SEMARANG – SMKN Jateng di Semarang mendapat kunjungan sejumlah pejabat pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam rangka persiapan penyampaian hasil Collective Action peserta Relaksasi RPL, Sabtu, 5 September 2026. Kunjungan tersebut menjadi momentum untuk melihat secara langsung praktik pendidikan vokasi berasrama yang diarahkan sebagai salah satu instrumen strategis dalam mendukung program pengentasan kemiskinan melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Rombongan yang hadir terdiri atas Deputi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Bappenas RI Pungkas Bahjuri Ali, STP., MS., Ph.D.; Deputi Bidang Perencanaan Makro Pembangunan Bappenas RI Dr. Eka Chandra Buana, S.E., M.A.; serta Staf Ahli Bidang Pemerataan Pembangunan Regional Bappenas RI Tri Dewi Virgiyanti, ST, MEM. Turut hadir Kepala BPSDM Hukum Kementerian Hukum Wisnu Nugroho Dewanto, S.E., M.H.; Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri Kementerian Perindustrian Emmy Suryandari, S.T., M.T.; serta Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah Sumarno, SE.MM.
Kedatangan rombongan disambut langsung Kepala BPSDM Provinsi Jawa Tengah Uswatun Hasanah, Kepala Bidang SMK Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah Roberto Agung Nugroho, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah II Haris Wahyudi, Kasi SMK Cabang Dinas Pendidikan Wilayah II Andang Fitriadi, serta Kepala SMKN Jateng di Semarang Ardan Sirodjuddin bersama jajaran guru dan siswa.
Suasana kunjungan semakin menarik dengan hadirnya perwakilan alumni dan orang tua siswa. Dua alumni SMKN Jateng di Semarang, yakni Nanda Fatih dari angkatan V yang kini bekerja di KAI Daop IV dan Ari Hartono dari angkatan V yang bekerja sebagai PNS di Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Tengah, turut berbagi pengalaman mengenai perjalanan mereka setelah menyelesaikan pendidikan di sekolah tersebut.
Perwakilan orang tua siswa juga hadir, yakni Muhammad Sutikno, orang tua Fathah dari kelas XII TP, serta Sigit, orang tua Musyafa dari kelas XII TITL. Kehadiran alumni dan orang tua memberikan gambaran bahwa keberhasilan pendidikan vokasi tidak hanya dapat dilihat dari proses pembelajaran di sekolah, tetapi juga dari keberlanjutan lulusan setelah menyelesaikan pendidikan.
Dalam kunjungan tersebut, rombongan diajak melihat secara langsung berbagai aktivitas pembelajaran berbasis praktik. Salah satu lokasi yang dikunjungi adalah bengkel CNC Teknik Permesinan. Di tempat tersebut, rombongan melihat fasilitas pembelajaran sekaligus berdialog secara langsung dengan siswa dan guru pembimbing mengenai proses pembelajaran, kompetensi yang dikembangkan, serta kesiapan siswa menghadapi dunia kerja.
Interaksi berlangsung cukup cair. Para siswa mendapat kesempatan menjelaskan aktivitas pembelajaran yang mereka lakukan, sementara guru pembimbing memberikan penjelasan mengenai penerapan pembelajaran praktik yang disesuaikan dengan kebutuhan kompetensi di dunia industri.
Kunjungan kemudian dilanjutkan di ruang AVA SMKN Jateng di Semarang. Di ruangan tersebut, Kepala SMKN Jateng di Semarang Ardan Sirodjuddin memaparkan profil sekolah sekaligus kesiapan satuan pendidikan dalam mendukung program pengentasan kemiskinan melalui pendidikan vokasi berasrama.
Dalam paparannya, Ardan menjelaskan bahwa SMKN Jateng di Semarang berdiri pada 22 April 2014 berdasarkan SK Nomor 420/28 Tahun 2014. Sekolah tersebut memiliki NPSN 169859366 dan telah memperoleh akreditasi A pada 28 April 2023.
Sebagai sekolah vokasi berasrama, SMKN Jateng di Semarang menerapkan sistem pendidikan full day school selama lima hari dalam sepekan. Setiap kelas memiliki kapasitas 24 siswa dengan kuota penerimaan sebanyak 120 siswa. Salah satu karakteristik utama sekolah adalah layanan pendidikan gratis penuh, di mana kebutuhan siswa seperti makan, pakaian, asrama, sepatu, alat tulis, hingga biaya pendidikan ditanggung oleh pemerintah daerah.
“Konsep sekolah ini bukan sekadar memberikan pendidikan gratis, tetapi memastikan anak-anak dari keluarga yang membutuhkan memiliki kesempatan untuk mendapatkan pendidikan vokasi yang berkualitas, hidup terarah di asrama, memiliki kompetensi, kemudian mampu mandiri setelah lulus,” jelas Ardan dalam paparannya.
SMKN Jateng di Semarang saat ini memiliki lima program keahlian, yaitu Teknik Pemesinan, Teknik Instalasi Tenaga Listrik, Teknik Elektronika Industri, Teknik Kendaraan Ringan, serta Teknik Konstruksi dan Perumahan. Kelima kompetensi tersebut dikembangkan untuk memberikan bekal keterampilan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan perkembangan industri.
Penguatan pendidikan vokasi juga dilakukan melalui sejumlah program unggulan. SMKN Jateng di Semarang tercatat menjalankan program SMK Pusat Keunggulan, Kelas Industri, Teaching Factory, serta program SMK 3+1 Kelas Jepang yang mengintegrasikan tiga tahun pendidikan di sekolah dengan satu tahun pengalaman magang atau kerja di Jepang.
Selain kompetensi teknis, sekolah juga memberikan perhatian terhadap penguatan kemampuan bahasa asing sebagai bagian dari persiapan siswa memasuki lingkungan kerja yang semakin terbuka. Kemitraan dengan dunia industri menjadi bagian penting dari ekosistem pembelajaran tersebut.
Sejumlah mitra industri yang telah bekerja sama dengan SMKN Jateng di Semarang antara lain PT Komatsu Indonesia, PT Bukit Makmur Mandiri Utama (BUMA), PT Asia Pacific Fiber, PDAM Tirta Moedal Semarang, Hotel Grandhika Semarang, PT Graha Sarana Duta Telkom, serta sejumlah mitra lainnya dengan total 13 mitra industri.
Menurut Ardan, keberadaan mitra industri tidak hanya berkaitan dengan penyerapan lulusan, tetapi juga menjadi sarana untuk memastikan pembelajaran di sekolah tetap memiliki keterkaitan dengan kebutuhan nyata di lapangan.
“Kami ingin anak-anak belajar sesuatu yang memang dibutuhkan industri. Karena itu, hubungan dengan dunia kerja harus dibangun sejak mereka masih berada di sekolah, baik melalui kelas industri, Teaching Factory, praktik kerja maupun berbagai bentuk kolaborasi lainnya,” ujarnya.
Pendidikan di SMKN Jateng di Semarang juga tidak hanya berlangsung di ruang kelas dan bengkel. Sebagai sekolah berasrama, siswa mengikuti kegiatan harian yang terstruktur mulai pukul 03.00 hingga 21.30 WIB. Rangkaian kegiatan tersebut mencakup ibadah dan salat berjamaah, kegiatan belajar mengajar, ekstrakurikuler, serta pembinaan karakter dan kedisiplinan.
Pola pendidikan tersebut dirancang untuk membangun keseimbangan antara kompetensi akademik, keterampilan vokasional, karakter, kedisiplinan dan kemandirian siswa. Dengan demikian, lulusan diharapkan tidak hanya memiliki kemampuan teknis, tetapi juga kesiapan mental dan karakter untuk memasuki dunia kerja maupun melanjutkan pendidikan.
Kehadiran alumni dalam kegiatan tersebut menjadi salah satu bukti keberlanjutan proses pendidikan yang dikembangkan sekolah. Nanda Fatih, alumni angkatan V yang kini bekerja di KAI Daop IV, dan Ari Hartono, alumni angkatan V yang kini menjadi PNS di Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Tengah, menjadi bagian dari cerita keberhasilan lulusan dalam membangun karier setelah menyelesaikan pendidikan.
Bagi sekolah, keberadaan alumni yang telah bekerja menjadi indikator penting bahwa pendidikan vokasi berasrama dapat membuka jalan bagi siswa untuk meningkatkan taraf kehidupan. Pendidikan tidak berhenti pada kelulusan, tetapi harus berlanjut menjadi kesempatan memperoleh pekerjaan, membangun karier dan meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Kepala SMKN Jateng di Semarang Ardan Sirodjuddin mengaku senang sekolah yang dipimpinnya mendapat kunjungan dari jajaran pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Menurutnya, kunjungan tersebut menjadi bentuk perhatian sekaligus pengakuan terhadap peran pendidikan vokasi dalam menjawab persoalan pembangunan manusia.
“Kami sangat senang SMKN Jateng di Semarang dikunjungi. Ini menunjukkan bahwa kualitas SMKN Jateng di Semarang patut diperhitungkan, khususnya dalam mengentaskan kemiskinan melalui jalur pendidikan vokasi,” kata Ardan.
Ia menambahkan, pendidikan vokasi memiliki posisi strategis karena memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk memperoleh keterampilan yang dapat menjadi modal memasuki dunia kerja. Terlebih dengan konsep pendidikan berasrama dan gratis penuh, siswa mendapatkan dukungan pendidikan secara lebih komprehensif.
“Kami berharap apa yang dilakukan SMKN Jateng di Semarang dapat terus dikembangkan dan memberikan dampak yang lebih luas. Ukuran keberhasilan kami bukan hanya berapa banyak siswa yang lulus, tetapi sejauh mana lulusan mampu bekerja, melanjutkan pendidikan, berwirausaha, dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan dirinya serta keluarganya,” lanjutnya.
Kunjungan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pendidikan vokasi dapat menjadi bagian penting dari strategi pembangunan manusia dan pengentasan kemiskinan. Ketika akses pendidikan dibuka, kebutuhan dasar siswa dipenuhi, kompetensi disesuaikan dengan kebutuhan industri, serta lulusan diarahkan menuju dunia kerja, pendidikan dapat menjadi jalan untuk memutus mata rantai kemiskinan antargenerasi.
Melalui persiapan penyampaian hasil Collective Action peserta Relaksasi RPL tersebut, SMKN Jateng di Semarang menunjukkan praktik nyata bagaimana satuan pendidikan dapat berkontribusi terhadap agenda pembangunan yang lebih luas. Kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, sekolah, dunia industri, alumni dan orang tua menjadi modal penting untuk memastikan pendidikan vokasi benar-benar menghasilkan perubahan yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
Kunjungan pada 5 September 2026 itu pun tidak sekadar menjadi agenda seremonial. Dialog yang berlangsung antara para pejabat, sekolah, guru, siswa, alumni dan orang tua menjadi ruang untuk melihat secara langsung praktik pendidikan vokasi sekaligus menggali potensi pengembangannya ke depan. SMKN Jateng di Semarang menegaskan posisinya sebagai salah satu model pendidikan vokasi berasrama yang berupaya menghubungkan akses pendidikan, penguatan kompetensi, pembentukan karakter dan peluang kerja dalam satu ekosistem pendidikan yang berkelanjutan.

Beri Komentar