Sejak menyelesaikan pendidikan di IKIP Semarang pada 1997, penulis telah mengabdikan diri di dunia pendidikan selama kurang lebih dua dekade. Berbagai pengalaman sebagai guru maupun kepala sekolah memberikan kesempatan untuk menyaksikan secara langsung perubahan dinamika pendidikan, baik di lingkungan sekolah maupun dalam kehidupan keluarga.
Dari perjalanan panjang tersebut, ada satu fenomena yang semakin menarik perhatian sekaligus mengundang keprihatinan: semakin melemahnya keterlibatan orang tua dalam mengawal proses pendidikan anak.
Selama ini, pendidikan idealnya dibangun melalui tiga unsur utama atau yang dapat disebut sebagai tripartit pendidikan, yaitu pemerintah, sekolah, dan orang tua. Pemerintah bertanggung jawab membangun kebijakan serta menyediakan sistem pendidikan. Sekolah menjadi tempat penyelenggaraan pembelajaran sekaligus pembentukan karakter. Sementara itu, orang tua memiliki tanggung jawab mendasar dalam mendampingi, mengarahkan, dan memastikan pendidikan anak berlangsung secara berkelanjutan.
Ketiga unsur tersebut seharusnya berjalan beriringan. Namun, dalam praktiknya, sinergi antara pemerintah dan sekolah relatif lebih terlihat melalui berbagai program, kebijakan, dan kegiatan pendidikan. Sebaliknya, keterlibatan orang tua dalam mendampingi perjalanan pendidikan anak justru menunjukkan gejala yang semakin meredup.
Tentu, bukan berarti orang tua tidak lagi mencintai atau peduli terhadap anak-anaknya. Banyak orang tua tetap bekerja keras demi memenuhi kebutuhan keluarga dan memberikan pendidikan terbaik. Akan tetapi, perubahan pola kehidupan, tekanan ekonomi, kesibukan pekerjaan, serta penetrasi teknologi telah mengubah cara orang tua menjalankan perannya.
Ada pengalaman menarik yang semakin menguatkan kegelisahan penulis ketika mendapat kesempatan menjadi kepala sekolah di lingkungan pendidikan berasrama (boarding school). Dalam lingkungan tersebut, anak-anak menjalani kehidupan pendidikan dengan pendampingan pamong atau pengasuh yang mengambil sebagian fungsi pengasuhan sehari-hari. Menariknya, dalam sejumlah aspek, keberhasilan pembinaan pendidikan dan kedisiplinan justru terlihat lebih baik dibandingkan dengan pengalaman yang penulis temui di sekolah reguler.
Pertanyaannya, mengapa anak-anak yang jauh dari orang tua justru dapat menunjukkan perkembangan yang lebih baik dalam aspek tertentu? Apakah kehadiran orang tua tidak lagi menjadi faktor penting dalam pendidikan?
Tentu jawabannya bukan demikian. Justru pengalaman tersebut memberikan pelajaran bahwa pendidikan membutuhkan pendampingan yang konsisten, keteladanan, aturan yang jelas, dan tanggung jawab yang dijalankan secara sungguh-sungguh. Persoalannya bukan terletak pada siapa yang mendampingi anak, melainkan bagaimana pendampingan itu dilakukan.
Salah satu peran mendasar orang tua adalah menjadi teladan bagi anak. Pendidikan tidak selalu berlangsung melalui nasihat atau instruksi. Sering kali, anak belajar justru dengan mengamati kebiasaan orang-orang terdekatnya.
Pada masa lalu, aktivitas membaca buku atau surat kabar, berdiskusi bersama keluarga, berkebun, dan melakukan pekerjaan rumah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari yang secara tidak langsung memberikan pengalaman belajar kepada anak.
Kini, pemandangan tersebut mulai banyak tergantikan oleh penggunaan gawai. Anak menyaksikan orang tua lebih sering berinteraksi dengan layar ponsel dibandingkan membaca buku, berdiskusi, atau melakukan kegiatan produktif bersama keluarga.
Teknologi sebenarnya bukan sesuatu yang harus dijauhi. Persoalannya adalah bagaimana teknologi digunakan dan kebiasaan apa yang dicontohkan orang tua. Ketika anak diminta rajin membaca, tetapi tidak pernah melihat orang tuanya membaca, pesan pendidikan tersebut kehilangan kekuatan keteladanan.
Orang tua perlu kembali menghadirkan budaya literasi dan keingintahuan di rumah. Membaca bersama, berdiskusi tentang peristiwa sehari-hari, serta mengajak anak mengeksplorasi lingkungan merupakan langkah sederhana untuk menumbuhkan semangat belajar.
Pergeseran berikutnya terlihat dari cara orang tua memandang keberhasilan pendidikan anak. Tidak sedikit orang tua yang lebih menaruh perhatian pada angka dalam rapor, peringkat kelas, dan prestasi akademis dibandingkan proses belajar yang dijalani anak.
Pertanyaan seperti “Berapa nilai ulanganmu?” terkadang lebih sering terdengar daripada “Apa yang kamu pelajari hari ini?” atau “Kesulitan apa yang kamu hadapi di sekolah?”
Orientasi terhadap hasil memang tidak sepenuhnya keliru. Nilai akademis tetap menjadi salah satu indikator pencapaian pembelajaran. Namun, menjadikan nilai sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan dapat mengabaikan aspek penting lainnya, seperti karakter, kreativitas, kemandirian, tanggung jawab, dan kemampuan menyelesaikan masalah.
Anak akhirnya berpotensi memandang belajar sebagai kewajiban untuk memenuhi harapan orang tua, bukan sebagai kebutuhan untuk mengembangkan dirinya.
Di sinilah orang tua perlu mengembalikan perannya sebagai fasilitator proses. Anak membutuhkan dukungan ketika mengalami kegagalan, penghargaan atas usaha, serta kesempatan untuk memperbaiki kekurangan.
Pendidikan yang baik bukan hanya menghasilkan anak dengan nilai tinggi, melainkan manusia yang memiliki kemauan belajar, daya juang, dan kemampuan menghadapi kehidupan.
Fenomena lain yang patut menjadi perhatian adalah kecenderungan menyerahkan tanggung jawab pendidikan kepada pihak ketiga. Sekolah dianggap sebagai tempat utama yang harus menyelesaikan hampir seluruh persoalan perkembangan anak.
Ketika anak mengalami kesulitan belajar, solusi yang segera muncul adalah menambah jam bimbingan belajar atau les privat. Ketika anak menunjukkan persoalan perilaku, sekolah sering kali menjadi pihak pertama yang diminta bertanggung jawab.
Padahal, pendidikan tidak berhenti ketika anak meninggalkan ruang kelas.
Rumah merupakan lingkungan pendidikan pertama dan keluarga adalah tempat anak mengenal nilai-nilai kehidupan. Di rumah, anak belajar menghormati orang lain, berbicara dengan santun, mengelola waktu, menjaga kebersihan, bertanggung jawab, dan menyelesaikan pekerjaan sederhana.
Sekolah dapat mengajarkan teori kedisiplinan, tetapi keluarga harus menghadirkan praktiknya dalam kehidupan sehari-hari.
Membayar biaya sekolah dan bimbingan belajar tidak serta-merta menggugurkan tanggung jawab orang tua. Pendidikan merupakan proses panjang yang membutuhkan keterlibatan emosional, sosial, dan moral dari keluarga.
Sekolah dan lembaga pendidikan tambahan dapat membantu mengembangkan potensi anak, tetapi tidak dapat sepenuhnya menggantikan fungsi pengasuhan orang tua.
Rumah sebenarnya menyediakan sumber belajar yang sangat kaya. Banyak pengetahuan yang diajarkan di sekolah dapat ditemukan dalam aktivitas sederhana sehari-hari.
Anak dapat memahami konsep pecahan ketika membantu memotong kue. Pengetahuan tentang tumbuhan dan lingkungan dapat diperoleh melalui kegiatan berkebun. Konsep ekonomi, matematika, dan pengambilan keputusan dapat dipelajari ketika berbelanja bersama orang tua.
Sayangnya, kesempatan belajar kontekstual semacam ini semakin jarang dimanfaatkan.
Kesibukan orang tua sering membuat aktivitas keluarga berjalan secara praktis dan terburu-buru. Anak lebih banyak menerima fasilitas dibandingkan dilibatkan dalam kegiatan yang memungkinkan mereka belajar secara langsung.
Padahal, pengalaman nyata membantu anak memahami bahwa ilmu pengetahuan bukan sekadar kumpulan teori dalam buku pelajaran. Pengetahuan memiliki hubungan erat dengan kehidupan.
Orang tua tidak harus menjadi ahli dalam semua mata pelajaran untuk mendampingi anak. Mereka cukup menghadirkan pengalaman, memberikan pertanyaan pemantik, dan mengajak anak berpikir kritis terhadap berbagai peristiwa di sekitarnya.
Dengan demikian, rumah kembali menjadi ruang belajar yang hidup dan menyenangkan.
Hubungan antara orang tua dan guru idealnya merupakan kemitraan dalam mengawal perkembangan anak. Keduanya memiliki informasi, pengalaman, dan tanggung jawab yang saling melengkapi.
Guru mengetahui perkembangan anak dalam lingkungan pembelajaran, sedangkan orang tua memahami kebiasaan, latar belakang, dan dinamika kehidupan anak di rumah.
Namun, komunikasi keduanya terkadang hanya berlangsung secara administratif. Grup WhatsApp lebih banyak digunakan untuk menyampaikan pengumuman, informasi pembayaran, jadwal kegiatan, atau pemberitahuan mengenai hasil belajar.
Komunikasi mendalam mengenai perkembangan karakter, kondisi emosional, kesulitan belajar, dan perubahan perilaku anak belum selalu menjadi prioritas.
Bahkan, dalam situasi tertentu, hubungan orang tua dan guru justru diwarnai sikap saling menyalahkan. Orang tua merasa sekolah kurang maksimal mendidik anak, sementara guru merasa keluarga kurang memberikan dukungan terhadap proses pembelajaran.
Pola komunikasi seperti ini tidak produktif bagi perkembangan peserta didik.
Orang tua dan guru perlu membangun hubungan yang dilandasi kepercayaan, keterbukaan, serta kesadaran bahwa keduanya sedang memperjuangkan tujuan yang sama. Ketika anak menghadapi masalah, yang harus dicari bukan siapa yang paling bersalah, melainkan bagaimana menemukan jalan keluar terbaik.
Kasih sayang orang tua merupakan fondasi penting dalam perkembangan anak. Namun, kasih sayang yang tidak diimbangi pemahaman tentang kebutuhan tumbuh kembang dapat berubah menjadi perlindungan berlebihan.
Fenomena helicopter parenting menggambarkan pola pengasuhan ketika orang tua terlalu mengawasi, mengendalikan, dan mengambil alih berbagai urusan anak. Mereka ingin memastikan anak tidak mengalami kesulitan, kegagalan, atau kekecewaan.
Dalam lingkungan pendidikan, pola tersebut dapat terlihat ketika orang tua terlalu cepat mengerjakan tugas anak, selalu membela anak tanpa memahami persoalan secara utuh, atau memprotes setiap konsekuensi edukatif yang diberikan sekolah.
Tidak jarang pula gawai digunakan sebagai alat untuk menenangkan anak atau menghentikan perilaku yang dianggap mengganggu.
Padahal, anak membutuhkan kesempatan untuk menghadapi tantangan sesuai tahap perkembangannya. Mereka perlu belajar menerima konsekuensi, menyelesaikan persoalan, mengelola emosi, dan bertanggung jawab terhadap pilihan sendiri.
Kegagalan bukan sesuatu yang harus selalu dihindarkan. Dengan pendampingan yang tepat, kegagalan justru menjadi pengalaman berharga untuk membangun ketangguhan atau resilience.
Orang tua seharusnya hadir sebagai pendamping, bukan mengambil alih seluruh perjuangan anak.
Pengalaman penulis di sekolah berasrama menghadirkan pertanyaan penting mengenai efektivitas pendampingan dalam pendidikan.
Di lingkungan berasrama, anak menjalani aktivitas sehari-hari dengan jadwal dan tata tertib yang relatif terstruktur. Pamong atau pengasuh hadir untuk mendampingi kegiatan belajar, ibadah, istirahat, kebersihan, interaksi sosial, hingga pembentukan kebiasaan mandiri.
Kehadiran pendamping secara konsisten memungkinkan nilai-nilai pendidikan tidak hanya disampaikan melalui teori, tetapi juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Ada beberapa faktor yang dapat menjelaskan kondisi tersebut.
Pertama, konsistensi aturan. Anak berada dalam lingkungan yang memiliki jadwal, tata tertib, dan konsekuensi yang relatif jelas. Hal ini membantu membentuk kebiasaan dan disiplin.
Kedua, pengawasan yang berkelanjutan. Pamong dapat mengamati kebiasaan anak secara langsung sehingga persoalan perilaku maupun kesulitan belajar lebih mudah dikenali.
Ketiga, lingkungan yang mendukung. Anak hidup bersama teman sebaya yang menjalani pola kegiatan serupa. Lingkungan tersebut dapat membentuk budaya saling mengingatkan dan belajar bersama.
Keempat, pembiasaan tanggung jawab. Anak didorong mengurus kebutuhan pribadi, mengatur waktu, menjaga barang milik sendiri, dan mengikuti aturan bersama.
Kelima, pendampingan yang lebih terintegrasi. Kegiatan pendidikan, pengasuhan, dan pembentukan karakter berlangsung dalam satu lingkungan yang saling berkaitan.
Namun, penting dipahami bahwa keberhasilan sekolah berasrama dalam aspek tertentu tidak otomatis membuktikan bahwa pendidikan berasrama lebih baik daripada pendidikan bersama keluarga. Perbedaan karakteristik peserta didik, sistem pengelolaan, kualitas pendampingan, serta lingkungan pendidikan turut memengaruhi hasilnya.
Hal yang justru perlu menjadi refleksi adalah adanya fungsi-fungsi pendidikan yang dapat dijalankan secara konsisten oleh pamong, tetapi terkadang belum optimal dijalankan oleh orang tua di rumah.
Dengan kata lain, persoalannya bukan tentang menggantikan orang tua dengan pamong, melainkan bagaimana menghadirkan pola pendampingan yang bertanggung jawab, teratur, dan berkelanjutan dalam keluarga.
Meredupnya keterlibatan orang tua bukan persoalan yang dapat diselesaikan dengan menyalahkan keluarga. Perubahan sosial dan ekonomi memang menghadirkan tantangan baru dalam pengasuhan.
Karena itu, diperlukan kesadaran bersama untuk menghidupkan kembali peran keluarga sebagai bagian penting dari ekosistem pendidikan.
Orang tua dapat memulainya dengan menyediakan waktu berkualitas untuk berkomunikasi dengan anak. Tidak harus berjam-jam, tetapi dilakukan secara konsisten dan penuh perhatian.
Kebiasaan membaca, berdiskusi, serta melakukan kegiatan bersama perlu dihidupkan kembali. Penggunaan gawai juga harus diatur melalui kesepakatan yang sehat, termasuk keteladanan orang tua dalam membatasi penggunaan perangkat digital.
Selain itu, orang tua perlu memberikan kepercayaan kepada anak untuk belajar mandiri. Tugas rumah, tanggung jawab pribadi, pengelolaan waktu, dan penyelesaian masalah sederhana dapat menjadi sarana pembentukan karakter.
Di sisi lain, sekolah perlu membuka ruang komunikasi yang lebih bermakna. Pertemuan dengan orang tua sebaiknya tidak hanya membahas nilai dan administrasi, tetapi juga perkembangan karakter, kondisi psikologis, serta kebutuhan pendampingan anak.
Pemerintah pun perlu memperkuat kebijakan yang mendorong kemitraan keluarga dan sekolah. Program pendidikan keluarga, penguatan kapasitas pengasuhan, serta komunikasi sekolah dengan orang tua perlu menjadi bagian dari upaya peningkatan mutu pendidikan.
Pendidikan tidak dapat dibebankan hanya kepada satu pihak. Ketiganya harus kembali menjalankan perannya secara seimbang.
Hampir dua dekade berkecimpung dalam dunia pendidikan memberikan satu pelajaran penting bagi penulis: keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kualitas kurikulum, kompetensi guru, kelengkapan fasilitas, atau kecanggihan teknologi.
Ada faktor mendasar yang sering kali luput dari perhatian, yaitu kehadiran orang tua dalam perjalanan tumbuh kembang anak.
Pengalaman di sekolah berasrama menunjukkan bahwa pendampingan yang konsisten, aturan yang jelas, keteladanan, dan pembiasaan positif dapat memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan peserta didik. Hal-hal tersebut sesungguhnya juga dapat dan seharusnya dihadirkan dalam kehidupan keluarga.
Orang tua tidak harus menjadi guru bagi anak di rumah. Mereka juga tidak dituntut menguasai seluruh materi pelajaran. Namun, orang tua perlu hadir sebagai teladan, motivator, pendamping, pelindung, sekaligus mitra sekolah.
Anak tidak hanya membutuhkan fasilitas pendidikan yang mahal, perangkat teknologi terbaru, atau tambahan jam belajar. Mereka membutuhkan perhatian, percakapan, arahan, kepercayaan, dan keteladanan.
Sudah saatnya kita merefleksikan kembali tripartit pendidikan. Pemerintah tidak cukup hanya membuat kebijakan, sekolah tidak cukup hanya menyelenggarakan pembelajaran, dan orang tua tidak cukup hanya memenuhi kebutuhan material anak.
Ketiganya harus kembali bersinergi.
Sebab, sekolah mungkin dapat mendidik anak selama beberapa jam dalam sehari, tetapi keluargalah yang memiliki kesempatan untuk menghadirkan nilai-nilai pendidikan dalam kehidupan sehari-hari.
Jangan sampai kita begitu sibuk menyiapkan masa depan anak, tetapi justru kehilangan kesempatan untuk mendampingi mereka bertumbuh hari ini. Pendidikan yang sesungguhnya bukan hanya tentang apa yang anak ketahui, melainkan juga tentang bagaimana mereka belajar menjadi manusia.
Dan semuanya bermula dari rumah.
Penulis : Ardan Sirodjuddin, S.Pd, M.Pd, Kepala SMKN Jateng di Semarang

Beri Komentar