Dua tahun lalu saya menerima amanah menjadi Kepala Sekolah di Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Kedungbanteng, sebuah satuan pendidikan di ketinggian yang jauh dari hiruk pikuk asap kendaraan, secara fisik dan atmosfer berada dalam kondisi yang masih perlu banyak dibenahi. Sebuah tantangan besar terbentang di depan mata, namun saya memantapkan hati untuk tidak menyerah.
Bangunan berdiri tanpa semangat, dinding yang kusam tak berdaya, halaman gersang dipenuhi sampah, hingga aroma tak sedap dari toilet yang rusak. Mushola sekolah yang dingin membeku kurang terurus sebagai tempat ibadah, dan ruang-ruang penunjang kegiatan siswa tampak terbengkalai, baru berdiri setengah jadi. Area parkir guru masih beralaskan tanah belum tertata, tampak kendaraan diparkir sembarangan, menambah kesan kumuh yang menyelimuti sudut-sudut sekolah. Dalam hati, saya sadar bahwa jika lingkungan sekolah terus dibiarkan seperti ini, maka proses belajar mengajar menjadi kurang efektif dan menyenangkan. Karena anak-anak tidak hanya belajar dari buku, mereka belajar dari lingkungan dan lingkungan belajar kami saat itu kurang menumbuhkan inspirasi bagi warga sekolah.
Tantangan pertama yang harus kami hadapi adalah membersihkan lingkungan sekolah yang kotor dan kumuh. Hampir di setiap sudut ditemukan sampah plastik, daun kering yang menumpuk, dan peralatan sekolah yang rusak terbengkalai. Masih kurang adanya kesadaran kolektif dari warga sekolah tentang pentingnya kebersihan. Kesadaran itu perlu ditumbuhkan, bukan hanya melalui instruksi, melainkan lewat contoh nyata, keterlibatan, dan kebersamaan.
Mushola sekolah yang seharusnya menjadi tempat pembentukan karakter spiritual siswa tetapi masih memprihatinkan. Lantai kotor berdebu tebal dan permukaannya dipenuhi semut dan binatang laron, bau apek dari mukena dan isi lemari etalase yang semrawut membuat enggan untuk berlama-lama di dalamnya. Sementara itu, ruang penunjang seperti ruang OSIS, Pramuka dan UKS terlihat gelap menakutkan belum selesai dibangun. Ruang Perpustakaan pun tampak usang dengan buku-buku lama yang berantakan, beberapa lemari yang sudah lapuk teronggok menjadi sarang laba-laba. Masih bersebelahan dengan ruang UKS yang disekat menggunakan triplek. Disitu tampak 2 buah tempat tidur yang hampir roboh, kumuh dengan sprei lusuh. Keterbatasan anggaran menjadi alasan klasik yang terus menghambat penataannya.
Selain itu, tanaman hijau di lingkungan sekolah terlihat kurang terurus. Rumput liar tumbuh subur dan bebatuan yang keras gersang seakan memantulkan panas matahari langsung ke kulit. Beberapa pepohonan yang menjulang tinggi tampak miring ke arah bangunan untuk ruang lab komputer. Fungsi untuk menaungi hamparan tanah dan peneduh suasana cukup baik, tetapi terlihat membahayakan ketika hujan dan angin datang.
Menghadapi kenyataan ini, saya mulai merancang strategi transformasi yang menyentuh seluruh aspek lingkungan sekolah. Langkah pertama adalah membangun kesadaran bersama akan pentingnya kebersihan dan kenyamanan. Saya dan para guru mengadakan sosialisasi mengenai pola hidup bersih kepada seluruh warga sekolah, termasuk siswa dan tenaga kependidikan. Kami juga memberdayakan kembali tempat sampah di berbagai titik strategis dan menugaskan petugas kebersihan untuk melakukan pengelolaan sampah secara rutin.
Untuk revitalisasi mushola, kami menggalang donasi dari sanak saudara dan rekan-rekan alumni. Dana yang terkumpul digunakan untuk membeli karpet baru dan memperbaiki ventilasi udara. Mushola dibersihkan secara berkala oleh regu piket khusus yang terdiri dari siswa yang ditunjuk bergilir setiap pekan. Dari tempat yang sebelumnya kumuh dan berantakan, mushola kini menjadi ruang ibadah yang nyaman dan damai.
Kami pun melanjutkan pembangunan ruang-ruang penunjang dengan memanfaatkan infaq dan sumbangan suka rela dari masyarakat. Ruang yang semula mangkrak kini telah berfungsi sebagai tempat kegiatan siswa seperti ekstrakurikuler, layanan kesehatan, dan konseling.
Salah satu program unggulan kami adalah implementasi 7K: Kebersihan, Keindahan, Ketertiban, Keamanan, Keimanan, Kekeluargaan dan Kerindangan. Program ini bukan hanya slogan, tetapi dijalankan dengan terjadwal dan sistematis. Guru dan siswa memiliki jadwal piket bersama. Kegiatan ini tidak hanya memperkuat nilai-nilai kebersihan dan keindahan tetapi juga menanamkan rasa memiliki dan kebersamaan.
Setiap Jumat minggu kedua pagi, kami menyelenggarakan kegiatan “Jum’at Bersih” yang melibatkan seluruh warga sekolah untuk membersihkan dan menata area yang belum tersentuh. Tanah-tanah kosong diubah menjadi taman kecil. Kami mengalokasikan dana BOS untuk membeli pot dan tanaman hias berbunga. Dengan sentuhan kearifan lokal, kami melibatkan siswa kelas 7 dan 8 untuk membawa pupuk dari kotoran kambing sebagai media tanam, yang ternyata sangat efektif. Sedangkan siswa kelas 9 turut berpartisipasi menyumbangkan bibit tanaman buah dari rumah mereka masing-masing.
Area parkir guru pun kami benahi. Kami memasang keramik di sebagian permukaan dan menata posisi kendaraan agar lebih teratur. Sementara itu, toilet yang sebelumnya rusak kini telah direnovasi sehingga layak pakai. Selain memperbaiki saluran air dan sanitasi, kami juga menambahkan kolam ikan kecil dengan aliran air alami yang menciptakan suasana asri. Siapa sangka, toilet yang dulu dihindari kini menjadi tempat yang nyaman digunakan oleh para siswa. Ruang perpustakaan pun disulap menjadi area literasi yang nyaman bagi siswa dan diikuti pojok-pojok baca di masing-masing kelas dengan harapan dapat menumbuhkan budaya membaca karena buku-buku lebih dekat keberadaannya.
Setelah dua tahun penuh kerja keras, kami mulai merasakan hasilnya. Warga sekolah menunjukkan kepedulian yang semakin tinggi terhadap kebersihan dan kenyamanan lingkungan. Mushola menjadi tempat ibadah yang hidup kembali dengan karpet warna hijau segar menghampar di lantai. Ruang-ruang penunjang ramai dengan aktivitas siswa. Program 7K telah menjadi kebiasaan baru yang dijalankan dengan penuh kesadaran. Lingkungan sekolah tampak lebih indah dan tertata. Taman-taman kecil yang dulu hanya cita-cita kini hadir menyegarkan mata. Area parkir menjadi lebih rapi, dan toilet menjadi contoh kebersihan yang tidak memalukan saat sekolah kami menerima tamu dari luar.
Transformasi ini tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga membentuk karakter. Siswa menjadi lebih disiplin, bertanggung jawab, dan cinta lingkungan. Guru merasa lebih nyaman dan termotivasi saat mengajar. Kegiatan belajar mengajar menjadi lebih kondusif karena suasana lingkungan yang mendukung. Sekolah perlahan namun pasti berubah menjadi rumah kedua yang menyenangkan bagi semua.
Refleksi dari perjalanan ini menunjukkan bahwa kepemimpinan yang visioner dan kolaboratif sangat menentukan arah perubahan. Saya selaku Kepala Sekolah tidak mungkin melakukannya sendiri. Perubahan ini adalah buah dari kebersamaan, kerja tim, dan semangat gotong royong seluruh warga sekolah. Harapan saya ke depan, semangat ini tidak luntur. Justru semakin kuat menancap dalam budaya sekolah.
Lingkungan sekolah yang bersih, indah, dan nyaman bukan hanya enak dipandang. Ia menjadi ruang belajar yang membentuk karakter, membangkitkan semangat, dan menumbuhkan rasa memiliki. Anak-anak kita layak mendapat tempat terbaik untuk tumbuh dan berkembang. Jika kita ingin mendidik generasi unggul, maka tempat terbaik itulah yang harus kita ciptakan bersama.
Akhir kata, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh guru, siswa, orang tua, komite sekolah, dan masyarakat sekitar yang telah terlibat dalam transformasi ini. Perubahan tidak selalu harus dimulai dari hal besar. Sering kali, hal-hal kecil seperti membuang sampah pada tempatnya, menyiram tanaman, atau membersihkan kelas sebelum pulang, justru menjadi pemantik perubahan besar. Mari kita mulai dari diri sendiri, dari lingkungan terdekat kita, dari sekolah kita tercinta. Sebab dari situlah peradaban unggul dibangun.
Penulis : Hena Fitriningsih,S.P.,S.Pd.,M.Si, Kepala SMP Negeri 4 Kedungbanteng, Banyumas.
