SEMARANG – Upaya membangun budaya belajar sepanjang hayat terus diperkuat SMKN Jateng di Semarang melalui penyelenggaraan kegiatan rutin Berbagi Praktik Baik. Kali ini, forum pengembangan profesional tersebut menghadirkan Kepala SMKN Jateng di Semarang, Ardan Sirodjuddin, S.Pd., M.Pd., sebagai pembicara utama dengan mengangkat tema “Cara Belajar GTK yang Efektif”. Kegiatan yang berlangsung pada Jumat siang, pukul 13.00 hingga 14.00 WIB, itu diikuti secara antusias oleh seluruh guru dan tenaga kependidikan (GTK) serta mahasiswa Program Pengenalan Lapangan Persekolahan (PPL) Lantip Universitas Negeri Semarang (UNNES).
Berbagi Praktik Baik merupakan salah satu program pengembangan kapasitas sumber daya manusia yang secara konsisten dilaksanakan di SMKN Jateng di Semarang. Melalui forum ini, para pendidik tidak hanya memperoleh wawasan baru mengenai strategi pembelajaran, tetapi juga memiliki ruang untuk saling bertukar pengalaman, mendiskusikan tantangan di lapangan, serta memperkuat komitmen dalam meningkatkan kualitas layanan pendidikan.
Dalam paparannya, Ardan Sirodjuddin menekankan bahwa perkembangan teknologi informasi telah mengubah cara seseorang memperoleh pengetahuan. Oleh karena itu, guru dan tenaga kependidikan dituntut memiliki kemampuan belajar yang adaptif, efisien, dan berkelanjutan agar mampu mengikuti perubahan zaman sekaligus memberikan layanan pendidikan terbaik kepada peserta didik.
Menurutnya, proses belajar bagi seorang pendidik tidak lagi cukup dilakukan melalui pelatihan formal atau kursus dalam waktu tertentu. Sebaliknya, belajar harus menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari yang dilakukan secara konsisten sehingga pengetahuan dan keterampilan terus berkembang seiring perubahan kebutuhan dunia pendidikan.
“Proses belajar GTK tidak harus selalu kaku dalam bentuk kursus panjang, melainkan harus melebur secara alami dalam aktivitas harian. Konsistensi kecil setiap hari jauh lebih berdampak pada kualitas pembelajaran kita. Ketika kita mampu belajar sedikit demi sedikit secara berkelanjutan, hasilnya justru akan jauh lebih besar dibandingkan belajar dalam waktu lama tetapi jarang dilakukan,” ujar Ardan di hadapan peserta.
Salah satu materi yang mendapat perhatian peserta adalah teknik speed reading atau mekanika pembacaan cepat. Dalam sesi tersebut, Ardan menjelaskan bahwa kemampuan membaca cepat bukan sekadar mempercepat pergerakan mata, melainkan melatih penglihatan periferal (peripheral vision) agar mampu menangkap kelompok kata atau frasa sebagai satu kesatuan makna. Teknik tersebut juga dipadukan dengan upaya mengurangi jumlah fiksasi mata sehingga kecepatan membaca meningkat tanpa mengurangi tingkat pemahaman terhadap materi.
Melalui demonstrasi sederhana, peserta diajak memahami bagaimana kebiasaan membaca secara perlahan sering kali membuat proses belajar menjadi kurang efisien. Dengan latihan yang tepat, seseorang dapat meningkatkan kemampuan menyerap informasi dalam waktu yang lebih singkat, sebuah keterampilan yang dinilai sangat penting bagi guru yang setiap hari dihadapkan pada berbagai regulasi, referensi pembelajaran, hingga perkembangan teknologi pendidikan.
Selain teknik membaca cepat, Ardan juga memperkenalkan konsep ekosistem akuisisi materi harian, yaitu membangun kebiasaan belajar yang terintegrasi dengan rutinitas sehari-hari. Ia mendorong peserta memanfaatkan waktu sekitar 20 hingga 30 menit setiap hari untuk memperkaya pengetahuan melalui berbagai media yang mudah diakses.
Contohnya, mendengarkan podcast atau audiobook saat perjalanan menuju sekolah, membaca artikel ilmiah ringan ketika waktu istirahat, hingga langsung mempraktikkan pengetahuan baru dalam pekerjaan sehari-hari. Menurutnya, strategi tersebut membuat proses belajar terasa lebih ringan namun tetap memberikan dampak yang signifikan terhadap peningkatan kompetensi.
“Belajar tidak harus menunggu waktu luang. Justru ketika kita mampu menyisipkan aktivitas belajar ke dalam rutinitas harian, proses pengembangan diri akan berlangsung secara alami dan berkesinambungan. Itulah kebiasaan yang perlu dibangun oleh setiap guru di era digital,” tambahnya.
Suasana forum yang sejak awal berlangsung interaktif semakin semarak ketika memasuki pertengahan acara. Untuk mengukur tingkat pemahaman peserta sekaligus menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, Ardan mengadakan sesi kuis interaktif berhadiah. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan berkaitan langsung dengan materi yang baru saja dipaparkan sehingga peserta didorong untuk mengingat sekaligus memahami konsep yang telah dipelajari.
Tanpa diduga, antusiasme peserta begitu tinggi. Bapak dan Ibu GTK bersama mahasiswa PPL Lantip UNNES tampak berlomba mengangkat tangan untuk menjawab setiap pertanyaan. Gelak tawa, tepuk tangan, dan sorak sorai memenuhi ruangan ketika para pemenang berhasil memberikan jawaban yang tepat dan menerima hadiah secara langsung dari Kepala Sekolah.
Momentum tersebut tidak hanya menjadi sarana evaluasi pembelajaran, tetapi juga menciptakan suasana kekeluargaan yang hangat antara pimpinan sekolah, guru, tenaga kependidikan, serta mahasiswa PPL. Interaksi yang cair membuat materi yang disampaikan lebih mudah dipahami sekaligus meninggalkan kesan positif bagi seluruh peserta.
Sejumlah peserta mengaku metode penyampaian materi yang dipadukan dengan kuis interaktif membuat mereka lebih fokus mengikuti jalannya kegiatan. Selain memperoleh wawasan baru mengenai strategi belajar efektif, mereka juga termotivasi untuk menerapkan kebiasaan belajar secara konsisten dalam mendukung pelaksanaan tugas sebagai pendidik maupun tenaga kependidikan.
Kehadiran mahasiswa PPL Lantip UNNES dalam forum tersebut turut memberikan nilai tambah. Mereka tidak hanya memperoleh pengalaman langsung mengenai budaya belajar yang diterapkan di sekolah, tetapi juga mendapatkan bekal praktis yang dapat diterapkan ketika menjalankan tugas sebagai calon pendidik di masa mendatang.
Melalui penyelenggaraan Berbagi Praktik Baik secara rutin, SMKN Jateng di Semarang menunjukkan komitmennya dalam membangun organisasi pembelajar (learning organization) yang terus berkembang mengikuti dinamika dunia pendidikan. Penguatan kompetensi guru dan tenaga kependidikan diyakini menjadi salah satu fondasi penting dalam meningkatkan mutu pembelajaran dan menghasilkan lulusan yang unggul.
Kegiatan yang berakhir tepat pukul 14.00 WIB tersebut ditutup dengan sesi foto bersama sebagai simbol kebersamaan sekaligus komitmen seluruh peserta untuk terus belajar, berinovasi, dan saling berbagi praktik baik demi mewujudkan pendidikan vokasi yang semakin berkualitas. Semangat belajar sepanjang hayat yang digaungkan dalam forum ini diharapkan menjadi budaya yang terus tumbuh di lingkungan SMKN Jateng di Semarang, sehingga setiap guru, tenaga kependidikan, maupun calon guru mampu menjadi pembelajar aktif yang siap menghadapi tantangan pendidikan di era digital.
Penulis : Riska Eko Cahyono, Guru Produktif Teknik Permesinan SMKN Jateng di Semarang

Beri Komentar