Semarang – Komitmen membangun karakter peserta didik tidak hanya diwujudkan melalui kegiatan belajar mengajar di ruang kelas, tetapi juga melalui pembiasaan ibadah yang menjadi bagian dari pendidikan karakter. Hal itulah yang secara konsisten dilakukan SMKN Jawa Tengah di Semarang dengan menggelar Sholat Jumat berjamaah di Masjid Baitul Ilmi setiap pekan. Kegiatan yang berlangsung pada Jumat (31/7/2026) tersebut menjadi salah satu implementasi nyata program 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7 KAIH) yang diinisiasi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, khususnya pada kebiasaan kedua, yaitu beribadah.
Program 7 KAIH merupakan gerakan pembentukan karakter yang menanamkan tujuh kebiasaan positif kepada anak Indonesia, yakni bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, serta tidur lebih awal. Melalui pembiasaan tersebut, pemerintah berharap lahir generasi Indonesia yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat, disiplin, berintegritas, serta berlandaskan nilai-nilai spiritual.
Di lingkungan SMKN Jawa Tengah Semarang, kebiasaan beribadah diwujudkan melalui pelaksanaan Sholat Jumat berjamaah yang diikuti seluruh warga sekolah laki-laki. Kegiatan ini menjadi bagian dari pembiasaan untuk memperkuat fondasi keimanan, membentuk kedisiplinan menjalankan ibadah tepat waktu, sekaligus menanamkan nilai-nilai akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari.
Bertindak sebagai khotib pada kesempatan tersebut adalah Sugito, S.Ag. Dalam khutbahnya, ia mengajak seluruh peserta didik meneladani sifat-sifat luhur Nabi Muhammad SAW yang menjadi pedoman hidup setiap muslim. Menurutnya, keberhasilan seseorang tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan akademik, tetapi juga oleh kemuliaan akhlaknya.
Sugito menjelaskan bahwa Rasulullah SAW memiliki empat sifat utama yang wajib diteladani oleh seluruh umat Islam, terutama para pelajar sebagai generasi penerus bangsa. Keempat sifat tersebut adalah shiddiq, amanah, tabligh, dan fathonah.
Ia menerangkan bahwa shiddiq berarti jujur dalam setiap perkataan maupun perbuatan. Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai sosok yang selalu berkata benar dan tidak pernah berdusta. Bahkan jauh sebelum diangkat menjadi rasul, masyarakat Makkah telah memberikan gelar Al-Amin, yang berarti orang yang dapat dipercaya, karena kejujuran dan integritasnya.
“Kejujuran adalah pondasi utama dalam kehidupan seorang muslim. Pelajar harus membiasakan diri berkata benar, tidak mencontek, tidak memanipulasi nilai, dan selalu bertanggung jawab atas apa yang dilakukan. Orang yang jujur akan mendapatkan kepercayaan dari orang lain sebagaimana Rasulullah mendapat julukan Al-Amin,” ujar Sugito dalam khutbahnya.
Sifat kedua adalah amanah, yakni dapat dipercaya dalam menjalankan setiap tugas dan tanggung jawab. Menurut Sugito, seorang pelajar harus mampu menjaga kepercayaan yang diberikan guru, orang tua, maupun teman. Amanah juga berarti menepati janji serta menjaga segala bentuk titipan dengan sebaik-baiknya.
“Menjadi pelajar yang amanah berarti mampu melaksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab, menepati janji, serta menjaga kepercayaan yang diberikan kepada kita. Kepercayaan adalah modal besar dalam kehidupan,” tuturnya.
Selanjutnya, Sugito menjelaskan makna tabligh, yaitu menyampaikan kebenaran. Rasulullah SAW tidak pernah menyembunyikan wahyu maupun ajaran Islam meskipun menghadapi berbagai tantangan. Nilai tersebut, kata dia, dapat diterapkan siswa dengan berani menyampaikan kebenaran, saling mengingatkan dalam kebaikan, serta tidak takut mengatakan hal yang benar dengan cara yang santun.
“Pelajar hendaknya menjadi pribadi yang berani menyampaikan kebenaran, mengajak teman kepada hal-hal yang baik, dan tidak diam ketika melihat sesuatu yang keliru, tentu dengan cara yang bijaksana dan penuh adab,” katanya.
Sifat terakhir adalah fathonah, yakni cerdas dan bijaksana. Rasulullah SAW memiliki kecerdasan intelektual sekaligus spiritual sehingga mampu mengambil keputusan terbaik dalam berbagai situasi. Sugito menegaskan bahwa kecerdasan yang dimiliki peserta didik hendaknya tidak hanya digunakan untuk meraih prestasi akademik, tetapi juga untuk memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.
“Kecerdasan harus dibarengi kebijaksanaan. Jadilah pelajar yang rajin belajar, berpikir kritis, mampu menyelesaikan masalah, sekaligus memiliki akhlak yang baik. Itulah kecerdasan yang dicontohkan Rasulullah SAW,” jelasnya.
Khutbah tersebut mendapat perhatian serius dari para siswa yang mengikuti rangkaian ibadah dengan khusyuk. Pesan-pesan moral yang disampaikan diharapkan tidak berhenti sebagai materi ceramah semata, melainkan menjadi bekal dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah, keluarga, maupun masyarakat.
Pelaksanaan Sholat Jumat berjamaah di SMKN Jawa Tengah Semarang sekaligus memperkuat implementasi tema beribadah dalam program 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Pembiasaan ibadah secara rutin menjadi sarana efektif untuk menanamkan nilai keimanan, membangun kejujuran, melatih kedisiplinan menjalankan ibadah tepat waktu, serta membiasakan peserta didik senantiasa mengingat Allah SWT melalui doa dan amal saleh.
Melalui kegiatan keagamaan yang dilakukan secara berkesinambungan, sekolah tidak hanya membentuk lulusan yang kompeten di bidang keahlian, tetapi juga melahirkan generasi yang memiliki karakter kuat, berintegritas, serta menjunjung tinggi nilai-nilai akhlak mulia. Semangat inilah yang selaras dengan tujuan besar program 7 KAIH, yakni membentuk anak-anak Indonesia yang unggul, berdaya saing, dan memiliki spiritualitas yang kokoh sebagai bekal menghadapi tantangan masa depan.

Beri Komentar