Jumat, 19-06-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Bukan Ceramah, Tapi Pelukan: Jalan Sunyi Guru PAI Humanis

Diterbitkan :

Di sebuah sekolah menengah kejuruan yang berdiri di tengah-tengah kawasan industri yang berdebu dan berisik oleh suara mesin, seorang guru Pendidikan Agama Islam memulai harinya bukan dari ruang guru, melainkan dari gerbang sekolah. Ia berdiri menyambut murid-murid satu per satu, dengan senyum dan sapa yang tak dibuat-buat. Wajahnya tak asing bagi para siswa, bukan hanya karena ia adalah guru, tetapi karena ia hadir sebagai manusia yang mereka percaya. Ia tidak memulai pertemuan pertama di kelas dengan hafalan ayat atau ceramah panjang. Ia memulainya dengan bertanya, “Apa yang membuatmu gelisah hari ini?” Atau kadang, “Ada yang ingin kamu tanyakan tentang hidupmu?”

Pertanyaan-pertanyaan ini bukan sekadar basa-basi. Ia tahu, di antara siswa-siswanya ada yang harus bekerja selepas pulang sekolah, ada yang mengurus adik karena orang tuanya tak lagi ada, dan ada pula yang sedang berjuang dengan luka batin yang tak tampak. Baginya, mengajar agama adalah mengajarkan bagaimana menghadapi hidup dengan iman, bukan sekadar membahas hukum dan dalil. Ia menolak untuk menjadi guru yang kaku. Ia menyadari bahwa tantangan terbesar mengajar PAI bukan sekadar membuat siswa hafal, melainkan menjadikan nilai-nilai agama hidup dan relevan. Maka ia membongkar metode konvensional dan membangun pendekatan baru: adaptif dan humanis. Ia tak ingin hanya bicara dari podium, tetapi ingin hadir di hati siswanya. Ia mengubah ruang kelas menjadi ruang dialog. Diskusi tentang makna sabar lebih sering dibuka lewat pengalaman sehari-hari siswa, bukan dari definisi buku. Ketika membahas syukur, ia mengajak mereka menonton video dokumenter tentang kehidupan anak-anak di daerah konflik, lalu berdiskusi.

Di sekolah itu, siswa tidak hanya datang dari satu latar belakang. Ada yang religius, ada yang sekuler, ada pula yang mempertanyakan keberadaan Tuhan. Guru ini tidak menghakimi. Ia mendengarkan semua suara dengan sabar. Ia tahu bahwa proses iman adalah perjalanan panjang, dan tugasnya adalah menjadi teman dalam perjalanan itu. Suatu hari, seorang siswa berkata, “Pak, saya tidak yakin Tuhan itu ada.” Bukannya marah, ia menjawab, “Itu awal yang baik, karena kamu sedang mencari. Mari kita cari bersama.” Ia tahu bahwa iman yang tumbuh dari pencarian akan lebih kokoh daripada yang ditelan mentah-mentah. Ia juga adaptif dalam cara mengajar. Ketika ia melihat siswa lebih banyak menghabiskan waktu di media sosial, ia tidak mencela, tetapi memanfaatkannya. Ia membuat akun Instagram khusus untuk kelas PAI, mengunggah kutipan ayat Al-Qur’an dengan desain grafis menarik, membuat video singkat tentang kisah nabi, bahkan membuka sesi tanya jawab melalui fitur story. Di TikTok, ia mengemas pelajaran akhlak dalam bentuk sketsa pendek yang lucu namun sarat makna. Siswa-siswanya menyambut antusias, bukan karena tugas, tetapi karena mereka merasa dilibatkan dan dimengerti.

Ketika pandemi melanda, dan sekolah dialihkan menjadi pembelajaran daring, banyak guru kesulitan beradaptasi. Tapi ia justru menjadikan momen ini untuk mendekat lebih dalam. Ia mengirimkan pesan pribadi ke siswa yang tidak aktif, bukan untuk menegur, tetapi untuk bertanya, “Kamu baik-baik saja? Ada yang bisa saya bantu?” Beberapa siswa mengaku bahwa mereka merasa lebih diperhatikan oleh guru PAI ini ketimbang keluarganya sendiri. Karena itu, meski dalam kondisi penuh keterbatasan, ia tetap menjadi jangkar emosional bagi murid-muridnya.

Guru ini juga tidak alergi pada kritik. Ia membuka ruang refleksi setiap akhir semester. Siswa diminta menilai dan memberi masukan untuk metode pembelajaran, bahkan menilai sikapnya sebagai guru. Ia tidak membela diri ketika ada kritik yang masuk. Ia merenungi, memperbaiki, dan mencoba lebih baik. Karena baginya, menjadi guru bukan soal sempurna, tapi terus tumbuh bersama murid-muridnya. Ia juga sadar bahwa pendidikan bukan hanya berlangsung di kelas. Ia aktif menemani anak-anak di kegiatan ekstrakurikuler, ikut dalam latihan hadrah, mendampingi saat mereka tampil di lomba dakwah, dan bahkan menjadi tempat curhat ketika siswa memiliki masalah pribadi. Ia tidak pernah berkata, “Itu bukan urusan saya.” Ia tahu, saat seorang siswa datang dan membuka hatinya, itu adalah kepercayaan yang tidak bisa disia-siakan.

Di antara kesibukan itu, ia tetap haus belajar. Ia mengikuti berbagai pelatihan daring tentang psikologi remaja, pendidikan berbasis nilai, bahkan mengambil kursus singkat tentang komunikasi non-kekerasan. Ia membaca banyak buku, tidak hanya buku agama, tapi juga sastra, filsafat, dan novel remaja. Ia ingin memahami dunia murid-muridnya. Ia ingin mengerti cara berpikir mereka, bahasa yang mereka gunakan, dan nilai-nilai yang mereka yakini. Sikap adaptifnya juga tampak dalam cara ia menilai. Ia tidak menjadikan ujian tulis sebagai satu-satunya penentu nilai. Ia membuka ruang untuk penilaian proyek, jurnal reflektif, bahkan diskusi kelompok. Ia percaya, pemahaman agama tidak selalu bisa diukur lewat angka, tetapi melalui perilaku, proses berpikir, dan kemampuan mengambil keputusan.

Satu hari, seorang siswi yang terkenal bandel di sekolah tiba-tiba aktif dalam kelas PAI. Ia sering mengajukan pertanyaan kritis dan mengikuti diskusi dengan semangat. Ketika ditanya mengapa, siswi itu menjawab, “Karena Ibu Guru satu-satunya yang melihat saya sebagai manusia, bukan masalah.” Jawaban itu menjadi cambuk sekaligus penguat. Bahwa metode adaptif dan pendekatan humanis bukan hanya teori, tapi kebutuhan.

Di dunia pendidikan yang kadang terlalu sibuk mengejar nilai UN, akreditasi, dan ranking, keberadaan guru seperti ini menjadi napas segar. Ia hadir bukan untuk menambah beban, tapi untuk meringankan. Ia bukan sekadar pengajar, tetapi penggugah. Ia tidak berdiri di atas muridnya, tapi berjalan bersama mereka. Ia tidak merasa lebih tahu, tapi selalu ingin tahu lebih banyak agar bisa lebih memahami. Ia tidak pernah merasa pekerjaannya selesai. Setiap hari ia belajar hal baru dari murid-muridnya. Ia mencatat di jurnal pribadinya tentang interaksi kecil yang mengubah cara pandangnya. Tentang siswa yang mengajarinya makna sabar, atau siswi yang membuatnya merenungi kembali pentingnya keikhlasan. Ia tahu, menjadi guru adalah proses belajar tiada henti. Ia tidak menolak perubahan. Bahkan ia menyambutnya. Ia percaya, agama adalah cahaya yang bisa menerangi zaman apapun, asal dibawa dengan cara yang tepat. Ia ingin menjadi pembawa cahaya itu, dengan bahasa yang bisa dipahami murid-muridnya, dan dengan hati yang bisa dirasakan. Ia tahu, tidak semua orang sepakat dengan caranya. Ada yang menganggap pendekatannya terlalu lembek. Ada pula yang menuduhnya melonggarkan nilai-nilai agama. Tapi ia tetap berjalan, karena ia tahu siapa yang ia layani: murid-murid yang sedang mencari arah, yang butuh dipeluk lebih dulu sebelum diajak berlari. Dan pelukan itu bukan berarti kompromi, melainkan titik awal dari kepercayaan.

Tahun demi tahun berlalu. Murid-muridnya lulus dan melangkah ke berbagai arah. Tapi banyak yang tetap kembali, sekadar untuk bercerita atau meminta nasihat. Karena bagi mereka, guru ini bukan hanya bagian dari masa sekolah, tapi bagian dari perjalanan hidup. Dan bagi guru itu sendiri, keberhasilan sejati bukanlah saat muridnya mendapat nilai 100, tapi saat mereka bisa menjalani hidup dengan penuh integritas dan iman. Ia tidak menunggu perubahan sistem pendidikan untuk berubah. Ia memilih untuk menjadi perubahan itu. Di ruang kelas, di lorong sekolah, di media sosial, dan di hati murid-muridnya, ia menyebarkan nilai-nilai agama dengan cara yang ramah, hangat, dan penuh cinta. Ia tahu, jalan yang ia tempuh tidak mudah. Tapi ia memilihnya, karena ia percaya bahwa pendidikan agama yang adaptif dan humanis bukan sekadar idealisme, melainkan kebutuhan zaman. Dan jika hari ini ia bisa menyelamatkan satu anak dari putus asa, mengembalikan satu jiwa pada cahaya, maka semua lelahnya tak sia-sia. Ia tidak pernah mengaku sebagai guru terbaik. Tapi ia berusaha menjadi guru yang benar-benar hadir. Dan mungkin, di zaman yang serba cepat dan serba instan ini, kehadiran yang utuh dan tulus adalah bentuk ajaran paling mendalam yang bisa diberikan seorang guru kepada muridnya.

Penulis : Ajeng Virga Sawitri Maro.S.Pd.,M.Pd, Guru SMK Negeri 1 Pringapus Kabupaten Semarang