“Gundul pacul, gundul pacul, cul gembelengan…”
Tembang sederhana yang dulu dinyanyikan anak-anak di pematang sawah itu kini terasa seperti satire paling halus bagi dunia pendidikan kita.
“Gundul” bukan sekadar kepala tanpa rambut, melainkan simbol kepala yang bersih dari keserakahan.
Sedangkan “pacul” bukan sekadar cangkul, melainkan *papat aja nganti ucul* — empat hal yang tak boleh lepas dari seorang pemimpin: mata yang jernih, hidung yang peka, telinga yang mendengar, dan mulut yang berhati-hati.
Namun kini, banyak pemimpin sekolah menjadi “gundul” bukan karena suci, melainkan karena galau, miskin ide dan kering nurani.
Pendidikan kita seringkali menjelma panggung tepuk tangan—ramai oleh jargon, miskin ketulusan. Orientasi pelayanan kepada murid lebih pendek dan pragmatis sesuai program yang kadang bersifat mendadak.
Mindful, Meaningful, dan Joyful — Tapi di Mana Ruhnya?
Kerangka Pembelajaran Mendalam sejatinya berakar pada tiga hal: Mindful (berkesadaran), Meaningful (bermakna), dan Joyful (menggembirakan).
Namun di lapangan, tiga kata itu sering berubah jadi slogan tanpa jiwa.
Mindful kini digantikan oleh mindless routine — rutinitas tanpa refleksi.
Guru sibuk mengejar tenggat laporan, tapi lupa menengok batin muridnya yang muram. Tak ada komunikasi intens sebagai manusia antara guru dan murid. Semua interaksi hanya formalitas diantara kesibukan menyesuaikan jadwal yang padat : masuk kelas dan kegiatan administratif.
Meaningful hanya berjejak di dokumen dan presentasi berujud PowerPoint, bukan di tatapan mata siswa yang sedang berjuang memahami makna belajar.
Guru menulis “bermakna” di RPP, menyalinnya di aplikasi, lalu terjebak dalam supervisi yang lebih menilai format daripada empati. Tak ada diskusi membahas persoalan real bagaimana mengajar yang melayani semua kebutuhan belajar murid.
Sementara Joyful dipersempit menjadi suasana pelatihan yang ramai tawa dan ice breaking.
Padahal seharusnya, kegembiraan sejati lahir dari rasa ingin tahu dan pencarian makna, bukan dari foto bersama atau swafoto di depan banner pelatihan.
Tiga kata itu kehilangan ruh karena guru dan kepala sekolah lebih sering sibuk menata acara seremonial daripada menata strategi untuk lebih menyentuh hati para murid.
Kegiatan pendidikan pun menjelma seremonial yang sibuk mencari simbol, tapi kehilangan substansi. Dalam banyak kegiatan, murid seringkali menjadi obyek peserta kegiatan bukan subyek yang belajar aktif.
Supervisi dan Akreditasi: Pentas Administratif
Supervisi seharusnya menjadi ruang refleksi dan pembinaan.
Namun kini kepala sekolah datang ke kelas membawa berkas formulir, bukan rasa ingin tahu persoalan yang dihadapi guru kemudian mencari solusi jitu.
Pengawas hadir dengan daftar centang, bukan semangat belajar bersama.
Yang penting: dokumennya lengkap, formatnya benar, tandatangannya jelas.
Pembelajaran boleh hambar, murid tidak belajar asal laporan “sudah terkirim.”
PKKS dan akreditasi pun sering menjelma jadi panggung sandiwara nilai.
Nilai tinggi bisa lahir dari tumpukan kertas yang sempurna, bukan dari praktik yang bermakna.
Di beberapa tempat, narasi indah dan foto penuh semangat sudah cukup untuk “menyulap” hasil akreditasi.
“Kalau sekolah bisa punya nilai palsu,” kata seorang guru getir,
“ya wajar kalau murid juga punya nilai palsu.”
Asesmen Rumit, Nilai Ajaib
Dalam suasana itu, alat asesmen kini berubah menjadi labirin administrasi.
Guru dituntut membuat instrumen yang “autentik”, “berbasis HOTS”, dengan unsur numerasi dan literasi yang kompleks.
Bentuknya beragam, modelnya berlapis, dan setiap versi harus dikonsultasikan berulang kali dengan pengawas sekolah sebelum disahkan.
Energi dan waktu guru terkuras bukan untuk memahami muridnya, tetapi untuk menyesuaikan format penilaiannya agar sesuai juknis.
Namun ironinya, saat asesmen dilaksanakan, hasilnya sering tak layak.
Nilai rendah, kemampuan literasi dan numerasi anak jeblok.
Maka muncullah remidi formalitas—kegiatan simbolik sekadar menggugurkan kewajiban.
Ada guru yang masih membimbing sungguh-sungguh, tetapi banyak pula yang memilih cara instan.
Nilai murid tiba-tiba “membaik” menjelang pembagian rapor, kadang bukan oleh guru mapel, melainkan oleh wali kelas demi menjaga citra sekolah tetap tinggi.
Fakta ini nyata di lapangan, namun sulit dibuktikan dan tak mungkin diakui.
Semuanya berjalan dalam diam—karena di dunia pendidikan, kejujuran sering dianggap berisiko, sementara kepalsuan sudah menjadi kebiasaan sosial yang nyaris sistemik.
Sikap ABS dan Wajah Suram Pendidikan
Masih banyak pemimpin pembelajaran, kepala sekolah dan guru yang hidup dalam budaya ABS — Asal Bapak Senang, Asal Berkas Siap, Asal Bisa Selamat.
Laporan sudah dikirim, supervisi sudah dilakukan, dokumentasi lengkap—
tapi perubahan perilaku? Entah di mana. Bukan target yang ingin dicapai dan tak ada indikator perubahan perilaku yang diukur.
Padahal kepemimpinan sejati bukan tentang compliance, melainkan tentang conscience.
Bukan tentang tunduk pada prosedur, tapi tentang menyalakan kesadaran dan keberanian moral.
Di balik dinding sekolah, wajah-wajah suram itu menjelma nyata.
Ada kepala sekolah yang sibuk berpolitik, tapi abai pada murid yang kelasnya kosong.Jarang ada di sekolah sibuk kordinasi kegiatan ini itu sambil makan-makan di restoran.
Ada guru senior yang keras di rapat, idealis dalam narasi, tapi malas menyapa siswa dengan kasih dan rasa peduli.
Ada pengawas yang rajin menilai, tapi tak pernah menilai dirinya sendiri. Hadir di sekolah untuk kompromi data dan kepentingan laporan pribadi.
Rapat program kerja sekolah bisa berubah jadi arena gengsi.
Ada yang lebih sibuk mengatur seragam panitia ketimbang strategi pembelajaran.
Laporan BOS rapi, tapi kursi siswa kurang dan langit-langit kelas bolong-bolong.
Dan ketika ada guru yang jujur menolak manipulasi nilai, ia justru dicap “tidak kompak.”
“Yang penting jangan salah di laporan, salah di kelas masih bisa diperbaiki tahun depan,”
begitu bunyi humor getir di ruang guru.
Para tokoh “gundul gembelengan” itu bukan tanpa rambut, tapi tanpa rasa malu.
Mereka menggendong jabatan sambil meloncat ke sana kemari , lupa bahwa kepalanya nyunggi wakul sehingga wakul ngglewang—wadah tempat amanah tak terkontrol dan isinya tumpah.
Nilai-nilai luhur berserakan, diinjak oleh ambisi dan kepura-puraan.
Kepalsuan yang Dibiarkan Hidup
“Selamat pagi Pak, selamat pagi Bu,
ucap anak sekolah dengan sapaan palsu.
Lalu mereka pun belajar sejarah palsu dari buku-buku palsu.
Di akhir sekolah, mereka terperangah melihat nilai-nilai palsu.
Karena tak cukup nilai, berdatanganlah mereka
ke rumah bapak dan ibu guru
membawa amplop berisi rasa hormat palsu…”
Agus R. Sarjono, “Sajak Palsu” (1998)
Penggalan puisi lama itu seperti cermin retak bagi dunia pendidikan kita.
Murid belajar dari kepalsuan, guru terbiasa dengan kepura-puraan, dan sistem memelihara keduanya.
Ketika semuanya telah larut dalam kebohongan yang dianggap lumrah—
bagaimana mungkin lahir generasi yang jujur, peka, dan bijak?
Monolog Batin Seorang Guru
Kadang aku termenung di ruangku sendiri.
Dinding penuh piagam, tapi kosong dari kejujuran.
Tumpukan laporan rapi, tapi tak satu pun bisa kujadikan cermin refleksi.
Aku bertanya: apakah aku masih memanggul pacul itu—
atau sudah kehilangan semuanya: mata yang jeli,hidung yang peka, telinga yang lembut, mulut yang jujur?
Mungkin Gundul Pacul bukan lagi lagu anak-anak,
tapi nasehat bagi para pemimpin yang kehilangan arah.
Jika suatu hari aku dipanggil, biarlah aku dikenang bukan karena nilai dan prestasi yang tinggi,
tapi karena pernah jujur walau sepi, pernah menolak palsu walau dicibir.
Saatnya Pacul Harus Diangkat Kembali
Kita tidak kekurangan pelatihan, aplikasi, atau supervisi.
Kekurangan kita adalah kejujuran dan kepekaan nurani.
Wajah suram di balik dinding sekolah hanyalah pantulan dari nurani yang kusam.
Dan barangkali, penyakit paling mematikan dalam dunia pendidikan kita bukanlah kesalahan—
melainkan kepalsuan yang dibiarkan hidup terlalu lama,
hingga kita tak lagi tahu mana yang benar, mana yang hanya tampak benar.
Bagaimana mungkin pendidikan melahirkan murid yang pinter, bener, lan pener
jika jalannya penuh kepalsuan?
Bagaimana kita menyiapkan generasi emas
jika perilaku manusia di dunia pendidikan sendiri
tidak seperti para pendulang emas
yang sabar, jujur, dan tekun menyaring butir-butir murni dari lumpur kotor kehidupan?
Maka, mari kita angkat kembali pacul itu
dengan kepala yang gundul karena jujur,
bukan karena tunduk dan terlepas 4 perkara penting di kepala kita.
Ajibarang, 9 Nop 2025
Penulis : Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja
Tentang Penulis
Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja adalah Guru IPA di SMP N 2 Ajibarang dan penulis yang aktif dalam gerakan literasi sekolah. Tulisan-tulisannya menyoroti hubungan antara kemanusiaan, pendidikan, dan nilai-nilai moral di era digital, dalam bentuk cerpen, puisi dan artikel.
