SEMARANG – Generasi muda harus memiliki kekuatan iman, keluasan ilmu, kemuliaan akhlak, serta kepedulian terhadap sesama. Pesan tersebut menjadi inti khutbah Sholat Jumat di Masjid Baitul Ilmi SMKN Jateng di Semarang, Jumat (6/11/2026). Bertindak sebagai khotib sekaligus imam, Nur Khamim, S.Pd.I., mengajak seluruh jamaah, khususnya generasi muda, untuk meneladani karakter Nabi Yahya AS sebagai bekal membangun masa depan yang lebih baik.
Dalam khutbah bertema pembentukan generasi muda yang kuat dan berkarakter tersebut, Nur Khamim menyampaikan bahwa anak muda merupakan harapan keluarga, umat, dan bangsa. Namun, menurutnya, usia muda saja tidak cukup untuk menjadi modal menghadapi tantangan kehidupan. Generasi muda harus dipersiapkan dengan fondasi agama yang kokoh, ilmu pengetahuan yang luas, serta akhlak yang mencerminkan nilai-nilai kebaikan.
“Menjadi muda saja tidak cukup. Kita membutuhkan generasi yang kuat. Kuat imannya, luas ilmunya, baik akhlaknya, dan besar kepeduliannya kepada sesama,” ungkap Nur Khamim dalam khutbahnya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa pendidikan generasi muda tidak boleh hanya berorientasi pada kecerdasan intelektual dan keberhasilan duniawi. Pembentukan karakter, penguatan spiritual, dan kepedulian sosial harus berjalan beriringan agar generasi penerus mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.
Untuk memperkuat pesan khutbah, Nur Khamim mengangkat kisah Nabi Yahya AS sebagaimana diabadikan Allah SWT dalam Al-Qur’an Surah Maryam ayat 12–15. Ayat tersebut menggambarkan sosok Nabi Yahya sebagai pribadi yang memperoleh hikmah sejak kecil, memiliki kasih sayang, menjaga kesucian diri, bertakwa, berbakti kepada kedua orang tua, serta tidak bersikap sombong dan durhaka.
Menurut Nur Khamim, kisah Nabi Yahya AS memberikan teladan penting bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh usia, melainkan oleh kualitas iman, ilmu, dan perilakunya. Bahkan sejak usia muda, seseorang dapat tumbuh menjadi pribadi yang bijaksana, bertanggung jawab, dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Dari kandungan Surah Maryam tersebut, khotib menguraikan enam karakter utama yang perlu ditanamkan kepada generasi muda. Keenam karakter itu meliputi kesungguhan dalam memegang ilmu dan agama, kebijaksanaan dalam berpikir dan bertindak, kasih sayang terhadap sesama, kemampuan menjaga diri dan waktu, berbakti kepada orang tua, serta rendah hati dan tidak bersikap sombong.
Karakter pertama yang ditekankan adalah kesungguhan dalam mempelajari ilmu dan agama. Pesan tersebut merujuk pada firman Allah SWT, Khudzil-kitāba biquwwah, yang berarti mengambil atau memegang Kitab dengan sungguh-sungguh.
Nur Khamim mengingatkan bahwa generasi muda tidak boleh menjalani kehidupan tanpa pedoman. Al-Qur’an harus menjadi petunjuk dalam menjalani kehidupan, sementara ilmu pengetahuan perlu terus dikembangkan untuk menghadapi perubahan zaman.
Ia juga mengutip pemikiran Syekh Az-Zarnuji dalam kitab Ta’limul Muta’allim yang menekankan pentingnya ilmu yang memberikan manfaat dan mengantarkan seseorang kepada kebaikan serta ketakwaan.
“Belajar bukan hanya untuk mendapatkan nilai, bukan hanya untuk meraih gelar, dan bukan pula semata-mata untuk mendapatkan pekerjaan. Belajar harus membuat kita semakin mengenal Allah, semakin baik akhlak kita, dan semakin besar manfaat kita bagi orang lain,” pesannya.
Karakter kedua adalah kebijaksanaan. Mengacu pada anugerah hikmah yang diberikan Allah kepada Nabi Yahya sejak kecil, Nur Khamim mengingatkan bahwa usia muda bukan alasan untuk bertindak ceroboh. Anak muda harus mampu berpikir matang, mempertimbangkan akibat dari setiap tindakan, serta menjadi teladan bagi lingkungannya.
Ia menyampaikan sebuah ungkapan Arab, Al-‘ālimu kabīrun walau kāna shaghīran, yang berarti orang berilmu memiliki kedewasaan meskipun usianya masih muda. Ungkapan ini menegaskan bahwa kualitas ilmu dan kematangan berpikir jauh lebih penting daripada sekadar usia.
Karakter ketiga adalah kasih sayang dan kepedulian terhadap sesama. Mengambil pelajaran dari sifat Nabi Yahya AS yang dianugerahi kasih sayang oleh Allah SWT, Nur Khamim mengajak generasi muda untuk tidak hanya berorientasi pada keberhasilan pribadi.
Menurutnya, kepedulian merupakan salah satu ukuran kekuatan karakter seseorang. Generasi muda harus memiliki kepekaan terhadap kesulitan orang lain dan bersedia memberikan bantuan sesuai kemampuan.
“Orang yang kuat bukan hanya orang yang mampu berdiri sendiri. Orang yang kuat juga mampu membantu orang lain berdiri,” tuturnya.
Karakter keempat adalah kemampuan menjaga diri dan memanfaatkan waktu dengan baik. Ketakwaan, sebagaimana dicontohkan Nabi Yahya AS, tidak hanya terlihat ketika seseorang berada di masjid, tetapi juga tercermin dalam perilaku sehari-hari. Hal itu dapat dilihat dari kemampuannya menjaga hati, mengendalikan diri, menghindari perbuatan buruk, serta menggunakan waktu untuk kegiatan yang bermanfaat.
Selanjutnya, karakter kelima adalah berbakti kepada kedua orang tua. Nur Khamim mengingatkan bahwa orang tua telah memberikan pengorbanan besar dalam membesarkan anak-anaknya melalui waktu, tenaga, perhatian, dan kasih sayang.
Karena itu, generasi muda hendaknya tidak mudah menyakiti hati orang tua, tidak meremehkan nasihat mereka, serta senantiasa menjaga tutur kata dan sikap. Apabila terdapat perbedaan pendapat, hendaknya disampaikan dengan santun dan penuh penghormatan.
Ia juga mengajak seluruh jamaah untuk membangun keluarga yang saling menyayangi, dengan orang tua yang membimbing penuh kasih sayang dan anak-anak yang menghormati dengan ketulusan.
Karakter keenam yang disampaikan dalam khutbah adalah rendah hati dan tidak bersikap sombong maupun durhaka. Mengacu pada karakter Nabi Yahya AS dalam Surah Maryam ayat 14, Nur Khamim mengingatkan bahwa keberhasilan seseorang tidak pernah terlepas dari peran dan pertolongan orang lain.
Ada orang tua yang mendidik, guru yang memberikan ilmu, masyarakat yang mendukung, serta pertolongan Allah SWT yang senantiasa menyertai kehidupan manusia.
Oleh sebab itu, generasi muda perlu memiliki kesadaran untuk menghargai setiap kebaikan, menghormati orang lain, dan tidak merasa lebih hebat dibandingkan sesamanya. Kerendahan hati justru menjadi kekuatan yang akan mengantarkan seseorang menuju kemuliaan akhlak.
Pesan khutbah tersebut memiliki relevansi kuat dengan dunia pendidikan, termasuk pendidikan vokasi. Sekolah tidak hanya memiliki tanggung jawab membekali peserta didik dengan keterampilan dan kompetensi keahlian, tetapi juga membentuk pribadi yang beriman, berkarakter, disiplin, bertanggung jawab, dan memiliki kepedulian sosial.
Melalui kegiatan Sholat Jumat di Masjid Baitul Ilmi, nilai-nilai keagamaan dan pembentukan karakter diharapkan semakin tumbuh dalam kehidupan warga sekolah. Momentum ibadah ini sekaligus menjadi ruang refleksi untuk memperkuat hubungan dengan Allah SWT dan meningkatkan kualitas hubungan antarsesama manusia.
Mengakhiri khutbahnya, Nur Khamim mengajak jamaah untuk senantiasa mendoakan generasi penerus agar tumbuh menjadi pribadi yang saleh, cerdas, sehat, berakhlak mulia, dan bermanfaat bagi sesama.
“Semoga Allah membimbing anak-anak kita dan menjadikan mereka generasi yang saleh, cerdas, sehat, berakhlak mulia, serta bermanfaat bagi sesama,” pungkasnya.
Khutbah Jumat di SMKN Jateng di Semarang ini menjadi pengingat bahwa membangun generasi unggul tidak cukup hanya dengan pendidikan dan keterampilan. Diperlukan fondasi keimanan, keluasan ilmu, keteladanan akhlak, serta kepedulian sosial. Dengan meneladani Nabi Yahya AS, generasi muda diharapkan mampu tumbuh menjadi insan yang kuat secara spiritual, matang dalam berpikir, santun dalam bertindak, dan siap memberikan kontribusi terbaik bagi agama, bangsa, dan negara.

Beri Komentar