Kamis, 17-09-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Kolaborasi Guru SMKN Jateng Susun Modul Persiapan TKA Efektif dan Praktis untuk Tingkatkan Literasi Numerasi Murid

Diterbitkan : - Kategori : Berita

SEMARANG — SMKN Jateng di Semarang memperkuat persiapan menghadapi Tes Kemampuan Akademik (TKA) melalui Kolaborasi Penyusunan Modul Persiapan TKA yang efektif dan praktis sebagai bahan belajar mandiri murid boarding. Kegiatan yang dikoordinasikan Laely Rohmatin Apriliani tersebut berlangsung di Ruang AVA SMKN Jateng di Semarang, Kamis, 17 September 2026, dengan melibatkan guru pengampu mata pelajaran TKA dari berbagai jenjang kelas.

Kegiatan dibuka oleh Kepala SMKN Jateng di Semarang dan dilanjutkan dengan workshop penyusunan modul persiapan TKA. Workshop ini menjadi bagian dari strategi sekolah untuk meningkatkan Capaian hasil TKA dan Kemampuan Literasi Numerasi Murid, sekaligus membangun kebiasaan belajar mandiri yang dapat dilakukan murid di tengah aktivitas pembelajaran dan Praktik Kerja Lapangan (PKL).

Dalam kegiatan tersebut, guru pengampu mata pelajaran wajib TKA, yakni Bahasa Indonesia, Matematika, dan Bahasa Inggris, terlibat langsung dalam penyusunan modul. Selain itu, guru pengampu program keahlian juga dilibatkan karena pada pelaksanaan TKA SMK tahun ini, mata pelajaran program keahlian tersedia sebagai salah satu pilihan yang dianjurkan bagi murid SMK.

Pelibatan guru tidak hanya berasal dari pengampu kelas XII. Guru kelas X dan XI turut mengambil bagian dalam proses penyusunan modul. Langkah ini dilakukan agar kompetensi yang berkaitan dengan literasi dan numerasi tidak baru dikenalkan ketika murid memasuki kelas XII, melainkan mulai dibangun sejak awal masa pendidikan di SMK.

Kolaborasi Penyusunan Modul Persiapan TKA Dimulai Sejak Kelas X

Kolaborasi Penyusunan Modul Persiapan TKA di SMKN Jateng di Semarang dirancang dengan perspektif pembelajaran berkelanjutan. Kompetensi yang dibutuhkan dalam TKA diharapkan dapat dikenalkan, dilatih, dan dikembangkan secara bertahap sejak kelas X hingga kelas XII.

Keterlibatan guru kelas X dan XI menjadi penting karena kemampuan literasi dan numerasi membutuhkan proses pembiasaan. Murid tidak cukup hanya berlatih menjelang pelaksanaan TKA, tetapi perlu mendapatkan pengalaman mengerjakan soal, memahami informasi, menganalisis permasalahan, menggunakan penalaran, serta mengambil kesimpulan secara konsisten dalam proses pembelajaran sehari-hari.

Dengan pola tersebut, modul yang disusun tidak semata-mata diposisikan sebagai kumpulan latihan soal untuk menghadapi ujian. Modul diharapkan menjadi sumber belajar yang dapat digunakan murid secara mandiri untuk memperkuat pemahaman konsep sekaligus membiasakan mereka menghadapi karakteristik soal yang membutuhkan kemampuan literasi dan numerasi.

Koordinator kegiatan, Laely Rohmatin Apriliani, menekankan pentingnya keterlibatan guru lintas jenjang dalam menyiapkan murid menghadapi TKA.

“Harapannya, kompetensi TKA khususnya literasi dan numerasi sudah dipelajari dan dibiasakan sejak kelas X. Dengan demikian, murid tidak hanya belajar ketika akan menghadapi TKA, tetapi secara bertahap memiliki kemampuan memahami informasi, bernalar, dan menyelesaikan persoalan yang diperlukan dalam pembelajaran maupun kehidupan sehari-hari,” ujar Laely.

Keterangan: kutipan langsung di atas perlu dikonfirmasi kembali kepada narasumber sebelum dipublikasikan sebagai kutipan verbatim.

Kolaborasi antarguru juga memungkinkan penyusunan modul dilakukan dengan mempertimbangkan kesinambungan materi. Guru dapat memetakan kompetensi yang perlu diperkuat pada setiap jenjang sehingga pembelajaran menuju TKA tidak berlangsung secara instan, melainkan menjadi bagian dari proses pendidikan yang terencana.

Modul Persiapan TKA Disusun Berdasarkan Kerangka Asesmen

Dalam workshop tersebut, setiap guru menyusun modul dengan berpedoman pada kerangka TKA masing-masing mata pelajaran. Penyusunan modul diarahkan agar materi, latihan soal, dan pembahasan memiliki keterkaitan dengan kompetensi yang diukur dalam TKA.

Untuk mata pelajaran TKA, penyusunan modul berpedoman pada kerangka yang tertuang dalam Peraturan Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Nomor 045/H/AN/2025 tentang Kerangka Asesmen Tes Kemampuan Akademik Jenjang SMA/MA/Sederajat dan SMK/MAK.

Sementara itu, khusus modul mata pelajaran program keahlian, penyusunannya merujuk pada Salinan Peraturan Kepala BKPDM Nomor 1 Tahun 2026 tentang Kerangka Asesmen Tes Kemampuan Akademik pada Sekolah Menengah Kejuruan. Rujukan tersebut menjadi dasar agar modul yang dihasilkan tetap selaras dengan kerangka asesmen yang digunakan dalam TKA.

Modul dirancang dengan kerangka yang sistematis, ringkas, dan mudah dipelajari secara mandiri oleh murid. Setiap modul tidak hanya memuat materi, tetapi juga dilengkapi ringkasan konsep, latihan soal, serta pembahasan yang membantu murid memahami proses penyelesaian soal.

Penyusunan latihan dan pembahasan disesuaikan dengan kerangka serta kisi-kisi TKA. Dengan demikian, murid memiliki bahan belajar yang lebih terarah untuk memahami kompetensi yang perlu dikuasai.

Pendekatan tersebut sekaligus memberikan ruang kepada guru untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih kontekstual. Soal-soal dalam modul dapat menjadi sarana bagi murid untuk mengembangkan kemampuan memahami bacaan, mengolah informasi, menggunakan penalaran, melakukan perhitungan, menganalisis persoalan, dan menemukan strategi penyelesaian.

Modul TKA Menjadi Bekal Belajar Mandiri Murid Boarding

Sebagai sekolah dengan sistem boarding, SMKN Jateng di Semarang berupaya memanfaatkan waktu murid secara optimal, termasuk ketika mereka menjalani PKL pada semester 5. Kehadiran modul persiapan TKA yang efektif dan praktis diharapkan dapat membantu murid tetap memiliki kesempatan belajar secara mandiri setelah menyelesaikan aktivitas PKL.

Murid kelas XII yang sedang melaksanakan PKL dapat menggunakan modul tersebut ketika kembali dari tempat praktik. Materi yang telah dirangkum secara sistematis memungkinkan murid melakukan penguatan secara mandiri tanpa harus selalu menunggu pembelajaran tatap muka di sekolah.

Pola belajar tersebut juga diharapkan dapat membangun kemandirian dan kedisiplinan murid dalam mempersiapkan TKA. Setelah menjalani kegiatan PKL, murid dapat meluangkan waktu untuk membaca ringkasan materi, mengerjakan latihan soal, mencermati pembahasan, kemudian mengevaluasi bagian yang masih belum dikuasai.

Bagi murid kelas X dan XI, modul dan materi yang dikembangkan guru dapat menjadi bagian dari pembiasaan jangka panjang. Kemampuan literasi dan numerasi yang dilatih sejak dini diharapkan tidak hanya bermanfaat untuk menghadapi TKA, tetapi juga mendukung kemampuan murid dalam mengikuti pembelajaran kejuruan dan menyelesaikan persoalan nyata.

Tingkatkan Kesiapan TKA melalui Pembiasaan Literasi dan Numerasi

Melalui Kolaborasi Penyusunan Modul Persiapan TKA, SMKN Jateng di Semarang tidak hanya menyiapkan bahan latihan untuk menghadapi asesmen. Sekolah juga mendorong terciptanya budaya belajar yang membiasakan murid memahami informasi, menggunakan nalar, memecahkan masalah, dan mengembangkan kemampuan akademiknya secara bertahap.

Keterlibatan guru Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris, dan guru program keahlian menunjukkan bahwa persiapan TKA dilakukan melalui kerja sama lintas mata pelajaran. Keterlibatan guru dari kelas X, XI, dan XII semakin memperkuat kesinambungan pembinaan kompetensi murid.

Workshop di Ruang AVA SMKN Jateng di Semarang tersebut menjadi langkah konkret untuk menghasilkan bahan belajar yang dapat digunakan sesuai kebutuhan murid. Modul yang efektif, praktis, sistematis, dan mudah dipelajari diharapkan mampu mendampingi murid dalam belajar secara mandiri.

Pada akhirnya, Kolaborasi Penyusunan Modul Persiapan TKA yang efektif dan praktis diharapkan dapat membantu meningkatkan kesiapan murid menghadapi Tes Kemampuan Akademik sekaligus memperkuat Kemampuan Literasi Numerasi Murid. Dengan pembiasaan yang dilakukan sejak kelas X dan dukungan bahan belajar yang terarah hingga kelas XII, murid diharapkan semakin terbiasa menghadapi persoalan akademik dengan pemahaman, penalaran, dan strategi penyelesaian yang lebih baik.

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan