Senin, 03-08-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Perkuat Kepemimpinan Pembelajaran, Kepala SMA dan SMK di Kota Semarang Ikuti Pelatihan Pembelajaran Mendalam serta Koding dan Kecerdasan Artifisial

Diterbitkan : - Kategori : Berita

SEMARANG – Upaya meningkatkan kualitas kepemimpinan pembelajaran di satuan pendidikan terus diperkuat melalui penyelenggaraan Pelatihan Pembelajaran Mendalam serta Koding dan Kecerdasan Artifisial Berbasis Kelompok Kerja yang digelar di SMKN 7 Semarang, Sabtu (1/8/2026). Kegiatan yang berlangsung pukul 08.45 hingga 14.30 WIB tersebut diikuti oleh kepala SMA dan SMK se-Kota Semarang sebagai bagian dari penguatan kapasitas pemimpin sekolah dalam menghadapi tantangan pendidikan di era transformasi digital.

Pelatihan menghadirkan fasilitator Rina Candrawati, S.Pd., M.Pd. dari SMA Daniel Creative Semarang. Melalui metode brainstorming, pengisian lembar kerja, paparan materi, serta diskusi interaktif, peserta diajak memahami bagaimana membangun budaya belajar yang kolaboratif dengan memanfaatkan kelompok kerja sebagai motor penggerak peningkatan mutu pembelajaran.

Dalam paparannya, Rina Candrawati menekankan bahwa kelompok kerja tidak boleh berhenti sebagai aktivitas administratif semata, melainkan harus menjadi komunitas belajar profesional yang mampu menghasilkan perubahan nyata terhadap kualitas pembelajaran di sekolah. Menurutnya, pendekatan inkuiri kolaboratif menjadi salah satu strategi yang efektif untuk mewujudkan tujuan tersebut.

“Inkuiri kolaboratif merupakan proses sistematis yang mengajak pendidik berdiskusi, merefleksikan praktik pembelajaran, kemudian melakukan perbaikan berdasarkan data yang dimiliki sekolah. Dengan pendekatan ini, setiap keputusan yang diambil memiliki dasar yang jelas sehingga perubahan yang dilakukan menjadi lebih tepat sasaran,” ujar Rina.

Ia menjelaskan bahwa siklus inkuiri kolaboratif terdiri atas empat tahapan utama, yakni Assess, Design, Implement, serta Measure, Reflect, and Change. Pada tahap Assess, sekolah mengidentifikasi kebutuhan, tantangan, dan peluang berdasarkan data seperti Rapor Pendidikan, hasil observasi, maupun survei. Selanjutnya pada tahap Design, sekolah menyusun strategi secara kolaboratif menggunakan tujuan yang SMART (Specific, Measurable, Achievable, Realistic, dan Timely).

Tahap berikutnya adalah Implement, yaitu menerapkan strategi yang telah disusun melalui praktik nyata dengan pendampingan, pemantauan, dan dokumentasi oleh kepala sekolah. Setelah itu dilakukan tahap Measure, Reflect, and Change untuk mengukur efektivitas program, merefleksikan hasil bersama seluruh anggota kelompok kerja, sekaligus menyusun perbaikan sebagai dasar pelaksanaan siklus berikutnya.

Menurut Rina, keberhasilan pengelolaan kelompok kerja sangat bergantung pada kemampuan sekolah memanfaatkan data sebagai dasar pengambilan keputusan. Karena itu, konsep Perencanaan Berbasis Data (PBD) menjadi salah satu materi penting dalam pelatihan tersebut.

“Keputusan sekolah harus lahir dari data, bukan asumsi. Data Rapor Pendidikan, data internal sekolah, maupun kondisi lingkungan harus dianalisis sehingga program yang disusun benar-benar menjawab kebutuhan satuan pendidikan,” katanya.

Ia juga memperkenalkan teknik 5 Whys sebagai metode untuk menemukan akar persoalan secara lebih mendalam. Melalui lima pertanyaan “mengapa”, sekolah dapat mengidentifikasi penyebab utama suatu masalah sehingga solusi yang diambil tidak hanya mengatasi gejala, tetapi juga menyelesaikan akar persoalannya.

Selain itu, peserta mendapatkan pemahaman mengenai lima prinsip pengelolaan kelompok kerja yang efektif. Kelompok kerja harus dikelola secara kolaboratif dengan melibatkan partisipasi aktif seluruh anggota, berorientasi pada peningkatan kualitas pembelajaran, membahas persoalan nyata yang dihadapi guru di kelas, membangun budaya refleksi secara terbuka, serta dilaksanakan secara berkelanjutan melalui kegiatan rutin yang terencana.

Rina menjelaskan bahwa agar kelompok kerja berjalan optimal, sekolah perlu melalui tahapan identifikasi kebutuhan, pembagian peran yang jelas, penyusunan program kerja tahunan, pelaksanaan kegiatan kolaboratif seperti diskusi dan observasi kelas, hingga evaluasi dan refleksi terhadap dampak program terhadap praktik mengajar maupun hasil belajar peserta didik.

Tidak hanya itu, ia juga menegaskan pentingnya peran kepala sekolah sebagai lead learner atau pemimpin pembelajaran. Kepala sekolah diharapkan tidak hanya menjalankan fungsi manajerial, tetapi juga menjadi teladan dalam membangun budaya belajar yang terbuka, kolaboratif, serta menyediakan instrumen monitoring dan evaluasi agar proses inkuiri kolaboratif berjalan secara konsisten.

Kepala SMKN Jateng di Semarang, Ardan Sirodjuddin, S.Pd., M.Pd., yang mengikuti kegiatan tersebut menyampaikan bahwa kepala sekolah harus terus mengembangkan kompetensi agar mampu menjawab dinamika perubahan pendidikan yang berlangsung sangat cepat.

“Kepala sekolah sebagai role model di sekolah harus terus belajar. Materi pada pelatihan ini sangat penting karena membekali kepala sekolah agar mampu merancang, memfasilitasi, dan mengimplementasikan Inkuiri Kolaboratif untuk memberdayakan kelompok kerja seperti KKG maupun Komunitas Belajar sehingga benar-benar menjadi komunitas belajar profesional yang berdampak nyata pada peningkatan kualitas pembelajaran dan hasil belajar murid,” ujarnya.

Menurut Ardan, penguatan kapasitas kepala sekolah melalui pelatihan seperti ini akan mempercepat terbangunnya budaya kolaborasi di sekolah. Ketika kepala sekolah mampu memimpin proses refleksi dan perbaikan berbasis data, guru akan lebih mudah mengembangkan praktik pembelajaran yang inovatif, termasuk mengintegrasikan pendekatan pembelajaran mendalam, koding, dan kecerdasan artifisial sesuai kebutuhan peserta didik.

Selama pelatihan, suasana diskusi berlangsung dinamis. Para kepala sekolah aktif menyampaikan pengalaman, tantangan, serta praktik baik yang telah dilakukan di sekolah masing-masing. Berbagai ide pengembangan kelompok kerja bermunculan sebagai respons terhadap kebutuhan peningkatan mutu pembelajaran di era digital yang semakin kompleks.

Melalui kegiatan ini diharapkan seluruh kepala SMA dan SMK di Kota Semarang memiliki pemahaman yang lebih komprehensif mengenai pembelajaran mendalam, pemanfaatan koding dan kecerdasan artifisial, serta penerapan inkuiri kolaboratif berbasis kelompok kerja. Dengan demikian, setiap sekolah mampu membangun komunitas belajar profesional yang adaptif, berbasis data, dan berorientasi pada peningkatan kualitas layanan pendidikan sehingga memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kompetensi guru dan hasil belajar murid.

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan