Sabtu, 06-06-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Menjadi Penonton dari tepi Panggung (Catatan tentang lelah, kewarasan, dan seni menerima peran baru dalam hidup)

Diterbitkan : Sabtu, 6 Juni 2026

Ada saat dalam kehidupan seseorang ketika ia datang ke sebuah rapat, duduk di pojok ruangan, memperhatikan lalu lintas manusia yang sibuk bergerak, dan tiba-tiba bertanya dalam hati:

Saya ini sebenarnya bertugas apa?”

Pertanyaan itu tampak sederhana, bahkan bisa terdengar lucu jika dijawab dengan nada ringan: “Ah, sekadar penjemput tamu saja, Pak.” Tugasnya cukup sekadar salam, tersenyum, dan selesai. Namun di balik candaan itu tersimpan sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar pembagian tugas panitia. Itu adalah pertanyaan tentang jatuh bangunnya identitas.

Tentang seseorang yang pernah berada di hampir semua sudut panggung kehidupan sekolah—yang pernah memegang kendali, merancang program, dan berjuang siang malam memajukan lembaga—lalu suatu hari berdiri diam di tepi panggung hanya sebagai penonton.

Dunia pendidikan memiliki satu karakteristik unik yang jarang dibicarakan secara terbuka: ia sangat pandai memanfaatkan orang-orang yang rajin, berdedikasi, dan berkompeten. Semakin mampu seseorang, semakin banyak tanggung jawab yang dipikulkan kepadanya.

Hari ini menjadi guru, besok wali kelas, lusa panitia, minggu depan operator, sebulan kemudian bendahara, tahun berikutnya menjadi wakil kepala sekolah, hingga akhirnya dipercaya memegang jabatan tertinggi di sekolah. Tak berhenti di situ, mereka juga menjadi pengurus organisasi, instruktur, narasumber, mediator konflik, sekaligus pemecah masalah apa saja—kadang-kadang berperan ganda sebagai satpam moral, tukang angkat meja, pengangkut galon, hingga tempat curhat seluruh warga sekolah.

Orang-orang seperti itu hidup bertahun-tahun dalam putaran tugas yang tidak pernah benar-benar berhenti. Mereka bergerak bukan karena dipaksa aturan, melainkan karena rasa memiliki yang kuat, karena merasa dibutuhkan, karena memegang teguh tanggung jawab, dan karena keyakinan yang mungkin sangat  keliru: “Jika saya berhenti, sesuatu yang penting akan runtuh.”

Padahal kenyataannya, sekolah tetap berjalan, rapat tetap berlangsung, panitia tetap terbentuk, dan acara tetap terlaksana. Dunia ternyata tidak berhenti berputar hanya karena satu orang memilih duduk diam. Dan kesadaran itulah yang terkadang paling menyakitkan. Bahwa segala pengorbanan yang dianggap tak tergantikan, ternyata bisa tergantikan begitu saja saat sistem berkehendak lain.

Banyak orang keliru mengira kelelahan terbesar berasal dari banyaknya pekerjaan fisik atau administrasi. Padahal sering kali bukan itu masalahnya. Kelelahan yang paling berat, yang paling menggerogoti jiwa, justru lahir dari rasa ketidakadilan yang menumpuk bertahun-tahun. Ia bukan sekadar lelah bekerja, melainkan lelah berharap. Lelah memperjuangkan prinsip yang tak pernah dihargai. Lelah menyaksikan aturan diterapkan secara tebang pilih. Lelah melihat idealisme bertarung melawan kenyataan, lalu kalah berulang kali tanpa pernah diberi kesempatan untuk membela diri.

Fenomena ini terasa begitu nyata dan menyayat hati bagi para pendidik yang pernah memegang amanah sebagai kepala sekolah, lalu harus kembali menjadi guru biasa karena lahirnya Peraturan Menteri Nomor 7 Tahun 2025. Di atas kertas, aturan ini disusun sebagai langkah pembaruan dan penataan sistem manajemen pendidikan agar lebih dinamis. Namun, saat diterapkan di lapangan, pelaksanaannya penuh ketimpangan yang mencolok dan menyakitkan hati.

Ada sekelompok pendidik yang harus melepaskan jabatan, meski memiliki rekam jejak kinerja cemerlang, jejak pembangunan fisik yang nyata, kontribusi besar bagi kemajuan sekolah, serta aktif di organisasi profesi. Di sisi lain, ada rekan sejawat yang memiliki rentang usia, masa kerja, atau latar belakang yang sama persis, namun justru dikecualikan dari aturan tersebut. Mereka tetap memegang jabatan, bahkan dinilai memiliki kinerja “sangat baik” secara otomatis, tanpa dasar penilaian objektif yang bisa dipertanggungjawabkan.

Pembedaan perlakuan ini adalah sebuah pengkhianatan nyata terhadap prinsip meritokrasi yang seharusnya menjadi tulang punggung dunia pendidikan. Jabatan dan penghargaan mestinya milik mereka yang berprestasi, berkompeten, dan berdedikasi, bukan milik mereka yang hanya pandai berkomunikasi, memiliki akses istimewa, atau sekadar “sopan santun” dalam mendekati kekuasaan.

Namun, pukulan yang paling mematikan semangat bukanlah kehilangan jabatan itu sendiri. Melainkan bagaimana kinerja dan pengabdian bertahun-tahun seolah-olah dihapuskan begitu saja dari sejarah. Ada yang setelah kembali menjadi guru, mendapati nilai kinerjanya anjlok drastis ke kategori “sangat rendah”. Nilai buruk ini bukan karena kemampuan mengajarnya menurun, bukan karena sekolah menjadi kacau, atau bukan karena prestasi siswa merosot. Melainkan murni karena hati yang terluka, semangat yang patah, dan rasa keadilan yang runtuh hingga ke dasar bumi.

Di sinilah letak hubungan sebab-akibat yang sering luput dari perhatian penilai kinerja: Ketika seseorang merasa pengabdiannya tidak dihargai, merasa diperlakukan tidak adil, dan tak berdaya melawan kekuasaan yang sewenang-wenang, maka segala bentuk produktivitas yang dulu melimpah akan luruh perlahan. Ia tidak lagi memiliki alasan kuat untuk bergerak sekuat dulu, karena ia sadar sepenuhnya: “Bekerja keras dan berprestasi saja tidak cukup, jika sistemnya sudah tidak berpihak pada kebenaran.”

Kelelahan semacam ini tidak terlihat dalam hasil laboratorium, tidak bisa dideteksi dengan cek darah, namun mampu membuat seseorang merasa seperti “mayat hidup” meskipun tubuhnya masih sehat dan bugar. Ia adalah kelelahan batin yang lahir dari kenyataan pahit: kita telah dijadikan tumbal kebijakan agar pemerintah terlihat tegas dari atas, sementara pergantian pemimpin baru berlangsung tanpa prosedur yang jelas, transparan, dan adil. Kita merasa telah disingkirkan, dipermalukan, dan dikorbankan hanya demi memenuhi skenario birokrasi yang tidak memihak pada kebenaran.

Dalam dunia pewayangan, ada tokoh bernama Semar. Ia bukan raja, bukan panglima perang, bukan pula ksatria utama, namun justru tokoh yang paling memahami hakikat kehidupan. Semar tahu kapan harus berbicara, dan lebih penting lagi, ia tahu kapan harus diam. Dalam budaya kita, diam sering keliru dianggap sebagai kemunduran atau kekalahan. Padahal, dalam situasi tertentu, diam adalah bentuk kebijaksanaan tertinggi.

Tidak semua perang harus dimenangkan, apalagi jika lawannya adalah sistem yang tidak adil dan kekuasaan yang mutlak. Tidak semua panggung harus dinaiki. Tidak semua mikrofon harus direbut. Ada masa ketika seseorang harus mengurangi langkah, menepi sejenak, agar jiwanya bisa mengejar tubuhnya yang sudah terlalu jauh berlari mengejar ambisi dan pengabdian.

Masyarakat modern memiliki penyakit yang aneh: kita memuja kesibukan. Orang yang selalu sibuk dianggap produktif. Orang yang selalu hadir dianggap berdedikasi. Orang yang selalu mengambil tugas dianggap teladan. Sebaliknya, orang yang memilih menepi sering dicurigai, dibilang tidak peduli, kehilangan semangat, atau menyerah.

Padahal bisa jadi, di balik ketenangan itu, ia sedang melakukan pekerjaan paling penting dalam hidupnya: Menyelamatkan dirinya sendiri. Ada titik ketika menjaga kewarasan jauh lebih mulia daripada menambah tumpukan prestasi yang tak pernah dihargai. Menjaga kesehatan jauh lebih penting daripada mengejar jabatan yang bisa dicabut sewaktu-waktu. Dan menyaksikan orang-orang terkasih tumbuh besar jauh lebih berharga daripada memenangkan rapat yang minggu depan sudah dilupakan orang.

Hidup memang selalu memiliki selera humor yang pahit namun mendidik. Ketika seseorang sedang menjalani fase pertapaan batin ini, ia sering kali merasa asing di tempat yang dulu pernah menjadi rumah. Merasa seperti tamu di lingkungan yang pernah ia bangun, merasa tidak lagi cocok dengan ritme yang dulu sangat ia kuasai. Ia kembali mengajar, namun rasanya berbeda. Ia masih melaksanakan tugas secara formal, namun tanpa api semangat yang dulu berkobar di dada. Ia kini menunggu masa pensiun yang masih cukup lama di depan mata, dengan hati yang lelah namun berusaha tegar bertahan.

Mungkin kehidupan memang seperti sebuah kirab panjang yang berjalan beriringan. Ada masa menjadi dalang yang mengatur segalanya. Ada masa menjadi pemain utama yang bersusah payah di tengah panggung. Ada masa menjadi penabuh gamelan yang mengiringi irama. Dan ada masa menjadi penonton yang duduk tenang menyaksikan semuanya berjalan. Tidak ada yang salah dengan salah satunya. Yang sering salah adalah ketika kita memaksa diri terus menjadi dalang, padahal jiwa kita sudah meminta izin untuk duduk di bangku penonton.

Menjadi penonton bukan berarti berhenti berarti, bukan berarti kalah, dan bukan berarti kualitas menurun. Justru dari kursi penonton, seseorang sering melihat lebih jelas, lebih luas, dan lebih jernih daripada mereka yang sedang sibuk berlari dan berebut tempat di atas panggung. Dari kejauhan, ia melihat betapa rapuhnya sebuah kebijakan yang tidak berpihak pada keadilan. Ia melihat betapa semunya penghargaan yang tidak berdasar pada prestasi nyata. Dan ia sadar betapa mahalnya harga yang harus dibayar karena memegang teguh prinsip di tengah sistem yang condong ke satu sisi.

Waktu yang tersisa sebelum purna tugas—yang mungkin terasa panjang, membosankan, dan menyakitkan—bukanlah masa pengasingan. Bukan pula masa hukuman. Melainkan petualangan baru untuk menemukan kembali hal-hal yang selama ini terabaikan di tengah hiruk-pikuk tugas: kesehatan tubuh, ketenangan jiwa, kehangatan keluarga, dan kemampuan menikmati hidup tanpa harus selalu menjadi tokoh utama atau membuktikan diri pada sistem yang tidak adil.

Sebab pada akhirnya, manusia tidak diciptakan hanya untuk bekerja, hanya untuk mengabdi, atau hanya untuk mengejar pangkat. Ia juga diciptakan untuk hidup, untuk bernapas lega, dan untuk bahagia.

Dan bagi mereka yang pernah berjuang habis-habisan, pernah dikhianati oleh sistem, pernah merasa kecewa tak bertepi, dan kini memilih menepi, hidup yang paling bijaksana dan bermartabat dimulai ketika ia berani berkata dengan tenang namun tegas:

“Hari ini, dan untuk waktu yang akan datang, saya cukup menjadi penonton.”

Ajibarang, 5 Juni 2026

Oleh : Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan