Selasa, 08-09-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Launching PILLARS Dorong Transformasi Kepemimpinan Kepala Sekolah, Menuju Pendidikan Jawa Tengah yang Unggul dan Berdaya Saing

Diterbitkan : - Kategori : Berita

SEMARANG — Transformasi kepemimpinan kepala sekolah menjadi salah satu kunci penting dalam upaya meningkatkan mutu layanan pendidikan di Jawa Tengah. Hal tersebut mengemuka dalam Seminar Online Launching PILLARS (Principal Leadership Learning Strategies) dengan tema “Menuju Transformasi Peningkatan Mutu Layanan Pendidikan yang Unggul, Adaptif, dan Berdaya Saing di Jawa Tengah”, yang digelar Senin, 7 September 2026.

Kegiatan yang berlangsung dari BPSDMD Provinsi Jawa Tengah tersebut diikuti secara daring melalui Zoom Meeting dan siaran langsung YouTube. Sasaran utama kegiatan adalah seluruh kepala sekolah SMA, SMK, dan SLB negeri maupun swasta di Jawa Tengah. Selain itu, program PILLARS secara khusus menyasar 60 kepala sekolah SMA/SMK/SLB dari Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VI.

Seminar dimulai pukul 08.00 WIB dan menghadirkan sejumlah pemangku kepentingan pendidikan sebagai narasumber. Acara dibuka oleh Kepala BPSDMD Provinsi Jawa Tengah, Dr. Uswatun Hasanah, S.Pd., M.Pd., yang hadir mewakili Gubernur Jawa Tengah. Sementara itu, project leader kegiatan adalah Kepala Bidang Penyelenggaraan Kompetensi Jabatan Fungsional, Lilik Rachmawati, S.E., M.Si.

Dua narasumber utama dihadirkan untuk memberikan perspektif kebijakan nasional dan daerah mengenai penguatan kepemimpinan sekolah. Direktur Kepala Sekolah, Pengawas Sekolah, dan Tenaga Kependidikan, Dr. Iwan Junaedi, S.Si., M.Pd., menyampaikan materi mengenai “Arah Kebijakan Nasional untuk Meningkatkan Mutu dan Kualitas Pendidikan Menengah”.

Dalam paparannya, Iwan menekankan pentingnya penyiapan kepemimpinan sekolah secara sistematis, termasuk pemetaan kebutuhan kepala sekolah, penyiapan calon kepala sekolah, seleksi, hingga pelatihan bakal calon kepala sekolah. Proses tersebut melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, Badan Kepegawaian Negara, serta sistem informasi yang digunakan dalam pengelolaan data kepala sekolah dan tenaga kependidikan.

Menurut materi yang disampaikan, pemerintah daerah memiliki peran penting dalam memetakan kebutuhan kepala sekolah sesuai kondisi daerah, melakukan seleksi bakal calon kepala sekolah, mengusulkan bakal calon untuk mengikuti tes substansi, serta melakukan proses penugasan sesuai ketentuan yang berlaku. Sinkronisasi data dan kebijakan antara pemerintah pusat, BKN, dan pemerintah daerah menjadi bagian penting agar kebutuhan kepala sekolah dapat dipenuhi secara tepat.

Urgensi kepemimpinan sekolah juga menjadi perhatian dalam paparan tersebut. Kepemimpinan sekolah dinilai memiliki pengaruh signifikan terhadap kualitas pembelajaran yang pada akhirnya berdampak pada hasil belajar peserta didik. Karena itu, kepala sekolah tidak cukup hanya memiliki kemampuan administratif, tetapi juga dituntut mampu menjadi pemimpin pembelajaran dan penggerak perubahan di satuan pendidikan.

Iwan juga menguraikan ketentuan mengenai kompetensi kepala sekolah sebagaimana tercantum dalam Permendikdasmen Nomor 7 Tahun 2025 tentang Penugasan Guru sebagai Kepala Sekolah. Kompetensi tersebut mencakup kompetensi sosial, kepribadian, dan profesional. Kompetensi profesional juga mencakup kemampuan sebagai entrepreneur.

Penyiapan kepala sekolah, lanjutnya, harus dilakukan secara terencana. Kepala sekolah perlu memiliki karakter kuat, kemampuan manajerial, kepemimpinan berbasis data, kepemimpinan adaptif, kepemimpinan pembelajaran, kepemimpinan transformatif, serta kemampuan melayani dan menjalankan kepemimpinan secara etis.

Selain itu, penguatan growth mindset menjadi bagian penting dalam menghadapi berbagai persoalan sekolah. Kepala sekolah diharapkan mampu menjadi teladan, mengembangkan budaya belajar, melakukan supervisi akademik, mengelola satuan pendidikan secara efektif, serta mendorong pengembangan kompetensi guru dan tenaga kependidikan.

Materi berikutnya disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah, Dr. Sadimin, S.Pd., S.Sos., S.IPem., M.Eng., dengan topik “Transformasi Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam rangka Pengembangan Kompetensi di Jawa Tengah”. Paparan tersebut menempatkan pendidikan bermutu sebagai landasan utama pembangunan sumber daya manusia dan kemajuan daerah.

Pendidikan bermutu, menurut materi yang disampaikan, tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga memiliki peran dalam membentuk generasi yang berkarakter dan berintegritas, meningkatkan kompetensi dan daya saing sumber daya manusia, mengurangi kesenjangan sosial dan pendidikan, mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, serta mempersiapkan generasi menuju Indonesia Emas 2045.

Dalam konteks tersebut, kepala sekolah memiliki posisi strategis dalam menentukan arah dan visi pengembangan sekolah, memimpin peningkatan kualitas pembelajaran, mengembangkan kompetensi guru dan tenaga kependidikan, mengelola sumber daya secara efektif dan akuntabel, membangun budaya sekolah yang positif, serta menggerakkan kolaborasi dengan orang tua dan masyarakat.

Tantangan yang dihadapi kepala sekolah juga semakin kompleks. Perubahan kebijakan pendidikan yang dinamis, kesenjangan mutu antarwilayah dan satuan pendidikan, kompetensi guru yang belum merata, pemanfaatan teknologi digital yang belum optimal, serta pembelajaran yang belum sepenuhnya berpusat pada peserta didik membutuhkan kepemimpinan yang adaptif dan responsif.

Persoalan karakter, keamanan dan kesehatan mental peserta didik, pengelolaan sekolah yang masih berorientasi administratif, serta keterbatasan kolaborasi dengan dunia usaha, dunia industri, dan masyarakat juga menjadi tantangan yang harus dijawab melalui kepemimpinan sekolah yang lebih transformatif.

Paradigma kepemimpinan sekolah pun perlu bergeser. Kepemimpinan tidak lagi cukup berorientasi pada administrasi, tetapi harus berorientasi pada mutu pembelajaran. Pola kepemimpinan yang instruktif dan satu arah perlu berkembang menjadi kolaboratif dan partisipatif. Pengambilan keputusan berbasis kebiasaan perlu digantikan dengan keputusan berbasis data dan bukti.

Dalam paradigma baru tersebut, kepala sekolah diharapkan tidak sekadar menjaga rutinitas, tetapi mampu menggerakkan inovasi dan memberdayakan seluruh warga sekolah. Fokus kepemimpinan juga bergeser dari sekadar memperhatikan input menuju perhatian yang lebih kuat terhadap proses dan dampak.

Sebagai pemimpin pembelajaran, kepala sekolah harus memastikan pembelajaran berpusat pada peserta didik, guru memahami kebutuhan dan karakteristik peserta didik, serta pembelajaran berlangsung secara inklusif dan berdiferensiasi. Supervisi akademik juga diharapkan tidak berhenti pada kegiatan administratif, tetapi menghasilkan perbaikan nyata dalam proses pembelajaran.

Penguatan kompetensi kepala sekolah menjadi bagian penting dari agenda transformasi tersebut. Kompetensi kepribadian, manajerial, supervisi, kewirausahaan, sosial, digital, dan kemampuan menggunakan data perlu dikembangkan secara berkelanjutan.

Strategi pengembangan kompetensi dapat dilakukan melalui pelatihan berbasis kebutuhan dan permasalahan nyata, pendampingan dan pembinaan berkelanjutan, coaching dan mentoring, komunitas belajar kepala sekolah, berbagi praktik baik, magang atau studi tiru di sekolah unggulan, pemanfaatan platform pembelajaran digital, penyusunan proyek perubahan, serta evaluasi yang berorientasi pada hasil dan dampak.

Kepemimpinan berbasis data juga menjadi salah satu fondasi transformasi sekolah. Data dapat digunakan untuk mengidentifikasi masalah prioritas, memetakan kondisi peserta didik dan guru, menentukan program yang tepat sasaran, menyusun perencanaan dan penganggaran, memantau pelaksanaan program, mengukur perubahan dan dampak, hingga menentukan tindak lanjut perbaikan.

Transformasi tersebut membutuhkan budaya belajar dan kolaborasi. Sekolah perlu membangun budaya belajar sepanjang hayat, reflektif terhadap hasil kerja, terbuka terhadap perubahan, saling percaya dan menghargai, serta berani melakukan inovasi dan perbaikan.

Ekosistem pendidikan juga harus dibangun secara kolaboratif dengan melibatkan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah, Cabang Dinas Pendidikan Wilayah I hingga XII, pengawas sekolah, kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan, peserta didik, orang tua dan komite sekolah, perguruan tinggi, dunia usaha dan dunia industri, pemerintah daerah, serta masyarakat.

Keberhasilan transformasi kepemimpinan pada akhirnya diharapkan dapat terlihat dari meningkatnya kualitas kepemimpinan kepala sekolah, kompetensi dan kinerja guru, kualitas proses pembelajaran, serta capaian belajar peserta didik. Di saat yang sama, inovasi dan praktik baik sekolah diharapkan semakin berkembang, partisipasi masyarakat meningkat, tata kelola semakin transparan dan akuntabel, serta tercipta lingkungan sekolah yang aman, inklusif, sehat, dan menyenangkan.

Melalui PILLARS, kepala sekolah didorong untuk tidak berhenti pada peningkatan kapasitas individual, tetapi mampu menerjemahkan pengetahuan dan keterampilan kepemimpinan menjadi aksi nyata di sekolah. Setiap kepala sekolah diharapkan mampu memetakan kondisi sekolah, menentukan satu hingga tiga masalah prioritas, menetapkan target perubahan yang terukur, membentuk tim transformasi, mengembangkan kompetensi guru, melaksanakan supervisi dan pendampingan secara berkala, serta mendokumentasikan dan menyebarluaskan praktik baik.

Semangat tersebut dirangkum dalam komitmen bersama yang menjadi pesan utama kegiatan. “Kepala sekolah yang terus belajar akan melahirkan guru yang terus berkembang. Guru yang terus berkembang akan menghadirkan pembelajaran yang berkualitas. Pembelajaran yang berkualitas akan menghasilkan generasi Jawa Tengah yang unggul, berkarakter, dan berdaya saing.”

Launching PILLARS menjadi momentum untuk memperkuat gerakan bersama dalam membangun kepemimpinan sekolah yang terus bertumbuh. Transformasi tidak dipandang sebagai perubahan sesaat, melainkan proses berkelanjutan yang membutuhkan pembelajaran, kolaborasi, keberanian melakukan inovasi, serta konsistensi dalam mengukur dampak.

Pada akhirnya, arah yang ingin dicapai sangat jelas: kepemimpinan yang bertumbuh akan mendorong guru terus berkembang, guru yang berkembang akan menghadirkan pembelajaran yang berkualitas, dan pembelajaran berkualitas akan melahirkan peserta didik yang unggul. Dari proses tersebut diharapkan lahir sekolah-sekolah di Jawa Tengah yang semakin adaptif, inovatif, berkarakter, dan berdaya saing sebagai bagian dari upaya mewujudkan Jawa Tengah yang maju.

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan