Perubahan teknologi berlangsung begitu cepat. Apa yang beberapa tahun lalu terasa seperti sesuatu yang hanya ada dalam film fiksi ilmiah, kini hadir di tengah kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan. AI tidak lagi menjadi teknologi yang hanya dibicarakan di laboratorium atau perusahaan teknologi. Ia telah hadir dalam mesin pencari, aplikasi pembelajaran, media sosial, perangkat telepon pintar, hingga berbagai pekerjaan yang akan dijalani oleh generasi muda.
Sebagai seorang guru praktik yang mengajar di jenjang SMK, saya melihat perubahan tersebut sebagai tantangan sekaligus peluang. Cara siswa memperoleh informasi berubah. Cara mereka belajar berubah. Bahkan cara mereka membayangkan pekerjaan di masa depan pun mulai berubah. Karena itu, sekolah tidak cukup hanya mengajarkan bagaimana menggunakan teknologi. Sekolah juga perlu membekali siswa dengan kemampuan memahami, menilai, dan menggunakan teknologi secara bijaksana.
Dari sinilah pertanyaan penting muncul: mengapa siswa SMK perlu mengenal AI sejak dini? Bagi saya, jawabannya sederhana. Siswa SMK sedang dipersiapkan untuk memasuki dunia kerja yang semakin terdigitalisasi. Mereka tidak hanya membutuhkan keterampilan teknis sesuai kompetensi keahliannya, tetapi juga kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan teknologi. Mengenal AI sejak bangku sekolah berarti memberikan kesempatan kepada mereka untuk memahami perubahan sebelum mereka benar-benar berhadapan dengannya di dunia kerja.
Pekan ini, saya mencoba membawa isu tersebut lebih dekat ke ruang kelas. Dalam mata pelajaran Informatika, siswa kelas X TITL (Teknik Instalasi Tenaga Listrik) SMK Negeri Jawa Tengah saya ajak mengenal salah satu platform pembelajaran AI, yaitu AI Class ASEAN. Kegiatan tersebut dimulai dari sesuatu yang sederhana: pengisian data diri dan registrasi pada platform digital AIClassASEAN.org.
Sekilas, kegiatan registrasi mungkin terlihat sebagai aktivitas administratif biasa. Namun, bagi saya, proses tersebut merupakan pintu masuk menuju pengalaman belajar yang lebih luas. Siswa belajar membuat akun, mengenali sebuah platform pembelajaran digital, mengikuti instruksi, dan mulai berinteraksi dengan lingkungan belajar yang sebelumnya mungkin belum mereka kenal.
Suasana kelas pun berubah. Para siswa terlihat antusias ketika mulai mengikuti tahapan registrasi. Beberapa siswa dengan cepat menyelesaikan prosesnya, sementara yang lain saling membantu ketika menemukan bagian yang belum dipahami. Setelah berhasil masuk, rasa ingin tahu mereka semakin terlihat ketika mulai menjelajahi modul-modul yang tersedia.
Saya sengaja tidak langsung menjadikan kegiatan tersebut sebagai pembelajaran yang berat. Saya ingin siswa terlebih dahulu mengalami sendiri bahwa belajar tentang AI tidak harus dimulai dari istilah-istilah teknis yang rumit. Rasa ingin tahu, keberanian mencoba, dan kemauan untuk belajar justru menjadi langkah awal yang penting.
AI Class ASEAN sendiri merupakan platform pembelajaran digital yang dikembangkan oleh ASEAN Foundation dengan dukungan Google.org. Platform ini menjadi bagian dari program AI Ready ASEAN, sebuah inisiatif regional yang berlangsung selama 2,5 tahun dengan dukungan hibah sebesar 5 juta dolar AS dari Google.org. Program tersebut menargetkan pemberdayaan 5,5 juta generasi muda, pendidik, dan orang tua di sepuluh negara anggota ASEAN.
Yang menarik bagi saya sebagai guru adalah pendekatan platform ini. AI Class ASEAN tidak sekadar mengajak peserta mengenal AI sebagai teknologi, tetapi juga memperkenalkan bagaimana AI digunakan secara bertanggung jawab. Di dalamnya tersedia berbagai kursus tentang dasar-dasar AI, AI dalam kehidupan sehari-hari, AI generatif, penggunaan prompt, peluang karier di era AI, hingga etika penggunaan AI, privasi data, hak cipta, keamanan, serta cara menghadapi berita palsu, hoaks, dan misinformasi.
Platform tersebut juga dilengkapi chatbot AI, forum diskusi, dan dukungan multibahasa. Peserta dapat belajar tanpa harus memiliki latar belakang teknologi sebelumnya. Bahkan materi tersedia dalam bahasa nasional negara-negara ASEAN sehingga akses pembelajaran menjadi lebih inklusif.
Bagi saya, inilah bagian pentingnya. Ketika siswa belajar AI, yang perlu dibangun bukan hanya kemampuan menggunakan sebuah aplikasi. Mereka perlu memahami bahwa teknologi selalu memiliki konsekuensi. AI dapat membantu menyelesaikan pekerjaan, menemukan ide, mengolah informasi, dan mendukung proses belajar. Namun, AI juga dapat menghasilkan informasi yang keliru, menimbulkan persoalan privasi, memunculkan persoalan hak cipta, bahkan digunakan untuk menyebarkan misinformasi.
Karena itu, pengenalan AI di sekolah seharusnya berjalan seimbang antara keterampilan dan karakter. Siswa perlu tahu bagaimana menggunakan AI, tetapi pada saat yang sama perlu memahami kapan AI boleh digunakan, bagaimana memeriksa kebenaran informasi yang dihasilkan, bagaimana menjaga data pribadi, dan bagaimana tetap mempertahankan kemampuan berpikir kritis.
Tujuan kegiatan di kelas saya pun bukan sekadar membuat siswa memiliki akun pada sebuah platform. Lebih jauh daripada itu, saya ingin memberikan pengalaman awal tentang literasi digital. Siswa diharapkan terbiasa belajar menggunakan sumber digital, mampu mengikuti instruksi, berani mengeksplorasi materi baru, serta memahami bahwa perkembangan teknologi menuntut mereka untuk terus belajar.
Bagi siswa SMK, pengalaman tersebut memiliki arti yang lebih besar. Mereka dipersiapkan untuk memasuki dunia kerja yang membutuhkan kemampuan adaptasi. Di bidang Teknik Instalasi Tenaga Listrik, misalnya, perkembangan teknologi telah membawa perubahan pada sistem kendali, otomasi, perangkat pintar, pengelolaan data, hingga konsep industri yang semakin terhubung. AI mungkin tidak selalu menjadi kompetensi utama mereka, tetapi pemahaman terhadap AI akan membantu mereka membaca arah perkembangan teknologi dan dunia kerja.
Ada manfaat lain yang saya rasakan. Ketika siswa belajar melalui sebuah platform digital secara bersama-sama, terjadi proses kolaborasi yang alami. Siswa yang lebih cepat memahami dapat membantu temannya. Siswa yang mengalami kesulitan belajar untuk bertanya. Guru pun tidak lagi menjadi satu-satunya sumber informasi. Peran guru bergeser menjadi fasilitator yang membantu siswa menemukan, memahami, dan menggunakan sumber belajar dengan tepat.
Dari sisi sekolah, kegiatan sederhana ini juga memiliki makna strategis. Ketika sekolah membuka ruang bagi siswa untuk mengenal platform pembelajaran regional seperti AI Class ASEAN, sekolah sebenarnya sedang memperluas cakrawala peserta didik. Mereka tidak hanya belajar sebagai bagian dari komunitas sekolah, tetapi mulai terhubung dengan ekosistem pendidikan yang lebih luas di kawasan Asia Tenggara. Hal tersebut sejalan dengan semangat membangun generasi yang siap menghadapi masa depan dan menjadi bagian dari masyarakat ASEAN yang semakin terkoneksi.
Program AI Ready ASEAN memiliki cakupan yang jauh lebih besar daripada kegiatan yang saya lakukan di kelas. Program tersebut menargetkan pelatihan 2.000 fasilitator yang diharapkan dapat menjangkau sekitar 800.000 generasi muda, orang tua, dan pendidik, terutama komunitas yang kurang terlayani di sepuluh negara ASEAN.
Perkembangannya pun cukup signifikan. Hingga 2026, berbagai laporan menyebut AI Ready ASEAN telah menjangkau lebih dari 6 juta penerima manfaat di kawasan ASEAN. Lebih dari 100.000 peserta telah mengikuti pelatihan AI secara mendalam dan ribuan Master Trainers telah diberdayakan untuk memperluas dampak program.
Angka-angka tersebut tentu besar. Namun, sebagai guru, saya justru melihat makna program ini dari sesuatu yang jauh lebih kecil: satu kelas, satu siswa, satu akun, dan satu pengalaman belajar baru. Perubahan besar dalam pendidikan sering kali memang dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.
Sepuluh tahun berada di ruang kelas membuat saya semakin menyadari bahwa inovasi pembelajaran bukan berarti guru harus selalu menggunakan teknologi terbaru. Inovasi yang sesungguhnya adalah ketika guru mampu memilih teknologi yang relevan dengan kebutuhan siswa dan menggunakannya untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih bermakna.
Pengenalan AI juga bukan sekadar mengajarkan teknologi. Di baliknya ada upaya membangun karakter literasi digital. Siswa perlu dibiasakan untuk tidak mudah percaya terhadap informasi, tidak sekadar menyalin jawaban yang diberikan mesin, tidak sembarangan memasukkan data pribadi, serta memahami bahwa hasil dari teknologi tetap perlu diperiksa dan dipertanggungjawabkan.
Saya percaya, siswa bukan hanya perlu dipersiapkan menjadi pengguna teknologi. Mereka harus diarahkan untuk menjadi manusia yang mampu menggunakan teknologi dengan kesadaran, kreativitas, etika, dan tanggung jawab. Jika AI dapat menjadi alat bantu untuk mempercepat pekerjaan, maka manusia tetap harus menjadi pihak yang menentukan tujuan dan nilai dari pekerjaan tersebut.
Kegiatan registrasi dan pengenalan AI Class ASEAN bersama siswa kelas X TITL mungkin terlihat sederhana. Namun, bagi saya, kegiatan itu merupakan sebuah awal. Awal untuk membuka percakapan tentang AI. Awal untuk membangun rasa ingin tahu. Awal untuk membiasakan siswa belajar dari lingkungan digital. Dan yang paling penting, awal untuk mengajak mereka memahami bahwa teknologi harus digunakan untuk memperkuat kemampuan manusia, bukan menggantikannya begitu saja.
Saya berharap siswa SMK Negeri Jawa Tengah tidak hanya menjadi generasi yang mampu mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga menjadi generasi yang mampu menciptakan solusi. Mereka memiliki bekal kompetensi kejuruan, pengalaman belajar, kemampuan digital, dan kesadaran etis untuk menghadapi perubahan dunia kerja.
Pada akhirnya, tugas pendidikan bukan meramalkan teknologi apa yang akan hadir di masa depan. Tugas pendidikan adalah mempersiapkan manusia agar mampu menghadapi masa depan apa pun yang datang.
Maka, setelah satu kelas mengenal AI dan mulai menjelajahi AI Class ASEAN, pertanyaan yang tersisa bukan lagi apakah AI akan menjadi bagian dari kehidupan mereka. AI sudah hadir. Pertanyaan yang lebih penting adalah: Apakah kita sudah menyiapkan generasi muda untuk menjadi kontributor bermakna di era digital?
Semoga langkah kecil dari ruang kelas ini menjadi bagian dari perjalanan panjang menuju generasi SMK yang tidak hanya siap menggunakan teknologi, tetapi juga siap berinovasi, berpikir kritis, bekerja kolaboratif, dan berkompetisi secara sehat di tingkat nasional maupun regional. Sebab masa depan digital ASEAN bukan hanya sesuatu yang akan mereka hadapi. Masa depan itu sedang mereka bangun, mulai dari ruang kelas hari ini.
Penulis : Maria Immaculata Anugrahningtyas, mahasiswa Lantip 7 Unnes

Beri Komentar