Senin, 21-09-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Asah Kompetensi Pengelasan, Siswa Kelas XI TKR SMKN Jateng di Semarang Belajar dari Teori hingga Praktik

Diterbitkan : Selasa, 22 September 2026

Perkembangan industri otomotif yang semakin dinamis menuntut lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) memiliki kompetensi yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Penguasaan kompetensi dasar sesuai bidang keahlian menjadi fondasi penting, tetapi keterampilan pendukung yang dapat memperluas kemampuan teknis siswa juga tidak kalah diperlukan. Salah satunya adalah keterampilan pengelasan yang memiliki keterkaitan dengan berbagai pekerjaan di bidang otomotif.

Kebutuhan tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya memberikan ruang kepada siswa untuk mengembangkan keterampilan melalui mata pelajaran pilihan. Siswa kelas XI Jurusan Teknik Kendaraan Ringan (TKR) di SMKN Jateng di Semarang mendapatkan kesempatan untuk mempelajari pengelasan secara lebih intensif melalui perpaduan pembelajaran teori dan praktik. Kegiatan tersebut tidak sekadar mengajarkan cara menggunakan mesin las, tetapi juga membangun ketelitian, kedisiplinan, keselamatan kerja, dan sikap profesional yang dibutuhkan di dunia industri.

Pengelasan pada dasarnya merupakan proses penyambungan material, khususnya logam, dengan memanfaatkan panas sehingga bagian material yang disambungkan dapat menyatu. Dalam dunia otomotif, keterampilan ini dapat mendukung berbagai pekerjaan, mulai dari pembuatan dan perbaikan komponen kendaraan, pembuatan rangka sederhana, perbaikan bodi, hingga pekerjaan fabrikasi yang berkaitan dengan kendaraan.

Bagi siswa TKR, penguasaan pengelasan menjadi kompetensi pendukung yang memberikan pengalaman teknis lebih luas. Siswa tidak hanya memahami bagaimana sebuah kendaraan bekerja, tetapi juga mengenal proses pengerjaan material yang dapat dijumpai dalam aktivitas perawatan, perbaikan, maupun pembuatan komponen tertentu.

Peningkatan kompetensi pengelasan tentu tidak cukup hanya dilakukan melalui pembelajaran teori di dalam kelas. Karakter keterampilan vokasi menuntut siswa memperoleh pengalaman langsung agar pengetahuan yang dipelajari dapat diterapkan dalam situasi kerja. Karena itu, kegiatan praktik menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran mata pelajaran pilihan tersebut.

Di bengkel, siswa diperkenalkan dengan berbagai peralatan pengelasan sekaligus memahami fungsi dan cara penggunaannya. Mereka belajar menyiapkan material sebelum proses pengelasan, melakukan pengaturan mesin, menentukan parameter kerja, menyalakan busur, menjaga jarak elektroda, mengatur sudut elektroda, hingga mengendalikan gerakan agar menghasilkan sambungan yang sesuai.

Proses tersebut membutuhkan latihan yang berulang. Gerakan elektroda yang terlalu cepat atau terlalu lambat, jarak yang tidak sesuai, maupun pengaturan arus yang kurang tepat dapat memengaruhi hasil pengelasan. Karena itu, siswa didorong untuk tidak hanya mengejar pekerjaan selesai, tetapi juga memperhatikan kualitas setiap hasil yang mereka buat.

Setelah proses pengelasan selesai, pekerjaan tidak serta-merta dianggap tuntas. Siswa juga belajar melakukan penggerindaan dan merapikan bagian hasil las. Tahapan tersebut menjadi pengalaman penting untuk memahami bahwa sebuah pekerjaan teknis membutuhkan proses dari awal hingga akhir, termasuk pemeriksaan dan penyelesaian akhir.

Melalui praktik secara langsung, siswa dapat melihat hubungan antara teori dan hasil pekerjaan. Mereka belajar bahwa kualitas sambungan las dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kuat arus listrik, posisi pengelasan, kecepatan gerakan elektroda, sudut elektroda, kebersihan material, serta keterampilan operator. Pemahaman tersebut akan berkembang seiring dengan semakin banyaknya pengalaman praktik yang diperoleh siswa.

Di balik aktivitas yang menghasilkan percikan cahaya dan panas, terdapat aspek keselamatan yang tidak boleh diabaikan. Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) menjadi bagian penting dalam pembelajaran pengelasan karena proses tersebut memiliki sejumlah potensi bahaya, seperti cahaya yang sangat terang, panas, percikan api, asap, serta risiko lain yang dapat muncul apabila prosedur kerja tidak dilakukan dengan benar.

Karena itu, siswa dibiasakan menggunakan alat pelindung diri (APD) ketika melakukan praktik. Helm atau kedok las, sarung tangan, pakaian kerja, dan perlengkapan keselamatan lainnya menjadi bagian dari kebiasaan kerja yang harus diterapkan. Penerapan K3 tidak hanya dipahami sebagai aturan sekolah, tetapi juga sebagai budaya kerja yang perlu dibawa ketika siswa nantinya memasuki lingkungan industri.

Kebiasaan sederhana seperti memeriksa kondisi peralatan sebelum digunakan, memastikan area kerja aman, menggunakan perlengkapan pelindung, menjaga lingkungan kerja tetap tertata, serta mematikan peralatan setelah selesai digunakan merupakan bagian dari pembentukan sikap profesional. Dalam dunia kerja, keterampilan teknis yang baik harus berjalan seiring dengan kesadaran terhadap keselamatan.

Praktik pengelasan juga memberikan pengalaman yang dapat melatih ketelitian dan kesabaran siswa. Untuk menghasilkan sambungan yang baik, siswa membutuhkan koordinasi antara mata dan tangan serta kemampuan mempertahankan gerakan secara stabil. Kesalahan kecil dalam menjaga jarak, sudut, maupun kecepatan gerakan dapat terlihat pada hasil akhir.

Pengalaman tersebut secara tidak langsung melatih siswa untuk bekerja dengan lebih cermat. Mereka belajar bahwa pekerjaan teknis membutuhkan konsentrasi dan tidak dapat dilakukan secara terburu-buru. Setiap tahap harus dikerjakan dengan memperhatikan prosedur agar hasil yang diperoleh sesuai dengan tujuan pekerjaan.

Siswa juga tidak hanya dituntut menghasilkan sambungan yang terlihat menyatu. Mereka perlu memahami karakteristik hasil pengelasan dan belajar mengenali kemungkinan terjadinya cacat las. Ketika menemukan hasil yang kurang sesuai, siswa diarahkan untuk mencari kemungkinan penyebabnya, kemudian melakukan evaluasi dan perbaikan.

Proses evaluasi tersebut penting dalam pembelajaran vokasi karena kesalahan dapat menjadi bagian dari pengalaman belajar. Siswa belajar menghubungkan antara proses dan hasil. Dengan demikian, pembelajaran tidak berhenti ketika tugas selesai, tetapi berlanjut melalui kegiatan pemeriksaan, refleksi, dan perbaikan.

Pada kegiatan praktik yang terdokumentasi, siswa tampak melakukan proses pengelasan menggunakan perlengkapan keselamatan dan peralatan kerja di bengkel. Aktivitas tersebut menggambarkan karakter pembelajaran vokasional yang menempatkan pengalaman langsung sebagai bagian penting dari proses pengembangan kompetensi.

Meskipun kompetensi utama TKR berfokus pada kendaraan ringan, keterampilan pengelasan dapat menjadi kompetensi pendukung yang memperluas kemampuan siswa. Pengetahuan dan pengalaman tersebut dapat berguna dalam lingkungan kerja otomotif, sekaligus memiliki keterkaitan dengan pekerjaan di bidang manufaktur dan fabrikasi.

Penguasaan keterampilan tambahan juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengenali lebih banyak kemungkinan bidang pekerjaan setelah menyelesaikan pendidikan. Dunia kerja membutuhkan tenaga yang tidak hanya memahami satu keterampilan, tetapi juga mampu beradaptasi dengan kebutuhan pekerjaan dan menyelesaikan persoalan teknis secara tepat.

Lebih dari sekadar kemampuan mengoperasikan peralatan, proses praktik pengelasan turut membentuk sikap kerja. Siswa belajar mengenai disiplin dalam mengikuti prosedur, tanggung jawab terhadap peralatan dan hasil pekerjaan, ketelitian dalam menyelesaikan tugas, kerja sama ketika berada di lingkungan bengkel, serta kepedulian terhadap keselamatan diri dan orang lain.

Hal tersebut sejalan dengan karakter pendidikan vokasi yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan keterampilan dan sikap kerja. Pembelajaran di bengkel menjadi ruang bagi siswa untuk membiasakan diri menghadapi pekerjaan yang membutuhkan ketepatan, ketekunan, dan tanggung jawab.

Pembelajaran pengelasan melalui mata pelajaran pilihan bagi siswa kelas XI Jurusan TKR di SMKN Jateng di Semarang menjadi salah satu upaya untuk memperkaya kompetensi siswa melalui pengalaman praktik. Perpaduan antara pemahaman teori, praktik langsung, penerapan K3, serta evaluasi terhadap hasil pekerjaan memberikan pengalaman belajar yang relevan dengan karakter pendidikan vokasi.

Dengan latihan yang dilakukan secara berkelanjutan, dukungan fasilitas bengkel, dan bimbingan guru, kompetensi pengelasan siswa dapat dikembangkan secara bertahap. Setiap latihan menjadi kesempatan untuk memperbaiki teknik, meningkatkan ketelitian, dan memahami prosedur kerja secara lebih baik.

Pada akhirnya, keterampilan yang diperoleh melalui mata pelajaran pilihan tersebut bukan hanya menjadi bekal untuk menyelesaikan pembelajaran di sekolah. Kompetensi pengelasan juga dapat menjadi bagian dari pengalaman yang mempersiapkan siswa menghadapi lingkungan kerja yang menuntut keterampilan teknis, kedisiplinan, keselamatan, dan kemampuan beradaptasi.

Bagi siswa kelas XI TKR, setiap percikan api dari proses pengelasan bukan sekadar aktivitas praktik di bengkel. Di dalamnya terdapat proses belajar untuk bekerja secara teliti, aman, dan bertanggung jawab. Dari ruang praktik itulah keterampilan teknis sekaligus karakter kerja dibangun sebagai bekal menuju masa depan di dunia industri.

Penulis : Ahmad Ulul Albab, Guru Produktif TKRO SMKN Jateng di Semarang

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan