Di tengah hingar-bingar modernisasi Jawa Tengah, nama Sungai Tuntang di Kabupaten Demak mungkin tak lagi terdengar gaungnya. Namun, jika kita menilik ke belakang, jauh ke abad 15 hingga 16, sungai ini bukan sekadar aliran air yang menghubungkan gunung ke laut, ia adalah urat nadi kejayaan salah satu kerajaan Islam pertama di Jawa, yaitu Kerajaan Demak.
Secara geografis, Sungai Tuntang berhulu di lereng Gunung Merbabu, lalu mengalir ke arah utara menuju bekas wilayah Selat Muria, sebuah perairan yang dulu memisahkan Pulau Muria dari daratan Jawa. Aliran ini tidak hanya membentuk lanskap alam, tetapi juga membentuk sejarah. Di masa itu, sungai adalah jalur utama transportasi, diplomasi, bahkan dakwah. Perahu-perahu kayu mengalir membawa hasil bumi dari pedalaman menuju pelabuhan-pelabuhan penting di pesisir, termasuk Pelabuhan Jepara dan Demak Bintoro. Di sepanjang bantaran Sungai Tuntang, tumbuhlah permukiman, pasar, dan pusat pendidikan Islam, jejak-jejak peradaban yang hari ini tertimbun oleh waktu dan perubahan.
Kerajaan Demak didirikan oleh Raden Patah, seorang tokoh keturunan Majapahit yang memilih Islam sebagai jalan hidup dan pemerintahannya. Salah satu keunggulan Demak adalah letaknya yang strategis, diapit oleh jalur perdagangan laut dan didukung oleh aliran sungai besar. Di sinilah Sungai Tuntang memainkan peran krusial sebagai saluran logistik dan penghubung budaya antara wilayah pedalaman agraris dan pesisir maritim.
Sungai ini juga menjadi jalur penting dalam penyebaran Islam. Para wali dan ulama, seperti Sunan Kalijaga, diyakini pernah menyusuri sungai ini untuk menyebarkan ajaran melalui pendekatan budaya, seni, dan pertunjukan wayang. Di sisi lain, sungai juga mempermudah mobilisasi pasukan saat Demak melakukan ekspedisi militer, termasuk serangan ke Malaka sebagai solidaritas terhadap saudara Muslim di bawah penjajahan Portugis.
Bagi masyarakat zaman dahulu, sungai bukan sekadar entitas fisik, tetapi juga bagian dari kosmologi. Sungai Tuntang dihormati sebagai sukma alam yang menghidupi. Ia membawa air untuk sawah, ikan untuk pangan, dan kesuburan bagi desa-desa. Dalam sistem perekonomian Demak yang berbasis pertanian dan perdagangan, sungai menjadi tulang punggung kehidupan. Namun lebih dari itu, Tuntang adalah simbol keseimbangan antara manusia dan alam, antara dunia spiritual dan dunia nyata. Tak heran bila banyak legenda dan kisah lokal mengaitkannya dengan kesaktian para leluhur dan para wali.
Di balik fungsi nyatanya, Sungai Tuntang juga menyimpan kisah yang hidup dalam ingatan masyarakat yang sampai sekarang masih dipercayai. Legenda pertama adalah kisah tentang Empu Tuntang, seorang pertapa sakti yang konon menjadi asal-usul nama sungai tersebut. Dikisahkan, pada zaman sebelum Islam menyebar luas, hiduplah seorang pertapa bijak di lereng Merbabu. Ia bernama Empu Tuntang, yang dikenal karena kemampuannya membaca tanda-tanda alam. Dalam perenungannya, ia memprediksi datangnya agama baru yang akan menyinari tanah Jawa dan menggantikan kepercayaan lama. Menurut legenda, pada malam-malam tertentu, ia melihat cahaya terang mengalir dari gunung menuju laut, mengikuti arah sungai. Ia berpesan bahwa sungai itu akan menjadi jembatan cahaya antara langit dan bumi, pertanda lahirnya kerajaan besar yang tidak akan bertahan lama. Legenda ini dikaitkan dengan munculnya Kerajaan Demak dan dakwah para wali, khususnya Sunan Kalijaga, yang konon menggunakan Sungai Tuntang sebagai jalur penyebaran Islam melalui pertunjukan wayang dan gamelan.
Legenda kedua adalah kisah tentang Bulus Kyai Tuntang. Pada masa ketika Kerajaan Demak masih jaya, dan air Sungai Tuntang mengalir deras, hiduplah seorang pertapa tua di sebuah sendang kecil di pinggir aliran sungai. Ia tidak memiliki nama yang dikenal orang, hanya dipanggil Kiai Sepuh, jarang berbicara, namun setiap kata-katanya mengandung makna dalam. Kiai Sepuh dikenal sebagai penjaga alam, menjaga kebersihan sungai, menanami kembali pohon-pohon yang ditebang sembarangan, dan menegur siapa pun yang meracuni ikan atau menambang pasir berlebihan. Namun, tak semua orang menyukai keberadaannya. Namun saat musim kemarau, keserakahan penduduk membuat mereka mencemari sungai dan sendang tempatnya bersemedi. Setelah memberi peringatan, Kiai Sepuh menghilang secara misterius. Keesokan harinya, muncul seekor bulus besar kehijauan di sungai yang dipercaya sebagai jelmaannya dan menjadi penjaga Sungai Tuntang.
Legenda yang ketiga adalah kisah tentang Baruklinting. Baruklinting adalah anak titisan naga hasil tapa seorang pertapa sakti, berwujud bocah buruk rupa. Ia datang ke desa yang kini tenggelam untuk menguji hati manusia. Ia meminta makanan, namun ditolak oleh semua orang kecuali seorang janda miskin, yang dikenal dengan nama Nyi Lembah. Sebagai ganjaran atas kesombongan desa itu, Baruklinting mencabut lidi yang ia tancapkan di tanah. Dari lubang itu menyembur air besar yang menenggelamkan seluruh desa, dan jadilah Rawapening yang salah satu alirannya mengalir melalui Sungai Tuntang melewati beberapa kota/kabupaten di Jawa Tengah sampai berakhir ke Moro Demak dan bermuara di Laut Jawa. Diceritakan pada saat itu, Baruklinting dan Nyi Lembah selamat dari banjir, naik lesung mengikuti aliran Sungai Tuntang sampai ke Demak. Bagi masyarakat setempat, Sungai Tuntang adalah perpanjangan dari air keramat Baruklinting, dan aliran airnya dipercaya membawa pelajaran moral tentang keangkuhan dan ketulusan.
Legenda yang keempat adalah kisah tentang Jaka Tingkir. Cerita Jaka Tingkir, atau kelak dikenal sebagai Sultan Hadiwijaya, juga tak lepas dari Sungai Tuntang. Pada saat itu diceritakan ia berangkat ke Kerajaan Demak untuk melamar menjadi prajurit dengan naik rakit dari Tingkir Salatiga, menyusuri Sungai Tuntang. Dalam berbagai versi kisah, Jaka Tingkir harus membuktikan dirinya layak menjadi pemimpin dengan berenang menyeberangi sungai besar dan menaklukkan buaya putih, lambang kekuatan gaib dan kendali atas diri. Dalam versi lokal, Sungai Tuntang merupakan lokasi Jaka Tingkir menjalani laku spiritual dan ujian jiwa sebelum kelak menjadi pemimpin Kerajaan Pajang, penerus Demak. Sungai, dalam cerita ini, bukan sekadar medan fisik, tetapi simbol transformasi, dari anak buangan menjadi raja.
Kini, Sungai Tuntang tak lagi menjadi jalur perdagangan atau dakwah. Sungainya menyempit, beberapa bagiannya tercemar, dan pelan-pelan keluar dari peta strategis Jawa Tengah. Namun, sisa-sisa kejayaannya masih terasa di arusnya yang tenang, di jembatan-jembatan tua, di toponimi desa-desa, hingga dalam kisah rakyat yang diceritakan saat malam tiba. Mengapa kisah-kisah seperti ini penting? Karena ia memberi kita jembatan untuk memahami sejarah bukan hanya dari catatan kering, tetapi dari rasa bahwa alam, manusia, dan kepercayaan adalah satu kesatuan yang pernah hidup dan bergerak bersama.
Mengenang Sungai Tuntang bukan berarti terjebak romantisme masa lalu, tetapi mengakui bahwa peradaban besar membutuhkan dasar yang kokoh, salah satunya adalah alam yang terjaga. Dalam dunia yang semakin terpisah dari akar sejarah dan ekologi, merawat sungai berarti merawat ingatan kita sendiri. Mungkin, saat kita menyentuh airnya hari ini, kita menyentuh sesuatu yang dulu juga disentuh oleh para wali, para ratu, dan para petapa bijak seperti Empu Tuntang. Sungai ini bukan sekadar air yang mengalir. Ia adalah kisah. Ia adalah warisan. Ia adalah kita.
Khusus untuk warga Demak, kini, ketika aliran itu mulai menyempit dan sebagian telah dijadikan Taman Kali Tuntang Lama, kita diingatkan kembali akan pesan para leluhur. Salah satunya terukir di mihrab Masjid Agung Demak, ornamen keramik seekor bulus. Bulus yang dalam legenda disebut sebagai penjelmaan Kiai Sepuh penjaga Sungai Tuntang, bukan hanya simbol kekuatan alam, tetapi juga lambang keteguhan iman, kesabaran, dan perlindungan. Dalam tradisi Jawa, bulus dikenal sebagai makhluk lambat namun pasti, bergerak tenang dengan membawa beban di badannya tetapi tetap berjalan mencari keberkahan. Di Masjid Agung Demak, bulus bukan sekadar hiasan, melainkan pengingat sunyi agar manusia bersikap rendah hati, menjaga harmoni dengan alam, dan tidak tergesa dalam mengejar dunia. Sebagai warga Demak yang dikenal dengan sebutan Kota Wali, sudah sepantasnya kita tidak hanya mewarisi bangunan, tapi juga roh peradaban yang menjadikan alam sebagai bagian dari ibadah. Menjaga Sungai Tuntang hari ini, adalah menjaga warisan wali untuk hari esok yang lebih baik.
Penulis : Khilyatul Khoiriyah, Guru Fisika SMA Negeri 3 Demak.
