Kamis, 03-09-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

SMKN Jateng Semarang dan AKTI Perkuat Kemitraan Industri, Tandatangani MoU dan Bahas Penguatan Budaya Kerja

Diterbitkan : - Kategori : Berita

SEMARANG — SMKN Jateng di Semarang mendapat kunjungan istimewa dari Akademi Komunitas Toyota Indonesia (AKTI), Rabu, 2 September 2026. Kunjungan tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat hubungan antara satuan pendidikan vokasi dengan dunia industri, sekaligus membahas upaya membangun budaya kerja yang semakin relevan dengan kebutuhan industri manufaktur.

Rombongan AKTI dan TMMIN hadir dengan membawa agenda strategis untuk memperluas kemitraan dengan SMK. Rombongan terdiri atas General Manager TMMIN Oktavian Heru Bahari, Direktur AKTI Edy Susilo Darmawan, Manager TMMIN Anton Sujarwo, Wakil Direktur I M. Zaki Azizi, Kepala Unit AKTI Rachmasari, Section Head TMMIN Sutrisno, serta Kepala Unit TEFA AKTI Ocvi Fendya.

Kedatangan rombongan disambut hangat oleh Kepala SMKN Jateng di Semarang Ardan Sirodjuddin, S.Pd., M.Pd., bersama jajaran manajemen dan para ketua jurusan. Penyambutan berlangsung di ruang AVA SMKN Jateng di Semarang dalam suasana penuh keakraban sekaligus semangat untuk membangun kolaborasi pendidikan vokasi yang lebih kuat.

Dalam sambutannya, General Manager TMMIN Oktavian Heru Bahari menyampaikan apresiasi atas sambutan yang diberikan SMKN Jateng di Semarang. Ia menjelaskan bahwa keberadaan AKTI tidak semata-mata diarahkan untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi teknis, tetapi juga memiliki misi sosial melalui pendidikan.

“Visi AKTI adalah membantu pemerintah mengentaskan kemiskinan lewat jalur pendidikan,” ujar Oktavian Heru Bahari.

Menurut Oktavian, pendidikan vokasi menjadi salah satu jalur strategis untuk membuka akses generasi muda terhadap pendidikan sekaligus meningkatkan peluang mereka memasuki dunia kerja. Karena itu, keterhubungan antara lembaga pendidikan dan industri menjadi bagian penting dalam membangun lulusan yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan lapangan.

AKTI merupakan perguruan tinggi vokasi yang didirikan oleh PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) pada 2015 di Karawang, Jawa Barat. AKTI berlokasi di Komplek KJIE (Karawang Jabar Industrial Estate), Telukjambe Barat, Kabupaten Karawang. Lembaga pendidikan tersebut memiliki program Diploma 1 (D1) Teknik Pemeliharaan Mesin Otomasi (TPMO) dan Diploma 2 (D2) Tata Operasi Perakitan Kendaraan Roda 4 (TOPKR4).

Salah satu keunggulan AKTI adalah penyediaan pendidikan secara penuh bagi mahasiswa terpilih. Program tersebut mencakup kuliah gratis 100 persen serta fasilitas asrama gratis. Sistem pembelajaran yang diterapkan juga dirancang memiliki keterhubungan langsung dengan standar industri manufaktur Toyota, sehingga mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga pengalaman dan budaya kerja yang dibutuhkan ketika memasuki industri.

Lulusan AKTI dipersiapkan untuk memiliki kesiapan kerja sehingga mampu beradaptasi dengan lingkungan industri. Konsep tersebut menjadi salah satu aspek yang menarik untuk dikembangkan bersama sekolah menengah kejuruan, terutama dalam menyiapkan peserta didik agar tidak mengalami kesenjangan ketika beralih dari lingkungan sekolah menuju dunia kerja.

Direktur AKTI Edy Susilo Darmawan menegaskan bahwa pihaknya ingin membangun kerja sama yang lebih erat dengan SMK. Menurutnya, sekolah memiliki pengalaman dan perspektif penting yang dapat menjadi masukan bagi AKTI, khususnya dalam upaya membangun budaya kerja sejak dari lingkungan pendidikan.

“AKTI ingin menjalin kerja sama dengan SMK. Kemitraan ini penting untuk mendapatkan masukan dari SMK, terutama dalam membangun budaya kerja,” kata Edy Susilo Darmawan.

Kunjungan tersebut sekaligus menjadi kunjungan kedua AKTI ke SMKN Jateng di Semarang. Kepala SMKN Jateng di Semarang Ardan Sirodjuddin mengapresiasi kepercayaan yang kembali diberikan AKTI kepada sekolahnya. Ia menilai kunjungan kedua tersebut menunjukkan adanya perhatian dan peluang kerja sama yang semakin kuat antara kedua lembaga.

“Kunjungan AKTI yang kedua kali ke SMKN Jateng di Semarang ini menunjukkan bahwa sekolah kami menjadi salah satu sekolah prioritas AKTI untuk menjalin kerja sama,” ujar Ardan.

Setelah rangkaian sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) antara Direktur AKTI Edy Susilo Darmawan dan Kepala SMKN Jateng di Semarang Ardan Sirodjuddin. Penandatanganan tersebut menjadi penanda resmi dimulainya penguatan kemitraan antara kedua institusi.

Kerja sama tidak berhenti pada penandatanganan dokumen. Agenda berikutnya diarahkan pada pembahasan yang lebih substantif, yakni membangun budaya industri di lingkungan sekolah. Diskusi tersebut dipimpin Section Head TMMIN Sutrisno dan diikuti oleh pihak SMKN Jateng di Semarang.

Pembahasan budaya industri menjadi penting karena kesiapan lulusan SMK tidak hanya ditentukan oleh penguasaan kompetensi teknis. Dunia industri juga membutuhkan tenaga kerja yang memiliki kedisiplinan, kemampuan bekerja dalam tim, kepatuhan terhadap prosedur, keselamatan kerja, kemampuan memecahkan masalah, kemampuan beradaptasi dengan teknologi, serta sikap profesional.

Diskusi tersebut juga merupakan kelanjutan dari proses yang telah dilakukan sebelumnya. Sehari sebelum kunjungan, AKTI telah melaksanakan pertemuan secara daring melalui Zoom bersama sejumlah sekolah mitra untuk mendapatkan masukan dalam penyusunan buku budaya industri. SMKN Jateng di Semarang menjadi salah satu sekolah yang memberikan perspektif dan masukan berdasarkan pengalaman penerapan budaya kerja di lingkungan sekolah.

Dalam kesempatan tersebut, Ardan memaparkan hasil pemetaan budaya kerja di SMKN Jateng di Semarang. Paparan itu memberikan gambaran mengenai aspek budaya kerja yang sudah relatif kuat sekaligus bagian yang masih membutuhkan penguatan agar semakin mendekati karakteristik dunia industri.

Hasil pemetaan menunjukkan bahwa sebagian besar aspek budaya kerja berada pada kategori Baik dan Sangat Baik. Aspek keselamatan atau safety menjadi komponen dengan capaian tertinggi, yakni 87,0 persen. Posisi berikutnya adalah disiplin dan ketepatan waktu sebesar 86,7 persen, kepatuhan terhadap SOP dan kualitas hasil kerja sebesar 82,6 persen, serta budaya 5R—Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, dan Rajin—sebesar 81,7 persen.

Sementara itu, aspek sikap profesional yang mencakup tanggung jawab, komunikasi, teamwork, dan integritas mencapai 80,4 persen. Kemampuan digital dan adaptasi teknologi berada pada angka 78,3 persen.

Namun, terdapat satu aspek yang menjadi perhatian utama, yaitu mindset Kaizen dan problem solving. Aspek tersebut memperoleh capaian 65,2 persen dan menjadi yang terendah dibandingkan aspek lainnya. Bahkan, sebanyak 30,4 persen responden masih menempatkannya pada kategori “Cukup”.

Temuan tersebut menjadi bahan penting dalam melihat kesenjangan atau gap antara budaya kerja di sekolah dan budaya kerja di industri. Hasil pemetaan menunjukkan bahwa 65,3 persen responden menilai kesenjangan budaya kerja antara lingkungan sekolah dan industri berada pada kategori Besar dan Sangat Besar.

Kesenjangan terbesar terlihat pada aspek disiplin dan problem solving yang mencapai 17,4 persen. Berikutnya adalah aspek 5R dan safety sebesar 13 persen, sedangkan kualitas dan etos kerja memiliki gap sebesar 10,9 persen.

Data tersebut menunjukkan bahwa penguatan budaya industri perlu dilakukan secara sistematis dan tidak cukup hanya melalui kegiatan pembelajaran di kelas. Budaya kerja perlu menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari warga sekolah sehingga peserta didik terbiasa menerapkan standar kerja yang akan mereka temui di dunia industri.

Dalam paparannya, SMKN Jateng di Semarang juga menyampaikan sejumlah rekomendasi strategis untuk menjembatani kesenjangan tersebut. Pertama, mengintegrasikan budaya 5R dan K3 atau keselamatan dan kesehatan kerja ke dalam kegiatan harian sekolah secara konsisten. Kedua, memperkuat pembelajaran berbasis proyek atau Project-Based Learning agar peserta didik terbiasa menghadapi persoalan nyata dan mencari solusi.

Ketiga, simulasi dunia kerja melalui Teaching Factory (TEFA) perlu terus dikembangkan sehingga peserta didik memperoleh pengalaman bekerja dengan suasana, prosedur, target, dan standar yang mendekati lingkungan industri. Keempat, penguatan soft skill dan ketangguhan mental atau resilience menjadi bagian penting untuk membentuk lulusan yang tidak mudah menyerah ketika menghadapi persoalan.

Kelima, literasi digital terapan juga perlu ditingkatkan agar peserta didik memiliki kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi yang berlangsung cepat di dunia industri.

Paparan SMKN Jateng di Semarang tersebut mendapat apresiasi dari pihak AKTI. Masukan yang disampaikan sekolah menjadi bahan penting bagi AKTI dalam menyusun dan mengembangkan buku budaya industri yang nantinya diharapkan dapat memberikan panduan bagi sekolah dalam membangun kebiasaan kerja peserta didik secara lebih terarah.

Kegiatan kunjungan dan penandatanganan MoU ini pada akhirnya tidak hanya menjadi seremoni kerja sama antara sekolah dan perguruan tinggi vokasi yang terhubung dengan industri. Lebih jauh, pertemuan tersebut menjadi ruang untuk menyamakan persepsi tentang kebutuhan lulusan masa depan.

Kemitraan antara SMKN Jateng di Semarang dan AKTI diharapkan mampu memperkuat ekosistem pendidikan vokasi yang menghubungkan sekolah, perguruan tinggi vokasi, dan industri. Dengan kolaborasi tersebut, proses pendidikan diharapkan semakin mampu membekali peserta didik dengan kompetensi teknis sekaligus karakter, budaya kerja, dan kemampuan adaptasi yang dibutuhkan untuk menghadapi dunia industri.

Bagi SMKN Jateng di Semarang, kunjungan AKTI menjadi momentum untuk terus melakukan refleksi dan perbaikan. Sementara bagi AKTI dan TMMIN, masukan dari sekolah menjadi bagian penting dalam memastikan pengembangan budaya industri tetap relevan dengan kondisi nyata pendidikan vokasi.

Pertemuan di ruang AVA SMKN Jateng di Semarang pada Rabu, 2 September 2026 itu pun menegaskan satu pesan penting: kemitraan sekolah dan industri bukan sekadar tentang penyerapan lulusan, tetapi tentang membangun budaya belajar dan budaya kerja sejak peserta didik berada di bangku sekolah.

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan