Gerakan Ayah Mengambil Rapor (GEMAR) hadir dengan semangat yang mulia. Ia lahir dari kepedulian terhadap peran ayah dalam pendidikan anak, yang selama ini sering kali lebih banyak dibebankan kepada ibu. Melalui gerakan ini, sekolah dan masyarakat diajak untuk menghadirkan ayah secara lebih nyata dalam proses pendidikan, dimulai dari hal sederhana: hadir saat pengambilan rapor.
Dari sisi pro, GEMAR membawa pesan kuat tentang pentingnya keterlibatan ayah. Kehadiran ayah saat mengambil rapor bukan sekadar simbol formal, melainkan bentuk perhatian dan tanggung jawab. Anak merasa dihargai, diperhatikan, dan didampingi oleh figur ayahnya. Bagi sekolah, GEMAR menjadi momentum untuk membangun komunikasi yang lebih seimbang antara pihak sekolah dengan kedua orang tua, tidak hanya ibu.
GEMAR juga mendorong perubahan budaya. Selama ini, urusan sekolah sering dianggap sebagai wilayah ibu. Dengan adanya gerakan ini, ayah diajak keluar dari sekat peran tradisional dan lebih aktif memahami perkembangan akademik, sikap, serta potensi anak. Dalam jangka panjang, keterlibatan ini diharapkan mampu memperkuat sinergi antara keluarga dan sekolah.
Namun, di sisi lain, kontra terhadap GEMAR juga muncul dan patut dipahami. Tidak semua ayah memiliki kesempatan yang sama untuk hadir. Faktor pekerjaan, jarak, jam kerja yang kaku, atau kondisi tertentu membuat sebagian ayah sulit meninggalkan tanggung jawabnya. Ketika GEMAR dipahami secara kaku, ia berpotensi menimbulkan rasa bersalah, bahkan tekanan bagi keluarga yang tidak dapat memenuhinya.
Ada pula kekhawatiran bahwa GEMAR dapat berubah menjadi formalitas semata. Ayah hadir mengambil rapor, tetapi keterlibatan selanjutnya minim. Jika tidak disertai pemahaman dan komunikasi yang berkelanjutan, kehadiran fisik semata belum tentu berdampak signifikan pada perkembangan anak. Di sinilah pentingnya memaknai GEMAR sebagai awal keterlibatan, bukan tujuan akhir.
Dari sudut pandang guru, GEMAR adalah peluang sekaligus tantangan. Peluang untuk memperluas peran orang tua dalam pendidikan, namun juga tantangan dalam menjaga empati dan keadilan. Guru perlu memahami latar belakang keluarga yang beragam, agar gerakan ini tidak berubah menjadi penilaian sosial terselubung terhadap orang tua.
Pada akhirnya, GEMAR seharusnya dimaknai sebagai ajakan, bukan kewajiban mutlak. Esensinya bukan pada siapa yang datang, melainkan pada hadirnya kepedulian orang tua, baik ayah maupun ibu, terhadap proses belajar anak. Keterlibatan ayah penting, namun ditempatkan dalam konteks yang manusiawi, fleksibel, dan saling memahami.
Kami sebagai guru memahami betul niat baik dari setiap gerakan yang bertujuan menguatkan peran keluarga dalam pendidikan anak. Termasuk Gerakan Ayah Mengambil Rapor. Di atas kertas, gagasan ini indah: ayah hadir, ayah peduli, ayah terlibat. Sebuah pesan kuat tentang tanggung jawab bersama dalam mendampingi tumbuh kembang anak. Kehadiran ayah di sekolah saat pembagian rapor diharapkan menjadi simbol keterlibatan, kepedulian, dan tanggung jawab bersama. Pesan yang ingin disampaikan jelas: Pendidikan bukan hanya urusan ibu, tetapi juga peran ayah.
Di banyak kesempatan saya melihat senyum bangga anak-anak ketika ayah mereka datang ke sekolah. Ada mata yang berbinar, langkah yang lebih tegap, dan rasa percaya diri yang tumbuh karena merasa diperhatikan. Dari sisi ini, gerakan tersebut patut diapresiasi.
Namun, sebagai manusia dan guru yang setiap hari berhadapan dengan beragam latar belakang kehidupan anak, hal ini tidak bisa hanya berhenti pada konsep.
Di balik barisan orang tua yang datang ke sekolah, ada sebagian anak–anak memilih diam. Tatapan mereka tidak kosong, hanya lebih dalam. Ada yang menunduk, ada yang memeluk rapor erat-erat tanpa banyak bicara. Bukan karena mereka tidak bangga, melainkan karena figur yang disebut-sebut hari itu sudah lama tak bisa lagi digandeng ke sekolah, atau karena ayah yang diharapkan hadir, sudah lebih dulu berpulang. Dan di rumah, sering kali ada seorang ibu yang berdiri sendirian menjadi dua peran sekaligus, tanpa banyak suara.
Sebagian dari mereka telah lama berdamai dengan kenyataan itu, namun momen seperti pembagian rapor seringkali membuka kembali ruang sunyi yang tak terlihat. Ketika sekolah terlalu menonjolkan satu figur, tanpa sadar bisa membuat anak merasa “berbeda”, padahal kehilangan bukanlah pilihan.
Sebagai guru, saya sering bertanya pada diri sendiri: Apakah semangat keterlibatan orang tua harus selalu diwujudkan dalam satu bentuk yang sama? Apakah kehadiran ayah harus menjadi ukuran kepedulian keluarga? Saya menulis ini bukan sebagai penolakan, melainkan sebagai bentuk ikut merasakan.
Sebab saya tahu rasanya menyimpan kehilangan sambil tetap harus kuat. Menjadi tempat bertanya, tempat bersandar, sekaligus tempat pulang bagi anak-anak. Saya tahu rasanya menjelaskan dengan bahasa sederhana mengapa ayah tidak bisa hadir, lalu diam-diam menata air mata sendiri agar anak tidak melihat rapuh itu.
Saya percaya, pendidikan seharusnya menjadi ruang yang memeluk semua kondisi, bukan hanya yang ideal di atas kertas. Ada anak yang diasuh ibu seorang diri, ada yang tumbuh bersama kakek-nenek, ada yang belajar kuat sejak kecil karena kehilangan lebih awal. Mereka semua berhak merasa utuh dan dihargai.
Ayah boleh hadir, sangat boleh. Namun ketika ayah tak lagi ada, cinta dan tanggung jawab keluarga tetap hidup dalam bentuk lain.
Sebagai guru, tugas kami bukan hanya mencatat nilai dan capaian, tetapi juga menjaga perasaan anak-anak agar sekolah tetap menjadi tempat yang aman, bukan ruang memori dan tempat yang mengingatkan mereka pada apa yang telah hilang dan sebagai sesuatu yang tak bisa lagi dihadirkan.
Saya membayangkan perasaan seorang anak yang mendengar ajakan “Ayah datang ke sekolah”, sementara di rumah, foto ayah hanya tinggal bingkai. Atau seorang anak yang pulang membawa rapor kepada ibunya, lalu bertanya lirih, “Bunda, aku nggak apa-apa kan cuma sama Bunda?”
Pertanyaan seperti itulah yang tidak pernah tercatat dalam rapor.
Saya percaya, anak-anak yang tumbuh dengan orang tua tunggal bukan anak yang kurang. Mereka hanya belajar dewasa lebih cepat. Mereka belajar kuat lebih awal. Dan mereka sangat peka terhadap cara dunia memperlakukan kisah hidup mereka.
Lapangkan dada para ibu yang berjalan sendirian, yang menua dalam diam, yang menggengam dua peran sekaligus tanpa tepuk tangan. Percayalah, kalian tidak sendiri. Setiap senyum yang mereka bawa ke sekolah adalah hasil dari malam-malam panjang yang kau lewati sendiri.
Dan untuk anak-anak kami, teruslah belajar dengan gembira. Jangan biarkan perbedaan cerita hidup mengurangi keberanian untuk bermimpi. Setiap dari kalian berharga. Setiap dari kalian memiliki masa depan, dan setiap dari kalian berhak tumbuh dengan rasa aman dan dihargai.
Semoga sekolah senantiasa menjadi ruang yang ramah, tempat anak-anak belajar bukan hanya tentang ilmu, tetapi juga tentang empati, saling memahami, dan saling menguatkan.
Dan bagi saya, sebagai guru dan sekaligus ibu, itulah nilai tertinggi dari sebuah pendidikan.
Gerakan Ayah Mengambil Rapor mengingatkan kita bahwa pendidikan anak adalah tanggung jawab bersama. Kehadiran ayah di sekolah menjadi simbol keterlibatan, kepedulian, dan dukungan moral bagi anak-anak dalam proses belajarnya. Sehingga anak merasa diperhatikan, dihargai, dan didampingi.
Pada saat yang sama, gerakan ini juga mengajarkan kita untuk berempati. Tidak semua anak memiliki kondisi keluarga yang sama. Oleh karena itu perlu dimaknai secara inklusif. Keterlibatan orang tua dapat hadir dalam berbagai bentuk, dan setiap keluarga memiliki cara masing-masing dalam mendukung pendidikan anak.
Karena pada akhirnya, pendidikan bukan sekadar tentang siapa yang datang mengambil rapor, tetapi tentang bagaimana sekolah menghormati setiap cerita kehidupan yang dibawa anak-anak ke dalam kelas.
Sekolah harus mampu memeluk semua cerita. Termasuk cerita-cerita lirih yang tidak selalu tampak, tetapi sangat nyata di hati anak-anak. Sebab cinta orang tua hadir dalam banyak bentuk dan tidak selalu lengkap secara fisik, tetapi seringkali sangat utuh secara pengorbanan.
Gantikan pelukan yang telah hilang dengan ketenangan di hati mereka. Kuatkan langkah kecil mereka agar tetap ringan, agar kehilangan tidak menjadikan mereka kurang, dan agar dunia tetap ramah pada masa kanak-kanak mereka. Dukungan, doa, dan kasih sayang keluarga tetap hadir melalui ibu, wali, dan lingkungan sekolah.
Setiap usaha, prestasi, dan langkah kecil anak akan tetap diapresiasi, karena keberhasilan tidak ditentukan oleh siapa yang hadir mengambil rapor, melainkan oleh semangat belajar dan ketekunan yang terus dijaga.
Semoga semangat kebersamaan yang terbangun melalui gerakan ini dapat terus memperkuat sinergi antara sekolah dan keluarga. Dengan saling memahami dan saling mendukung, kami percaya setiap anak dapat tumbuh, belajar, dan meraih masa depan terbaiknya sesuai dengan potensi masing-masing.
Penulis: Anna Krisnawati, S.Pd, Guru IPS SMP Negeri 2 Ajibarang
