Setiap pagi, pemandangan yang hampir selalu sama tersaji di depan ruang tata usaha atau meja piket sekolah: deretan siswa berbaris sambil menggenggam surat permohonan izin masuk akibat datang terlambat. Beberapa tampak menunduk, sebagian lagi menunjukkan wajah bosan karena ini bukan pertama kalinya mereka mengalami hal yang sama. Di balik antrean itu, ada fenomena yang sering dianggap lumrah—keterlambatan sebagai pelanggaran ringan yang cukup ditebus dengan teguran atau tanda tangan guru piket. Namun, jika dicermati lebih dalam, persoalan ini memiliki dampak yang jauh lebih sistemik. Hilangnya jam belajar, berkurangnya fokus pembelajaran, hingga merosotnya budaya positif di sekolah adalah konsekuensi nyata yang sering luput dari perhatian. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah hukuman fisik ringan, omelan singkat, atau kegiatan refleksi tanpa pendampingan sungguh efektif mengubah perilaku siswa? Ataukah sebenarnya semua itu hanya solusi instan yang menutupi akar persoalan yang lebih kompleks?
Selama bertahun-tahun, pendekatan hukuman telah digunakan sebagai cara utama menegakkan disiplin. Namun, penelitian dan pengalaman lapangan menunjukkan bahwa hukuman lebih sering menciptakan motivasi eksternal—rasa takut terhadap konsekuensi—ketimbang menumbuhkan kesadaran internal. Ketika motivasi hanya bersumber dari ketakutan, perubahan perilaku cenderung tidak bertahan lama. Siswa mungkin datang lebih awal esok hari karena takut dihukum, tetapi tanpa pemahaman mendalam mengenai alasan mereka perlu disiplin, kebiasaan positif itu dengan mudah memudar. Selain itu, hukuman dapat merusak hubungan guru dan siswa. Teguran yang diucapkan berulang kali sering berubah menjadi keluhan yang menumpuk, sementara siswa merasa disalahkan tanpa diberi ruang untuk memahami diri. Dalam jangka panjang, budaya disiplin tidak benar-benar tumbuh, karena siswa hanya berfokus menghindari hukuman, bukan membangun tanggung jawab.
Perubahan paradigma dalam dunia pendidikan mendorong sekolah untuk meninggalkan pendekatan menghukum dan beralih ke pendekatan memberdayakan. Kurikulum 2025 yang menekankan pembelajaran berbasis motivasi diri dan karakter menjadi landasan kuat untuk perubahan ini. Dalam konteks tersebut, coaching hadir sebagai pendekatan yang relevan dan efektif. Coaching meyakini bahwa setiap individu—termasuk siswa—memiliki potensi untuk memecahkan masalahnya sendiri jika difasilitasi dengan pertanyaan dan pendampingan yang tepat. Alih-alih memberi nasihat atau mendikte langkah yang harus diambil, guru sebagai coach membantu siswa melihat pilihan, menimbang konsekuensi, dan menetapkan komitmen berdasarkan kesadaran pribadi. Inilah pergeseran penting dari kontrol menuju pemberdayaan.
Pendekatan coaching sangat cocok diterapkan pada siswa SMA yang tengah berada pada fase perkembangan remaja akhir. Pada tahap ini, mereka sedang mencari identitas sekaligus menginginkan otonomi yang lebih besar atas hidup mereka. Menurut Self-Determination Theory, ada tiga kebutuhan psikologis dasar yang mendorong motivasi intrinsik: otonomi, kompetensi, dan keterhubungan. Otonomi berarti siswa merasa memiliki kontrol atas keputusan yang mereka ambil. Kompetensi berkaitan dengan perasaan mampu menyelesaikan tugas atau mengatasi tantangan. Sementara keterhubungan muncul ketika siswa merasa dipahami dan diterima oleh lingkungannya. Ketika guru memberikan nasihat atau perintah, siswa cenderung menolak karena merasa kontrolnya diambil. Tetapi ketika guru bertanya dengan tulus, mendengarkan tanpa menghakimi, dan memberikan ruang bagi siswa untuk merumuskan rencana mereka sendiri, ketiga kebutuhan dasar itu terpenuhi. Hasilnya adalah tumbuhnya kesadaran, bukan kepatuhan semu.
Dalam konteks masalah keterlambatan, coaching dapat mengubah dinamika interaksi antara guru dan siswa. Alih-alih menegur atau memberi hukuman, guru dapat memulai percakapan dengan pertanyaan memberdayakan seperti, “Apa tantangan yang kamu hadapi pagi ini?” atau “Apa rencanamu agar besok datang lebih tepat waktu?” Pertanyaan sederhana ini mengajak siswa berefleksi mengenai akar masalah: manajemen waktu yang buruk, kurang tidur, transportasi, atau bahkan masalah keluarga. Dari refleksi itu, siswa dapat menyusun solusi yang realistis sesuai kondisi mereka. Coaching tidak berhenti pada pencarian penyebab, tetapi mengarahkan siswa pada orientasi masa depan. Alih-alih fokus pada kesalahan, siswa diajak memikirkan langkah konkret yang akan mereka ambil. Coaching bersifat individual sehingga setiap siswa diperhatikan sesuai kebutuhannya, tidak seperti hukuman massal yang sering mengabaikan konteks pribadi masing-masing anak.
Pada akhirnya, coaching menciptakan perubahan perilaku jangka panjang karena didasarkan pada motivasi intrinsik. Ketika siswa menyadari pentingnya datang tepat waktu, perilaku itu tidak lagi bergantung pada hukuman atau pengawasan. Mereka mengembangkan keterampilan self-regulation, kemampuan mengelola diri, emosi, dan keputusan. Selain itu, mereka belajar problem solving, yang merupakan keterampilan penting dalam kehidupan dewasa, baik di perguruan tinggi maupun dunia kerja. Kebiasaan disiplin yang tumbuh dari pemahaman dan komitmen pribadi akan jauh lebih stabil dibanding kebiasaan yang dibangun atas dasar takut. Perubahan ini sejalan dengan tujuan pendidikan modern: mencetak individu yang mampu berpikir kritis, mandiri, dan bertanggung jawab atas tindakannya.
Peran guru dalam pendekatan coaching juga berubah. Guru tidak hanya menjadi sumber pengetahuan, tetapi juga fasilitator pengembangan diri siswa. Mereka perlu memiliki keterampilan mendengar aktif, kemampuan bertanya yang memberdayakan, dan sikap tidak menghakimi. Guru yang mengenali potensi siswa dan membantu mereka menumbuhkan kesadaran akan membangun hubungan yang sehat dan saling percaya. Lingkungan sekolah pun perlahan berubah menjadi ruang yang positif dan kolaboratif. Ketika satu siswa berhasil mengubah perilakunya karena kesadaran pribadi, hal itu memengaruhi budaya kelas dan akhirnya meluas ke budaya sekolah. Disiplin tidak lagi terasa seperti tekanan, tetapi menjadi bagian dari identitas bersama.
Pada akhirnya, mengatasi persoalan keterlambatan tidak cukup hanya dengan memberikan hukuman. Masalah ini menuntut pendekatan yang lebih manusiawi, lebih reflektif, dan lebih memberdayakan. Coaching menawarkan strategi kuat untuk menumbuhkan kesadaran, membangun tanggung jawab, dan membantu siswa menjadi individu yang mampu mengelola dirinya sendiri. Menuju Indonesia Emas 2045, sekolah memiliki tanggung jawab besar untuk mencetak generasi yang tidak hanya menghafal ilmu, tetapi juga mampu berpikir, memilih, dan bertindak dengan kesadaran penuh. Guru sebagai coach adalah kunci transformasi tersebut, menjembatani perubahan dari sistem yang menghukum menuju sistem yang memberdayakan manusia secara utuh. Dengan demikian, barisan siswa yang mengantre karena terlambat bukan lagi menjadi pemandangan rutin, melainkan cerita lama dari sebuah proses perubahan yang berhasil.
Penulis :Verena Dian Amini Saptoarti, Guru Matematika SMA PL Don Bosko
