Pagi itu matahari baru saja merangkak naik, cahayanya menyelinap melalui jendela-jendela kelas VII yang masih berembun. Udara segar bercampur dengan bau khas buku tulis dan seragam yang belum sepenuhnya kering oleh setrika. Wajah-wajah remaja tampak setengah terjaga; sebagian menahan kantuk, sebagian lagi sibuk menyandarkan kepala di meja sambil menunggu pelajaran dimulai. Inilah potret pagi yang jamak kita temui di sekolah-sekolah kita: sebuah pagi yang secara fisik hadir, tetapi barangkali secara spiritual masih tertinggal di balik selimut. Di tengah suasana itu, seorang guru Pendidikan Agama Islam memulai pelajaran dengan sebuah pertanyaan sederhana, dilontarkan tanpa nada menghakimi, nyaris seperti sapaan. “Siapa yang tadi Subuh berjamaah?” Pertanyaan itu menggantung di udara, tidak segera menemukan jawaban. Kelas yang semula riuh oleh gesekan kursi dan bisik kecil tiba-tiba sunyi. Mata-mata saling berpandangan, beberapa tersenyum kecut, beberapa menunduk. Keheningan itu lebih nyaring daripada jawaban apa pun.
Ironi semakin terasa ketika beberapa menit kemudian pelajaran tahsin dimulai. Anak-anak yang sama, yang barusan terdiam saat ditanya tentang sholat Subuh, kini melafalkan ayat demi ayat Al-Qur’an dengan fasih. Makharijul huruf terdengar rapi, hukum tajwid dipatuhi dengan cermat. Ada kebanggaan terselip di wajah guru, sekaligus kegelisahan yang sulit disembunyikan. Bagaimana mungkin lisan-lisan yang begitu terampil melantunkan firman Allah justru lalai memenuhi panggilan-Nya di waktu Subuh? Di titik inilah sebuah pertanyaan reflektif tak terelakkan muncul, bukan hanya bagi para siswa, tetapi bagi kita semua yang terlibat dalam dunia pendidikan: sudah sejauh inikah kita kehilangan Subuh, hingga ia tinggal sebagai konsep dalam buku pelajaran, bukan pengalaman hidup yang dirindukan?
Fenomena ini membuka tabir paradoks dalam pendidikan agama kita. Kita mendapati anak-anak yang pandai membaca Al-Qur’an, namun belum tentu peka mendengar panggilan-Nya di dini hari. Mereka hafal rukun Islam, mampu menyebutkan urutan dan dalilnya tanpa ragu, tetapi masih kesulitan mengalahkan empuknya kasur ketika azan Subuh berkumandang. Ilmu tentang sholat diajarkan secara sistematis, mulai dari syarat, rukun, hingga hal-hal yang membatalkan, namun kerinduan untuk sujud seolah belum sempat ditanamkan di hati mereka. Kita mungkin lupa bahwa pengetahuan agama bukan sekadar kumpulan fakta yang dihafal, melainkan cahaya yang seharusnya menerangi batin. Ibnu Qayyim pernah mengingatkan bahwa ilmu adalah cahaya hati; jika ia tidak menggerakkan amal, barangkali cahaya itu belum benar-benar menyala, atau terhalang oleh debu kebiasaan yang keliru.
Akar masalahnya sering kali tersembunyi dalam cara kita memandang pendidikan agama itu sendiri. Proses pembelajaran kerap berhenti pada transfer informasi: guru menyampaikan, murid menerima, lalu diuji sejauh mana informasi itu diingat. Dalam skema seperti ini, sholat Subuh mudah tereduksi menjadi materi ujian, bukan kebiasaan yang dihidupi. Padahal, sholat Subuh menuntut lebih dari sekadar pengetahuan; ia menuntut pembiasaan, keteladanan, dan lingkungan yang mendukung. Di rumah, peran keluarga menjadi fondasi yang tak tergantikan. Bayangkan seorang ayah yang dengan lembut membangunkan anaknya, bukan dengan bentakan, tetapi dengan sentuhan penuh kasih. Seorang ibu yang menyiapkan minuman hangat, menciptakan suasana Subuh yang ramah dan menenangkan. Kebersamaan berjalan menuju masjid, langkah-langkah kecil di bawah langit yang masih gelap, menjadi kenangan spiritual yang membekas seumur hidup. Sekolah, dalam konteks ini, seharusnya menjadi echo chamber yang memperkuat kebiasaan baik dari rumah, bukan sekadar ruang evaluasi yang dingin dan terpisah dari realitas keseharian siswa.
Namun, suara kegelisahan juga datang dari para guru. Banyak guru Pendidikan Agama Islam mengakui bahwa mereka relatif percaya diri mengajarkan teknis ibadah. Mereka menguasai materi, memahami dalil, dan mampu menjelaskan dengan metode yang variatif. Tetapi ketika sampai pada upaya menanamkan kerinduan beribadah, terutama sholat Subuh, mereka sering merasa gamang. Kerinduan adalah wilayah hati, dan hati tidak selalu tunduk pada instruksi. Di sinilah teladan Nabi Muhammad SAW menjadi pelajaran yang tak lekang oleh waktu. Umar bin Khattab, sosok yang kelak dikenal sebagai pemimpin besar, tidak tersentuh oleh perintah yang keras, melainkan oleh keteladanan akhlak Nabi yang konsisten. Pendidikan karakter religius, pada akhirnya, lahir dari kebiasaan yang terus diulang dan dicontohkan, bukan sekadar dari kurikulum yang tertulis rapi di atas kertas.
Perubahan besar sering kali berawal dari langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan kesungguhan. Di sebuah sekolah, misalnya, kepala sekolah memutuskan untuk memimpin sholat Dhuha bersama para guru secara rutin. Bukan sebagai program seremonial, melainkan sebagai teladan nyata bahwa ibadah adalah kebutuhan bersama, bukan tuntutan sepihak kepada siswa. Di kesempatan lain, diadakan sebuah forum bertajuk “Sahur Bersama Nilai” yang melibatkan orang tua. Dalam suasana santai dan akrab, orang tua diajak berbagi pengalaman, kesulitan, dan strategi membangun kebiasaan Subuh di rumah. Di kelas, guru mulai mengubah cara bertanya. Alih-alih menekankan kepatuhan dengan pertanyaan “Siapa yang sholat Subuh?”, mereka mencoba pendekatan reflektif: “Bagaimana perasaanmu setelah sholat Subuh?” Pertanyaan semacam ini membuka ruang bagi siswa untuk mengenali pengalaman batin mereka sendiri, bukan sekadar takut pada penilaian.
Fondasi spiritual yang kokoh sering kali dibangun dalam kesendirian yang khusyuk. Surah Al-Muzzammil ayat 2 memuat perintah bangun malam, sebuah latihan spiritual yang menjadi fondasi dakwah Nabi. Pesan yang tersirat di dalamnya begitu kuat: perubahan besar dimulai dari hubungan personal yang mendalam dengan Allah, sering kali dalam sunyi yang tidak disaksikan siapa pun. Sebelum kita berbicara tentang mendidik anak-anak agar tidak melewatkan Subuh, kita perlu bercermin dengan jujur. Apakah orang tua dan guru sendiri telah menjadikan Subuh sebagai prioritas, ataukah ia juga kerap terlewat dengan berbagai alasan yang tampak rasional? Anak-anak belajar lebih banyak dari apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar.
Pada akhirnya, Subuh yang tak terbangun seharusnya menjadi alarm bagi kita semua. Ia mengingatkan bahwa ada sesuatu yang perlu dibenahi, bukan dengan menyalahkan satu pihak, melainkan dengan membangun kesadaran bersama. Pendidikan karakter religius bukanlah proyek untuk mencetak manusia sempurna yang tak pernah lalai, melainkan ikhtiar menumbuhkan kerinduan yang jujur pada kebaikan. Ketika suatu hari seorang anak bangun untuk sholat Subuh bukan karena takut dimarahi guru atau orang tua, melainkan karena rindu untuk sujud dan berjumpa dengan Tuhannya, di sanalah pendidikan kita menemukan maknanya. Di saat itulah Subuh benar-benar terbit, bukan hanya di ufuk timur, tetapi juga di hati generasi yang kita didik dengan harapan.
Penulis : Sri Purwati, Kepala SMP Negeri 3 Cilongok

Artikel ini sangat menarik dan menggugah kesadaran pembaca. Penulis dengan bahasa yang reflektif mengajak kita merenungkan makna pendidikan agama, bukan hanya sebagai pengetahuan, tetapi sebagai kebiasaan hidup. Tulisan ini relevan dan memberi pengingat penting bagi guru dan orang tua tentang pentingnya keteladanan.
”Tulisan ini adalah sebuah kritik tajam yang puitis. Metafora ‘Subuh’ dengan sangat pas menggambarkan hilangnya ruh dan karakter dalam pendidikan kita yang kini terlalu mekanis. Sebuah pengingat penting bahwa ruang kelas seharusnya menjadi tempat tumbuhnya cahaya nurani, bukan sekadar mengejar angka.”
Nggih pak, semoga kita bisa hadir tidak hanya mentransfer ilmu namun juga dalam mendidik karakter siswa siswi kita
Pembentukan karakter anak tidak hanya terjadi di sekolah, tetapi berawal dari rumah. Kebiasaan bangun pagi dan melaksanakan salat Subuh bukan sekadar rutinitas ibadah, melainkan latihan kedisiplinan, tanggung jawab, dan pengendalian diri.
7KAIH sebenarnya akan mengarahkan siswa-siswi kita terbentuk karakternya dengan baik. Namun butuh usaha bersama saling mendukung terutama dari keluarga.
”Tulisan ini adalah sebuah tulisan yang bagus dan yang puitis. Metafora ‘Subuh’ dengan sangat pas menggambarkan hilangnya ruh dan karakter dalam pendidikan kita yang kini terlalu mekanis. Sebuah pengingat penting bahwa ruang kelas seharusnya menjadi tempat tumbuhnya cahaya nurani, bukan sekadar mengejar angka.”
Perlu adanya kolaborasi antara guru dan orangtua guna menumbuhkan karakter peserta didik, utamanya untuk menumbuhkan kesadaran peserta didik tentang pelaksanaan ibadah sholat subuh
Beri Komentar