Di banyak sekolah, pemandangan siswa yang kurang berminat membaca Al-Qur’an menjadi fenomena yang semakin sering dijumpai. Di ruang kelas, ketika guru membuka sesi Baca Tulis Qur’an (BTQ), sebagian siswa tampak antusias, namun tidak sedikit pula yang sekadar mengikuti tanpa keterlibatan emosional. Ada yang memegang mushaf hanya sebagai formalitas, ada yang membaca terbata-bata, dan ada pula yang mengalihkan perhatian pada hal lain. Fenomena ini bukan sekadar perubahan perilaku, tetapi menjadi tanda bahwa minat terhadap aktivitas spiritual yang seharusnya menjadi fondasi kehidupan beragama tengah mengalami penurunan. Dampaknya terasa jelas: pemahaman agama menjadi dangkal, nilai spiritual melemah, dan karakter mulia yang seharusnya dibentuk melalui interaksi dengan Al-Qur’an tidak tumbuh sebagaimana mestinya. Pertanyaan besar pun muncul: mengapa minat membaca Al-Qur’an menurun di kalangan siswa, dan apa yang dapat dilakukan sekolah untuk mengembalikannya?
Permasalahan utama yang sering ditemukan di sekolah adalah rendahnya minat membaca Al-Qur’an di kalangan siswa, meski kegiatan BTQ termasuk dalam kurikulum. Ada beberapa faktor yang saling berkaitan sehingga aktivitas ini tidak lagi dianggap menarik. Pertama, pembelajaran BTQ yang berlangsung monoton dan kurang variatif membuat siswa cepat merasa bosan. Ketika metode yang digunakan cenderung seragam, seperti membaca secara bergiliran atau mengikuti buku panduan yang sama setiap pertemuan, siswa tidak mendapatkan pengalaman belajar yang hidup dan menyenangkan. Kedua, motivasi untuk membaca Al-Qur’an sering kali kurang ditanamkan secara menyeluruh. Sebagian siswa belum memahami keutamaan membaca Al-Qur’an, baik dari segi spiritual, psikologis, maupun social-emotional. Akibatnya, kegiatan ini dianggap sebagai kewajiban semata, bukan kebutuhan yang mendatangkan ketenangan maupun keberkahan. Ketiga, minimnya keterlibatan orang tua juga turut memengaruhi. Ketika siswa tidak dibiasakan membaca Al-Qur’an di rumah atau tidak mendapatkan teladan dari lingkungan keluarga, maka minat mereka pun menurun. Tanpa dukungan yang konsisten dari sekolah dan rumah, pembiasaan membaca Al-Qur’an menjadi sulit terbentuk.
Untuk menghadapi permasalahan tersebut, perlu strategi komprehensif yang tidak hanya memperbaiki metode pembelajaran, tetapi juga menyentuh aspek motivasi, pembiasaan, dan kolaborasi dengan orang tua. Salah satu langkah penting adalah membuat pembelajaran BTQ lebih menarik dan variatif. Guru dapat memanfaatkan berbagai metode kreatif seperti game edukatif yang berkaitan dengan tajwid, tantangan membaca, atau kegiatan peer learning yang memungkinkan siswa belajar bersama teman sebaya. Penggunaan media kreatif seperti video penjelasan tajwid, animation learning, atau aplikasi digital yang interaktif juga dapat menambah semangat belajar. Dunia digital yang akrab dengan kehidupan siswa dapat menjadi jembatan untuk membuat pembelajaran Al-Qur’an lebih relevan dan menyenangkan.
Selain memperkaya metode pembelajaran, pemberian motivasi yang mendalam tentang keutamaan membaca Al-Qur’an sangat penting. Guru dapat membagikan kisah inspiratif tentang tokoh-tokoh yang dekat dengan Al-Qur’an, termasuk ulama masa lalu maupun tokoh kontemporer yang sukses berkat kedisiplinan mereka dalam berinteraksi dengan kitab suci. Dalil-dalil tentang keutamaan membaca Al-Qur’an dapat disampaikan dengan cara yang menyentuh dan dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Misalnya, bagaimana membaca Al-Qur’an dapat menenangkan hati ketika menghadapi stres, bagaimana tajwid yang benar melatih kesabaran, atau bagaimana ayat-ayat tertentu memberi motivasi dalam mengejar prestasi. Ketika siswa menemukan makna personal dalam aktivitas membaca Al-Qur’an, minat mereka akan tumbuh secara alami.
Strategi lain yang dapat diterapkan adalah penetapan target bacaan kecil dan bertahap. Target yang terlalu tinggi justru membuat siswa mudah menyerah, sementara target realistis seperti membaca satu halaman per hari dapat menjadi awal yang baik. Monitoring progres siswa perlu dilakukan secara berkala agar mereka merasa dihargai atas usaha yang telah dicapai. Dalam proses ini, konsistensi lebih penting daripada kuantitas. Kebiasaan yang dibangun dari langkah-langkah kecil akan berkembang menjadi rutinitas yang kuat. Selain itu, pemberian reward atau penghargaan sederhana dapat memicu semangat siswa. Sertifikat, pujian, atau poin prestasi untuk siswa yang konsisten membaca Al-Qur’an bukan hanya bentuk apresiasi, tetapi juga penguat perilaku positif. Penghargaan semacam ini tidak perlu mewah; yang terpenting adalah maknanya bagi siswa.
Keterlibatan orang tua juga merupakan komponen penting dalam menumbuhkan minat membaca Al-Qur’an. Guru tidak dapat bekerja sendirian. Orang tua perlu memberikan pendampingan minimal 10–15 menit per hari, baik melalui evaluasi bacaan, mendengarkan anak membaca, atau sekadar menyediakan waktu tenang untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an. Komunikasi rutin antara guru dan orang tua dapat memperkuat kerja sama dalam memastikan siswa mendapatkan pembiasaan di rumah. Dalam beberapa kasus, siswa yang belum lancar membaca Al-Qur’an memerlukan bimbingan khusus. Sekolah dapat menyediakan sesi tambahan bagi siswa yang membutuhkan, dengan pendekatan personal dan penuh kesabaran. Perhatian khusus seperti ini akan membuat siswa merasa diperhatikan dan tidak tertinggal dari teman-temannya.
Jika strategi-strategi tersebut diterapkan secara konsisten, berbagai dampak positif dapat terwujud. Siswa akan lebih berminat dan bersemangat membaca Al-Qur’an, karena aktivitas ini tidak lagi dirasakan sebagai beban. Kemampuan membaca mereka meningkat, sesuai dengan kaidah tajwid, dan pelafalan menjadi lebih baik. Perlahan-lahan terbentuk kebiasaan rutin membaca Al-Qur’an, yang bukan hanya memberi manfaat spiritual, tetapi juga membangun disiplin dan ketenangan batin. Pada saat yang sama, kerja sama harmonis antara guru dan orang tua akan memperkuat ekosistem pendidikan yang kondusif. Ketika sekolah dan rumah berjalan beriringan, perkembangan spiritual siswa dapat tumbuh lebih optimal.
Akhirnya, membaca Al-Qur’an bukan sekadar kewajiban yang harus dilakukan karena aturan sekolah, tetapi merupakan kebutuhan spiritual yang memberi arah hidup. Dengan metode pembelajaran yang kreatif, pemberian motivasi yang inspiratif, serta kolaborasi yang kuat antara sekolah dan orang tua, minat siswa dalam membaca Al-Qur’an akan tumbuh dengan sendirinya. Pada titik ini, kita dapat berharap lahirnya generasi Qur’ani yang tidak hanya fasih membaca, tetapi juga menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam bersikap dan berakhlak. Generasi inilah yang kelak akan menjadi pelita bangsa, membangun masa depan dengan kecerdasan, keimanan, dan karakter mulia.
Penulis : Rian Prasetyo, Guru Tahfidz SMA Islam Sultan Agung 1 Semarang
