Selasa, 29-09-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Menjembatani Teori dan Dunia Industri, Siswa XI TEI SMKN Jawa Tengah Kunjungi CV. Mataram Karya

Diterbitkan : Rabu, 30 September 2026

Pembelajaran di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) tidak hanya berlangsung di ruang kelas dan laboratorium. Sebagai satuan pendidikan yang berorientasi pada kesiapan kerja, SMK dituntut mampu menghadirkan pengalaman belajar yang semakin dekat dengan realitas dunia industri. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa di sekolah perlu dipertemukan dengan penerapan nyata agar mereka memahami bagaimana kompetensi tersebut digunakan dalam lingkungan kerja profesional.

Pembelajaran berbasis industri menjadi salah satu pendekatan penting dalam pendidikan vokasi. Melalui interaksi langsung dengan dunia kerja, siswa tidak hanya mengenal teknologi dan proses produksi, tetapi juga memahami budaya kerja yang menjadi bagian tidak terpisahkan dari profesionalisme. Ketepatan waktu, kedisiplinan, tanggung jawab, komunikasi, kerja sama, keselamatan dan kesehatan kerja (K3), hingga kemampuan beradaptasi merupakan keterampilan yang perlu dibangun sejak berada di bangku sekolah.

Upaya menghadirkan pembelajaran yang selaras dengan kebutuhan dunia kerja terus dilakukan SMKN Jawa Tengah di Semarang. Sekolah berupaya memberikan ruang kepada siswa untuk melihat, mengamati, bertanya, serta memahami secara langsung berbagai praktik yang berlangsung di lingkungan industri. Dengan demikian, pembelajaran tidak berhenti pada penguasaan konsep, tetapi berkembang menjadi pengalaman yang kontekstual dan relevan dengan perkembangan teknologi.

Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan benchmarking siswa kelas XI Teknik Elektronika Industri (TEI) ke CV. Mataram Karya pada Selasa, 15 September 2026. Kegiatan ini menjadi kesempatan bagi siswa untuk memperluas wawasan mengenai penerapan kompetensi elektronika sekaligus mengenal lebih dekat karakteristik lingkungan kerja industri.

Bagi siswa TEI, pengalaman mengunjungi perusahaan yang bergerak di bidang teknologi memberikan perspektif baru tentang luasnya bidang yang dapat dimasuki setelah menyelesaikan pendidikan. Kompetensi elektronika yang dipelajari di sekolah ternyata memiliki keterkaitan dengan berbagai bidang, mulai dari teknologi laser, sistem pencahayaan berbasis LED, robotika dan otomasi, hingga pekerjaan teknis di lingkungan workshop.

Kegiatan benchmarking tersebut tidak sekadar menjadi agenda kunjungan. Di dalamnya terdapat proses pembelajaran yang memungkinkan siswa membandingkan pengetahuan yang diperoleh di sekolah dengan praktik yang mereka temukan di lapangan. Konsep, komponen, perangkat, sistem kontrol, sensor, aktuator, hingga proses produksi dapat dipahami dalam konteks pekerjaan yang sesungguhnya.

Mataram Karya menjadi salah satu lingkungan yang relevan untuk memberikan pengalaman tersebut. Perusahaan ini memiliki sejumlah divisi dengan bidang pekerjaan yang beragam, di antaranya Jogja Laser, Karya LED, Jogja Robotika, serta Workshop Mataram Karya. Keberagaman bidang tersebut memberikan gambaran kepada siswa bahwa kompetensi elektronika dapat berkembang dan diterapkan dalam berbagai kebutuhan teknologi dan industri.

Di Jogja Laser, siswa dapat mengenal pemanfaatan teknologi laser dalam proses produksi. Teknologi yang mungkin selama ini mereka kenal melalui pembelajaran atau referensi digital dapat dilihat dalam penerapan yang memiliki fungsi nyata dalam kegiatan produksi. Dari sini siswa memperoleh gambaran bahwa penguasaan teknologi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengoperasikan perangkat, tetapi juga memahami fungsi, prosedur, ketelitian, serta aspek keselamatan dalam penggunaannya.

Beranjak ke Karya LED, siswa mendapatkan wawasan mengenai penerapan elektronika dan teknologi pencahayaan yang memiliki nilai ekonomi. Produk berbasis LED menunjukkan bagaimana pengetahuan tentang rangkaian elektronik, kelistrikan, komponen, desain, serta proses produksi dapat dikembangkan menjadi sebuah produk yang memiliki manfaat sekaligus peluang usaha.

Pengalaman yang tidak kalah menarik diperoleh melalui pengenalan terhadap Jogja Robotika. Dunia robotika memperlihatkan keterhubungan berbagai kompetensi secara lebih kompleks. Sistem robotika dan otomasi membutuhkan pemahaman mengenai kontrol, sensor, aktuator, elektronika, serta pemrograman. Berbagai komponen tersebut bekerja sebagai satu kesatuan untuk menghasilkan sistem yang mampu menjalankan fungsi tertentu secara otomatis.

Bagi siswa TEI, pengenalan tersebut dapat menjadi gambaran mengenai arah perkembangan teknologi industri yang semakin mengedepankan otomasi. Perubahan teknologi menuntut tenaga kerja tidak hanya mampu menguasai perangkat yang sudah tersedia, tetapi juga memiliki kemampuan belajar dan beradaptasi ketika teknologi baru diterapkan.

Sementara itu, Workshop Mataram Karya memberikan pengalaman yang lebih dekat dengan aktivitas kerja aplikatif. Lingkungan workshop memperlihatkan bagaimana pekerjaan teknis dilakukan dengan mengikuti prosedur dan standar yang berlaku. Siswa dapat melihat bahwa sebuah pekerjaan tidak cukup diselesaikan dengan kemampuan teknis semata. Ketelitian, kerapian, keselamatan, penggunaan peralatan yang tepat, serta tanggung jawab terhadap hasil pekerjaan menjadi bagian penting dalam proses tersebut.

Pengalaman semacam ini memberikan pemahaman bahwa keberhasilan seseorang di dunia kerja ditentukan oleh perpaduan kompetensi teknis dan soft skills. Siswa yang memiliki kemampuan elektronika yang baik tetap perlu memiliki disiplin, tanggung jawab, komunikasi yang efektif, kemampuan bekerja sama, serta kesiapan beradaptasi dengan perubahan.

Dalam konteks pendidikan vokasi, benchmarking menjadi sarana penting untuk memperkaya pembelajaran. Apa yang dipelajari siswa di sekolah dapat mereka lihat kembali dalam bentuk yang lebih konkret. Teori mengenai komponen dan sistem elektronika tidak lagi dipahami sebagai materi yang berdiri sendiri, melainkan sebagai bagian dari suatu proses produktif yang menghasilkan barang, layanan, atau solusi teknologi.

Pertemuan antara teori dan praktik tersebut juga dapat membantu siswa memahami alasan di balik berbagai prosedur yang diterapkan di industri. Ketepatan waktu, misalnya, bukan sekadar aturan kedisiplinan, melainkan berkaitan dengan keteraturan proses kerja dan tanggung jawab terhadap pekerjaan maupun anggota tim lainnya. Demikian pula penerapan K3 bukan hanya kewajiban administratif, tetapi merupakan bagian penting dalam menjaga keselamatan manusia, peralatan, dan keberlangsungan proses kerja.

Kerapian lingkungan kerja juga memiliki makna tersendiri. Peralatan yang tertata dan digunakan sesuai prosedur dapat mendukung efisiensi sekaligus mengurangi risiko kesalahan. Demikian pula komunikasi dan kerja sama menjadi faktor penting ketika sebuah pekerjaan harus diselesaikan oleh lebih dari satu orang.

Melalui pengamatan langsung di industri, siswa dapat melihat bahwa setiap pekerjaan memiliki standar dan konsekuensi. Kesalahan kecil dalam proses teknis dapat memengaruhi kualitas hasil. Karena itu, sikap teliti, bertanggung jawab, serta kesediaan mengikuti prosedur menjadi bagian dari kompetensi profesional yang harus dibentuk sejak dini.

Kegiatan benchmarking juga membuka ruang bagi siswa untuk membangun motivasi belajar. Ketika siswa mengetahui secara langsung bagaimana teknologi digunakan dan bagaimana seorang tenaga kerja menjalankan tugasnya, materi yang dipelajari di sekolah dapat terasa lebih bermakna. Mereka memiliki gambaran yang lebih jelas mengenai hubungan antara proses belajar saat ini dengan kebutuhan mereka di masa depan.

Pengalaman tersebut sekaligus memperluas literasi teknologi siswa. Perkembangan teknologi industri berlangsung dinamis sehingga lulusan SMK harus memiliki kemampuan untuk terus belajar. Penguasaan satu teknologi tidak selalu cukup untuk menghadapi perubahan kebutuhan dunia kerja. Kemampuan memahami prinsip dasar, mempelajari teknologi baru, memecahkan masalah, dan menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja menjadi modal penting bagi lulusan pendidikan vokasi.

Bagi pembelajaran TEI di SMKN Jawa Tengah di Semarang, kegiatan seperti ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan proses pendidikan yang lebih kontekstual. Siswa tidak hanya diarahkan untuk mengetahui apa yang dipelajari, tetapi juga memahami mengapa kompetensi tersebut penting dan bagaimana penerapannya dalam pekerjaan nyata.

Di sisi lain, kegiatan ini dapat memperkuat hubungan antara sekolah dan dunia industri. Kolaborasi semacam itu penting untuk memastikan pendidikan vokasi terus berkembang mengikuti kebutuhan teknologi dan dunia kerja. Sekolah dapat memperoleh gambaran mengenai kompetensi yang dibutuhkan, sementara siswa mendapatkan kesempatan untuk mengenal lingkungan profesional secara lebih awal.

Harapannya, pengalaman siswa XI TEI di CV. Mataram Karya tidak berhenti sebagai pengalaman kunjungan satu hari. Pengetahuan dan wawasan yang diperoleh dapat menjadi bahan refleksi dalam proses pembelajaran selanjutnya. Siswa diharapkan semakin memahami pentingnya menguasai kompetensi teknis sekaligus membangun karakter kerja yang positif.

Pada akhirnya, benchmarking ke CV. Mataram Karya mempertemukan teori, praktik, teknologi, dan budaya kerja dalam satu pengalaman belajar. Siswa memperoleh kesempatan untuk melihat secara langsung bagaimana kompetensi elektronika diterapkan dalam berbagai bidang industri, mulai dari teknologi laser dan LED hingga robotika, otomasi, dan pekerjaan workshop.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya SMKN Jawa Tengah di Semarang untuk semakin memperkuat keterkaitan antara pendidikan vokasi dengan kebutuhan dunia kerja. Dengan pembelajaran yang semakin dekat dengan industri, siswa diharapkan tidak hanya menjadi lulusan yang memiliki keterampilan teknis, tetapi juga pribadi yang disiplin, bertanggung jawab, komunikatif, mampu bekerja sama, adaptif, dan siap menghadapi perubahan.

Pendidikan vokasi pada akhirnya bukan sekadar tentang menyiapkan seseorang agar mampu bekerja, melainkan membekali mereka agar mampu terus berkembang di tengah perubahan teknologi. Dari ruang kelas menuju lingkungan industri, setiap pengalaman belajar menjadi bagian dari proses membentuk calon tenaga kerja yang profesional, adaptif, dan memiliki karakter positif.

Penulis : Nanang Eko Nugroho, Guru Produktif Teknik Elektronika Industri SMKN Jateng di Semarang

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan