Saat menghitung lamanya menjadi seorang pendidik, kurang lebih 29 tahun saya menjalankan profesi sebagai guru sejarah di SMA PL Don Bosko. Di tahun pertama mengajar, gaya mengajar saya mirip ceramah dosen yang memonopoli kelas selama 45 menit. Selama satu jam pelajaran yang terdengar hanya suara saya, sang guru pemula. Tidak ada interaksi kelas yang terbangun dalam suasana pembelajaran monoton yang jauh dari makna kreatif. Ilmu-ilmu pedagogi di bangku kuliah hanya mampu menyumbang 20%, selebihnya sebanyak 80% adalah cara mengajar beberapa dosen yang mengandalkan model ceramah satu arah.
Stigma negatif pembelajaran lama
Pembelajaran model lama menempatkan guru dan murid dalam posisi yang tidak seimbang. Guru dianggap lebih pintar, lebih menang pengalaman, dan lebih berpengetahuan daripada muridnya. Posisi guru dan murid yang tidak seimbang mengakibatkan tumbuhnya stigma negatif model pembelajaran lama. Pekerjaan guru seperti mengisi wadah kosong. Proses pembelajaran identik dengan pengisian ilmu pengetahuan dari guru ke dalam pikiran murid. Oleh karena guru hanya mengisi pengetahuan yang dikuasainya ke dalam otak murid, maka hanya pengetahuan itulah yang didapatkan murid sehingga wawasan pengetahuan mereka sangat sempit.
Pembelajaran model lama juga dilandasi pandangan John Lock yang memandang seorang anak atau murid sebagai selembar kertas putih yang kosong. Guru mempunyai otoritas penuh untuk menulis, menggambar, dan mewarnai kertas kosong tersebut. Tugas utama murid hanya menerima dan menyimpan fakta, data dan rumus dari gurunya. Dalam rangka memastikan pengetahuan yang diberikan guru tersebut tersimpan dengan rapi, murid berupaya menghapalkannya agar dapat mengerjakan soal-soal ulangan dari gurunya. Akibat paling fatal, pembelajaran pada jenjang SMA kerap dibayangi stigma negatif sebagai aktivitas belajar mengajar yang kaku, penuh hafalan, dan jauh relevansinya dari dunia nyata. Murid dipaksa harus mengikuti pola belajar yang seragam. Sebagai tenaga pendidik, guru dituntut menyelesaikan materi pelajaran tanpa memiliki ruang yang cukup untuk berinovasi.
Dalam pembelajaran model lama, kreatifitas guru untuk mengakomodasi keberagaman gaya belajar murid tidak tercipta. Stigma pembelajaran lama identik dengan metode ceramah searah, ujian sebagai satu-satunya tolok ukur pencapaian belajar, dan penempatan murid sebagai pihak penerima ilmu yang pasif. Tentu saja cara ini sudah harus ditinggalkan untuk menciptakan ekosistem belajar yang benar-benar memerdekakan murid sebagai individu dengan kemajemukan gaya belajarnya.
Seiring pengalaman melihat cara mengajar guru senior, menjumpai kurang bergairahnya murid saat saya masuk kelas, mengikuti beberapa pelatihan pedagogi yang rutin diselenggarakan oleh SMA PL Don Bosko, mendapat pembinaan dari Pembina Yayasan Pangudi Luhur, serta mengalami perkembangan media pembelajaran elektronik di dalam kelas, perlahan-lahan saya meninggalkan model pembelajaran lama. Saya mengalami lompatan perubahan cara pandang mengajar yang semula ceramah monologis berubah menjadi kreatif multidialog dengan bantuan games seperti Kahoot. Perubahan tersebut sejalan dengan penegasan UNESCO dalam World Education Forum yang menyatakan bahwa paradigma proses pembelajaran abad ke-21 harus mengubah kegiatan mengajar (teaching) menjadi kegiatan belajar (learning). Guru dan murid memperoleh porsi yang sama dalam pembelajaran, sebab mereka belajar bersama, saling memberi dan melengkapi pengetahuan.
Perubahan Teaching menjadi Learning
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi, Profesor Stella Christie menegaskan pentingnya learning knowledge di tingkat pendidikan dasar dan menengah sebagai pondasi how to create knowledge di perguruan tinggi. Agar teaching berubah menjadi learning, guru harus melakukan perubahan besar gaya penyampaian materinya. Guru wajib meninggalkan orientasi pada teks saja. Tugas utama guru adalah menyediakan sumber belajar yang variatif dan tidak terbatas. Penyediaan akses informasi seperti media pembelajaran elektronik dan internet bagi murid adalah cara terbaik dalam meluaskan wawasannya.
Keberhasilan pembelajaran kreatif diawali dari scene setting yang menarik. Scene setting merupakan strategi mengajar untuk membangkitkan minat dan rasa penasaran, serta memberi pengalaman belajar sebelum memasuki materi inti. Porsi terbesar keberhasilan memahami materi pelajaran sangat ditentukan pada menit-menit pertama rasa penasaran tersebut. Sebagai guru sejarah, saya membuat scene setting melalui daftar pertanyaan dalam Kahoot. Murid menjadi bergairah karena mereka belajar sejarah menggunakan media handphone sebagai alat bantunya. Antar murid terjadi kompetisi yang sehat dalam memperebutkan peringkat score tertinggi permainan Kahoot.
Guru juga dapat menciptakan proses learning dengan cara mengubah proses pembelajaran perseorangan menjadi kerja kelompok. Memperbanyak porsi kerja kelompok sepanjang proses pembelajaran mampu membuka peluang murid untuk memperoleh variasi pengetahuan dari teman-temannya. Ketrampilan berkomunikasi, belajar mempertahankan pendapat, kerjasama dan sikap terbuka terhadap pendapat orang lain juga semakin meningkat. Pengubahan proses pembelajaran dari murid pasif menjadi murid aktif dapat memaksimalkan tumbuh kembang mereka sesuai potensinya. Murid semakin aktif tidak semata secara fisik saja, akan tetapi aktif secara mental intelektual. Murid yang aktif merasa tertantang, penasaran, berpikir dan terus belajar secara berkelanjutan.
Guru perlu terus belajar menyampaikan materi yang merangsang peran aktif murid. Murid yang semula menerima pengetahuan harus menjadi murid yang mampu membangun pengetahuan berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang telah mereka miliki sebelumnya. Tugas utama guru adalah memberikan stimulasi dan menciptakan lingkungan belajar yang merangsang murid untuk membangun pengetahuannya sendiri. Guru harus mengubah instructive menjadi interactive. Pada dasarnya, setiap murid tidak suka jika terus-menerus disuruh atau digurui. Mereka jauh lebih senang jika dilibatkan dalam relasi yang interaktif, baik dengan guru maupun dengan teman-temannya. Situasi penuh interaksi memungkinkan mereka mengaktualisasikan pengetahuan yang dipahaminya.
Pembelajaran Mendalam sebagai solusi transformasi teaching menjadi learning
Pembelajaran mendalam hadir untuk mengembalikan esensi belajar yang sejati, ditandai dengan kemampuan murid dalam memahami, merefleksi, dan menerapkan pengetahuan dalam situasi nyata yang mereka hadapi sehari-hari. Belajar bukan lagi sekedar mendengarkan penjelasan guru. Belajar adalah proses mengalami sendiri dengan melakukan eksperimen atau percobaan, proyek, debat, bermain peran dalam drama, simulasi, presentasi power point hasil kerja kelompok, diskusi antar kelompok, maupun bermain games edukatif. Posisi murid menjadi subjek belajar, bukan objek pembelajaran.
Pembelajaran mendalam mengutamakan hubungan antar konsep. Murid tidak lagi menghafal fakta, sebab mereka diajak melihat keterkaitan konsep lintas materi. Sebagai guru sejarah, saya mempraktekkannya, misalnya mempelajari sejarah Reformasi Indonesia dikaitkan dengan dinamika politik, ekonomi, dan sosial budaya masa kini. Penerapan dalam kehidupan nyata dapat diwujudkan dalam bentuk pertanyaan. Guru mengarahkan murid untuk menjawab pertanyaan analitis dengan memberi keleluasaan menjawab sesuai hati nurani masing-masing, misalnya pada pertanyaan tentang Reformasi: “Apa manfaat yang bisa saya ambil dari topik sejarah Reformasi ini untuk hidup saya?” Proses mengontekstualisasi inilah yang menghilangkan kesan belajar hanya untuk ujian saja.
Pembelajaran yang berpusat pada pertanyaan merangsang murid untuk kritis berpikir dan berani mengungkapkan pendapat pribadinya. Guru sebaiknya selalu memancing rasa ingin tahu murid dengan mengajukan pertanyaan mendalam seperti:
“Bagaimana kondisi sosial politik dan sosial ekonomi Indonesia saat ini apabila Reformasi yang dipelopori oleh generasi muda pada bulan Mei 1998 tidak pernah terjadi?” Pertanyaan semacam inilah yang memantik pemikiran analitis dan argumentatif. Setiap kegiatan belajar diakhiri dengan refleksi singkat mengenai inti materi apa yang sudah berhasil dipahami, materi bagian mana yang masih membingungkan, dan bagaimana pengetahuan baru mampu mengubah cara pandang murid.
Pembelajaran mendalam menyajikan aktivitas belajar terkini yang variatif dan bermakna. Dalam pembelajaran sejarah, guru dapat menyajikannya dalam bentuk debat peristiwa bersejarah yang kontroversial seperti keaslian naskah Supersemar yang masih menjadi bahan perdebatan hingga sekarang, simulasi sidang MPR, eksperimen sosial, drama sejarah, hingga penggunaan media digital. Guru bergeser menjadi seorang fasilitator, mentor, dan coach, dengan cara memberikan pertanyaan kunci dan membimbing murid untuk menemukan jawabannya. Fakta sejarah tetap dipelajari, akan tetapi menjadi landasan untuk berpikir kritis, bukan sebagai tujuan akhir. Setiap topik dikaitkan dengan isu kontemporer, sehingga murid merasakan manfaatnya secara langsung.
Langkah praktis implementasi pembelajaran mendalam
Sebagai guru kreatif yang menerapkan pembelajaran mendalam, mulailah pembelajaran dengan scene setting menarik berupa pertanyaan-pertanyaan singkat mendasar melalui games Kahoot atau games-games sejenisnya. Gunakan metode eksploratif seperti inkuiry, problem-based learning, dan project-based learning. Buatlah rancangan kegiatan kolaboratif yang memungkinkan murid berdiskusi dan saling mengkritisi ide. Sisipkan refleksi rutin di akhir setiap sesi. Perkuat pemahaman murid dengan asesmen formatif, bukan hanya pada saat penilaian akhir saja. Gunakan teknologi secara bijak, seperti simulasi, peta konsep digital, video sejarah, dilm dokumenter atau ChatGPT untuk eksplorasi ide. Integrasikan lintas mata pelajaran agar murid melihat hubungan antar pengetahuan yang saling mendukung. Dengan mengubah proses pembelajaran, ruang kelas dan lingkungan sekolah dengan sendirinya menjadi kelompok masyarakat pembelajar yang adaptif dengan dinamika ilmu pengetahuan dan teknologi.
Penulis : Anna Sri Marlupi, S.S. Guru Mata Pelajaran Sejarah dan Koordinator Humas SMA PL Don Bosko
