Menulis geguritan sering dianggap sebagai tugas yang cukup menantang bagi banyak siswa, terutama ketika proses kreatifnya tidak mengalir dengan alami. Bagi sebagian besar dari mereka, kegiatan ini berubah menjadi momok karena terasa jauh dari pengalaman emosional yang mereka miliki. Apa yang seharusnya menjadi ajang ekspresi justru berubah menjadi beban, sebuah rutinitas yang harus diselesaikan tanpa benar-benar dirasakan. Ketika geguritan dikerjakan hanya demi memenuhi kewajiban, maka kata-kata yang lahir pun cenderung hambar, kehilangan nyawa, dan jauh dari makna personal. Dalam konteks inilah muncul persoalan penting: keterputusan antara emosi siswa dan proses kreatif yang seharusnya menjadi jantung dari penulisan geguritan. Artikel ini mencoba menelusuri tantangan klasik yang sering dihadapi siswa serta menghadirkan solusi inovatif berbasis Pendekatan Sosial-Emosional atau Social-Emotional Learning (SEL), yang di Indonesia dapat diterjemahkan sebagai Pendekatan Sosial-Emosional (PSE).
Tantangan pertama yang kerap dialami siswa adalah kekeringan ide. Saat diminta menulis geguritan, banyak dari mereka secara otomatis kembali pada tema-tema yang sudah terlalu sering digunakan seperti alam, persahabatan, atau kerinduan yang dituliskan dalam pola yang itu-itu saja. Bukan berarti tema tersebut tidak layak, tetapi sering kali pemilihan topik tersebut dilakukan bukan karena tumbuh dari pengalaman personal, melainkan karena dianggap aman dan mudah. Akibatnya, geguritan terasa dangkal dan tidak memiliki kedalaman emosional. Siswa menuliskan apa yang mereka pikir guru ingin lihat, bukan apa yang sebenarnya mereka rasakan. Kondisi ini menciptakan jarak antara penulis dan karyanya, sehingga geguritan kehilangan esensi sebagai wadah ekspresi batin.
Di sisi lain, hambatan bahasa sering turut memperlebar jurang tersebut. Diksi Jawa yang merupakan elemen penting dalam geguritan sering dianggap kuno, berat, atau terlalu formal bagi sebagian siswa. Mereka merasa kata-kata itu tidak lagi relevan dengan kehidupan sehari-hari, sehingga geguritan sulit dianggap sebagai medium yang hidup dan dekat dengan diri. Ketika bahasa dirasakan asing, maka emosi pun sulit dituangkan secara jujur. Pada akhirnya, geguritan berubah menjadi sesuatu yang jauh dari konteks personal dan lebih menyerupai tugas bahasa yang harus dipenuhi.
Selain itu, kecemasan untuk berbagi karya juga menjadi faktor yang tak dapat diabaikan. Siswa sering merasa takut membuka dirinya di depan kelas, terutama ketika geguritan yang ditulis berisi perasaan yang sangat personal. Membacakan karya sendiri bisa menjadi pengalaman yang rentan karena mereka merasa seperti memperlihatkan sisi terdalam diri kepada orang lain. Tanpa adanya ruang aman untuk mengekspresikan perasaan, siswa cenderung memilih untuk menulis sesuatu yang netral dan tidak terlalu menyentuh kehidupan pribadi mereka. Ketakutan inilah yang semakin menjauhkan mereka dari keberanian untuk berkarya secara autentik dan jujur.
Dari seluruh persoalan tersebut, akar masalahnya tampak jelas: kurangnya keterhubungan antara emosi siswa dan proses kreatif menulis geguritan. Ketika fokus pembelajaran terlalu menekankan aturan teknis seperti rima, diksi, atau struktur, siswa mulai kehilangan rasa. Kreativitas yang seharusnya menjadi proses alami berubah menjadi prosedur yang kaku. Padahal, menulis geguritan bukan hanya soal menyusun kata-kata indah, tetapi juga tentang mengenali, merasakan, dan mengungkapkan emosi secara mendalam. Tanpa jembatan yang menghubungkan emosi dan kreativitas, hasil karya pun sulit berkembang secara optimal.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Pendekatan Sosial-Emosional (PSE) dapat menjadi fondasi baru dalam proses pembelajaran menulis geguritan. PSE menekankan pentingnya memahami dan mengelola emosi, membangun empati, serta menciptakan hubungan sosial yang sehat. Dalam konteks menulis geguritan, pendekatan ini membantu siswa untuk lebih terhubung dengan dunia batin mereka sebelum menuangkannya ke dalam kata-kata. Proses penulisan pun menjadi lebih personal, reflektif, dan bermakna. Ada tiga tahap penting dalam penerapan pendekatan ini, masing-masing memberikan ruang bagi siswa untuk merasakan, mengolah, dan mengekspresikan emosi secara lebih autentik.
Tahap pertama adalah tahap pengenalan emosi. Siswa dapat diarahkan untuk menulis jurnal emosi singkat setiap hari sebagai latihan kesadaran diri. Jurnal ini tidak harus panjang, cukup beberapa kalimat tentang perasaan yang paling dominan mereka rasakan hari itu. Selain jurnal, guru juga dapat memanfaatkan peta emosi sebagai alat visual untuk membantu siswa mengidentifikasi nuansa perasaan dengan lebih spesifik—apakah mereka sedang cemas, antusias, kecewa, atau mungkin campuran dari beberapa emosi sekaligus. Dengan mengenali emosi terlebih dahulu, siswa menjadi lebih siap dan lebih dekat dengan sumber inspirasi internal sebelum mulai menulis geguritan.
Tahap kedua adalah tahap ekspresi, di mana siswa diajak menulis geguritan bukan berdasarkan tema klise, melainkan berdasarkan emosi yang mereka rasakan. Instruksi penulisan bisa berfokus pada pertanyaan seperti: “Jika rasa cemasmu punya warna, warna apa itu?” atau “Bagaimana rupa kesepian jika ia menjadi suatu pemandangan?” Pendekatan seperti ini membuka ruang imajinasi yang lebih luas sekaligus mempertahankan kejujuran rasa. Pada tahap ini pula, siswa diberi kebebasan penuh dalam penggunaan diksi. Mereka tidak harus terikat sepenuhnya pada diksi tradisional maupun bahasa Jawa klasik. Yang menjadi prioritas adalah keaslian emosi yang ingin disampaikan, bukan sekadar estetika bahasa.
Tahap ketiga adalah tahap berbagi dan katarsis. Setelah geguritan selesai ditulis, siswa diberi kesempatan untuk membacakannya dengan penuh penghayatan. Namun yang paling penting, suasana kelas harus dibangun sebagai ruang aman—tempat di mana setiap siswa merasa diterima dan dihargai. Guru dapat mengarahkan sesi berbagi ini dengan menekankan apresiasi empatik, bukan kritik teknis. Ini bukan forum untuk memperbaiki kesalahan bahasa, tetapi momen untuk mengakui keberanian setiap siswa dalam membuka dirinya. Pembacaan geguritan pun dapat menjadi proses katarsis yang membantu siswa merasa lebih lega, lebih terhubung dengan teman sekelas, dan lebih percaya pada kekuatan ekspresi diri.
Ketika pendekatan ini diterapkan secara konsisten, dampak positifnya dapat terlihat dengan jelas. Variasi dan kedalaman karya siswa akan meningkat. Tema-tema yang muncul menjadi lebih beragam, otentik, dan mencerminkan pengalaman hidup yang benar-benar mereka rasakan. Siswa mulai percaya bahwa geguritan adalah ruang sah bagi berbagai ekspresi: kegembiraan, kesedihan, kemarahan, harapan, hingga keraguan. Mereka tidak lagi bergantung pada tema-tema umum yang sering kali tidak mencerminkan diri mereka.
Selain itu, kesejahteraan emosional siswa juga meningkat. Menulis geguritan tidak lagi dirasakan sebagai beban, melainkan sebagai proses untuk mengenali, mengakui, dan melepaskan perasaan yang mungkin sulit diungkapkan secara langsung. Kegiatan ini menjadi semacam katarsis yang dapat membantu siswa memahami diri mereka dengan lebih baik. Di tengah tekanan akademis dan sosial yang sering kali mereka hadapi, menulis geguritan dengan pendekatan emosional dapat menjadi salah satu cara untuk menjaga kesehatan psikologis mereka.
Dampak lainnya adalah munculnya koneksi sosial yang lebih kuat. Melalui kegiatan berbagi karya, siswa belajar menerima dan menghargai pengalaman emosional orang lain. Mereka merasa terhubung bukan karena kesamaan pengalaman, tetapi karena keberanian untuk sama-sama membuka diri. Ruang aman yang tercipta di kelas menjadi fondasi bagi interaksi yang lebih empatik dan humanis. Lingkungan belajar pun menjadi lebih hangat dan mendukung.
Pada akhirnya, menulis geguritan bukan sekadar kegiatan untuk melatih kemampuan berbahasa, tetapi juga perjalanan untuk mengenal diri sendiri. Ketika siswa diberi ruang untuk merasakan dan mengekspresikan emosi mereka dengan jujur, geguritan yang lahir akan lebih hidup, lebih dalam, dan lebih bermakna. Harapannya, melalui pendekatan ini, siswa tidak hanya menjadi cakap dalam menyusun kata-kata, tetapi juga cakap dalam mengelola emosi dan memahami diri. Sebab pada dasarnya, geguritan yang indah bukan hanya tentang keindahan bahasa, tetapi tentang kejujuran hati yang menghidupi setiap baitnya.
Penulis : Yuswita Yekti Andriyani, Guru B. Jawa SMA PL Don Bosko
