Semarang – SMKN Jateng di Semarang kembali menyelenggarakan Sholat Jumat rutin di Masjid Baitul Iman pada Jumat (24/7/2026). Kegiatan ibadah yang diikuti oleh warga sekolah tersebut menjadi momentum untuk memperkuat nilai-nilai spiritual sekaligus memperingati Hari Anak Nasional melalui pesan-pesan keagamaan yang relevan dengan pembinaan generasi muda.
Pada pelaksanaan Sholat Jumat kali ini, Nur Khamim bertindak sebagai imam sekaligus khatib. Dalam khutbahnya, ia mengangkat tema “Mendidik Anak dengan Agama dan Adab“, sebuah tema yang dinilai sangat relevan dengan peringatan Hari Anak Nasional sekaligus tantangan yang dihadapi keluarga dan dunia pendidikan dalam membentuk karakter generasi penerus bangsa.
Mengawali khutbahnya, Nur Khamim mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, baik ketika berada di hadapan banyak orang maupun saat sendirian. Ia juga mengajak jamaah memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai teladan utama dalam kehidupan.
Dalam penyampaiannya, Nur Khamim menegaskan bahwa anak merupakan anugerah sekaligus amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Menurutnya, kebahagiaan yang dibawa oleh kehadiran anak harus diiringi dengan kesungguhan orang tua dalam mendidik mereka agar tumbuh menjadi pribadi yang beriman dan berakhlak mulia.
“Anak adalah anugerah terindah dari Allah Ta’ala. Kehadiran mereka membawa kebahagiaan, pelipur lara, dan penyejuk hati. Namun di balik keindahan itu, anak juga merupakan amanah yang kelak akan dihisab di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala,” ujar Nur Khamim dalam khutbahnya.
Ia mengutip firman Allah dalam Surah Al-Anfal ayat 28 yang menjelaskan bahwa harta dan anak-anak merupakan ujian bagi manusia. Menurutnya, banyak orang tua yang tanpa disadari lebih sibuk mengejar keberhasilan dunia bagi anak-anaknya dibandingkan membekali mereka dengan pendidikan agama yang menjadi bekal kehidupan akhirat.
Nur Khamim juga mengingatkan hadis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyebutkan bahwa amalan seseorang akan terputus ketika meninggal dunia kecuali tiga perkara, salah satunya adalah doa dari anak yang saleh. Karena itu, menurutnya, mendidik anak dengan agama dan adab bukan sekadar pilihan, melainkan investasi akhirat yang harus dipersiapkan sejak dini.
“Mendidik anak dengan agama dan adab bukanlah sekadar pilihan, melainkan kewajiban mutlak yang menjadi investasi akhirat kita,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa langkah pertama dalam mendidik anak adalah menanamkan aqidah dan ibadah sebagai pondasi kehidupan. Ia mengutip nasihat Luqman Al-Hakim kepada putranya sebagaimana termaktub dalam Surah Luqman ayat 13 tentang pentingnya menjaga tauhid dan menjauhi kemusyrikan.
Menurutnya, pengenalan kepada Allah harus dimulai sejak usia dini agar anak memahami bahwa Allah senantiasa mengawasi setiap perbuatannya. Dengan demikian, kesadaran beribadah dan menjaga diri akan tumbuh dari dalam hati, bukan semata karena pengawasan orang tua.
“Tanamkanlah tauhid sejak dini. Ajarkan mereka mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih dari apa pun. Ketika mereka sudah paham bahwa Allah Maha Melihat, mereka akan menjaga diri meski kita tidak ada di samping mereka,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya mengajarkan shalat sejak usia tujuh tahun dengan pendekatan penuh kasih sayang, sehingga anak-anak mencintai ajaran agama dan tidak merasa tertekan dalam menjalankan ibadah.
Selain pendidikan agama, Nur Khamim menaruh perhatian besar terhadap pembentukan adab dan akhlak. Menurutnya, keberhasilan akademik tidak akan memiliki makna apabila tidak diiringi dengan karakter yang baik.
Ia menyoroti berbagai fenomena sosial di era modern, ketika banyak anak memiliki kemampuan akademik dan penguasaan teknologi yang tinggi, namun justru mengalami penurunan dalam sikap hormat kepada orang tua, guru, maupun sesama.
“Di era modern ini, banyak anak yang pintar secara akademik, hafal teknologi, namun kehilangan adab. Mereka berani membantah orang tua, tidak menghormati guru, dan lisannya kotor. Ini adalah bahaya besar,” katanya.
Nur Khamim kemudian mengutip sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia. Karena itu, pendidikan karakter harus dimulai dari kebiasaan-kebiasaan sederhana di rumah, seperti membaca basmalah sebelum makan, menggunakan tangan kanan saat makan, berpamitan kepada orang tua, menghormati tamu, berkata jujur, bersikap amanah, serta memiliki rasa kasih sayang terhadap sesama.
Dalam khutbahnya, ia juga menyampaikan tiga langkah praktis yang dapat dilakukan orang tua dalam membentuk anak yang beragama dan beradab. Pertama, menjadi teladan atau qudwah hasanah. Menurutnya, anak lebih mudah meniru perilaku dibandingkan sekadar mendengar nasihat. Karena itu, orang tua harus terlebih dahulu memperbaiki diri sebelum mengharapkan perubahan pada anak.
“Anak-anak tidak mendengar apa yang kita ucapkan, tetapi mereka meniru apa yang kita lakukan. Jangan menyuruh anak shalat jika kita sendiri malas shalat. Jangan melarang anak bermain gadget berlebihan jika kita sendiri terus menatap layar telepon genggam,” tuturnya.
Langkah kedua adalah menciptakan lingkungan yang baik dengan memilih sekolah yang tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga memperkuat keimanan dan akhlak peserta didik. Ia juga mengingatkan pentingnya mengarahkan anak agar memiliki lingkungan pergaulan yang positif melalui majelis ilmu dan teman-teman yang saleh.
Adapun langkah ketiga adalah memperbanyak doa kepada Allah SWT. Menurutnya, doa merupakan senjata utama orang tua dalam memohon perlindungan bagi anak-anak dari berbagai tantangan dan fitnah zaman yang semakin kompleks.
Nur Khamim menutup khutbah pertamanya dengan mengajak seluruh jamaah menjadikan rumah sebagai madrasah pertama dan utama dalam membentuk karakter anak. Ia mengingatkan bahwa perkembangan teknologi dan perubahan sosial menghadirkan tantangan yang tidak ringan terhadap akidah maupun akhlak generasi muda sehingga pendidikan keluarga harus semakin diperkuat.
“Sebagai penutup khutbah pertama ini, marilah kita sadari bahwa waktu sangat singkat. Zaman kini penuh dengan tantangan dan fitnah yang mengancam akidah dan akhlak generasi muda. Jadikan rumah kita sebagai madrasah pertama dan utama bagi anak-anak kita,” pungkasnya.
Pelaksanaan Sholat Jumat rutin di Masjid Baitul Iman SMKN Jateng di Semarang tidak hanya menjadi sarana menunaikan kewajiban ibadah, tetapi juga wahana penguatan pendidikan karakter bagi seluruh warga sekolah. Bertepatan dengan momentum Hari Anak Nasional, pesan-pesan yang disampaikan dalam khutbah diharapkan mampu menginspirasi para guru, tenaga kependidikan, orang tua, maupun peserta didik untuk bersama-sama membangun generasi yang unggul, berilmu, beriman, serta memiliki adab yang mulia sebagai bekal menghadapi tantangan masa depan.

Beri Komentar