SEMARANG-SMKN Jateng di Semarang kembali memberikan penguatan pengetahuan kesehatan kepada peserta didik melalui kegiatan edukasi tentang Tuberkulosis (TB) paru dan Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP). Kegiatan yang dilaksanakan pada Sabtu, 15 Agustus 2026, tersebut menghadirkan tenaga kesehatan dari Puskesmas Bulu Lor Kota Semarang dan berlangsung di Ruang AVA SMKN Jateng di Semarang. Kegiatan diikuti siswa kelas XI TP dan XI TKP sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesadaran siswa terhadap kesehatan fisik sekaligus kesehatan psikologis.
Dalam kegiatan tersebut, peserta didik mendapatkan penjelasan mengenai pentingnya pemeriksaan atau skrining dahak untuk mendeteksi kemungkinan infeksi Tuberkulosis. Selain menerima materi, siswa juga mendapatkan penjelasan mengenai cara pengambilan sampel dahak yang benar sehingga hasil pemeriksaan dapat memberikan informasi yang akurat bagi tenaga kesehatan.
Skrining dahak atau sputum screening merupakan prosedur pemeriksaan sampel lendir kental yang berasal dari paru-paru. Pemeriksaan tersebut dilakukan untuk mendeteksi keberadaan bakteri Mycobacterium tuberculosis, yaitu bakteri penyebab TB, maupun mikroorganisme lain yang dapat menyebabkan infeksi pada saluran pernapasan.
Tenaga kesehatan dari Puskesmas Bulu Lor menjelaskan bahwa kualitas sampel sangat menentukan pemeriksaan. Dahak yang diperiksa bukan sekadar air liur, melainkan lendir yang berasal dari saluran pernapasan bagian dalam. Karena itu, peserta didik diberikan pemahaman mengenai teknik batuk yang tepat agar sampel yang diperoleh sesuai dengan kebutuhan pemeriksaan.
“Dahak yang dikumpulkan harus benar-benar berasal dari dalam dada, bukan hanya air liur. Caranya dengan menarik napas dalam beberapa kali, kemudian batukkan dengan kuat dari dalam dada,” jelas narasumber dari Puskesmas Bulu Lor dalam penyampaian materi kepada para siswa.
Para siswa juga dijelaskan bahwa waktu pengambilan dahak yang baik umumnya dilakukan pada pagi hari setelah bangun tidur. Sampel kemudian dimasukkan ke dalam pot steril berpenutup ulir yang telah disediakan oleh fasilitas kesehatan. Wadah tersebut harus digunakan sesuai petunjuk agar sampel tidak terkontaminasi dan tetap layak untuk diperiksa di laboratorium.
Dalam sesi berikutnya, narasumber menjelaskan mengenai metode pemeriksaan TB yang dapat dilakukan di laboratorium. Salah satunya adalah Tes Cepat Molekuler (TCM) dengan menggunakan mesin GeneXpert untuk mendeteksi materi genetik bakteri secara cepat. Selain itu, terdapat pemeriksaan BTA atau Bakteri Tahan Asam yang dilakukan melalui pemeriksaan mikroskopis dengan pewarnaan khusus terhadap sampel dahak.
Materi kemudian diarahkan pada pemahaman mengenai penyakit TB paru, mulai dari penyebab, gejala, cara penularan, pencegahan hingga pentingnya menjalani pengobatan secara disiplin. TB paru dijelaskan sebagai penyakit infeksi menular pada saluran pernapasan yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Penyakit tersebut perlu mendapatkan perhatian karena penularannya dapat terjadi melalui udara ketika penderita TB aktif batuk, bersin atau berbicara.
Peserta didik diperkenalkan dengan sejumlah gejala yang perlu diwaspadai sebagai tanda seseorang mengalami kemungkinan TB. Gejala tersebut antara lain batuk berdahak yang berlangsung selama dua minggu atau lebih, batuk disertai bercak darah, demam atau meriang yang muncul dan hilang dalam waktu lama, berkeringat pada malam hari, serta penurunan berat badan yang disertai hilangnya nafsu makan.
“Kalau ada batuk yang berlangsung dua minggu atau lebih, jangan dianggap sepele. Apalagi kalau disertai gejala lain seperti berat badan turun, berkeringat pada malam hari, atau batuk berdarah. Segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan,” pesan narasumber kepada siswa.
Edukasi tersebut juga menekankan bahwa TB dapat dicegah dan diobati. Upaya pencegahan antara lain melalui imunisasi BCG pada bayi, menjaga sirkulasi dan ventilasi udara tetap baik, menerapkan etika batuk dan menggunakan masker bagi penderita TB sesuai anjuran tenaga kesehatan. Sementara itu, pasien yang telah didiagnosis TB harus menjalani pengobatan dengan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) secara disiplin sesuai resep dan pengawasan tenaga kesehatan. Pengobatan TB membutuhkan waktu berbulan-bulan sehingga kepatuhan pasien menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan terapi.
Selain kesehatan fisik, kegiatan tersebut memberikan perhatian terhadap kesehatan psikologis siswa melalui materi Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis atau P3LP. Materi ini diperkenalkan sebagai bentuk bantuan kemanusiaan yang praktis dan suportif kepada seseorang yang baru saja mengalami kejadian yang sangat menekan, stres, atau traumatis.
P3LP yang secara internasional dikenal sebagai Psychological First Aid (PFA) tidak dimaksudkan sebagai pengganti penanganan profesional. Sebaliknya, P3LP menjadi langkah awal untuk memberikan rasa aman, dukungan dan membantu seseorang mendapatkan pertolongan yang tepat ketika menghadapi kondisi psikologis yang berat.
Dalam penyampaiannya, narasumber memperkenalkan prinsip 3L sebagai pendekatan sederhana dalam memberikan pertolongan pertama psikologis, yakni Look, Listen, dan Link. Ketiga prinsip tersebut menjadi panduan agar seseorang tidak terburu-buru memberikan nasihat atau menghakimi orang lain yang sedang mengalami tekanan.
Prinsip pertama adalah Look atau mengamati. Pada tahap ini, seseorang perlu memastikan keamanan lingkungan terlebih dahulu sebelum memberikan bantuan. Selanjutnya, perhatikan kondisi orang yang membutuhkan pertolongan, termasuk tanda-tanda stres berat seperti menangis, histeris, kebingungan atau terlihat sangat tertekan.
Prinsip kedua adalah Listen atau mendengarkan. Peserta didik diajak memahami bahwa seseorang yang sedang mengalami masalah psikologis tidak selalu membutuhkan banyak nasihat. Terkadang, hal paling berarti yang dapat dilakukan adalah hadir, mendengarkan dengan tenang dan tidak menghakimi. Orang yang sedang mengalami tekanan juga tidak boleh dipaksa untuk menceritakan pengalaman apabila belum siap.
“Ketika ada teman yang sedang mengalami masalah, jangan langsung menghakimi atau memaksa dia bercerita. Dengarkan dengan tenang dan tunjukkan bahwa kita ada untuk membantu,” tutur narasumber.
Prinsip ketiga adalah Link atau menghubungkan. Setelah memastikan kondisi dan mendengarkan kebutuhan orang tersebut, pemberi pertolongan dapat membantu menghubungkannya dengan kebutuhan dasar maupun sumber bantuan yang tepat. Kebutuhan sederhana seperti air minum, makanan, tempat aman dan keberadaan orang yang dipercaya dapat menjadi bagian dari dukungan awal. Jika kondisi membutuhkan penanganan lebih lanjut, orang tersebut perlu diarahkan kepada tenaga profesional seperti psikolog, dokter, atau layanan kesehatan yang sesuai.
Antusiasme siswa kelas XI TP dan XI TKP terlihat selama kegiatan berlangsung. Materi kesehatan yang disampaikan tidak hanya memberikan pengetahuan teoritis, tetapi juga membekali siswa dengan pemahaman praktis yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pengetahuan mengenai TB, misalnya, dapat membantu siswa mengenali gejala yang perlu diwaspadai sekaligus memahami pentingnya pemeriksaan kesehatan.
Sementara itu, materi P3LP memberikan perspektif bahwa menjaga kesehatan tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik. Lingkungan sekolah juga menjadi ruang interaksi sosial yang memungkinkan siswa menghadapi berbagai persoalan, baik dalam pergaulan maupun kehidupan sehari-hari. Kemampuan untuk mengenali kondisi teman, mendengarkan tanpa menghakimi dan menghubungkan seseorang dengan bantuan yang tepat menjadi keterampilan sosial yang penting.
Kegiatan edukasi yang menghadirkan Puskesmas Bulu Lor Kota Semarang tersebut pada akhirnya menjadi sarana kolaborasi antara sekolah dan tenaga kesehatan dalam membangun kesadaran hidup sehat di kalangan peserta didik. Melalui pemeriksaan skrining dahak dan edukasi TB paru, siswa memperoleh pemahaman mengenai pentingnya deteksi serta pencegahan penyakit menular. Sementara melalui materi P3LP, siswa didorong untuk memiliki kepedulian terhadap kondisi psikologis diri sendiri maupun orang-orang di sekitarnya.
Bagi siswa SMKN Jateng di Semarang, bekal tersebut diharapkan tidak berhenti pada ruang kelas. Pengetahuan tentang kesehatan fisik dan psikologis dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah, keluarga maupun masyarakat. Dengan pemahaman yang lebih baik, siswa diharapkan mampu mengenali risiko kesehatan sejak dini, tidak mudah mengabaikan gejala penyakit, serta mampu memberikan dukungan awal yang tepat kepada orang lain ketika menghadapi situasi penuh tekanan.
Melalui kegiatan pada Sabtu, 15 Agustus 2026, sekolah menunjukkan bahwa pendidikan peserta didik tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik dan kompetensi kejuruan. Pembentukan generasi yang sehat, peduli dan memiliki kemampuan merespons persoalan kesehatan secara tepat juga menjadi bagian penting dalam mempersiapkan siswa menghadapi kehidupan di tengah masyarakat.

Beri Komentar