Kamis, 18-06-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Ketika Ayah Ditugaskan Mengambil Rapor

Diterbitkan :

Kegiatan Akhir Semester Gasal akhirnyva terlalui. Kini tibalah setiap Satuan Pendidikan Melaporkan Hasil Pendidikan Muridnya dalam bentuk Pembagian Nilai Raport. Ada hal menarik yag menjadi catatan kita pada Pembagian Raport tahun ini dimana Pemerintah secara khusus melalui Kementrian Kependudukan membust SE  tentang Gerakan Ayah Mengambil Raport (GEMAR). Mengapa harus Ayah, bukankah selama ini dibebaskan bisa Ibu, Kakek, Nenek atau siapapun yg penting ada wali yg mngambil Raport? Saya yakin semuanya sudah melalui pertimbangan khusus dan Ayah akan mendapatkan peran penting dalam aksi kali ini.

Saya jadi ingat kejadian 38 tahun yang lalu :

Pagi itu terasa berbeda dari biasanya. Matahari belum sepenuhnya naik ketika Ayah sudah bersiap mengenakan kemeja cokelat kesayangannya. Kemeja itu jarang ia pakai, kecuali untuk acara-acara penting. Aku yang masih duduk di meja makan sederhana memperhatikannya dengan perasaan campur aduk. Hari ini adalah hari pembagian rapor, dan untuk pertama kalinya, Ayah yang ditugaskan datang ke sekolah.

Biasanya, Ibu yang selalu hadir di setiap pembagian rapor. Ia hafal nama wali kelasku, tahu letak ruang guru, bahkan sering berbincang akrab dengan orang tua murid lain. Ayah berbeda. Kesibukannya sebagai pekerja lapangan (bakul pisang) membuatnya jarang terlibat langsung dalam urusan sekolahku. Karena itulah, keputusannya untuk mengambil rapor hari ini terasa istimewa sekaligus menegangkan.

“Ayah berangkat dulu. Kamu doakan ya, semoga nilaimu bagus,” katanya sambil tersenyum. Senyum itu sederhana, tapi entah mengapa membuat dadaku berdebar. Aku hanya mengangguk, mencoba menyembunyikan kegugupan. Dalam hati, aku mengingat kembali nilai ulangan matematika yang tidak terlalu memuaskan.

Sepanjang pagi, aku sulit berkonsentrasi. Bayangan Ayah duduk di bangku kecil kelas, berbicara dengan wali kelasku, terus terlintas di kepala. Aku membayangkan ekspresinya saat melihat angka-angka di rapor: apakah ia akan tersenyum bangga, atau justru terdiam kecewa?

Sekolah terasa lebih sunyi dari biasanya. Hari pembagian rapor memang selalu membawa suasana tegang bagi para siswa. Namun kali ini, keteganganku berlipat ganda karena Ayah yang menjadi wakil orang tua. Aku merasa seolah hasil belajarku bukan hanya dipertaruhkan di hadapan guru, tetapi juga di hadapan sosok yang selama ini bekerja keras demi keluargaku.

Siang hari, pintu rumah terbuka perlahan. Ayah masuk dengan wajah lelah, tetapi langkahnya tetap tenang. Tangannya menggenggam map cokelat berisi raporku. Aku berdiri dari kursi rotan, ragu untuk mendekat. Ibu yang baru keluar dari dapur menatap Ayah penuh rasa ingin tahu.

“Bagaimana?” tanya Ibu pelan.

Ayah tersenyum tipis. Ia duduk, meletakkan map di atas meja, lalu memanggilku untuk duduk di sampingnya. Jantungku berdegup kencang. Tangannya membuka rapor perlahan, seolah memberi waktu bagiku untuk bersiap.

“Tadi Ayah ngobrol dengan wali kelasmu,” katanya membuka percakapan. “Kata beliau, kamu anak yang sopan dan mau berusaha. Nilaimu ada yang bagus, ada juga yang masih perlu diperbaiki.”

Aku menunduk. Kalimat itu terdengar jujur, tanpa nada marah. Ayah lalu menunjuk salah satu bagian rapor, nilai matematika yang memang paling kutakuti. “Di sini masih kurang. Tapi bukan berarti kamu tidak mampu.”

Aku memberanikan diri menatap wajahnya. Tidak ada amarah di sana, hanya kesungguhan. Ayah bercerita bagaimana wali kelasku menjelaskan potensiku, kebiasaanku di kelas, dan sikapku terhadap pelajaran. Untuk pertama kalinya, aku mendengar Ayah berbicara panjang lebar tentang sekolahku.

“Ayah bangga,” katanya kemudian. Dua kata itu terdengar sederhana, namun terasa sangat berat dan bermakna. “Bukan karena nilaimu sempurna, tapi karena kamu mau belajar dan bertanggung jawab.”

Saat itu, mataku terasa panas. Aku menyadari bahwa selama ini aku terlalu takut pada angka-angka di rapor, sampai lupa bahwa proses dan usaha juga memiliki arti penting.

Malam harinya, Ayah mengajakku duduk di emper rumah. Angin berembus pelan, membawa suasana tenang. Ayah bercerita tentang masa sekolahnya yang sederhana namanya Sekokah Rakyat (SR), tentang bagaimana ia harus membantu orang tuanya sambil tetap berusaha belajar. Cerita itu membuatku memahami bahwa perjuangan tidak selalu tentang menjadi yang terbaik, tetapi tentang tidak menyerah.

“Rapor itu bukan akhir segalanya,” ujar Ayah. “Itu cuma cermin sementara. Yang lebih penting adalah apa yang kamu lakukan setelah melihatnya.”

Kata-kata itu terpatri dalam ingatanku. Aku berjanji pada diri sendiri untuk lebih sungguh-sungguh belajar, bukan karena takut dimarahi, tetapi karena ingin membanggakan orang tuaku, terutama Ayah.

Sejak hari itu, hubunganku dengan Ayah terasa lebih dekat. Ia mulai sering bertanya tentang pelajaranku, menemani mengerjakan soal, atau sekadar mendengarkan ceritaku tentang sekolah. Tugas sederhana mengambil rapor ternyata membawa perubahan besar dalam keluargaku.

Kini aku mengerti, ketika Ayah ditugaskan mengambil rapor, bukan hanya nilai yang ia bawa pulang, tetapi juga perhatian, pengertian, dan dukungan yang selama ini mungkin tidak terucap. Peristiwa itu menjadi pengingat bahwa peran orang tua dalam pendidikan anak tidak selalu harus sempurna, tetapi harus hadir dengan hati.

Mungkin kini ayah sudah lupa karena terpaut usia. Cerita ini sudah terjadi 38 tahun yang lalu. Dan hari ini sedang ramai Gerakan Ayah Mengambil Raport. Semoga semua ada maknanya. Terimakasih Ayah… Hari ini aku juga mengambil Raport Anak anakku.

Penulis : Sairan, S.Pd. Kepala SMP Negeri 2 Ajibarang