Jumat, 14-08-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Sholat Jumat Berjamaah di Masjid Baitul Ilmi, Jamaah Diajak Meneladani Cahaya Rasulullah SAW

Diterbitkan : - Kategori : Berita

SEMARANG — Suasana khidmat dan penuh kekhusyukan mewarnai pelaksanaan Sholat Jumat Berjamaah di Masjid Baitul Ilmi, Jumat (14/8/2026). Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 12.00 WIB hingga selesai tersebut diikuti guru, karyawan, dan siswa putra. Selain menjadi bagian dari pelaksanaan kewajiban ibadah bagi umat Islam, Sholat Jumat Berjamaah juga menjadi momentum untuk memperkuat keimanan, membangun kebersamaan, sekaligus menghadirkan refleksi tentang keteladanan Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari.

Bertindak sebagai imam sekaligus khotib, Fuad Hasyim menyampaikan khutbah Jumat dengan tema “Mengingat Rasulullah SAW: Cahaya yang Tak Pernah Padam”. Melalui khutbah tersebut, jamaah diajak tidak sekadar mengenang sosok Nabi Muhammad SAW melalui nama dan sejarahnya, tetapi juga menghidupkan nilai-nilai perjuangan, kasih sayang, kejujuran, keteladanan, serta kecintaan beliau kepada umat dalam kehidupan nyata.

Khutbah diawali dengan pujian kepada Allah SWT dan pembacaan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Fuad Hasyim kemudian mengingatkan jamaah agar senantiasa meningkatkan ketakwaan dengan menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya.

Dalam khutbahnya, ia mengutip firman Allah SWT dalam QS. Al-Ahzab ayat 21 yang menegaskan bahwa Rasulullah SAW merupakan teladan terbaik bagi orang-orang yang berharap kepada Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah. Ayat tersebut menjadi landasan utama pesan khutbah tentang pentingnya menjadikan Rasulullah SAW sebagai figur teladan dalam berbagai aspek kehidupan.

“Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya,” pesan Fuad Hasyim kepada jamaah.

Ia mengajak jamaah untuk sejenak merenungkan perjalanan dakwah Rasulullah SAW. Menurutnya, Nabi Muhammad SAW menjalankan risalah dengan penuh kesabaran meskipun menghadapi berbagai bentuk penolakan, tekanan, bahkan perlakuan kasar dari masyarakat pada masa awal dakwah Islam.

Dalam kondisi yang penuh tantangan tersebut, Rasulullah SAW tetap menunjukkan akhlak yang luhur. Ia tidak membalas keburukan dengan keburukan, tetapi justru menunjukkan kasih sayang dan mendoakan kebaikan bagi orang-orang yang menyakitinya. Sikap tersebut, menurut Fuad, merupakan salah satu bukti nyata kemuliaan akhlak Rasulullah SAW yang patut diteladani umat Islam.

“Di tengah teriknya padang pasir Makkah, seorang lelaki yatim piatu berdiri tegak membawa risalah langit. Tidak ada harta melimpah, tidak ada pasukan di awal perjuangannya. Yang beliau miliki hanyalah kebenaran dari Allah dan kesabaran yang tak terbatas,” tuturnya dalam khutbah.

Hasyim juga mengingatkan jamaah tentang keteladanan Rasulullah SAW ketika menghadapi perlakuan buruk. Alih-alih membalas dengan kebencian, Rasulullah SAW justru memanjatkan doa agar kaumnya mendapatkan ampunan karena mereka belum mengetahui kebenaran yang disampaikan.

Menurutnya, keteladanan tersebut semakin relevan untuk diterapkan dalam kehidupan saat ini. Di tengah masyarakat yang menghadapi berbagai tantangan sosial, perbedaan pandangan, serta derasnya arus informasi di media sosial, umat Islam perlu mengedepankan sikap santun, sabar, jujur, dan penuh kasih sayang.

“Mengingat Rasulullah SAW bukan berarti kita hidup di masa lalu. Mengingat beliau berarti menghidupkan sunnahnya di setiap detik kehidupan kita,” tegas Fuad.

Dalam khutbah tersebut, ia menjelaskan beberapa bentuk nyata dalam mengingat Rasulullah SAW. Pertama, dengan meneladani kasih sayang beliau. Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk mencintai sesama sebagaimana mencintai diri sendiri. Nilai tersebut dinilai sangat penting diterapkan dalam lingkungan keluarga, sekolah, tempat kerja, masyarakat, maupun dalam interaksi di ruang digital.

Hasyim mengajak jamaah untuk melakukan introspeksi terhadap perilaku sehari-hari. Menurutnya, perkembangan teknologi dan media sosial seharusnya tidak membuat manusia kehilangan kepedulian terhadap sesama. Sebaliknya, kemudahan komunikasi harus dimanfaatkan untuk mempererat persaudaraan dan menyebarkan kebaikan.

“Di zaman di mana manusia semakin individualistis, di mana tetangga tidak mengenal tetangganya, di mana media sosial penuh dengan caci maki—sudahkah kita menghidupkan kasih sayang sebagaimana Rasulullah SAW mengajarkannya?” ujarnya.

Kedua, mengingat Rasulullah SAW berarti meneladani kejujuran. Fuad menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW dikenal dengan gelar Al-Amin atau sosok yang terpercaya. Keteladanan tersebut menjadi pengingat bagi seluruh jamaah agar senantiasa menjaga kejujuran dalam perkataan maupun perbuatan.

Kejujuran, lanjutnya, bukan hanya diperlukan dalam persoalan besar, tetapi juga dalam hal-hal sederhana yang dilakukan setiap hari. Bagi siswa, kejujuran dapat diwujudkan dalam belajar dan mengerjakan tugas. Bagi guru dan karyawan, kejujuran menjadi bagian penting dalam menjalankan amanah dan tanggung jawab. Dengan demikian, nilai keteladanan Rasulullah SAW dapat hadir secara nyata dalam lingkungan pendidikan dan kehidupan profesional.

“Di tengah zaman yang penuh kebohongan, korupsi, dan pengkhianatan, marilah kita bertanya: sudahkah kita menjadi pribadi yang jujur sebagaimana beliau SAW?” kata Fuad.

Ketiga, jamaah diajak mengingat ketekunan Rasulullah SAW dalam beribadah. Fuad menyampaikan bahwa Rasulullah SAW tetap melaksanakan ibadah dengan penuh kesungguhan meskipun beliau merupakan manusia pilihan Allah SWT. Bahkan, Rasulullah SAW melaksanakan shalat malam hingga kedua kakinya bengkak.

Ketika ditanya mengenai hal tersebut, Rasulullah SAW menjawab, “Apakah tidak sepantasnya aku menjadi hamba yang bersyukur?” Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa ibadah tidak semata-mata dilakukan karena takut terhadap hukuman, tetapi juga sebagai bentuk rasa syukur seorang hamba kepada Allah SWT.

Hasyim kemudian mengajak jamaah untuk mengevaluasi kualitas ibadah masing-masing. Shalat, menurutnya, tidak boleh hanya menjadi rutinitas, tetapi harus mampu membentuk pribadi yang lebih baik, disiplin, rendah hati, dan mampu menghindari perbuatan yang bertentangan dengan ajaran agama.

Pesan lain yang mendapat perhatian dalam khutbah adalah pentingnya memperbanyak shalawat kepada Rasulullah SAW. Hasyim mengingatkan bahwa Allah SWT dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Ahzab ayat 56. Karena itu, umat Islam dianjurkan memperbanyak shalawat sebagai bentuk kecintaan dan penghormatan kepada Rasulullah SAW.

Ia juga mengutip hadis yang menjelaskan keutamaan bershalawat kepada Nabi. “Barangsiapa bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali,” ujarnya, mengutip hadis riwayat Muslim.

Bagi jamaah yang hadir, pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kecintaan kepada Rasulullah SAW perlu diwujudkan melalui ucapan sekaligus perbuatan. Shalawat yang dilantunkan hendaknya berjalan seiring dengan usaha untuk mengikuti ajaran dan akhlak Nabi dalam kehidupan sehari-hari.

Pada bagian berikutnya, Hasyim mengajak jamaah untuk menumbuhkan kerinduan kepada Rasulullah SAW. Ia menyampaikan bahwa terdapat umat Nabi Muhammad SAW yang memiliki kecintaan besar kepada beliau meskipun tidak pernah berjumpa secara langsung. Kecintaan tersebut dapat diwujudkan dengan mempelajari sirah, mengenal akhlaknya, memperbanyak shalawat, serta menjalankan sunnahnya.

“Marilah kita jadikan peringatan ini sebagai momen muhasabah: sudahkah shalat kita seperti shalatnya? Sudahkah akhlak kita mencerminkan akhlaknya? Sudahkah kita mengajarkan anak-anak kita untuk mencintai Rasulullah SAW sebagaimana mereka mencintai tokoh-tokoh dunia?” ajaknya.

Pesan tersebut menjadi bagian penting dari khutbah karena menghubungkan kecintaan kepada Rasulullah SAW dengan tanggung jawab dalam membentuk generasi. Para siswa sebagai generasi muda tidak hanya membutuhkan kecakapan akademik dan keterampilan, tetapi juga karakter yang kuat, akhlak mulia, kejujuran, kedisiplinan, kepedulian, dan tanggung jawab.

Demikian pula guru dan karyawan memiliki peran strategis dalam menghadirkan keteladanan. Nilai-nilai Rasulullah SAW dapat diwujudkan melalui sikap amanah dalam bekerja, kesabaran dalam menghadapi berbagai situasi, kepedulian terhadap orang lain, serta komitmen untuk terus memberikan manfaat bagi lingkungan.

Pelaksanaan Sholat Jumat Berjamaah di Masjid Baitul Ilmi pada Jumat, 14 Agustus 2026 tersebut akhirnya tidak hanya menjadi rutinitas ibadah mingguan. Momentum tersebut menjadi ruang bersama untuk memperkuat hubungan dengan Allah SWT sekaligus mengingat kembali sosok Rasulullah SAW sebagai teladan sepanjang zaman.

Melalui khutbah bertema “Mengingat Rasulullah SAW: Cahaya yang Tak Pernah Padam”, jamaah diajak menyadari bahwa cahaya keteladanan Nabi Muhammad SAW akan terus relevan dalam menghadapi perubahan zaman. Kasih sayang, kejujuran, kesungguhan beribadah, kesabaran, dan akhlak mulia merupakan nilai yang tidak lekang oleh waktu.

Dengan demikian, esensi Sholat Jumat Berjamaah bukan hanya terletak pada berkumpulnya guru, karyawan, dan siswa putra di Masjid Baitul Ilmi, tetapi juga pada upaya menghadirkan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan nyata. Dari masjid, keteladanan itu diharapkan dapat dibawa ke ruang kelas, tempat kerja, keluarga, dan lingkungan masyarakat.

Pesan Fuad Hasyim menjadi penutup refleksi bahwa mencintai Rasulullah SAW harus dibuktikan dengan tindakan. Mengingat beliau bukan sekadar mengenang sejarah, melainkan berusaha menjadikan akhlaknya sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan. Dengan meneladani Rasulullah SAW, umat Islam diharapkan mampu menjadi pribadi yang lebih bertakwa, jujur, penyayang, bertanggung jawab, dan senantiasa memberikan manfaat bagi sesama.

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan