Kurang lebih dua puluh tujuh tahun yang lalu, untuk pertama kalinya saya dipanggil Pak Guru oleh anak-anak, rekan kerja, dan orang-orang di sekitar saya. Panggilan yang terdengar sederhana itu justru menghadirkan getaran besar di dalam hati. Dari situlah muncul dorongan yang kuat bahwa saya harus mulai menata hati, perilaku, pikiran, dan perasaan agar panggilan itu tidak membuat siapa pun kecewa. Saya merasa harus menjaga langkah, menimbang setiap keputusan, dan berusaha menampilkan sikap terbaik karena saya adalah sosok yang akan dilihat, dinilai, bahkan ditiru. “Kamu seorang guru, jadi bersikaplah baik dan dewasa,” begitu suara dalam diri saya terus mengingatkan. Sejak itu saya sadar bahwa menjadi guru bukan hanya sebuah profesi, tetapi sebuah amanah yang melekat pada setiap ucapan, tindakan, dan pandangan hidup.
Guru, dalam pepatah lama, sering diibaratkan sebagai sosok yang digugu lan ditiru—dipercaya ucapan serta diteladani tingkah lakunya. Pepatah itu bukan sekadar rangkaian kata yang indah, melainkan cerminan utuh tentang bagaimana masyarakat memaknai kehadiran guru sejak dulu: penjaga moral, penyampai ilmu, sekaligus pembimbing kehidupan. Dari ruang kelas sederhana beralas keramik yang mulai kusam hingga bangunan sekolah modern yang penuh perangkat digital, guru selalu memegang peran penting dalam membentuk karakter generasi bangsa. Waktu boleh berubah, teknologi boleh berkembang, tetapi nilai yang melekat pada guru tetaplah besar. Ia adalah lentera yang dari dulu hingga kini menerangi jalan bagi banyak jiwa yang sedang bertumbuh.
Namun, sebagaimana kehidupan yang terus bergerak, riwayat guru juga tak pernah berhenti di satu titik. Ia tidak stagnan, tidak identik hanya dengan kapur, papan tulis, dan buku catatan seperti masa lalu. Di tahun 2025, ketika dunia berputar lebih cepat daripada cara kita memahaminya, guru berada pada babak baru dalam perjalanan hidupnya. Babak yang penuh tantangan, tetapi juga dipenuhi peluang emas untuk memberi makna lebih dalam terhadap profesi yang tak pernah kehilangan keluhuran ini. Momentum Hari Guru Nasional dan HUT PGRI tahun ini menjadi ruang yang tepat bagi kita untuk menengok kembali riwayat guru, dulu dan kini, sambil bertanya: “Ke mana langkah profesi ini akan menuju esok hari?”
Pada masa lalu, guru menempati posisi yang sangat istimewa di mata masyarakat. Ia dianggap sebagai orang yang serba tahu dan bisa diandalkan. Masyarakat tidak hanya menghormatinya karena ilmunya, tetapi juga karena sikapnya yang bijak dan kemampuannya menjadi tempat bertanya. Banyak yang datang kepada guru bukan hanya untuk belajar pelajaran sekolah, melainkan untuk meminta nasihat tentang kehidupan, mencari petunjuk moral, atau mengutarakan kegelisahan hati. Guru adalah sosok tempat bersandar sekaligus tempat menemukan cahaya di tengah gelapnya persoalan.
Namun waktu berjalan dan masyarakat ikut berubah. Akses terhadap informasi semakin terbuka, pendidikan semakin meluas, dan dunia dipenuhi perbandingan yang membuat standar menjadi lebih tinggi. Guru tidak lagi menjadi satu-satunya pusat pengetahuan. Anak-anak dapat mempelajari konsep rumit melalui video, menganalisis fenomena melalui platform belajar, atau bahkan memperoleh pemahaman baru hanya melalui search engine dalam hitungan detik. Masyarakat pun menumbuhkan ekspektasi baru: guru tidak hanya dituntut pintar mengajar, tetapi juga kreatif, komunikatif, melek teknologi, adaptif, dan mampu menjawab kebutuhan generasi yang sehari-harinya hidup dalam dunia digital. Singkatnya, guru dituntut menjadi sosok yang lebih mumpuni dari sebelumnya.
Tentu saja, ekspektasi ini kadang terasa berat. Ada guru yang merasa tertinggal dan kesulitan mengikuti perkembangan teknologi atau pola belajar baru. Namun tidak sedikit pula guru yang justru memandang perubahan ini sebagai motivasi. Mereka belajar hal-hal baru dengan semangat yang sama seperti saat murid mereka mempelajari pelajaran pertama. Mereka mengikuti pelatihan, mencoba platform digital, dan bahkan tak ragu bertanya kepada murid yang lebih paham teknologi. Di sinilah keindahan baru dalam riwayat guru terlihat: keterbukaan untuk terus belajar meski usia sudah tidak muda, semangat untuk terus berkembang meski pengalaman telah panjang.
Era digital telah mengubah peta pendidikan secara drastis. Pembelajaran kini tidak lagi terbatas oleh dinding kelas atau jadwal tetap. Banyak murid mempelajari konsep melalui video tutorial, menggunakan aplikasi pembelajaran interaktif, bahkan mengeksplorasi kecerdasan buatan untuk membantu memahami materi. Guru kini harus berperan sebagai penjaga arah, bukan lagi satu-satunya sumber informasi. Jika dahulu guru adalah “sumber utama” ilmu, kini guru harus menjadi kompas yang memastikan bahwa murid tidak tersesat dalam derasnya arus informasi. Guru harus mengajarkan cara berpikir kritis, bukan hanya cara mengingat. Mengarahkan dengan empati, bukan mendikte. Menginspirasi, bukan sekadar memberi tugas. Di tengah layar yang semakin terang, peran guru menjadi cahaya yang menuntun agar murid tetap mampu membedakan mana informasi yang benar, mana yang sekadar ilusi.
Di era digital ini pula, guru dituntut menjadi sosok yang menarik dan inovatif. Banyak guru mulai membuat konten edukatif, mengajak murid membuat proyek kreatif, atau memanfaatkan permainan digital untuk pembelajaran yang lebih menyenangkan. Ada kelas yang berubah menjadi ruang dialog terbuka, tempat murid bebas mengemukakan ide dan melatih keberanian berpikir kritis. Semua itu menandakan satu hal: guru harus berani keluar dari zona nyaman.
Namun perjalanan guru tidak pernah benar-benar mudah. Di balik senyum hangat yang dibagikan kepada murid, ada lelah yang tak selalu terlihat. Ada guru yang bangun lebih pagi untuk menyiapkan materi, ada yang pulang lebih malam karena menuntaskan administrasi, dan ada pula yang memperjuangkan akses pendidikan di daerah yang sulit jaringan. Tantangan ini sering tidak terlihat oleh masyarakat, namun guru tetap melangkah karena panggilan hatinya lebih besar daripada rasa lelahnya.
Perubahan sosial juga menghadirkan tantangan tersendiri. Karakter murid saat ini berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka tumbuh dalam budaya serba cepat, dengan banyak distraksi, dan cenderung menginginkan segala sesuatu berjalan instan. Pendekatan mengajar pun harus berubah: lebih fleksibel, komunikatif, dan relevan dengan kehidupan mereka. Guru dituntut untuk memahami dunia murid yang penuh warna, mulai dari media sosial hingga perkembangan teknologi terbaru. Di tengah tuntutan itu, kadang guru dianggap harus sempurna, tetapi sejatinya guru tetap manusia—bisa salah, bisa ragu, dan bisa terluka.
Namun justru di situlah letak nilai perjalanan seorang guru. Perjalanan yang penuh liku, penuh usaha, dan penuh pengabdian. Perjalanan yang tidak mulus, tetapi justru karena tidak mulus itulah ia menjadi begitu bermakna.
Maka di penutup tulisan ini, izinkan saya menyampaikan bahwa riwayat guru kini mungkin tidak lagi sama seperti dahulu. Tetapi nilai pengabdian dan inspirasi yang mereka bawa tidak pernah surut—justru semakin bertambah. Hari ini mungkin murid tidak mengingat semua kata-kata atau tindakan kecil seorang guru, tetapi suatu hari nanti mereka akan sadar bahwa guru adalah bagian penting dalam pembentukan karakter mereka. Guru adalah penerang yang menuntun generasi, meski kini pelitanya berdampingan dengan cahaya digital. Guru tetap teladan yang digugu dan ditiru, meski bentuk keteladanan itu terus berkembang mengikuti zaman. Guru tetap inspirasi, meski tantangan di hadapannya kian kompleks.
Selamat Hari Guru.
Teruslah berkarya.
Senyummu adalah harapan besar untuk bangsa ini.
Semoga riwayatmu, kini dan nanti, selalu menjadi cerita indah bagi tanah air tercinta.
I love you, guruku.
Catatan Ringan di Hari Guru Nasional dan HUT PGRI 2025
Penulis : Sairan, S.Pd. Kepala SMP Negeri 2 Ajibarang
