Jumat, 19-06-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Menghadapi Tahun Ajaran Baru: Saatnya Guru Belajar dari Alam Gaib

Diterbitkan :

Tahun ajaran baru selalu membawa semacam aroma harapan dan kegelisahan sekaligus. Bagi sebagian besar guru, momen ini adalah titik balik untuk menyusun rencana, memperbaiki strategi, dan memulai langkah baru yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Seperti biasa, guru menyiapkan perangkat ajar, menata kursi, mengecek jadwal, dan berdoa semoga tahun ini berjalan lancar. Namun lebih dari itu, guru juga membawa semangat baru untuk menghadapi siswa yang datang dari berbagai latar belakang, dengan kepribadian, masalah, dan harapan yang berbeda-beda. Biasanya, untuk menambah inspirasi mengajar, guru akan mencari rujukan dari seminar pendidikan, buku teori terbaru, atau pelatihan daring. Tapi, bagaimana jika sumber pembelajaran itu justru datang dari hal yang tak biasa—dari dunia yang tak kasatmata, dari kisah-kisah horor yang selama ini dianggap hanya untuk menakut-nakuti?

Dalam budaya Jawa, hantu atau makhluk halus bukan hanya produk imajinasi untuk menakuti anak-anak agar tidak bermain malam. Mereka adalah bagian dari sistem simbolik yang mewakili nilai, kekuasaan, luka batin, hingga harapan. Clifford Geertz, seorang antropolog terkemuka, pernah membagi dunia kepercayaan masyarakat Jawa ke dalam tiga lapisan: alam atas, alam tengah, dan alam bawah. Masing-masing dunia memiliki penghuni dan simbolnya sendiri. Menariknya, jika kita bersedia melihat dengan hati yang terbuka, para hantu dari dunia gaib itu ternyata menyimpan pelajaran berharga—khususnya bagi para guru. Di balik sosok-sosok menyeramkan itu, tersimpan cermin kemanusiaan: tentang bagaimana menjadi pemimpin, pendidik, pelindung, sekaligus pembelajar sejati.

Mari kita mulai dari alam bawah—ruang gelap yang sering diasosiasikan dengan makhluk buas dan menakutkan. Di sana, kita mengenal sosok genderuwo. Ia digambarkan berbadan besar, berbulu lebat, berwajah menyeramkan, dan seringkali menghadirkan rasa takut hanya dengan kehadirannya. Genderuwo adalah simbol kekuasaan yang menekan. Dalam konteks pendidikan, genderuwo bisa menjadi gambaran dari sosok guru yang terlalu galak, dominan, dan memaksakan kehendak. Guru seperti ini mungkin bermaksud mendisiplinkan siswa, tetapi justru menciptakan ketakutan dan tekanan. Suasana kelas menjadi beku, siswa kehilangan suara, dan kreativitas mati sebelum sempat tumbuh. Genderuwo mengingatkan guru agar bijak menggunakan wibawa: cukup tegas untuk menjaga batas, tapi cukup hangat untuk membangun kedekatan. Karena guru bukan penguasa, melainkan pemimpin yang memberi arah.

Masih dari dunia bawah, ada pocong—hantu yang melompat-lompat karena terbungkus kain kafan. Ia tidak bisa bergerak bebas karena tali pengikatnya belum dilepas. Dalam dunia pendidikan, pocong bisa dianalogikan sebagai guru yang masih terjebak dalam cara-cara lama. Ia masih mengandalkan metode ceramah satu arah, tidak akrab dengan teknologi, dan enggan berubah. Dunia pendidikan telah berubah pesat, siswa pun semakin beragam dan dinamis. Guru tidak bisa lagi mengandalkan cara mengajar dari dekade lalu untuk generasi yang hidup dalam era digital. Pocong adalah pengingat bahwa guru harus bersedia melepas ikatan masa lalu—bukan melupakan tradisi, tapi menyaring mana yang masih relevan dan mana yang harus ditinggalkan. Hanya dengan melepaskan diri dari keterikatan lama, guru bisa bergerak bebas menuju pembelajaran yang lebih bermakna.

Naik sedikit ke dunia tengah, kita bertemu dengan tuyul. Sosok kecil, botak, lincah, dan cerdik. Tuyul sering dikisahkan sebagai pencuri uang, tapi ia tidak jahat—ia hanya mengikuti perintah tuannya. Tuyul adalah simbol kecerdasan yang disalahgunakan. Dalam dunia pendidikan, tuyul mencerminkan siswa yang cerdas tetapi tidak bijak: mereka tahu cara memanipulasi tugas, mencontek saat ujian, atau menggunakan AI untuk membuat esai tanpa memahami isinya. Tuyul menjadi cermin bahwa kepintaran tanpa etika hanya akan membawa kerusakan. Maka tugas guru bukan hanya mentransfer pengetahuan, tapi juga menanamkan nilai—kejujuran, tanggung jawab, dan integritas. Guru harus menjadi penjaga moral di tengah derasnya arus informasi dan godaan teknologi.

Sosok kuntilanak juga berasal dari dunia tengah, meski kehadirannya kerap membuat bulu kuduk berdiri. Ia dikenal lewat tawanya yang menyeramkan, sering muncul di malam hari, dan menyimpan kisah sedih di balik kecantikannya. Ia tampil rapi, berambut panjang, berpakaian putih bersih—namun menyimpan luka dan dendam yang dalam. Kuntilanak adalah simbol dari mereka yang tersenyum di luar, tapi rapuh di dalam. Dalam ruang kelas, mungkin kita sering menemui siswa yang terlihat baik-baik saja, tapi sebenarnya sedang menanggung beban berat di rumah, di lingkungan, atau dalam dirinya sendiri. Kuntilanak mengajarkan dua hal: bahwa guru perlu tetap tersenyum menghadapi tantangan—karena senyum bisa menenangkan dan menguatkan siswa; dan bahwa penampilan yang sopan dan rapi adalah bentuk keteladanan. Seperti kuntilanak yang tetap menjaga kerapian penampilan meski hatinya luka, guru pun harus menjadi contoh dalam sikap dan tampilan—tidak demi citra, tapi demi membangun rasa hormat.

Dari dunia yang sama pula hadir wewe gombel, sering digambarkan sebagai perempuan tua dengan dada besar dan wajah menyeramkan. Ia dituduh menculik anak-anak, tetapi dalam banyak cerita, anak-anak itu justru ditolong dan dilindungi oleh wewe gombel karena mereka diabaikan atau disakiti oleh orang tuanya. Wewe gombel bukan penculik, melainkan pelindung bagi anak-anak yang kesepian. Ia adalah simbol dari guru yang hadir secara emosional bagi siswanya—yang menjadi tempat curhat, tempat aman, dan kadang menjadi figur pengganti orang tua. Guru seperti ini tidak hanya mengajar matematika atau bahasa Indonesia, tetapi juga memberi rasa aman, mendengarkan tanpa menghakimi, dan menyayangi tanpa syarat. Di dunia yang semakin keras dan penuh tekanan, peran guru sebagai pelindung menjadi semakin penting.

Terakhir, mari kita tengadah ke alam atas—dunia yang jarang diisi hantu dalam kisah populer, tetapi justru dipenuhi oleh makhluk-makhluk halus yang suci, penjaga tempat keramat, atau roh leluhur yang arif. Alam ini adalah simbol nilai-nilai luhur dan spiritualitas. Ia mengingatkan bahwa profesi guru adalah panggilan jiwa, bukan sekadar pekerjaan. Mengajar bukan hanya soal menyampaikan materi, tapi juga mendidik hati, membentuk karakter, dan menjaga nilai-nilai kebaikan. Guru yang menyadari ini akan menjalani tugasnya dengan penuh cinta, kesabaran, dan keikhlasan. Ia tidak hanya hadir secara fisik, tapi juga secara batin. Ia mengajar bukan demi angka, tapi demi makna.

Jika kita mau merenungkan lebih dalam, semua tokoh dari dunia gaib Jawa sesungguhnya bukan makhluk asing. Mereka adalah metafora dari aspek-aspek dalam diri kita sendiri, dalam sistem pendidikan kita, dalam relasi guru-siswa yang kompleks dan kadang terlupakan. Genderuwo, pocong, tuyul, kuntilanak, wewe gombel, bahkan makhluk dari alam atas—semuanya menyimpan cermin. Melalui mereka, kita bisa bertanya kepada diri sendiri: Apakah saya sudah menjadi guru yang cukup sabar, cukup bijak, cukup peka? Atau jangan-jangan, tanpa sadar, saya masih menjadi genderuwo yang ditakuti siswa? Atau pocong yang terjebak di masa lalu? Atau kuntilanak yang tersenyum tapi menyimpan luka?

Tahun ajaran baru adalah saat yang tepat untuk membuka lembaran baru. Bukan hanya buku pelajaran, tapi juga cara berpikir, cara mengajar, dan cara memanusiakan siswa. Belajar dari alam gaib bukan berarti mempercayai hal mistis secara buta. Sebaliknya, ini adalah cara untuk menggali makna dari warisan budaya, dan menggunakannya sebagai refleksi untuk menjadi guru yang lebih manusiawi. Karena sesungguhnya, di balik cerita horor selalu tersembunyi pesan moral. Dan jika hantu bisa mengajarkan kita tentang kekuasaan, trauma, kasih sayang, dan kejujuran, maka guru harus mampu menyampaikan pelajaran lewat cinta, keteladanan, dan senyum yang tulus.

Di dunia yang terus berubah dan dipenuhi tantangan baru, menjadi guru bukan pekerjaan yang mudah. Tapi dengan hati yang terbuka dan semangat belajar yang terus menyala, kita bisa menjadi guru yang bukan hanya menginspirasi, tapi juga menyembuhkan. Jika hantu bisa bicara lewat ketakutan, maka guru harus bisa berbicara lewat cinta. Dan di situlah letak kekuatan sejati dari pendidikan.

Penulis : Ibnu Rofik, S.Pd. Guru Sosiologi SMA Negeri 1 Belik Kabupaten Pemalang