SEMARANG — Suasana khidmat dan penuh kekhusyukan menyelimuti Masjid Baitul Ilmi, lingkungan SMKN Jateng di Semarang, saat ratusan jamaah yang terdiri atas guru, karyawan, siswa, hingga orang tua siswa mengikuti pelaksanaan Sholat Jumat, Jumat (19/6/2026). Momentum ibadah pekanan ini terasa istimewa karena bertepatan dengan datangnya bulan Muharram sekaligus awal Tahun Baru Islam 1448 Hijriah, yang menjadi pengingat bagi umat Muslim untuk melakukan introspeksi dan hijrah menuju kehidupan yang lebih baik.
Sholat Jumat kali ini dipimpin oleh Imam sekaligus khotib, Nur Khamim, yang dalam khutbahnya mengajak seluruh jamaah untuk menjadikan bulan Muharram sebagai momentum memperkuat ketakwaan, memperbaiki diri, serta menumbuhkan kepedulian sosial di tengah masyarakat. Sejak sebelum pelaksanaan salat dimulai, para jamaah tampak memadati area masjid. Mereka datang dari berbagai unsur keluarga besar SMKN Jateng, mencerminkan kebersamaan yang erat antara sekolah, peserta didik, dan orang tua.
Dalam pembukaan khutbahnya, Nur Khamim mengajak jamaah untuk senantiasa bersyukur atas nikmat Allah SWT serta memperkuat ketakwaan dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, ketakwaan bukan sekadar konsep spiritual, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata melalui ketaatan menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
“Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa. Takwa diwujudkan dalam sikap istiqamah menjalankan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya,” ujar Nur Khamim dalam khutbahnya.
Ia menegaskan, setiap Muslim harus menjaga hubungan dengan Sang Pencipta agar tidak terlena oleh kesibukan dunia. Menurutnya, kesadaran spiritual inilah yang menjadi fondasi utama dalam membangun pribadi yang berintegritas, baik sebagai pendidik, pelajar, maupun anggota masyarakat.
Dalam khutbahnya, Nur Khamim menyoroti kemuliaan bulan Muharram yang dikenal sebagai salah satu dari empat bulan haram atau bulan-bulan mulia dalam Islam. Ia mengutip firman Allah dalam Surah At-Taubah ayat 36 yang menjelaskan bahwa di antara dua belas bulan dalam setahun, terdapat empat bulan yang dimuliakan Allah SWT.
Muharram, lanjutnya, bukan hanya menandai pergantian tahun Hijriah, tetapi juga menyimpan makna historis yang sangat besar dalam perjalanan Islam, yakni peristiwa hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah.
“Hijrah Rasulullah bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi perubahan paradigma, dari keterasingan menuju kejayaan Islam, dari penindasan menuju kebebasan, dari keterpurukan menuju kebangkitan,” kata Nur Khamim.
Pesan tersebut mendapat perhatian penuh dari jamaah. Banyak siswa terlihat menyimak dengan serius, sementara para guru dan orang tua mengikuti jalannya khutbah dengan khusyuk. Bagi komunitas pendidikan seperti SMKN Jateng, nilai hijrah dinilai relevan dengan semangat perubahan menuju kualitas pendidikan dan karakter yang lebih baik.
Nur Khamim menekankan bahwa peringatan Muharram tidak cukup dimaknai hanya dengan mengganti kalender atau menggelar doa awal tahun. Lebih dari itu, Muharram harus menjadi momentum memperbarui niat, tekad, dan arah kehidupan.
“Oleh karena itu, setiap datangnya bulan Muharram, kita tidak cukup hanya mengganti kalender, tetapi juga harus membarui niat, tekad, dan langkah dalam kehidupan,” tuturnya.
Dalam khutbahnya, ia juga mengingatkan keutamaan ibadah puasa di bulan Muharram, khususnya puasa Asyura pada 10 Muharram. Berdasarkan hadis riwayat Muslim, puasa Muharram merupakan puasa sunnah yang paling utama setelah Ramadhan.
Ia menjelaskan bahwa puasa Asyura memiliki keutamaan besar, yakni menjadi sebab diampuninya dosa-dosa setahun sebelumnya. Selain puasa, terdapat berbagai amalan yang dianjurkan untuk dilakukan di bulan Muharram, seperti memperbanyak istighfar, sedekah, membantu anak yatim, serta memperbanyak amal kebajikan.
Namun, pesan paling kuat dalam khutbah tersebut adalah ajakan untuk memperkuat solidaritas sosial. Nur Khamim menilai, tantangan masyarakat saat ini bukan hanya persoalan spiritual, tetapi juga kesenjangan sosial dan ekonomi yang semakin terasa.
“Bulan Muharram mengajarkan kita nilai empati dan solidaritas. Islam bukan hanya ibadah vertikal kepada Allah, tetapi juga mengasihi sesama, menolong yang lemah, dan menyantuni yang kekurangan,” tegasnya.
Ia kemudian mengutip sabda Rasulullah SAW yang menegaskan bahwa keimanan seseorang tidak sempurna jika dirinya hidup berkecukupan sementara tetangganya kelaparan. Pesan ini, menurutnya, sangat relevan dengan kondisi sosial masyarakat modern yang kerap diwarnai individualisme.
Nur Khamim mengajak seluruh jamaah untuk membangun kebiasaan berbagi, tidak hanya pada momen tertentu, tetapi sebagai karakter hidup sehari-hari. Ia mendorong jamaah agar aktif menyalurkan sedekah, zakat, bantuan sosial, maupun bentuk kepedulian sederhana kepada lingkungan sekitar.
“Keberkahan hijrah tidak akan lengkap tanpa hijrah sosial, dari mementingkan diri menuju kepedulian, dari sikap individualis menuju gotong royong, dari kecukupan pribadi menuju keadilan sosial,” ujarnya.
Pelaksanaan Sholat Jumat di Masjid Baitul Ilmi ini tidak hanya menjadi rutinitas ibadah mingguan, tetapi juga sarana penguatan nilai-nilai spiritual dan sosial bagi keluarga besar SMKN Jateng di Semarang. Kehadiran guru, karyawan, siswa, dan orang tua dalam satu majelis ibadah menunjukkan eratnya kebersamaan serta semangat membangun lingkungan pendidikan yang religius dan harmonis.
Menutup khutbahnya, Nur Khamim mengajak seluruh jamaah menjadikan Tahun Baru Islam 1448 Hijriah sebagai titik awal perubahan menuju pribadi yang lebih baik. Ia menekankan pentingnya hijrah dalam makna yang luas—berpindah dari kelalaian menuju kesadaran, dari maksiat menuju ketaatan, serta dari sikap acuh menjadi pribadi yang peduli terhadap sesama.
“Marilah kita jadikan Muharram ini sebagai momentum hijrah dan perbaikan diri, hijrah dari maksiat ke taat, dari lalai ke sadar, dari benci ke cinta, serta dari mementingkan diri sendiri menuju kepedulian sosial,” pungkasnya.
Sholat Jumat pun ditutup dengan doa bersama untuk keselamatan bangsa, kemajuan pendidikan, serta harapan agar seluruh civitas akademika SMKN Jateng senantiasa diberikan keberkahan dalam menapaki Tahun Baru Islam 1448 Hijriah.

Beri Komentar