SEMARANG – Upaya meningkatkan kualitas pengelolaan data lulusan terus dilakukan sejumlah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kota Semarang. Pada 17 September 2026, rombongan SMK Palapa, SMK Muhammadiyah 2, SMK LPI, dan SMK Ibu Kartini melakukan Kunjungan Studi Tiru SMK Kota Semarang di SMKN Jateng di Semarang. Bertempat di Ruang AVA SMKN Jateng di Semarang, kunjungan tersebut secara khusus membahas strategi dan solusi penyelesaian pengisian Tracer Study.
Rombongan didampingi Pengawas SMK, Dra. Sri Maryati, MT., dan diterima langsung oleh Kepala SMKN Jateng di Semarang, Ardan Sirodjuddin, S.Pd., M.Pd., didampingi Plt. Kepala Tata Usaha, Waka Humas, Ketua BKK, serta tim terkait. Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat dan terbuka, dengan agenda utama berbagi pengalaman mengenai pengelolaan tracer study agar tidak berhenti sebagai pemenuhan administrasi, tetapi dapat dimanfaatkan sebagai sumber data untuk meningkatkan mutu pendidikan vokasi.
Dalam sambutannya, Dra. Sri Maryati, MT. menyampaikan apresiasi kepada SMKN Jateng di Semarang yang telah menerima kunjungan tersebut. Ia menegaskan pentingnya membangun kemajuan bersama di antara satuan pendidikan SMK.
“Terima kasih kepada SMKN Jateng di Semarang telah menerima dengan baik kunjungan teman-teman SMK. Selaku pengawas pembina saya ingin binaan SMK saya maju bersama,” ujar Sri Maryati.
Ia juga mengungkapkan alasan rombongan memilih belajar dari pengalaman SMKN Jateng di Semarang, khususnya dalam penyelesaian pengisian tracer study.
“Kita belajar dengan SMKN Jateng di Semarang yang telah 100% mengisi tracer study,” katanya.
Kegiatan Kunjungan Studi Tiru SMK Kota Semarang di SMKN Jateng di Semarang menjadi ruang berbagi praktik baik dalam mengatasi berbagai tantangan pengisian tracer study. Bagi sekolah, keberhasilan memperoleh data lulusan secara lengkap bukan hanya persoalan persentase keterisian, melainkan juga bagaimana data tersebut dapat diolah menjadi informasi yang berguna bagi pengembangan sekolah.
Dalam paparannya, Kepala SMKN Jateng di Semarang, Ardan Sirodjuddin, menjelaskan bahwa tracer study semestinya tidak dipandang sekadar sebagai beban administratif. Menurutnya, data lulusan dapat menjadi aset strategis bagi sekolah apabila dikelola dan dimanfaatkan secara tepat.
Ia mengibaratkan tracer study sebagai “rapor nyata” sekolah yang ditulis oleh dunia kerja, perguruan tinggi, dan dunia wirausaha setelah peserta didik menyelesaikan pendidikan.
“Tracer study itu bukan sekadar kewajiban untuk mengisi data. Kita harus melihatnya sebagai rapor nyata sekolah. Dari alumni, kita bisa mengetahui apakah pendidikan yang kita berikan benar-benar relevan ketika mereka sudah berada di dunia kerja, melanjutkan studi, maupun membangun usaha,” jelas Ardan dalam paparannya.
Menurut Ardan, tracer study berfungsi sebagai cermin relevansi pendidikan. Data yang terkumpul dapat membantu sekolah melihat apakah kompetensi yang diajarkan masih sesuai dengan kebutuhan lapangan. Selain itu, tracer study juga memberikan gambaran mengenai karakter, keberlanjutan pendidikan, serta perjalanan alumni setelah meninggalkan sekolah.
Dalam pelaksanaannya, pengisian tracer study tidak selalu berjalan mudah. Salah satu tantangan yang sering dihadapi sekolah adalah keberadaan alumni yang sulit dihubungi setelah lulus. Sebagian alumni juga merasa tidak lagi memiliki kepentingan dengan sekolah sehingga kurang terdorong untuk mengisi data tracer study.
Kondisi tersebut dapat menyebabkan tingkat keterisian data menjadi rendah. Akibatnya, sekolah tidak memperoleh gambaran yang utuh mengenai kondisi dan keberlanjutan lulusan.
Karena itu, Ardan menekankan perlunya perubahan paradigma. Sekolah perlu mengubah cara pandang dari tracer study sebagai beban menjadi “goldmine” atau harta karun data.
“Kalau kita melihat tracer study hanya sebagai pekerjaan tambahan, tentu terasa berat. Tetapi kalau kita melihatnya sebagai harta karun data, maka setiap jawaban alumni memiliki nilai untuk menentukan kebijakan sekolah,” terang Ardan.
Data tersebut dapat digunakan untuk menilai keberhasilan maupun kelemahan proses pendidikan, menjadi dasar evaluasi kurikulum, serta memberikan bukti objektif ketika sekolah perlu melakukan pengembangan sarana dan peralatan praktik agar tidak tertinggal dari perkembangan teknologi industri.
Salah satu bagian yang menjadi perhatian peserta kunjungan adalah capaian Data Tracer Study SMKN Jateng di Semarang tahun 2026. Dalam paparan tersebut disampaikan bahwa tingkat keterisian tracer study mencapai 100 persen.
Dari data yang berhasil dihimpun, sebanyak 60,7 persen lulusan tercatat bekerja, 28,6 persen melanjutkan studi, 10 persen berwirausaha, dan 0,7 persen berada dalam kategori lainnya.
Data tersebut memberikan gambaran mengenai aktivitas lulusan setelah menyelesaikan pendidikan. Bagi sekolah, informasi tersebut menjadi dasar untuk melihat arah perjalanan alumni sekaligus mengevaluasi keterkaitan pendidikan yang diberikan dengan kebutuhan dunia kerja, pendidikan tinggi, maupun dunia usaha.
Selain status lulusan, sejumlah indikator penting dalam tracer study juga dapat diperhatikan, antara lain masa tunggu memperoleh pekerjaan, kesesuaian kompetensi dengan pekerjaan atau yang dikenal dengan konsep link and match, penghasilan, serta kepuasan dunia usaha dan dunia industri terhadap kompetensi lulusan.
Aspek yang dapat dilihat tidak hanya berkaitan dengan hard skill, tetapi juga kemampuan komunikasi, kerja sama, kedisiplinan, kemampuan beradaptasi, dan keterampilan lain yang dibutuhkan di lingkungan kerja.
Ardan juga memaparkan bahwa keberhasilan pengisian tracer study tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa sering sekolah mengingatkan alumni. Lebih jauh, sekolah perlu membangun hubungan yang positif dan rasa bangga alumni terhadap almamaternya.
“Pertanyaannya jangan hanya bagaimana agar alumni mau mengisi tracer study. Kita harus mengubahnya menjadi bagaimana agar alumni memiliki alasan untuk bangga ketika mengisi tracer study,” ungkapnya.
Ketika alumni memiliki pengalaman positif setelah lulus, baik karena bekerja, melanjutkan studi maupun sukses berwirausaha, hubungan emosional dengan sekolah dapat tetap terjaga. Dari hubungan tersebut, pengisian tracer study diharapkan menjadi bentuk kontribusi alumni, bukan sekadar kewajiban administratif.
Untuk meningkatkan keterisian data, SMKN Jateng di Semarang menerapkan sejumlah strategi komunikasi. Di antaranya membentuk grup WhatsApp alumni berdasarkan angkatan dan jurusan sebagai komunitas, membuat grup khusus tracer study yang melibatkan unsur Humas, ketua angkatan, dan ketua kelas, serta memberikan ruang kepada ketua angkatan maupun ketua kelas untuk membantu mengingatkan rekan-rekannya.
Tim pendamping dari Bidang Humas juga melakukan pembaruan progres pengisian secara berkala. Apabila masih terdapat alumni yang belum memberikan data, pendekatan personal dilakukan sebagai langkah lanjutan. Ke depan, pengembangan aplikasi tracer alumni yang terintegrasi juga menjadi bagian dari upaya memudahkan pengelolaan data alumni sejak angkatan awal hingga lulusan terbaru.
Hal penting lain yang disampaikan dalam kegiatan tersebut adalah bagaimana menjadikan hasil tracer study sebagai dasar pengambilan kebijakan. Data yang telah terkumpul tidak seharusnya berhenti menjadi laporan, tetapi perlu diterjemahkan menjadi langkah nyata.
Sekolah dapat menggunakan data tracer study untuk melakukan penyesuaian atau revisi kurikulum berdasarkan kebutuhan dan perkembangan teknologi industri. Hasil penelusuran juga dapat menjadi dasar penguatan soft skill melalui pembelajaran berbasis proyek atau Project Based Learning (PjBL), khususnya dalam kemampuan komunikasi, kolaborasi, dan pemecahan masalah.
Data tracer study juga dapat menjadi argumen objektif dalam peremajaan alat praktik. Ketika ditemukan kesenjangan antara peralatan yang tersedia di sekolah dengan teknologi yang digunakan industri, data alumni dapat memperkuat kebutuhan peningkatan sarana praktik.
Di sisi lain, hasil tracer study dapat dimanfaatkan dalam membangun kolaborasi dengan dunia industri, mulai dari penyelarasan kurikulum, pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan (PKL), program guru tamu, hingga peluang rekrutmen lulusan.
“Data tracer study harus berujung pada kebijakan. Kalau data sudah terkumpul tetapi tidak digunakan untuk melakukan perbaikan, maka kita kehilangan nilai strategis dari tracer study itu sendiri,” tegas Ardan.
Setelah paparan kepala sekolah, kegiatan dilanjutkan dengan penjelasan teknis strategi penyelesaian pengisian tracer study oleh Waka Humas SMKN Jateng di Semarang, Zanuar Nur Wahyudi.
Pada sesi tersebut, peserta mendapatkan gambaran lebih teknis mengenai pola komunikasi dengan alumni, pemantauan progres pengisian, hingga langkah penyelesaian bagi alumni yang belum mengisi tracer study.
Diskusi kemudian berlangsung interaktif. Perwakilan SMK Palapa, SMK Muhammadiyah 2, SMK LPI, dan SMK Ibu Kartini menyampaikan berbagai persoalan yang mereka hadapi dalam proses penelusuran alumni. Berbagai permasalahan tersebut dibahas bersama untuk menemukan alternatif solusi yang dapat diterapkan sesuai kondisi masing-masing sekolah.
Kegiatan Kunjungan Studi Tiru SMK Kota Semarang di SMKN Jateng di Semarang akhirnya tidak hanya menjadi agenda berbagi pengalaman, tetapi juga menjadi forum penguatan sinergi antar-SMK. Pengalaman SMKN Jateng di Semarang dalam mencapai 100 persen keterisian tracer study menjadi salah satu bahan pembelajaran bagi sekolah peserta untuk mengembangkan strategi penelusuran alumni secara lebih terstruktur.
Pada akhirnya, tracer study alumni SMK merupakan kegiatan pelacakan jejak atau penelusuran lulusan Sekolah Menengah Kejuruan setelah mereka menyelesaikan pendidikan. Data yang dihasilkan dapat menjadi cermin perjalanan lulusan sekaligus bahan evaluasi sekolah.
Melalui pengelolaan yang serius, tracer study dapat berkembang dari sekadar kewajiban administratif menjadi instrumen penting untuk membaca relevansi pendidikan, memperkuat hubungan dengan alumni dan industri, serta mendorong lahirnya kebijakan pendidikan vokasi yang berbasis data. Bagi SMK di Kota Semarang, semangat untuk belajar dan maju bersama menjadi modal penting dalam memastikan setiap lulusan terus terhubung dengan almamater dan memberikan kontribusi bagi pengembangan pendidikan kejuruan.

Beri Komentar