Jumat, 19-06-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Guru SMKN Jateng di Semarang Rasakan Ketatnya Disiplin Boarding School Saat Diklat di BMTI Bandung

Diterbitkan : - Kategori : Balai Besar / Berita

BANDUNG, 19 Juni 2026 — Suasana berbeda dirasakan para guru Teknik Pemesinan dari SMKN Jawa Tengah di Semarang saat mengikuti program pendidikan dan pelatihan (diklat) Upskilling dan Reskilling di Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Bidang Mesin dan Teknik Industri (BBPPMPV BMTI), Bandung. Jika selama ini mereka berperan sebagai pamong yang membimbing sekaligus menanamkan kedisiplinan kepada siswa di lingkungan sekolah berasrama, kali ini posisi mereka berbalik. Para pendidik tersebut justru merasakan secara langsung kehidupan boarding school yang selama ini dijalani oleh para siswa mereka di Semarang.

Program diklat yang berlangsung di Bandung itu tidak hanya menghadirkan materi peningkatan kompetensi teknis di bidang pemesinan, tetapi juga membentuk pengalaman emosional yang mendalam bagi para peserta. Mereka dihadapkan pada ritme kehidupan yang disiplin, padat, dan terstruktur, mulai dari pagi hingga malam hari. Jadwal yang ketat menuntut para guru untuk menjaga kebugaran fisik, ketahanan mental, serta fokus selama mengikuti seluruh rangkaian pembelajaran.

Rutinitas harian para peserta dimulai sejak fajar. Saat sebagian orang mungkin masih terlelap, para guru sudah bangun untuk memulai aktivitas pagi. Hari mereka diawali dengan melaksanakan ibadah shalat subuh berjamaah di masjid kompleks BBPPMPV BMTI. Kegiatan spiritual tersebut menjadi fondasi awal sebelum mereka memasuki jadwal pembelajaran yang menuntut konsentrasi tinggi.

Usai menunaikan ibadah, para peserta tidak langsung kembali ke kamar. Mereka memanfaatkan fasilitas kebugaran yang tersedia di balai untuk berolahraga ringan di gym. Aktivitas fisik ini menjadi bagian penting dari rutinitas karena materi diklat yang dihadapi tidak hanya menuntut ketajaman berpikir, tetapi juga stamina prima untuk praktik di bengkel. Setelah berolahraga, para guru melanjutkan aktivitas mandiri seperti mandi dan bersiap sebelum berkumpul untuk sarapan pagi bersama di Bale Raos, kantin BBPPMPV BMTI yang menyediakan menu bergizi seimbang.

“Awalnya kami mengira yang berat hanya materi pelatihannya. Ternyata menjaga ritme aktivitas harian juga menjadi tantangan besar. Jadwalnya benar-benar padat dan menuntut disiplin tinggi,” ujar salah satu peserta diklat, seorang guru Teknik Pemesinan SMKN Jateng di Semarang.

Perjuangan intelektual sesungguhnya dimulai tepat pukul 08.00 WIB. Para guru memasuki ruang kelas dan bengkel untuk mengikuti sesi teori maupun praktik yang berlangsung intensif hingga sore hari. Materi yang diberikan mencakup penguatan kompetensi teknik pemesinan modern, pembaruan teknologi industri, hingga adaptasi terhadap kebutuhan dunia kerja yang terus berkembang.

Sepanjang proses pembelajaran, para peserta dituntut aktif memahami teori sekaligus mengaplikasikan keterampilan secara langsung di bengkel praktik. Aktivitas ini berlangsung hampir tanpa jeda panjang hingga pukul 17.15 WIB. Untuk menjaga stamina dan konsentrasi, panitia diklat menyediakan dua kali waktu rehat atau snack time, yakni pada pukul 10.00 WIB dan 15.00 WIB.

Momen istirahat singkat tersebut menjadi kesempatan berharga bagi para peserta untuk memulihkan energi. Di sela padatnya jadwal, mereka saling berbagi pengalaman, berdiskusi tentang materi, serta merefleksikan tantangan pembelajaran yang sedang dijalani.

“Di bengkel kami benar-benar dituntut fokus. Satu kesalahan kecil saat praktik bisa berpengaruh pada hasil kerja. Karena itu, fisik dan mental harus sama-sama siap,” kata peserta lainnya.

Namun rutinitas ketat tidak berhenti ketika kelas selesai. Selepas pembelajaran sore, para guru kembali ke asrama untuk membersihkan diri dan mempersiapkan aktivitas malam. Saat adzan maghrib berkumandang, mereka kembali berkumpul untuk shalat berjamaah sebelum menikmati makan malam bersama.

Menariknya, malam hari yang biasanya identik dengan waktu beristirahat ternyata belum menjadi akhir aktivitas. Layaknya para siswa SMKN Jateng di Semarang yang memiliki kewajiban belajar mandiri di malam hari, para guru juga menjalani pola serupa. Mereka memanfaatkan waktu malam untuk menyelesaikan tugas, menyusun laporan, mengerjakan proyeksi pembelajaran, serta mempersiapkan agenda praktik keesokan harinya.

Kedisiplinan dalam pengelolaan waktu menjadi aturan yang tidak bisa ditawar. Seluruh peserta diwajibkan beristirahat dan tidur tepat pukul 22.00 WIB agar kondisi tubuh tetap prima untuk menghadapi aktivitas padat keesokan hari.

Pengalaman menjalani kehidupan sebagai “murid asrama” ini memunculkan refleksi mendalam di kalangan peserta. Banyak di antara mereka mengaku baru benar-benar memahami tantangan yang selama ini dihadapi siswa saat hidup dalam sistem boarding school.

“Selama ini kami melihat siswa dari sudut pandang pendidik yang menuntut disiplin. Setelah menjalaninya sendiri, kami jadi lebih memahami bahwa anak-anak kami juga berjuang menghadapi rasa lelah, tekanan tugas, dan tuntutan kedisiplinan setiap hari,” ungkap salah satu guru.

Pengalaman tersebut menumbuhkan empati baru. Para guru menilai bahwa kedisiplinan bukan sekadar soal kepatuhan terhadap aturan, melainkan juga proses pembentukan karakter yang membutuhkan dukungan emosional dari lingkungan pendidikan.

Bagi para peserta, program diklat ini memberi nilai lebih dari sekadar peningkatan kompetensi teknis. Mereka tidak hanya pulang membawa pembaruan ilmu tentang teknik pemesinan dan perkembangan industri manufaktur, tetapi juga membawa pemahaman baru mengenai pentingnya pendekatan yang lebih manusiawi dalam mendampingi siswa.

Kepala rombongan peserta menilai pengalaman di BBPPMPV BMTI menjadi bekal berharga untuk diterapkan di sekolah. Menurutnya, guru yang memahami perjuangan siswa secara langsung akan lebih adaptif dalam merancang pola pembelajaran dan pembinaan karakter.

“Diklat ini membuka perspektif kami. Kompetensi teknis memang penting, tetapi kemampuan memahami kondisi peserta didik juga tidak kalah penting. Guru masa depan harus adaptif, visioner, dan mampu membangun kedekatan emosional dengan siswa,” tuturnya.

Melalui pengalaman di Bandung, para guru Teknik Pemesinan kini membawa pulang lebih dari sekadar sertifikat pelatihan. Mereka membawa cerita, empati, dan perspektif baru tentang pendidikan berasrama. Di tengah perkembangan teknologi industri yang semakin cepat, pembaruan kompetensi tetap menjadi kebutuhan utama. Namun di balik itu, penguatan karakter pendidik menjadi fondasi penting agar proses pembelajaran tidak hanya mencetak lulusan yang terampil, tetapi juga manusia yang tangguh, disiplin, dan berdaya saing.

Penulis           : Riska Eko Cahyono, S.Pd. Guru Teknik Pemesinan

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan