Jumat, 14-08-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

FGD UNNES Dorong Model Asesmen Integratif untuk Pembelajaran Berdiferensiasi di Jenjang Dasar hingga Menengah

Diterbitkan : - Kategori : Berita

UNGARAN — Universitas Negeri Semarang (UNNES) mendorong penguatan kompetensi guru dalam menerapkan asesmen yang mampu mengakomodasi keberagaman karakteristik peserta didik melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bertema “Model Integrative Assessment Pembelajaran Berdiferensiasi Jenjang Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah”. Kegiatan tersebut digelar di Aula SMKN H Moenadi Ungaran, Rabu, 12 Agustus 2026, dengan melibatkan pendidik dari berbagai jenjang pendidikan.

SMKN Jateng di Semarang turut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut dengan mengirimkan lima orang guru. Kehadiran para guru SMKN Jateng menjadi bagian dari upaya penguatan kapasitas pendidik dalam memahami dan mengembangkan sistem asesmen yang tidak hanya berorientasi pada hasil akhir pembelajaran, tetapi juga memperhatikan proses, perkembangan, kebutuhan, serta karakteristik setiap peserta didik.

FGD yang diselenggarakan UNNES tersebut menghadirkan Prof. Dr. Samsudi, M.Pd., dosen Teknik Mesin Universitas Negeri Semarang, sebagai pembicara. Dalam paparannya, ia menguraikan pentingnya penerapan asesmen integratif sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pembelajaran berdiferensiasi. Model tersebut dinilai relevan untuk menjawab kebutuhan pendidikan yang semakin menempatkan peserta didik sebagai individu dengan kemampuan, minat, kesiapan, dan profil belajar yang beragam.

Asesmen integratif dalam pembelajaran berdiferensiasi merupakan proses penilaian yang memadukan tiga fungsi asesmen secara utuh, yakni asesmen diagnostik, formatif, dan sumatif. Ketiganya tidak ditempatkan sebagai kegiatan yang berdiri sendiri, tetapi menjadi rangkaian proses untuk membantu guru memperoleh gambaran perkembangan peserta didik sekaligus menentukan strategi pembelajaran yang sesuai.

Prof. Samsudi menjelaskan bahwa paradigma asesmen perlu diarahkan pada upaya melihat perkembangan setiap anak berdasarkan kondisi dan kemajuan dirinya sendiri. Dengan pendekatan tersebut, peserta didik tidak semata-mata dibandingkan dengan teman-temannya dalam satu kelas, melainkan diberikan ruang untuk berkembang sesuai titik awal dan potensi masing-masing.

“Anak itu jangan selalu dibandingkan dengan anak yang lain. Yang lebih penting adalah melihat perkembangan anak dari dirinya sendiri, dari titik awal sampai sejauh mana kemajuannya setelah mengikuti proses pembelajaran,” ujar Prof. Samsudi dalam kegiatan FGD tersebut.

Menurutnya, asesmen diagnostik menjadi tahapan penting yang dilakukan pada awal pembelajaran. Melalui asesmen ini, guru dapat mengetahui kesiapan belajar peserta didik sebelum menentukan materi, metode, maupun aktivitas pembelajaran. Informasi mengenai minat dan profil belajar anak juga dapat menjadi pertimbangan agar pembelajaran lebih tepat sasaran.

Guru, misalnya, dapat mengidentifikasi kecenderungan peserta didik dalam menerima informasi melalui pendekatan visual, auditori, maupun kinestetik. Pemetaan tersebut bukan untuk memberikan label permanen kepada anak, melainkan menjadi informasi awal bagi guru dalam merancang pengalaman belajar yang lebih sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

“Guru harus mengetahui titik awal anak. Dari mana anak itu memulai pembelajaran, apa yang sudah dikuasai, apa yang belum, kemudian apa yang menjadi minatnya. Dari situlah pembelajaran dapat dirancang secara lebih tepat,” kata Prof. Samsudi.

Setelah asesmen diagnostik dilakukan, proses penilaian berlanjut melalui asesmen formatif. Asesmen ini berlangsung selama proses pembelajaran untuk memantau kemajuan peserta didik secara terus-menerus. Guru tidak harus menunggu sampai akhir pembelajaran untuk mengetahui apakah peserta didik mengalami kesulitan atau telah memahami materi.

Asesmen formatif memungkinkan guru memberikan umpan balik secara langsung. Hasil pemantauan tersebut kemudian dapat digunakan untuk melakukan penyesuaian strategi pembelajaran. Apabila terdapat peserta didik yang belum memahami konsep tertentu, guru dapat mengubah pendekatan, memberikan pendampingan tambahan, menyediakan contoh yang lebih konkret, atau menggunakan media pembelajaran yang berbeda.

Dengan demikian, asesmen tidak sekadar berfungsi sebagai alat untuk memberikan nilai, tetapi menjadi sumber informasi yang membantu guru mengambil keputusan selama proses pembelajaran. Prinsip inilah yang menjadi salah satu kekuatan utama dalam penerapan pembelajaran berdiferensiasi.

“Kalau selama proses pembelajaran ditemukan anak yang mengalami kesulitan, guru tidak boleh membiarkannya sampai ujian akhir. Guru harus segera memberikan umpan balik dan menyesuaikan proses pembelajarannya,” tutur Prof. Samsudi.

Sementara itu, asesmen sumatif dilakukan untuk mengukur ketercapaian tujuan pembelajaran setelah suatu proses pembelajaran selesai. Namun, dalam model asesmen integratif, bentuk penilaian akhir tidak harus seragam. Peserta didik dapat diberikan kesempatan untuk menunjukkan pemahamannya melalui berbagai bentuk produk atau karya sesuai karakteristik pembelajaran.

Bentuk unjuk pemahaman tersebut dapat berupa laporan tertulis, video, model, presentasi, maupun karya lainnya yang relevan dengan tujuan pembelajaran. Guru kemudian menggunakan rubrik penilaian yang jelas sehingga keberagaman bentuk karya tetap dapat dinilai secara objektif, adil, dan sesuai dengan indikator pencapaian yang telah ditentukan.

Konsep tersebut memberikan ruang lebih luas bagi peserta didik untuk menunjukkan kompetensinya. Seorang anak yang memiliki kemampuan baik dalam menyampaikan gagasan secara visual, misalnya, dapat menunjukkan pemahamannya melalui video atau model. Sementara peserta didik lainnya dapat memilih laporan tertulis apabila bentuk tersebut lebih sesuai dengan kekuatannya.

Menurut Prof. Samsudi, perbedaan bentuk produk bukan berarti standar penilaian dibuat berbeda-beda secara sembarangan. Standar tetap harus mengacu pada tujuan pembelajaran dan indikator kompetensi yang sama. Perbedaannya terletak pada cara peserta didik menunjukkan pemahaman dan kompetensi yang telah dicapai.

“Yang dibedakan bukan tujuan belajarnya, tetapi bagaimana anak diberi kesempatan untuk menunjukkan pemahamannya. Karena itu, rubrik harus jelas sehingga berbagai bentuk karya tetap dapat dinilai secara adil,” jelasnya.

Bagi guru SMKN Jateng di Semarang yang mengikuti FGD, materi tersebut memberikan perspektif penting dalam mengembangkan praktik asesmen di lingkungan sekolah vokasi. Pembelajaran di SMK memiliki karakteristik yang menuntut peserta didik tidak hanya menguasai pengetahuan, tetapi juga keterampilan, sikap, kemampuan memecahkan masalah, dan kemampuan menghasilkan produk atau karya yang relevan dengan bidang keahlian.

Penerapan asesmen integratif dapat menjadi salah satu pendekatan untuk memastikan bahwa proses pembelajaran benar-benar memberikan ruang bagi keberagaman peserta didik. Guru dapat memulai pembelajaran dengan mengetahui kesiapan peserta didik, memantau perkembangannya selama proses berlangsung, kemudian menilai ketercapaian tujuan melalui bentuk unjuk kerja yang relevan.

Kegiatan FGD juga menjadi ruang bagi para guru untuk memperkaya wawasan dan berdiskusi mengenai tantangan penerapan pembelajaran berdiferensiasi di satuan pendidikan. Interaksi antara narasumber dan peserta memungkinkan konsep asesmen integratif tidak berhenti pada pemahaman teoritis, tetapi dapat dikaitkan dengan kondisi nyata yang dihadapi guru di sekolah.

Partisipasi lima guru dari SMKN Jateng di Semarang dalam kegiatan tersebut diharapkan dapat memberikan dampak lanjutan bagi pengembangan praktik pembelajaran dan asesmen di sekolah. Pengetahuan yang diperoleh dari FGD dapat menjadi bahan refleksi untuk memperbaiki cara guru melakukan pemetaan kebutuhan peserta didik, memberikan umpan balik, serta menentukan bentuk evaluasi yang lebih bermakna.

Melalui model asesmen integratif, penilaian diharapkan tidak lagi dipahami sebatas kegiatan untuk menentukan angka atau peringkat peserta didik. Asesmen ditempatkan sebagai bagian dari proses pembelajaran yang membantu guru memahami kebutuhan anak sekaligus membantu peserta didik mengenali perkembangan dirinya.

Pendekatan tersebut sejalan dengan semangat pembelajaran berdiferensiasi yang mengakui bahwa setiap peserta didik memiliki titik awal, minat, kesiapan, dan cara belajar yang berbeda. Karena itu, keberhasilan pembelajaran tidak semestinya hanya dilihat dari siapa yang memperoleh nilai tertinggi, tetapi juga dari seberapa jauh setiap anak mengalami perkembangan berdasarkan potensinya.

FGD UNNES di Aula SMKN H Moenadi Ungaran akhirnya menjadi momentum untuk memperkuat pemahaman pendidik bahwa asesmen dan pembelajaran merupakan dua hal yang saling berkaitan. Asesmen diagnostik memberikan informasi awal, asesmen formatif mengawal perjalanan belajar, sedangkan asesmen sumatif mengukur ketercapaian tujuan. Ketiganya menjadi satu kesatuan yang dapat membantu guru menciptakan pembelajaran yang lebih adaptif, inklusif, dan berorientasi pada perkembangan peserta didik.

Bagi dunia pendidikan dasar hingga menengah, penerapan model tersebut menjadi langkah strategis untuk membangun budaya penilaian yang lebih manusiawi. Setiap anak mendapatkan kesempatan untuk tumbuh, berkembang, dan menunjukkan kemampuan terbaiknya tanpa harus selalu berada dalam persaingan dengan teman sekelas. Dengan dukungan guru yang mampu membaca data asesmen dan menerjemahkannya menjadi strategi pembelajaran, proses pendidikan diharapkan semakin mampu memenuhi kebutuhan setiap peserta didik.

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan