Jumat, 14-08-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Guru Bahasa Jepang SMKN Jateng Semarang Perkuat Kolaborasi Pembelajaran melalui MGMP dan Udinus

Diterbitkan : - Kategori : Berita

SEMARANG — Guru Bahasa Jepang SMKN Jateng di Semarang mengikuti pertemuan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Jepang SMA/SMK Kota Semarang yang digelar di Gedung A, Fakultas Hukum dan Study Global, Universitas Dian Nuswantoro (Udinus), Selasa (11/8/2026). Kegiatan yang berlangsung pukul 08.30 hingga 15.00 WIB tersebut menjadi momentum bagi para guru untuk memperkuat solidaritas sekaligus membuka peluang kolaborasi dalam meningkatkan kualitas pembelajaran bahasa dan budaya Jepang di sekolah.

Pertemuan MGMP diikuti para guru Bahasa Jepang jenjang SMA/SMK di Kota Semarang. Selain menjadi ruang silaturahmi dan koordinasi antarguru, kegiatan tersebut juga dimanfaatkan untuk berbagi pengalaman, memperkaya wawasan pembelajaran, serta membahas peluang pengembangan kompetensi guru dan peserta didik melalui kerja sama dengan perguruan tinggi.

Kegiatan dibuka oleh Pembina MGMP Bahasa Jepang Kota Semarang, RR. Tri Widiyastuti, S.Pd., M.Pd. Dalam sambutannya, Tri menekankan pentingnya kekompakan dan solidaritas guru Bahasa Jepang untuk terus menunjukkan semangat dalam memajukan pendidikan serta meningkatkan kualitas pengajaran Bahasa Jepang.

Menurut Tri, keberadaan MGMP tidak sekadar menjadi wadah pertemuan rutin para guru, tetapi juga harus mampu menjadi ruang untuk bertukar gagasan, mengembangkan kompetensi, dan melahirkan berbagai inovasi pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan peserta didik.

“MGMP Bahasa Jepang harus kompak dan solid untuk menunjukkan bahwa guru Bahasa Jepang memiliki semangat untuk memajukan pendidikan dan meningkatkan kemampuan dalam pengajaran Bahasa Jepang,” ujar Tri dalam sambutannya.

Tri juga menyampaikan harapannya agar MGMP Bahasa Jepang Kota Semarang dapat membangun hubungan kerja sama yang lebih erat dengan Udinus, khususnya dengan Program Studi Sastra Jepang. Menurut dia, kolaborasi antara sekolah dan perguruan tinggi akan memberikan ruang yang lebih luas bagi guru maupun siswa untuk memperoleh pengalaman belajar yang lebih beragam.

Ia berharap peluang kerja sama yang dibangun tidak berhenti pada pertemuan tersebut, tetapi dapat berkembang menjadi berbagai program yang memberikan manfaat nyata bagi sekolah dan peserta didik.

“Kami berharap peluang kerja sama antara Prodi Bahasa Jepang Udinus dan MGMP Kota Semarang bisa terjalin, sehingga akhirnya akan membawa dampak positif bagi siswa-siswi di sekolah kita,” imbuh Tri.

Pertemuan tersebut juga dihadiri Dekan Fakultas Hukum dan Study Global Udinus, Dr. Bayu Aryanto, S.S., M.Hum., serta Ketua Program Studi Sastra Jepang Udinus, Dr. Akhmad Saifudin, S.S., M.Si. Kehadiran jajaran akademisi Udinus memperkuat pembahasan mengenai kemungkinan sinergi antara dunia pendidikan menengah dan perguruan tinggi, terutama dalam pengembangan pembelajaran Bahasa Jepang yang lebih kontekstual.

Dalam kesempatan tersebut, Udinus membuka peluang kerja sama dengan MGMP Bahasa Jepang Kota Semarang untuk meningkatkan kualitas pembelajaran bahasa sekaligus memperkuat pemahaman budaya Jepang. Salah satu bidang yang dapat dikembangkan adalah pembelajaran berbasis proyek atau project based learning.

Pendekatan tersebut dinilai dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih nyata kepada siswa. Melalui proyek, siswa tidak hanya mempelajari kosakata, tata bahasa, dan keterampilan berkomunikasi dalam Bahasa Jepang, tetapi juga dapat mengembangkan kreativitas, kemampuan bekerja sama, keberanian tampil, serta kemampuan menyelesaikan persoalan secara bersama-sama.

Salah satu contoh kegiatan yang dapat dikembangkan melalui kerja sama tersebut adalah pementasan drama menggunakan Bahasa Jepang. Kegiatan semacam ini memungkinkan siswa mempraktikkan bahasa yang dipelajari dalam situasi yang lebih komunikatif dan bermakna.

Pementasan drama juga dapat menjadi sarana untuk mengintegrasikan pembelajaran bahasa dengan pemahaman budaya. Siswa dapat mempelajari karakter, kebiasaan, ekspresi, etika komunikasi, serta konteks budaya Jepang yang muncul dalam sebuah cerita. Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya berorientasi pada penguasaan teori, tetapi juga memberikan pengalaman langsung kepada siswa.

Kolaborasi antara MGMP dan Udinus diharapkan dapat menjadi salah satu langkah untuk menghadirkan pembelajaran Bahasa Jepang yang semakin menarik dan dekat dengan kehidupan peserta didik. Guru dapat memperoleh dukungan akademik dalam merancang pembelajaran, sementara siswa mendapatkan kesempatan untuk memperluas pengalaman belajar di luar pola pembelajaran konvensional.

Ketua Program Studi Sastra Jepang Udinus, Dr. Akhmad Saifudin, S.S., M.Si., dalam kegiatan tersebut juga menyampaikan peluang pendidikan lanjutan bagi alumni SMA/SMK yang telah memasuki dunia kerja. Udinus menawarkan kesempatan bagi mereka yang ingin melanjutkan pendidikan melalui program Rekognisi Pengalaman Lampau (RPL).

Program RPL memberikan peluang bagi calon mahasiswa yang telah memiliki pengalaman belajar maupun pengalaman kerja untuk memperoleh pengakuan atas pengalaman tersebut sesuai ketentuan yang berlaku. Dengan demikian, pengalaman yang telah dimiliki dapat menjadi bagian dari proses pendidikan yang ditempuh.

Akhmad menyampaikan bahwa program tersebut dapat menjadi alternatif bagi alumni SMA/SMK yang sudah bekerja tetapi masih memiliki keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Selain menawarkan biaya yang terjangkau, program tersebut juga memberikan fleksibilitas waktu kuliah sehingga dapat menyesuaikan dengan aktivitas pekerjaan.

Peluang tersebut menjadi bagian dari pembahasan yang menarik dalam pertemuan MGMP karena hubungan antara sekolah dan perguruan tinggi tidak hanya dapat dibangun dalam konteks pembelajaran siswa, tetapi juga dalam pengembangan jenjang pendidikan bagi lulusan.

Kerja sama antara sekolah dan perguruan tinggi juga dinilai penting untuk menjaga kesinambungan pengembangan kompetensi. Guru dapat memperoleh akses terhadap perkembangan keilmuan dan praktik pembelajaran terbaru, sedangkan perguruan tinggi dapat memahami kebutuhan nyata yang berkembang di lingkungan sekolah.

Bagi guru Bahasa Jepang, forum MGMP menjadi ruang strategis untuk membangun jejaring profesional. Berbagai pengalaman yang dimiliki guru dari sekolah masing-masing dapat dibagikan untuk memperkaya alternatif metode pembelajaran. Tantangan dalam mengajarkan Bahasa Jepang pun dapat dibahas secara bersama-sama sehingga solusi yang dihasilkan tidak hanya bersifat individual, tetapi dapat diterapkan dan dikembangkan secara lebih luas.

Hal tersebut sejalan dengan kebutuhan pembelajaran Bahasa Jepang saat ini yang menuntut guru untuk mampu menghadirkan proses belajar yang komunikatif, kreatif, dan kontekstual. Penguasaan bahasa tidak cukup hanya dilakukan melalui hafalan kosakata dan pola kalimat, tetapi perlu diperkuat dengan pengalaman menggunakan bahasa dalam berbagai situasi.

Dalam konteks tersebut, pembelajaran berbasis proyek dapat menjadi salah satu pilihan. Siswa ditempatkan sebagai bagian aktif dari proses pembelajaran dengan menghasilkan sebuah karya atau pengalaman yang memiliki tujuan jelas. Guru berperan sebagai fasilitator yang membantu siswa merancang, menjalankan, mengevaluasi, dan merefleksikan proses pembelajaran.

Penerapan proyek seperti drama Bahasa Jepang juga memungkinkan pembelajaran lintas keterampilan. Siswa dapat berlatih menyimak, berbicara, membaca, dan menulis sekaligus. Di sisi lain, mereka juga belajar membangun kepercayaan diri, membagi peran, bekerja dalam kelompok, mengelola waktu, dan bertanggung jawab terhadap hasil bersama.

Pertemuan MGMP di Udinus tersebut pada akhirnya tidak hanya menjadi agenda rutin organisasi guru, tetapi berkembang menjadi ruang untuk membangun gagasan kolaboratif. Pertemuan antara guru, pengelola program studi, dan pimpinan fakultas membuka kemungkinan lahirnya berbagai program yang dapat mendukung peningkatan mutu pendidikan Bahasa Jepang di Kota Semarang.

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan sesi pengimbasan dari guru peserta pelatihan course design bersama The Japan Foundation. Pengimbasan tersebut menjadi bagian penting dalam kegiatan karena memberikan kesempatan kepada peserta untuk memperoleh dan membagikan pengetahuan yang didapat selama mengikuti pelatihan.

Melalui sesi tersebut, pengalaman peserta pelatihan dapat diteruskan kepada guru-guru lain sehingga manfaat pelatihan tidak berhenti pada individu yang mengikutinya. Pengetahuan mengenai perancangan pembelajaran diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi guru dalam menyusun kegiatan belajar yang lebih terarah, menarik, dan sesuai dengan kebutuhan siswa.

Pengimbasan juga memperkuat semangat MGMP sebagai komunitas belajar bagi para guru. Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh dari berbagai kegiatan pengembangan profesional dapat dibagikan, didiskusikan, kemudian disesuaikan dengan kondisi masing-masing sekolah.

Bagi guru Bahasa Jepang SMKN Jateng di Semarang, keikutsertaan dalam pertemuan tersebut menjadi kesempatan untuk memperluas jejaring sekaligus memperkaya perspektif mengenai pengembangan pembelajaran Bahasa Jepang. Sinergi antara MGMP, sekolah, dan perguruan tinggi diharapkan mampu menghasilkan berbagai inovasi yang berdampak langsung terhadap pengalaman belajar siswa.

Dengan semangat kekompakan dan kolaborasi, MGMP Bahasa Jepang Kota Semarang diharapkan semakin mampu menjadi wadah pengembangan profesional guru. Sementara itu, peluang kerja sama dengan Udinus dapat menjadi pintu masuk bagi berbagai program akademik dan praktik pembelajaran yang lebih inovatif, termasuk pengembangan pembelajaran berbasis proyek dan penguatan pemahaman budaya Jepang.

Pertemuan tersebut menegaskan bahwa peningkatan kualitas pendidikan membutuhkan kerja bersama. Guru, sekolah, perguruan tinggi, dan berbagai mitra pendidikan memiliki peran yang saling melengkapi. Ketika kolaborasi tersebut dibangun secara berkelanjutan, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh para pendidik, tetapi juga oleh siswa sebagai penerima manfaat utama dari peningkatan kualitas pembelajaran Bahasa Jepang.

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan