingat bagi seluruh jamaah agar senantiasa bersyukur atas nikmat yang dimiliki, memperkuat persaudaraan, serta membangun kehidupan yang harmonis di lingkungan sekolah maupun masyarakat.

Sholat Jumat di Masjid Baitul Ilmi SMKN Jateng di Semarang pun berakhir dengan tertib dan penuh kekhusyukan. Jamaah meninggalkan masjid dengan membawa pesan moral yang kuat bahwa kebersihan hati merupakan salah satu kunci utama untuk meraih ketenangan hidup dan keberkahan dari Allah SWT.

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan