PENDAHULUAN
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan fondasi paling krusial dalam pembentukan sumber daya manusia Indonesia yang unggul, berkarakter, dan berdaya saing global. Dalam kerangka cita-cita nasional menuju Indonesia Emas, ruang kelas PAUD menjadi titik awal tumbunya generasi yang kelak akan mewujudkan Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur. Kedaulatan suatu bangsa di masa depan sangat ditentukan oleh sejauh mana generasi mudanya mampu berpikir kritis, memecahkan masalah, serta menguasai dasar-dasar ilmu pengetahuan dan teknologi sejak dini. Oleh karena itu, pengenalan Pendidikan Sains, Teknologi, dan Matematika atau yang lebih populer dengan pendekatan STEAM (Science, Technology, Engineering, Art, and Mathematics) pada jenjang PAUD menjadi suatu keharusan yang strategis untuk dipelajari.
Namun, realitas di lapangan sering kali menunjukkan adanya kesenjangan antara realita pembelajaran matematika dan sains dengan praktik pembelajaran di kelas. Matematika dan sains kerap diperkenalkan secara formal, abstrak melalui lembar kerja siswa (LKS) yang seringkali berbentuk simbol-simbol angka yang kaku dan menjadikan anak cepat bosan dan lelah saat bermain..pendekatan seperti ini hanya berpotensi menimbulkan kecemasan matematika sejak usia dini, tetapi juga merenggut keceriaan alami anak dalam belajar. Di sisi lain, muncul persepsi di sebagian pendidik bahwa pembelajaran STEAM membutuhkan sarana dan prasarana yang mahal, berteknologi tinggi, serta sulit diakses oleh satuan PAUD yang berada di wilayah perdesaan atau pegunungan.
Pandangan mendasar ini perlu ditransformasi secara utuh dan mnyenangkan karena Anak-anak pada rentang usia 5–6 tahun berada pada tahap perkembangan pra-operasional menurut Jean Piaget, di mana mereka memahami konsep-konsep abstrak melalui manipulasi objek konkret dan pengalaman langsung dengan lingkungannya (Piaget, 1952). Lingkungan sekitar anak sesungguhnya bisa menjadi laboratorium yang melimpah dan tanpa batas untuk dijadikan sumber belajar anak. POS PAUD Sido Makmur yang terletak di Desa Cranggang, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus yang berada di di kaki Gunung Muria,memiliki keunggulan sumber alam berupa kekayaan alam pegunungan, seperti Ranting pohon, batu-Batuan, bunga-bunga liar,beranekaragam tanaman bukan hanya sebagai pemandangan alam saja, melainkan sebagai “laboratorium pengetahuan” hidup yang sangat kaya akan nilai-nilai matematis dan saintifik yang bisa dijadikan sumber belajar bagi anak usia dini.
Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, diperlukan pula sinergi yang kokoh antara satuan pendidikan dan keluarga. Teori Ekologi Perkembangan Bronfenbrenner (1979) menegaskan bahwa perkembangan anak dipengaruhi secara signifikan oleh interaksi dalam mikrosistem dan mesosystem, yakni keterhubungan antara lingkungan sekolah dan lingkungan rumah. Praktik baik yang dikembangkan di POS PAUD Sido Makmur mengintegrasikan pemanfaatan bahan loose parts alam pegunungan dengan partisipasi aktif orang tua melalui kelas “Projek Orang Tua”. Melalui kolaborasi ini, orang tua tidak hanya bertindak sebagai fasilitator penyedia bahan alam, tetapi juga terlibat langsung dalam merancang Alat Permainan Edukatif (APE) kontekstual. Artikel ini mendokumentasikan dan menganalisis secara mendalam praktik baik pembelajaran mendalam (deep learning) berbasis STEAM dan eksplorasi alam sebagai laboratorium pengetahuan selama empat hari di POS PAUD Sido Makmur Kudus, sebagai wujud nyata inovasi pembelajaran dari ruang kelas pedesaan untuk generasi emas yang akan datang
PEMBAHASAN.
Loosepart Alam sebagai Media Belajar yang kongkrit
loose parts adalah bahan lepasan yang bisa dimainkan oleh anak, pertama kali dicetuskan oleh arsitek Simon Nicholson (1971), yang menyatakan bahwa dalam suatu lingkungan, tingkat kreativitas dan daya rekayasa anak berbanding lurus dengan jumlah dan jenis variabel bahan yang dapat dimanipulasi. Bahan loose parts adalah material yang dapat dipindahkan, digabungkan, diubah bentuknya, dipisahkan, dan dirangkai kembali dengan berbagai cara tanpa batasan aturan baku. Di daerah pegunungan seperti Desa Cranggang, bahan alam seperti batu-batu kerikil, batu sungai bertekstur, ranting kayu kering, daun dari berbagai tanaman, bahkan rumput liar serta tanaman lain menjadi media belajar yang kontekstual dan nyata.
Media Loosepart Alam memiliki keunggulan sensori yang sangat tinggi. Anak-anak merasakan perbedaan tekstur (kasar-halus), bobot (berat-ringan), aroma, hingga variasi bentuk geometri alami yang tidak seragam. Clements dan Sarama (2014) menekankan bahwa pemahaman matematis anak usia dini tumbuh paling efektif ketika mereka terlibat dalam praktek pembelajaran berbasis pengalaman konkret yang bermakna. Ketika anak memegang batu sungai yang licin dan batu gunung yang kasar, atau melihat perbedaan warna daun yang hijau dan daun yang coklat,anak tidak hanya belajar mengelompokkan (klasifikasi), melainkan anak sedang membangun fondasi pengenalan sains dan matematika melalui indra peraba dan penglihatannya.
Empat Hari Yang Bermakna: Asiknya bermain STEAM di laboratorium alam sekitar sekolah
Praktik baik pembelajaran yang dilaksanakan di POS PAUD Sido Makmur pada Kelompok Apel B (usia 5–6 tahun) dirancang selama empat hari berturut-turut dalam kerangka Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) berpendekatan STEAM. Setiap tahapan harian mengintegrasikan alur Memahami, Mengaplikasi, dan Merefleksi, yang membawa anak dari ranah eksplorasi bebas menuju pemahaman konsep matematika dan sains yang sistematis.
Pada hari pertama, kegiatan difokuskan pada “Eksplorasi lingkungan sebagai laboratorium pengetauan”. Anak-anak diajak berkeliling halaman sekolah dan area sekitar sekolah untuk berburu bahan alam. Guru bertindak sebagai fasilitator dengan memberikan pertanyaan pemantik berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS): “Benda apa saja yang kalian temukan? Mengapa warna dan bentuk daun-daun ini berbeda?” Anak-anak secara aktif mengumpulkan batu, ranting, daun, dan bunga. Pada tahap mengaplikasi, anak mengklasifikasikan benda-benda tersebut ke dalam kelompok sejenis dan menghitung jumlahnya. Tahap refleksi ditutup dengan anak menceritakan kembali temuan mereka, membandingkan kelompok benda mana yang paling banyak dan paling sedikit. Aktivitas ini mengembangkan kemampuan awal numerasi seperti korespondensi satu-satu dan pengenalan kuantitas (Clements & Sarama, 2014).
Hari kedua mengangkat tema “Teknologi Pengukuran dan Penimbangan hasil temuanku”. Pada tahap memahami, guru memantik rasa ingin tahu anak mengenai konsep fisik berat dan ringan menggunakan batu, daun kering, dan bunga liar. Unsur Teknologi dan Rekayasa dimasukkan melalui pemanfaatan berbagai jenis timbangan, baik timbangan digital sederhana, timbangan gantung dari gantungan baju, serta timbangan keseimbangan yang terbuat dari botol plastik bekas atau dari kardus bekas hasil karya kelas Projek Orang Tua. Anak-anak melakukan eksperimen menimbang benda alam secara langsung. Mereka mengamati posisi benda yang mereka timbang,benda yang berat berada di bawah dan benda yang ringan terangkat ke atas ada yang menimbang batu dengan daun,daun dengan ranting dan dengan biji-bijian. Selanjutnya, anak menyusun dan mencocokkan jumlah benda alam yang mereka temukan sesuai dengan lambang angka yang sudah disediakan diatas kertas kardus. Kegiatan dilanjutkan dengan Diskusi reflektif agar anak mengekspresikan pemahaman mereka bahwa ukuran fisik benda tidak selalu berbanding lurus dengan beratnya,batu kecil bisa jadi lebih berat jika di bandingkan dengan selembar daun yang berukuran lebih besar.
Hari ketiga kegiatan berfokus pada “merancang bentuk geometri dan Seni kreasi dari bahan alam”. Anak-anak diajak memahami bentuk-bentuk geometri dasar (persegi, segitiga, lingkaran, dan oval) yang direpresentasikan oleh benda-benda alam. Daun mangga mewakili bentuk oval, batu bulat mewakili lingkaran, dan potongan ranting lurus dapat dirangkai menjadi persegi atau segitiga. Anak-anak merancang dan membuat bingkai hiasan bertema geometri menggunakan susunan ranting dan daun serta bunga yang dibawa dari rumah.
Untuk menguatkan pembelajaran, guru mengintegrasikan aktivitas fisik motorik di mana anak melompat atau bergerak sesuai dengan jumlah benda alam yang mereka gunakan. Pada sesi refleksi, anak secara percaya diri mempresentasikan hasil karya bingkai geometri mereka di depan teman-temannya.
Hari keempat merupakan tahap Pemantapan Konsep Numerasi atau matematika. Anak-anak diajak bermain fisik-motorik interaktif berbasis simbol angka 1–10. Guru menyediakan kartu angka, dan anak bertugas mengambil dan menghitung benda alam yang sudah disediakan yang jumlahnya sesuai dengan angka pada kartu angka. Anak-anak kemudian mencocokkan kembali hitungan mereka sendiri dengan memberikan tanda centang pada papan indikator yang disediakan. Pembelajaran ini memfasilitasi transisi berpikir dari tingkat konkret ke tingkat simbolik. Melalui proses pencocokan secara mandiri ini, anak membangun kemandirian, ketelitian, serta penalaran kritis.
Sinergi Trilogi pendidikan melalui projek kelas orang tua sebagai pilar penguat pembelajaran di PAUD
Keberhasilan pembelajaran matematika dan sains di POS PAUD Sido Makmur tidak terlepas dari penerapan prinsip Tri Pusat Pendidikan Ki Hajar Dewantara, khususnya sinergi antara sekolah dan orang tua. Mengacu pada kerangka kemitraan sekolah dan keluarga dari Joyce Epstein (2018), keterlibatan orang tua yang terencana dan bermakna meningkatkan pencapaian akademis dan perkembangan emosional anak secara signifikan.
Dalam praktiknya, POS PAUD Sido Makmur menyelenggarakan kelas “Projek Orang Tua”, sebuah program kolaboratif di mana orang tua diajak menjadi mitra aktif pembelajaran. Partisipasi orang tua terwujud dalam dua tingkatan utama. Pertama, partisipasi penyediaan sumber daya alam, di mana orang tua mendampingi anak-anak saat berada di rumah untuk mengumpulkan beragam bahan loose parts alam yang aman dan bervariasi. Kedua, partisipasi dalam pembuatan Alat Permainan Edukatif (APE) berbasis bahan bekas dan alam. Orang tua berkumpul di kelas projek untuk merancang APE seperti timbangan gantungan baju, timbangan botol bekas, serta papan pencocokan angka dari kardus dan wadah loosepart lainnya. Dukungan nyata orang tua ini memberikan dampak psikologis yang luar biasa bagi anak. Anak merasa bangga dan dihargai karena media belajar yang mereka gunakan di sekolah merupakan hasil karya bersama orang tua mereka. Selain itu, keterlibatan ini mengubah persepsi orang tua tentang pembelajaran matematika dan sains. Orang tua menyadari bahwa mengenalkan matematika tidak harus dengan membelikan mainan pabrikan yang mahal atau memaksa anak menulis angka di buku tulis, melainkan dapat dilakukan melalui interaksi sehari-hari menggunakan benda-benda di sekitar rumah dan kebun atau dilingkungan sekolah tmpat anak-anak bermain dan belajar.
Dampak Terhadap Profil Lulusan Dan Karakter Anak
Pembelajaran matematika, sains, dan teknologi berbasis loose parts di laboratorium alam ini memberikan dampak holistik terhadap Dimensi Profil Lulusan (DPL) anak usia dini:
Pertama, Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan YME. Melalui interaksi langsung dengan ciptaan-Nya seperti batu, tanaman, dan bungadaun . Anak diajak bersyukur atas segala bentuk ciptaan Allah SWT yang menyediakan alam pegunungan yang indah dan bermanfaat sebagai media belajar.
Kedua, Penalaran Kritis. Anak-anak terbiasa mengamati, membandingkan, memprediksi, dan menguji hipotesis sederhana (misalnya saat menimbang atau mengelompokkan benda). Menurut Vygotsky (1978), proses interaksi sosial dan manipulasi objek dalam Zone of Proximal Development (ZPD) memicu perkembangan fungsi mental tingkat tinggi.
Ketiga, Kreativitas dan Rekayasa. Penggunaan media loosepart bahan alam ini mendorong anak untuk lebih bisa berimajinasi dalam membuat karya,Ranting bisa dijadikan penggaris, daun bisa disusun menjadi bentuk geometri persegi dan sebagainya.
Keempat, Kolaborasi dan Komunikasi. Kegiatan eksplorasi luar ruangan melatih anak untuk bergotong royong, berbagi tugas, mengemukakan pendapat, dan mendengarkan gagasan teman sebaya.
Kelima, Kemandirian dan Percaya Diri. Sesi refleksi harian memberikan ruang bagi anak untuk mempresentasikan karya dan hasil eksperimennya di depan kelas tanpa rasa takut salah, sehingga menumbuhkan keberanian sejak dini.
Praktik baik pembelajaran matematika, sains, dan teknologi (STEAM) di POS PAUD Sido Makmur, Desa Cranggang, Kabupaten Kudus membuktikan bahwa keterbatasan sarana buatan pabrik bukanlah penghalang untuk menghadirkan pembelajaran berkualitas tinggi. Pembelajaran kontekstual berbasis lingkungan alam pegunungan dan media loose parts (batu, ranting, daun, bunga) mampu mengubah pembelajaran matematika dan sains dari sesuatu yang abstrak dan menakutkan menjadi pengalaman belajar yang menyenangkan, mendalam, dan kaya makna.
PENUTUP
Model pembelajaran “Laboratorium Alam Sebagai sumber belajar” ini menawarkan sebuah paradigma baru yang selaras dengan cita-cita Kemendikdasmen,yaitu mewujudkan pembelajaran yang berpusat pada murid, memanfaatkan kearifan lokal, serta memerdekakan potensi anak. Sinergi yang erat melalui kelas “Projek Orang Tua” terbukti menjadi kunci keberhasilan yang menguatkan ekosistem pendidikan. Kolaborasi ini tidak hanya menyediakan APE yang inovatif dan terjangkau, tetapi juga membangun kesadaran kolektif bahwa pendidikan anak usia dini merupakan tanggung jawab bersama antara sekolah dan keluarga. Dari ruang kelas PAUD perdesaan yang sederhana inilah yang di dukung dengan kolaborasi orang tua , kita sedang mencetak generasi yang bernalar kritis, kreatif, dan berkarakter,sebuah fondasi kokoh untuk mewujudkan Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur di masa depan.
DAFTAR PUSTAKA
Nurhasanah, N., & Khadijah, K. (2021). Implikasi Teori Perkembangan Kognitif Piaget dalam Pembelajaran Sains Anak Usia Dini. Jurnal Pendidikan Anak, 10(1), 25–34. Universitas Negeri Yogyakarta.
Sianturi, M., & Kurniawati, D. (2021). Pendekatan STEAM Berbasis Loose Parts dalam Pembelajaran Numerasi dan Sains Anak Usia Dini. Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 5(2), 145-158.
Penulis : Siti Rohmatun,S.H.I,S.Pd, Pengelola POS PAUD Sido Makmur Desa Cranggang, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus

Beri Komentar